Sunday, April 10, 2016

Sejarah Komunitas Literaksi

Pada mulanya, komunitas menulis yang didirikan pada Februari 2010 ini diresmikan dengan nama Komunitas Penulis Pelajar (KPP) dalam acara perdananya, Festival Bulan Menulis, di salah satu ruangan di Kompleks Balai Kota Yogyakarta. Dalam perkembangannya, KPP menyelenggarakan berbagai kegiatan yang mengusung tema kepenulisan. Mulai dari Festival Bulan Menulis, Angkringan Bikin Buku, Pena Kreasi Ramadhan, Travel Writing Class, dan belasan program lainnya. Berbagai program ini mampu menarik lebih dari 100 remaja untuk bergabung dan mengikuti program-program tersebut.

Akan tetapi, karena kendala pengelolaan di internal KPP, berbagai program tersebut tidak dapat bertahan lama atau mencapai target yang diusungnya. Alhasil, para remaja yang telah bergabung satu persatu mulai tidak menunjukkan dirinya.

Berbekal keinginan untuk mengelola komunitas secara profesional dan terarah, para pegiat komunitas ini mulai mencanangkan adanya perubahan nama komunitas sebagai perwujudan tekad yang kuat untuk ‘menyelamatkan’ komunitas. Pertimbangan perubahan nama ini mencakup beberapa hal.

Pertama, kata-kata ‘pelajar’ yang ada di dalam nama Komunitas Penulis Pelajar dianggap mengekslusifkan target dari komunitas ini. Selain itu, kata-kata ini juga disinyalir membuat para anggotanya hanya aktif ketika mereka masih pelajar sehingga setelah mereka lulus SMA/SMK, mereka menjadi tidak aktif kembali di komunitas ini.

Kedua, penyebutan ‘Komunitas Penulis Pelajar’ dianggap terlalu panjang dan tidak praktis. Kata-kata tersebut juga dirasa terlalu kuno di kalangan remaja.

Ketiga, penyebutan kata ‘penulis’ dianggap membuat persepsi bahwa satu-satunya produk dari komunitas ini adalah buku. Padahal, berita atau blog juga merupakan produk dari aktivitas menulis.

Berdasarkan ketiga pertimbangan di atas, ditambah masukan dari pihak-pihak lain, para pegiat komunitas ini sepakat mengubah nama ‘Komunitas Penulis Pelajar’ menjadi ‘Komunitas Literaksi’ pada akhir tahun 2014.

Latar Belakang Komunitas Literaksi

Remaja merupakan salah satu fase di dalam kehidupan manusia yang penting. Pada masa ini, orientasi pergaulan mereka mulai bergeser dari orangtua ke teman sebaya. Hal ini membuat remaja rentan terhadap pengaruh-pengaruh negatif akibat pergaulan di lingkungan yang buruk atau dikenalkan terhadap kegiatan-kegiatan yang negatif. Selain itu, pengaruh globalisasi dan derasnya arus informasi di dunia maya membuat remaja semakin dekat dengan berbagai hal yang dapat berdampak negatif pada dirinya. Oleh karena itu, remaja perlu mendapatkan ruang gerak yang mampu memberdayakan energi berlebihnya ke arah yang lebih positif. Dari berbagai jenis potensi yang ada pada remaja yang dapat dijadikan sarana positifnya dalam bergerak, potensi literasi merupakan salah satunya.

Kata ‘literasi’ berasal dari bahasa Inggris “literacy” yang memiliki makna ‘kemampuan untuk membaca dan menulis’. Sedangkan menurut Ubedilah Badrun1), budaya literasi mencakup budaya membaca, budaya menulis, budaya berdiskusi dan budaya riset. Pada sumber yang lain, literasi merujuk pada gerakan mencerdaskan masyarakat dengan kemampuan membaca dan menulis. Sedangkan kata ‘aksi’ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna ‘tindakan.’ Berdasarkan makna di atas, maka kata ‘literaksi’ yang merupakan akronim kata ‘literasi’ dan ‘aksi’ bermakna budaya literasi yang digalakkan melalui kegiatan baca, tulis dan diskusi.

Pentingnya budaya literasi di kalangan pelajar salah satunya berangkat dari sebuah kajian oleh Organization for Economic Cooperation and Development (EOCD) yang bertajuk What Students Know and Can Do: Student Performance in Reading, Mathematics, and Science Program for International Student Assesment (PISA) pada tahun 2009. Kajian ini menyatakan bahwa Indonesia menempati posisi 57 dari 65 negara yang dikaji mengenai budaya literasi di kalangan pelajar. Sedangkan pada 2006, studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) yang melibatkan pelajar menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara.

Melalui Komunitas Literaksi, remaja diharapkan dapat menumbuhkan, mengembangkan dan mengoptimalkan potensi dan energi mereka ke dalam budaya literasi yang meliputi aktivitas baca, tulis, dan diskusi. Dengan budaya inilah, remaja diharapkan dapat menjadi remaja yang kreatif dan produktif serta bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Saturday, April 9, 2016

Booktuber's Sharing

1. Apa itu program Booktuber's Sharing?
Booktuber's Sharing adalah kegiatan diskusi buku yang diselenggarakan oleh komunitas Literaksi.

2. Siapa yang berhak mengikuti program Booktuber's Sharing?
Siswa SMA/SMK/sederajat yang memiliki semangat belajar tinggi dan tertarik berdiskusi tentang buku.

3. Apa fasilitas yang didapatkan oleh peserta program Booktuber's Sharing?
Ilmu yang bermanfaat, snack, sertifikat dan relasi.

2. Apa tujuan diadakannya program Booktuber's Sharing?
Program ini bertujuan untuk meningkatkan minat dan budaya diskusi dan membaca di kalangan siswa SMA/SMK/sederajat.

3. Apa hasil akhir yang diharapkan dari program Booktuber's Sharing?
Hasil akhir yang diharapkan dari program ini adalah video-blog seputar buku-buku yang didiskusikan serta peningkatan kemampuan peserta dalam mengulas atau me-review suatu buku.

4. Seperti apa bentuk program Booktuber's Sharing?
Program Booktuber's Sharing akan dilaksanakan dalam bentuk diskusi kelompok kecil (5-7) orang dan sesi pengambilan gambar untuk membuat video-blog.

5. Kapan program Booktuber's Sharing dilaksanakan?
Program Booktuber's Sharing akan dilaksanakan selama 5 pertemuan pada tanggal 17 April, 23 April, 1 Mei, 15 Mei dan 29 Mei 2016. Perlu diketahui bahwa tanggal bisa berubah berdasarkan kesepakatan dan kebijakan panitia.

6. Bagaimana cara mendaftar sebagai peserta program Booktuber's Sharing?
Silakan isi form di bit.ly/booktuber1

7. Apakah ada biaya yang harus dibayarkan untuk mengikuti program Booktuber's Sharing?
Tidak ada. Kegiatan ini bersifat gratis.

8. Dimana pelaksanaan program Booktuber's Sharing akan dilakukan?
Di lingkungan perpustakaan Grhatama Pustaka, Jl. Janti, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *