Thursday, December 13, 2012

Bukan Sekedar Ingin Memiliki


  Cerpen ditulis oleh: Isti
  Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

   www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
            FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik
 ________________________________________________________


       Semerbak makanan khas membaur jadi satu di dalam pikiran Tara. Bau rasa yang sangat khas telah mengalihkan dunianya. Sengat matahari yang terus bersinar terang telah memanaskan pikiran Tara. Semilir angin tidak dapat mengusik apa yang sedang Tara pikirkan. Akhirnya, ia merasa sangat bosan dengan pelajaran kimia yang sejak tadi berlangsung. Ingin rasanya ia keluar kelas dan lari ke gunung sambil berteriak-teriak. Tetapi itu mustahil.

       Akhirnya pelajaran pun selesai. Tidak ada canda tawa dalam benak pikiran Tara. Ia merasa sangat benci dengan keadaan yang sekarang ini terjadi dalam hidupnya. Manurut Tara, Ayah Tara terlalu cinta dengan perusahaan geplaknya. Sedangkan ibunya entah pergi kemana. Tara sangat benci dengan ayahnya termasuk geplaknya. Padahal, sebelumnya ia sangat suka sekali dengan geplak buatan ayahnya. Tapi itu dulu. Dulu, ayah dan ibunya sangat perhatian dengan Tara. Dulu, ayahnya senang sekali membuatkan geplak untuk Tara. Dan kini tinggal kenangan.

       Sudah dua bulan ibunya tidak pulang ke rumah. Ayahnya pun selalu pulang malam saat Tara sudah tertidur. Tetapi, Tara tidak merasa kesepian. Karena ia selalu ditemani seorang sahabatnya. Sahabat yang selalu ada dalam suka dan duka. Tiba-tiba ponsel Tara berbunyi. Ibunya yang sudah 2 bulan tidak pulang ke rumah meneleponnya.

       “Hallo Tara! Maafin ibu nak? Ibu harus berpisah dengan ayah. Maafin ibu nak!”  Ponsel Tara langsung jatuh kelantai. Ia tak sanggup lagi menahan air matanya. Tampak disadari ia telah menangis tersedu-sedu. Ponselnya pun kembali berdering. Tetapi bukan telepon dari ibunya. Tetapi telepon dari ibunya Dian. Dian adalah sahabat Tara sejak kecil. Sejak TK,SD,SMP, bahkan saat SMA mereka berada disekolah yang sama. Ibu Dian memberi tahu bahwa Dian sudah berangkat ke luar negeri dan pindah sekolah. Ibunya tidak memberi tahu kenapa Dian tiba-tiba pergi menghilang tanpa kabar.

       Hal ini membuat Tara benar-benar frustasi. Ia pun menangis histeris dikamarnya.

       “A..aaaaaaaarrgghhh…. Kenapa semuanya jahat?

       Apa salahku ya Tuhan?? Kenapa ibu harus berpisah dengan ayah?  Kenapa??? Kenapa?? Kenapa Dian pergi begitu saja tanpa mengabari sedikitpun???

       Semuanya jahat……. Jahat!!!!”



       Pembantu dirumahnya pun bingung mendengar histerisnya Tara. Tetapi, ia tidak berani mengusiknya. Ia hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya saja.

       Hari-hari Tara berubah seratus delapan puluh derajat. Tara yang biasanya ceria berubah menjadi murung. Matanya selalu sembab setiap ia berangkat sekolah. Teman-temannya sangat khawatir dengan keadaan Tara yang semakin memburuk. Nilai-nilainya turun drastis. Guru-gurunya pun selalu menanyakan keadaan Tara. Sayangnya, ayahnya tidak pernah menanyakan kabarnya sekatapun. Ini yang membuat Tara sangat benci dengan ayahnya.

***

       “Hallo Dek!! Apa kabar??” tiba-tiba salah seorang kakak kelas Tara menghampirinya saat di kantin.

       “Eh kak Feno, hallo juga kak!!”

       “Apa kabar dek? Kok murung terus tiap hari. Lagi putus sama pacar ya?”

       “Enggak kok kak, Alhamdulillah baik, ya beginilah!!”

       “Jangan galaulah dek, galau itu temennya setan lho?”

       “Emang iya kak, kamu setan dong?? Hahaha..”

       Tiba-tiba Tara tertawa untuk pertama kalinya setelah galau beberapa minggu. Teman-temannya pun ikut tersenyum-senyum sambil menggodanya. Mereka pun bercanda dan tertawa bersama.

       Sejak kedatangan Feno, Tara kembali dengan keceriaanya. Ia kembali bersemangat melewati hari-harinya. Tara yang dulu murung dan malas telah kembali ceria dan rajin belajar. Tara yang sebelumnya suka mencontek saat ulangan kini ia percaya diri dengan hasil kerjanya sendiri. Karena Feno sangat benci dengan orang yang suka mencontek saat ulangan. Menurutnya mencontek itu sama saja mencuri jawaban.

       Arah jarum jam terus berputar. Tara dan Feno semakin dekat hubungannya. Hingga mereka menjalin hubungan persahabatan. Tampaknya Feno telah menggantikan sosok Dian yang telah lama menghilang. Tetapi, disisi lain Tara sangat rindu dengan ayahnya.  Ia sangat kangen dengan geplak buatan ayahnya. Sebenarnya ia merasa sangat bersalah karena telah mengacuhkan ayahnya. Lalu, Tara ingin meminta maaf kepada ayahnya dan memberikan sebuah kejutan. Ia mulai sadar ayahnya usianya terus bertambah dan nampaknya de kepala ayahnya sudah ada beberapa helai uban.

       Di malam yang yang di taburi sejuta bintang dan sebuah bulan Tara berjaln menuju rumahnya. Langkahnya berpadu dalam warna-warna kehidupannya. Tara telah menyiapkan sebuah kejutan untuk ayahnya sebagai tanda maafnya. Tetapi, skenario Tuhan berbeda. Ketika masuk menuju ruang kerja ayahnya, Tara kaget ketika melihat ayahnya terkulai lemas diatas lantai. Di usianya yang semakin bertambah dan pekerjaannya yang semakin hari semakin banyak, ayahnya jatuh sakit. Ayahnya merasa sudah tak mampu lagi memimpin perusahaannya sendirian.

       “Ayah?? Maafin Tara Ayah?” Ia menangis sesenggukan.

       “Ayah,  yang seharusnya minta maaf Tara” Jawab Ayahnya sambil terbata-bata.

       Bulan pun menghilang tak berpamitan. Tetesan air mata Tara terus mengalir tiada henti. Di saat Tara bisa kembali tertawa kenapa harus kembali mengeluarkan air mata jernihnya. Mau tidak mau Tara harus menggantikan posisi ayahnya diperusahaan geplak.

       Harum baunya sangat terasa semerbak. Tetapi Tara tidak bisa membuat geplak yang semerbak baunya. Ia hanya dapat menebak bau khas geplak asli buatan ayahnya. Mungkin, ini anugrah terindah yang diberikan Tuhan untuk menggantikan posisi ayahnya. Ia mempunyai indra penciuman yang tajam terhadap rasa geplak buatan ayahnya. Untuk mendapatkan resep dari ayahnya ia harus bisa membuat geplak seenak geplak buatan ayahnya dan ia harus bersaing dengan pamannya yang pura-pura baik didepan ayahnya. Sebenarnya, pamannya hanya ingin menguasai geplak ayahnya. Sehingga hal ini membuat Tara merasa harus bekerja keras untuk mendapatkan resep dari ayahnya. Berbagai cara telah dilakukan oleh Tara untuk mendapatkan resep itu. Hingga akhirnya, ia bisa membuat geplak ala ayahnya. Demikian juga dengan pamannya. Pamannya bisa membuat geplak sangat mirip dengan buatan ayahnya. Tara sangat bingung dengan keadaan seperti ini. Ia tidak ingin ayahnya kecewa dan ia juga tidak ingin pamannya menguasai perusahaan geplak milik ayahnya. Ia terus berusaha dan bekerja keras agar ia dapat mengalahkan pamannya. Ia rela tidak berangkat sekolah beberapa hari demi bisa membuat geplak ala ayahnya. Hal ini membuat Feno khawatir. Tetapi Tara tidak menghiraukannya. Saat mentari menyapa hingga bintang muncul Tara masih didapur belajar membuat geplak. Wajahnya keliatan tampak begitu lelah dan letih. Pembantunya yang dari tadi menemani sangat khawatir sekali. Berbagai godaan pun mulai datang menghampiri pikirannya. Ia merasa sangat kecewa dan amarahnya muncul karena belum bisa mendapatkan resep dari ayahnya. Tara pun tergoda untuk melakukan kecurangan. Ia sengaja berbohong kepada ayahnya dengan mengambil resep yang dibuat pamannya yang akan digunakan. Ia mencuri resep pamannya yang akan dipresentasikan esok harinya.

       " Aku harus menang. Apapun caranya, aku harus menang, aku tidak ingin mengecewakan ayah.”

       Pembantunya hanya menggeleng-geleng kepala melihat perbuatan yang dilakukan Tara.

       “Tara, apa kamu benar-benar akan melakukan kecurangan ini? Enggak sebaiknya tidak usah saja nak?”

       “Iya bik, aku gak mungkin bisa membuat resep secepat ini. Aku tidak punya pengalaman apa-apa. Sedangkan paman juga jahat. Ia hanya ingin menguasai perusahaan ayah.”

       “Tapi, ini sama saja tidak jujur dan bohong nak?”

       “Udah deh bik, Tara udah kehabisan akal. Aku hanya ingin ayah tidak kecewa mempunyai anak seperti aku.”

       “Kalo sudah keputusan Tara, bibik hanya bisa berpesan supaya tidak terlalu menyesali perbuatan ini suatu saat.”

       Ia hanya terdiam. Jantungnya berdetak begitu cepat. Langkahnya berpadu satu dalam pikirannya. Walaupun ia tahu bahwa yang dilakukan itu salah, tetapi ia tetap melakukannya. Di dalam pikirannya hanya terpikir tidak ingin mengecewakan ayahnya.

***

       Bunga api terus menderu diatas rumah Tara. Ia telah berhasil memenangkan persaingan mendapatkan resep geplak ayahnya. Kedipan bintang-bintang dan senyuman bulan ikut merayakannya. Tara memiliki aktivitas baru. Sekarang, selain bersekolah, ia juga memimpin perusahaan geplak ayahnya.

       Tetapi Tara selalu gelisah, pikirannya selalu dihantui oleh resep pamannya yang telah dicuri. Tara tidak merasakan indahnya menjadi seorang pemimpin muda diperusahaan ayahnya. Ia selalu memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi. Hingga pada akhirnya hal buruk pun terjadi.

       Asap mengepul tiba-tiba berada dihadapan Tara yang sedang melamun didapur. Bau gosong sangat menyengat hidungnya. Kepalanya terasa sangat pusing sekali. Tangannya terseret cepat keluar menuju halaman depan perusahaan ayahnya. Tubuhnya terkulai lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Orang-orang berteriak keluar menyelamatkan diri. Gemuruh angin membuat orang bertambah berteriak bahkan histeris ketakutan. Tubuh Tara terasa dingin dan bergetar. Tubuhnya terasa tertusuk oleh benda asing yang sangat dingin. Tangannya sudah berlumuran darah. Tetapi Tara tidak merasakan sakit. Banyangan-bayangan di depan matanya pun hilang. Ia hanya menyisakan darah yang bercucuran.

       Rintik-rintik hujan masih membekas dikaca jendela ruangan di suatu rumah sakit. Sudah tiga hari Tara terbaring disini. Kepalanya terasa sangat pusing sekali. Tetapi kini telah mereda. Jantung Tara berdekup bukan main. Didepan matanya ada 3 orang yang sangat Tara cintai. Mereka adalah ayahnya, sahabat lamanya si Dian yang tiba-tiba muncul kembali, dan kak Feno yang selama ini menjadi pengganti Dian. Tetapi di dalam pikirannya masih di hantui kegelisahan sekaligus menyeramkan dan ia merasa sangat bersalah sekali dengan ayahnya.

       “Ayah,maafkan Tara. Tara minta mohon maaf!”

       “Sudah Tara, ayah sudah tahu semuanya. Seharusnya ayah yang minta maaf.”

       “Tapi yah?? Tara yang salah?”

       “Tidak nak!”
                                                                                                                                                    
       Disaat genting seperti ini, sebenarnya ia ingin sekali meluapkan kekecewaannya terhadap sahabatnya. Tetapi mulutnya tidak kuasa berkata apa-apa. Ia hanya diam seribu bahasa.

       Satu minggu kemudian, keadaan Tara sudah pulih kembali. Tetapi ia masih sedih dengan peristiwa kebakaran hebat yang telah menimpanya. Selain itu, dia sangat kecewa dengan sahabatnya yang tiba-tiba muncul kembali setelah lama meninggalkannya. Ia sangat menyesal dengan apa yang telah dilakukannya selama ini. Ia merasa sangat bersalah sekali. Tanpa ia sadari sahabatnya dan kak Feno bersaing untuk mendapatkan Tara. Dian dan Feno sama-sama mencintai Tara.[1] Hal ini membuat Tara semakin tidak karuan rasanya. Hari-harinya terasa hanya berwarna hitam putih saja. Tidak ada lagi warna biru yang menghiasinya. Kegalauanpun merasuki jiwanya. Ia bingung harus memilih siapa. Baginya, sudah tidak ada lagi yang salah dan disalahkan.

       Kini, waktu pun telah menjawabnya. Rasa kekecewaaan terhadap sahabatnya menghilang. Sahabatnya pergi bukan berarti meninggalkannya. Dian pergi karena tidak ingin memperparah keadaan yang dialami Tara satu tahun yang lalu. Sebenarnya Dian selama ini mengidap penyakit leukimia dan ia meninggalkan Tara untuk berobat di luar negeri. Feno pun tahu keadaan Dian setelah ia melihat sebuah kertas yang dibawa Dian jatuh. Feno sangat menyesal telah menyakiti Dian.

***
       
Taman kota pagi ini masih sangat sepi. Sejuk angin datang bersemilir silih berganti. Air-air sisa hujan masih tergenang diantara rerumputan hijau. Pelangi muncul dari ufuk timur. Warna-warnanya sangat menakjubkan. Warna pelangi mengajari tentang banyak hal. Pelangi ada dilangit tinggi sana. Tetapi pelangi juga ada didalam hidup ini. Tara pun membaca sebuah kutipan dari sebuah buku yang berjudul “Karena cinta harus memilih” yang sedang dibacanya.

       “Ketika cinta menyapa, jangan silau dengan indahnya dia, tetapi lihatlah apakah cinta itu akan membuat kita semakin dekat dengan Allah SWT atau tidak.”

       Ia pun bangkit kembali mengingat geplaknya. Bersama sang ayahnya ia mulai lagi membuka usaha geplaknya dari nol. Ia membuka lembaran-lembaran baru lagi.

       “Kan kutinggalkan masa lalu itu dan aku buka lembaran baru ini!”

       Ayahnya pun tersenyum sangat bangga dengan anaknya.

       “Dan jujurlah dengan apapun, dimanapun, bagaimanapun keadaannya!”

       Kini Tara memulai hidup dilembaran barunya….

       “ Semua aku kembalikan kepada Mu”

Lukisan Terakhir


  Cerpen ditulis oleh: Ibnu --- SMA IT Abu Bakar
  Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

   www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
            FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik
___________________________________________________________________


            Pagi datang gantikan malam yang lelapkan jiwa-jiwa lelah, bagai pelayar yang sampai di dermaganya. Nampak di kejauhan senja sekolah kecil berbalut harapan terhampar di sudut pandangan pelangi. Pagi itu lagit tampak berawan, udaranyapun tampak dingin bagai di kutub utara. Alam seolah berbisik akan kejadian yang akan terjadi di waktu nanti.
            Bel sekola berbunyi, pertanda waktu pelajaran akan dimulai memenggal hari dengan rutinitas. Dari kejauhan lorong jalan tampak seorang pria gemuk berseragam coklat mendekat ke pintu usang itu, seketika anak-anak belarian seolah sunami datang. Dengan senyum dan tatapan akrab pria gemuk membuka pembicaraan dengan lantang, “ pagi anak-anak”. Seolah tak ingin kalah anak-anak menjawab dengan bising seakan di jalan raya tengah hari, “pagi juga pak Doni”. Siapa yang tak tahu pak Doni? yang selalu membumbui pelajarang dengan riang gembira seperti acara Opera Vanjava, bagaimana tidak? pak Doni selalu mengajar dengan canda gurau yang membuat tiap yang mendengar tertawa riang tanpa mengenyampingkan pelajaran.
            Namun kali ini pelajaran berjalan tak seperti biasa, tampak kerut sepi dari tiap wajah. Bagaimana tidak? Satu bangku di barisan depan tampak kosong, teman sebangkunyapun tampak hawatir seolah malaikat pencabut nyawa ada di hadapannya. Adit tampak tak duduk di samping Dimas, teman baiknya. Hari ini adit tak masuk sekola tanpa keterangan, dimaspun yang selalu tahu kabar adit, kini tak tahu menahu tentang kabar adit kali ini.
            Jam pelajaran telah usai, bel berbunyi sangat kencang hingga anak-anak berlarian bagai rombongan kupu-kupu yang berimigrasi. Dimas berjalan menuju kantin dengan muka muram sembari berbisik dalam hati dengan seribu pertanyaan tak terjawab,” kemana Adit? Kenapa dia tidak menghubungiku? Aku takut ada hal buruk, mungkin sehabis pulang sekola aku bias mengunjungi rumahnya, oklah”. Setiba di kantin ia membeli minuman mengobati haus yang di tahan selama waktu pelajaran.
            Dari pojok kantin Bunga menghampiri Dimas, seolaha ada celah tuk meraih mentari. Dengan senyum dan muka yang memerah ia hampiri dimas dengan ragu, seolah berada di panggung yang di tonton ribuan orang.
Suara halus bertabur senyum akrab mengetuk pendengaran dimas,” hai dimas, bdw lagi apa ni?”.
Seolah terbangun di tengah malam buta Dimas menjawab dengan nada yang lelah,” lagi minum aja Bung, ada apa?”.
Seolah tersentak hebat, mata Bunga menerawang dimas. Dengan wajah penuh tanya bunga kembali bertanya,” ko muram, kenapa?”.
Dimas hanya diam melamun hingga sentakan bunga menariknya ke dunia fana kembali, “ Mas kenapa? Jagan ngelamun entar bias kesurupan!”.
Seolah baru terbangun dari mimpi panjangnya, Dimas hanya terdiam tanpa berucap. Bunga kembali membuka pembicaraan, seolah belup puas akan keterangan-keterangan dimas.” mas, kalo ada masalah bilang aja! gk pa-pa ko, akukan temen kamu”. Seolah berharap mengorek informasi yang lebih dari saksi perkara.
            Waktu berjalan begitu cepat hinngga tak di sadari bel masuk berbunyi, semua kembali mengikuti pelajaran dengan bercanda gurau yang tentu tak mengalihkan pelajaran.
            Waktu kini menunjukan jam pulang, Dimas bergegas merapihkan semua buku-bukunya dan segera ke rumah Adit, seolah ia kunang-kungang dewasa yang waktunya tiada lebih dari satu hari. Dimas keluar dari gerbang sekola, dari kejauhan suara teriakan memanggil-manggilnya, seolah penggemar yang berharap bertemu. Ternyata itu bunga, sang putri manis yang masih belum puas mengorek informasi darinya.
”hai mas, ko buru-buru banget sih? emang mau kemana? bdw kamu belum jawab yang tadi di kanting, kenapa kamu muram?”, beribu tanya ia hujat pada dimas dengan menawan tiap kata yang akan di ucap dimas, bagai mengintrogasi napi.
Dimas menjawab pertanyaan-pertanyaan bunga dengan wajah yang kusut,” Aku hawatir Bung, Adit gk sekolah dan gk kasih kabar.. sekarang aku mau lihat dia di rumahnya”.
Bunga seketika itu tersentak, matanya seolah ingin keluar, dan hatinya meronta-ronta kesakitan,” Mas, aku boleh ikut ya?please!”, memelas picik hingga tiada yang tega menolak.
Dalam hati Dimas berbisik lirih,” aku tahu anak ini suka ma Adit, siapa yang gak tahu? Semua tahu karna sifatnya itu.. bahkan adit sendiri tahu dan menyukai dia juga, tapi.. adit menolak untuk mengatakan prasaannya. Aku ingat Adit pernah berkata ‘biarlah waktu yang mempertemukan perahuku dengan dermaganya’ tiada lagi kata yang di ucapnya saat itu, sunggguh ia orang yang bijak”.
            Belum lama dimas menghadapi Bunga, dari belakang Dani menyambar pundak Dimas dan meminta agar bisa ikut melihat keadaan Adit juga. Tanpa berpikir panjang Dimas memperbolahkan, tanpa babibu lagi Dimas segera mengajak Bunga dan Dani untuk segera berangkat, ia hawatir anak-anak lain juga ikut, gimana tidak? Adit adalah murid yang pintar dan baik pada siapapun, pantas saja semua sangat menghawatirkannya.
            Di tengah keramaian jalan raya, bis yang di tumpangi mereka tiba-tiba berhenti mendadak. Kehawatiran dimas semakin memadat, ribuan dugaan akan keadaan Adit semakin memadatkan pemikirannya, entah mungkin ia berfikiran bahwa hal buruk menimpa Adit. Di sela-sela ketegangannya ingatan dimas bersama Adit tiba-tiba terlintas, bagai hembusan angin yang singgah menghapus gerah.
            Siang itu waktu menunjukan pukul satu, Adit dan Dimas berlari-lari mengejar bis untuk  berangkat bimbel ke Ganesa. Satu setengah jam mereka menunggu, akhirnya ada satu bis yang lewat di jalan.
            Terik matahari sungguh membuat kerongkongan meronta-ronta kehausan, bis yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti mendadak, ternyata bannya bocor dan harus di ganti. Adit dan dimas terpaksa menunggu karna tidak ada bis yang melewati rute ini lagi, karna sudah terlalu sore, maklum daerah pedesaan, namun itu tak menyurutkan semangat mereka untuk menuntut ilmu guna menggapai citanya.
            Ingatan itu membuat dimas tersenyum tipis, seolah menonton komedi di panggung jalanan. Bunga dan dani saling berpandangan dan saling bertanya,
Dengan wajah yang mengerut dan Tanya yang melambung dani bertanya” kenapa dimas bung?”,
Bunga yang sama bingungnya menatap Dani dan menjawab,“ gak tahu, ada yang lucu kali”.
Mereka tak tahu keakraban Dimas dan Adit sangat harum, seharum bunga mawar dan melati. ingatan-igatan dimas bersama aditpun sungguh kental, bagai ikatan darah sodara kembar yang kadang ada masalah satu sama lain.
            Kini bis kembali bisa berjalan. Setelah melihat keadaan jalan, sang supir tancap gas dan melanjutkan perjalanan. Udara siang di desa sungguh sejuk, beda dengan kota yang panas dan sumpek. Pemandangannya sunguh asri dan elok, sedikit mengobati kecemasan Dimas akan keadaan Adit, bagai bumi yang disiram sinar mentari pagi.
            Mereka telah tiba di desa Adit, tanpa menggaruk-garuk kepala lagi mereka bergegas menuju rumah Adit. Sesampainya di rumah Adit, mereka tampak heran, rumahnya tampak sepi, seolah tiada lagi yang menempati.
            Dimas, Bunga, dan Dani mengetuk pintu rumah Adit, berapa ketukan dan sapaan tidak ada jawaban, sungguh aneh, seolah rumah itu tuli tak berpendengaran.
            Dimas mencoba kembali menghubungi Adit dan Ayah, Bundanya, namun tidak ada jawaban, hanya balasan nomor sibuk, selama berkali-kali. Rasa cemas dan hawatir dimas semakin menjadi-jadi. Dani mendekati Dimas dan menyarankan menanyakan kepada tetangga adit, namun nihil, tiada yang tahu seolah mereka buta hati buta mata dan Adit bersama keluarganya seakan di telan bumi.
            Dua jam mereka menunggu di teras rumah adit namun tiada yang datang atau membuka pintu, “ sungguh, sebenarnya kemana Adit sama keluarganya, di hubungi gak bisa, di rumahnya gak ada, dan tetangganya gak ada yang tahu?”, muka dimas memerah kehitam-hitaman bagai buah tomas busuk, tangannya mengepal kencang dan wajahnya mengeruh bagai serigala yang di cabik-cabik rasa lapar.
            Jauh dari rumah Adit, tepatnya di rumah sakit harapan, Adit terbaring tak berdaya. Bererapa hari ini ia demam tinggi dan tak sadarkan diri. Adit terpaksa harus masuk rumah sakit, padahal keluarganya tidak punya uang yang cukup untuk sekedar berobat, inipun harus pinjam sana-sini. Orang tua mana yang tega anaknya menderita? malah sebaliknya, mereka rela banting tulang siang malam, berhujan keringat dan bercucuran darah hanya demi anaknya. Kasih dan cinta mereka sepanjang masa, namun kasih anak sering kali terputus di tengah jalan, bagai kacang lupa kulitnya.
            Setelah berapa lama Adit siuman, ayah dan ibu Adit menangis melihat Adit, mereka sangat menghawatirkan anaknya Adit.
Adit seolah ingin berbicara pada orang tuanya dengan tubuh yang masih lemas dan wajah yang pucat,”mah pa, jangan hawatir.. adit gak kenapa-kenapa, bentar lagi juga sembuh.. meningan sekarang kita pulang aja, adit udah baikan”.
            Siapa yang tak bisa membaca keadaan Adit, mukanya pucat dan keadaan tubuhnya sangat lemah. Dari diagnosa dokter keadaannya sangat buruk, walaupun ia telah siuman dan panasnya menurun. Awalnya dokter mengira adit terkena demam biasa, namun setelah peninjauan lebih lanjut, penyakit adit tidak di ketahui.
            Entah sampai kapan ia masih bisa bertahan, dokter sudah berusaha dan tak banyak yang bisa ia lakukan, hanya tinggal pasrah dan berharap tuhan berbelas kasih.
            Adit meminta orang tuanya mengambilkan Hpnya, ia ingin menghubungi teman baiknya Dimas dan teman-teman lain supaya tidak hawatir akan keadaannya.
            Ibu Adit memberikan Hp Adit, dengan tangan yang gemetar hebat. Tanpa sempat berucap lagi, ibu Adit keluar ruangan adit dengan emosi yang menggebu-gebu, matanya tak sanggup lagi menahan air mata yang telah ia tahan dari tadi. Ayahnya hanya bisa berpura-pura tersenyum dan menyembunyikan perasaan sesungguhnya, ia takut anaknya di panggil ilahi, ia belum siap kehilangan adit anaknya.
“Kring.. Kring..”, HP dimas berbunyi, seolah panggilan dari atasan kerjanya, ia panic tak jelas, ini belum pernah terjadi sebelumnya, sungguh berbeda dari sifatnya.
            Dimas mengambil HP dari saku kanannya, di layar tertera nama adit, seolah tak percaya matanya bergerak keluar dari rutenya, jidatnya mengerut drastis, dan mulutnya terbuka lebar. Seolah tak percaya, dalam hati ia berkata,” apa benar ini adih, sukur, akhirnya dia ngehubungi”. Dengan rona bahagia yang tak percaya.
            Hanya satu ucapan yang terdengar dari telfon dengan nada lemah dan terputus-putus,” dimas..”. Tiada ucap lagi yang terdengar, hanya suara yang tak jelas, seperti berbisik di tengah badai.
            Adit kembali tak sadarkan diri, kini keadaannya tambah buruk, ayah dan ibu Adit memanggil dokter, memintanya agar cepat menangani keadaan Adit yang semakin memburuk.
            Dimas bertanya pada nada telepon yang telah terputus itu, seolah masih ada jawaban, ia berteriak kencang membuat bumi terguncang, namun sayang, telepon yang sudah terputus tidak akan menjawab. Dimas seketika itu terdiam membendung air mata yang akan menetes jatuh ke bumi.
            Seakan hatinya meronta-ronta kesakitan, bagai tertusuk sebilah tombak tepat di jantung tanpa ada perlolongan. Ribuan Tanya ia hujat pada saluran telekomunikasi itu, namun tiada jawab, hanya jerit hati yang menggema, tiada mahluk yang bisa mendengar, hanya dia, alam, dan Tuhan yang tahu.
            Bunga dan Dani yang berada di dekatnya seolah tersentak kaget tanpa tahu menau apa yang terjadi.
            Bunga dan Dani menghampiri dan bertanya pada dimas, namun tiada jawab darinya. Dimas hanya terdiam bagai patung di tengah kota, tiada punya pendengaran, tiada punya rasa.
            Kini langit seolah ikut merasakan apa yang di rasakan dimas, ia menjatuhkan rinti-rintik air pada bumi, tanah menjadi basah, atap-atap yang bocor tak mampu menghalang air hingga jatuh ke dalam rumah para dermawan.
           






Wayang

Cerpen ditulis oleh: Iqbal
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
         FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
         Twitter: @kpp_menulis | klik
________________________________________________________

“Hoii... tunggu jo pada mlayu...!!!” Teriak seorang pedagang di pasar Beringharjo. Tiga remaja berlarian zig-zag menghindari lalu lalang orang di jalan sempit pasar yang penuh pedagang. Mereka berlarian mengindari kejaran pedagang tadi, tepatnya kabur, walaupun akhirnya tak dikejar sampai jauh. Dua wajah remaja tampak kegirangan karena berhasil mengerjai pedagang di pasar, satu wajah lagi tampak kebingungan sekaligus panik.

“Wah edan kalian ki... jaan...” kata Rama dengan ngos-ngosan

“Lah edan piye to?” jawab Tedjo sambil menata nafas setelah berlari.

“Kui mau kowe-kowe pada kie ngopo? Maling?!” tanya Rama
“Huuss... ngawur, sorry ya sendableg-ndableg aku sama Tedjo ki jo nganti maling! Yo ra Djo?”sergah Agus sambil njawil Tedjo.
“Terus? Mau pada ngapa?” selidik Rama.
“Santai Ram santai... tadi itu kita cuma usil, iseng wae.” kata Tedjo sambil cengengesan yang disambut Agus.
“Iseng piye jal?” tanya Rama

“Tadi itu Tedjo sama aku iseng pura-pura maling barang dagangan si-bapak tadi, nyambi tanya-tanya Tedjo pura-pura ngutil diselipin kaos biar bapake tadi liat, nah pas udah masuk dalem kaos barange dijatuhin, terus Tedjo kabur, sedurung aku ikutan kabur barange tak kembaliin sebelum bapake liat... gitu lhoo” jelas Agus sambil memperagakan. Tedjo hanya cengengesan mengingat kejadian barusan dan melihat temannya sedikit naik darah.

“Gitu lho gitu lho... tadi nek ketangkep disangka maling terus dikeroyok piye? Dasar pada kurang gawean!” kata Rama dengan sedikit jengkel kepada dua orang temannya.

“Iyo... sorry Ram, sorry... tapi untung ora dikeroyok tha? Hehe” elak Tedjo

***

Rama memandang langit cerah bertabur bintang sambil duduk di beranda lantai dua rumahnya, menikmati hembusan angin malam di bawah cahaya rembulan. Dirinya memandang jauh sambil berfikir tentang dirinya, tentang masa depannya, tentang teman-temannya, dan semuanya. “Apa yang aku lakukan saat ini ya? Jadi kayak apa aku besok setelah besar ya? Bagaimana sama teman-temanku ya? ” pikiran-pikiran itu berputar-putar dalam benak Rama.
“Oii... Ram, wah malem minggu ngelamun aja nih” panggil Tedjo dari depan rumah, ada Agus juga.

Rama yang terkaget dengan panggilan Tedjo langsung menjawab sekenanya “Lagi mikir masa depan ki”

“Oh... tak kira mikir negoro... hehe” ujar Agus sambil terkekeh.

“Wislah... mbangane ngelamun melu aku sama Agus wae yook!” ajak Tedjo

“Pada mau kemana je?” tanya Rama

“Dah ikut aja...” kata Tedjo

“Tapi ora aeng-aeng meneh lho” kata Rama memberikan syarat pada Tedjo dan Agus.

“Iyo iyo... khawatir banget, mung mlaku-mlaku kok” kata Agus menjawab kekhawatiran Rama

“Ya wis... tunggu sedilit tak ngisya’ sik” jawab Rama.
Ramainya malam minggu di jalanan Jogja menemani mereka bertiga berjalan-jalan menuju alun-alun. Alun-alun utara tampak ramai dimalam minggu, apalagi di alun-alun selatan, banyak muda-mudi yang menikmati malamnya dengan berbagai hiburan di sana semisal sepeda dengan kerlap-kerlip lampu atau sekedar minum kopi dan makan jagung bakar. Berbeda dengan mereka bertiga, mereka hanya sekedar jalan-jalan menikmati malam yang menyelimuti kota Yogyakarta, sambil melepas penat.

“Angkringan yook...” ajak Rama yang mulai lapar dan bosan dengan pemandangan muda-mudi di alun-alun, yang katanya ‘bikin iri.

“Tumben ngajak duluan ke angkringan, arep dibayari pasti” goda Agus

“Wah iyo iki...” Tedjo mengiyakan perkataan Agus sambil senyum-senyum

“Tak bayarke ora papa hehe” kata Agus sambil tertawa kecil

“Huu... lha podo wae, ya wis lah” pasrah Tedjo, Agus memperhatikan sambil senyum.

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Serasa cukup untuk mengisi perut di angkringan, setelah membayar mereka berencana pulang, tapi mana mungkin mereka langsung. Nol Kilometer, mereka sempatkan mampir, yang dulunya terkenal dengan Pancuran, karena di tengah-tengah perempatan Kantor Pos Besar dulunya ada pancuran, mereka ingin duduk-dukuk sampai pukul 22.30 melihat berbagai kegiatan anak-anak muda di bawah lampu jalan, ada yang berfoto-foto, bermain musik, freestyle sepeda, dan berbagai hal lainnya.

***

Hari demi hari telah berlalu, Rama masih merasakan ada yang kurang dalam dirinya, sama seperti yang ia pikirkan malam itu. Hari-hari yang telah ia jalani bersama kedua orang temannya yang sudah saling klop dilalui seperti biasa, belajar, bermain, iseng, gila-gilaan, dan lainnya. Rama berfikir walaupun saat ini bisa hidup seperti ini, bersenang-senang bersama, toh akhirnya nanti, pasti juga akan memiliki kehidupan sendiri-sendiri, kehidupan pribadi.

Sampai suatu ketika, mereka bertiga berjalan-jalan menikmati malam menuju alun-alun utara, tujuan mereka seperti biasa, yaitu melepas penat dan bersantai. Bagi mereka berjalan disuasana yang ramai di bawah lampu-lampu kota Jogja yang tampak klasik adalah suatu hal yang menyenangkan, melihat orang berlalu lalang dengan berbagai ekspresi. Sampai di alun-alun tak disangka ternyata sedang ramai karena ada pagelaran wayang kulit.

“Pantesan rame banget, ternyata ada wayangan... tekan isuk ki” ujar Agus
“Halah, ra bakal bisa nonton nganti bubaran, mesti ditinggal turu” ledek Tedjo pada Agus

“Ora yoo... ora salah hehe” jawab Agus sambil tertawa

“Wah, sing nontoh wayang akeh men” kata Rama

“Lah, emang kan?” kata Agus
“Aku lagi ngerti, lha biasane nang gambar utawa tivi mung ketok wayang plus dalange thok” jelas Rama.

“Ya wis... saiki ke sana wae yo... nonton wayang, pie?” ajak Tedjo

“Yook...” jawab Rama dan Agus serempak

“Lhaa… kok yang nonton kebanyakan orang tua, bapak-bapak?” tanya Rama
“Ya maklum lah Ram, jaman sekarang anak muda udah pada males liat wayangan yang begini, kalo jaman dulu sih banyak cah enom ikutan nonton. Nek sekarang ini, sing enom-enom, yang muda-muda, nonton wayang seneng’e kaya di tivi, wayang humor, terus…”

“Wis… wis… wis… malah pelajaran” sela Tedjo kepada Agus

“Pelajaran opo sih, mung njelasna kok” sewot Agus

Rama hanya tertawa kecil, dan dipikarannya berputar tentang wayang dan tentang penjelasan Agus barusan.

Mereka bertiga menonton wayang dipaling belakang sambil berdiri berjajar. Tak satupun dari mereka bertiga berceloteh. Mereka menikmati pertunjukkan wayang dan mengagumi kesenian yang mulai kurang peminatnya di kalangan muda itu. Entah karena menurut mereka tidak menarik, membosankan, ketinggalan zaman, atau apalah yang menurut anak muda tidak sesuai dengan gaya mereka sekarang.

“Sesekali boleh nih, liat beginian… rada oran donk sih, tapi menarik” ucap Rama

“Yup betul” kata Agus.
Terdengar tawa lepas mereka bertiga di antara kerumunan orang yang menonton pertunjukan wayang di alun-alun malam itu.

***

Pertunjukkan wayang malam itu membuat pikirannya terusik. Dirinya masih teringat jelas apa yang ia lihat, wayang kulit, dalang, sinden, pemain musik gamelan, dan semuanya yang mendukung pementasan wayang dengan alur drama yang apik. Ia perpikir kenapa pertunjukan itu dapat membuat orang terutama dirinya yang baru pertama kali menonton secara langsung itu terasa menarik.

Setelah salat Isya’ berjamaah dengan ayah ibunya, dirinya meminta diri untuk kembali ke kamar.
“Ibu Ayah, Rama ke kamar dulu nggih”
“Iya” jawab Ibunya dengan hangat disambut senyum dari Ayahnya
Rama memasang headset ke telinganya dan music pun berputar. Sambil tiduran Rama menerawang jauh keluar jendela kamarnya yang terlihat gelap. Dirinya masih penasaran dengan apa yang terpikir olehnya tentang wayang, dirinya merasa seperti akan menemukan sesuatu tentang dirinya dari pertunjukkan wayang itu. Seketika ia teringat dengan apa yang dipikirkanya dulu, mengenai dirinya, masa depannya, teman-temannya, dan semuanya. Akhirnya Rama menemukan jawabannya. Jawaban yang selama ini ia nantikan. Dirinya harus menentukan sendiri jalan hidupnya agar dirinya menjadi yang terbaik diantara yang terbaik, yang bermanfaat dan berguna, dan menjadikannya sebagai cerita sebuah drama kehidupan seorang Rama, karena hidup merupakan pilihan, menjadi yang baik atau yang buruk kita yang menentukan, pilihan yang terbaik akan dibukakan jalan oleh Allah SWT, itulah jawaban mantab yang ia dapat setelah menonton pertunjukkan wayang yang baginya hidup itu seperti drama dalam wayang, bedanya hidup di dunia ini kita sebagai sutradara atau dalang dan kita jugalah yang menjadi pemain atau wayangnya, sedangkan pertunjukkan kesenian, wayang jalan ceritanya ditentukan oleh sang dalang yang sudah diatur, berbeda jika kita menjalani kehidupan kita sendiri sesuai dengan jalan kita yang sudah diberi pilihan oleh-Nya.
“Nah ini dia, aku siap” kata Rama dalam hatinya dengan senyum di raut mukanya
Ready steady get me home back
Ready steady give me good luck
Ready steady never look back
Let’s start ready steadyBagian lagu yang ia dengarkan melaui headset malam itu membuatnya tambah mantap dengan pilihanya, berubah!

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *