Monday, March 14, 2011

Visi dan Misi Komunitas Penulis Pelajar


Visi
“Terwujudnya kota Yogyakarta sebagai kota Pendidikan, terutama kota Penulis yang berbasiskan pada kekuatan dan keunggulan kearifan lokal serta nilai-nilai Islam serta dapat menumbuhkembangkan generasi-generasi muda baru penggerak sastra kota Yogyakarta”

Misi
1. Mengawal dan menjaga identitas dan citra Jogja sebagai kota Pendidikan dengan adanya komunitas yang konsen terhadap pendidikan.
2. Menumbuhkan minat dan antusiasme pelajar untuk senantiasa dan terjaga membaca.
3. Memupuk dan mengembangkan bakat pelajar di bidang menulis baik fiksi maupun non fiksi
4. Menanamkan pada pelajar bahwa kegiatan menulis dan mengarang adalah kegiatan yang mudah dan menyenangkan.
5. Menjadi fasilitas penunjang kreativitas pelajar, terutama di bidang kesusastraan.
6. Menjadi rujukan forum literasi bagi pelajar pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Mengapa Komunitas Ini Penting?

   Salah satu cara penyelenggarakan pendidikan adalah dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Penegasan itu jelas tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab III Pasal 4 ayat 5. Begitu pentingnya sehingga lelulur bangsa indonesia menciptakan ungkapan “membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudang ilmu adalah buku”.[1] 

            Lalu bagaimana kondisi dunia baca dan tulis di indonesia?

            Apabila kita meng-entri kalimat "minat baca di Indonesia" pada mesin pencari di internet, akan muncul varian data yang kesemuanya sangat memprihatinkan. Salah satunya adalah data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2003 (data ini sudah berumur 7 tahun tetapi masih relevan dengan kondisi saat ini) dapat dijadikan gambaran bagaimana minat baca bangsa Indonesia. Data itu menggambarkan bahwa penduduk Indonesia berumur di atas 15 tahun yang membaca koran pada minggu hanya 55,11%. Sedangkan yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22%, buku cerita 16,72%, buku pelajaran sekolah 44.28%, dan yang membaca buku ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07%.[2]

            Data BPS lainnya juga menunjukkan bahwa penduduk Indonesia belum menjadikan membaca sebagai informasi. Orang lebih memilih televisi dan mendengarkan radio. Malahan, kecenderungan cara mendapatkan informasi lewat membaca stagnan sejak 1993. Hanya naik sekitar 0,2%. Jauh jika dibandingkan dengan menonton televisi yang kenaikan persentasenya mencapai 211,1%. Data 2006 menunjukkan bahwa orang Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5% dari total penduduk. Sedangkan, dengan menonton televisi sebanyak 85,9% dan mendengarkan radio sebesar 40,3%.[3]

           Divisi Litbang (Penelitian dan Pengembangan) Kompas tahun 2005 melakukan penelitian dengan melibatkan 786 responden berusia minimal 17 tahun untuk melihat kecenderungan membaca di kalangan remaja. Sebagian besar (88%) responden tidak menyediakan dana untuk membeli buku. Hanya sebagian kecil responden (12%) yang menyediakan dana kurang dari Rp100.000 per bulan untuk membeli buku. Dengan demikian, membeli buku tampaknya masih belum merupakan prioritas bagi sebagian besar responden. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau sedikit sekali dari responden (14,3 %) yang memiliki perpustakaan pribadi di rumah dan bahkan menjadi anggota perpustakaan pun jumlahnya sedikit (23%).

            Indonesia tidak hanya lemah dalam hal minat membaca, namun juga rendah dalam minat menulis. Padahal kebiasaan menulis identik dengan tingkat peradaban suatu bangsa. Di Jepang produksi buku per tahun 60.000-70.000 judul buku. Sebagai gambaran, saat ini produksi buku di Indonesia 7000-10.000 judul buku pertahun, padahal dilihat dari perbandingan jumlah penduduk, penduduk Indonesia jauh lebih banyak dari penduduk Jepang. Jumlah toko buku di Jepang sama dengan jumlah toko buku di Amerika Serikat, padahal Amerika Serikat dua puluh enam kali lebih luas dan berpenduduk dua kali lebih banyak daripada Jepang.[4] Sedangkan di Indonesia, toko buku tak banyak diminati sebagai tujuan jalan-jalan sekalipun.

            Walaupun reformasi dan kebebasan menyatakan pendapat benar-benar terwujud, hal ini tidak banyak mendukung produktifitas menulis bangsa Indonesia. Penerbit dan percetakan yang menjamur tidak sebanding dengan masuknya naskah yang berkualitas dan layak terbit. Sedangkan bila kita bandingkan dengan Jepang, banyak sekali jenis naskah yang masuk ke penerbit. Banyak penulis-penulis amatir yang bukunya diterbitkan oleh penerbit karena memang dirasa bagus. Misalnya, ada ibu rumah tangga yang menuliskan tips pindah rumah yang efisien, teknik menanak nasi yang enak, dan sebagainya. Tulisan-tulisan mereka berdasarkan pengalaman pribadi, dan juga riset kecil-kecilan yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

              Di Indonesia, tidak terbentuk kebiasaan menulis hal kecil yang terjadi di sekitar kehidupan, sehingga mindset bangsa ini mengira bahwa menulis itu sesuatu yang berat dan penuh teori. Ditambah pula metodologi pengajaran bahasa di sekolah lebih menitikberatkan kepada aturan gramatikal atau tatabahasa, sehingga menumbuhkan ketidakpercayaan diri dan rasa takut salah apabila hendak menulis.

              Angka-angka dan berbagai fakta di atas cukup memprihatinkan. Apalagi dunia sudah mencanangkan Millenium Development Goals 2015. Dari 8 "goals" yang diharapkan dapat dicapai dalam MDGs 2015 tesebut salah satunya adalah pendidikan. Sedikit pesimis dapat mencapai “goals” bidang pendidikan di tahun 2015 ketika minat baca tulis masyarakat masih sangat rendah. Bagaimana pendidikan bisa berjalan efektif bila faktor penunjangnya tidak tumbuh menjadi kebiasaan?

            Oleh karena itu, komunitas penulis pelajar ini bermaksud untuk membantu paling tidak meningkatkan minat baca tulis di kalangan pelajar kota Yogyakarta dan masyarakat pada umumnya. Yang akan dilakukan cukup sederhana yaitu menjadikan baca dan tulis menjadi sebuah kebiasaan yang menyenangkan. Namun, hal yang sederhana itu tidak mudah dilakukan tanpa dukungan berbagai pihak dan kontribusi aktif seluruh anggota komunitas. Sehingga prasyarat utama yang harus ditanamkan dan nantinya akan dibudayakan dalam komunitas ini adalah aktif dan inspiratif. Maksud inspiratif disini adalah lewat kegiatan kecil yang terselenggara dalam komunitas ini, diharapkan mampu menginspirasi kalangan pelajar pada umumnya untuk terus membudayakan baca dan tulis.



[2] dari berbagai sumber




Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *