Monday, April 8, 2013

Cerita Sahabat

















Dimana ada sahabat, di sana selalu ada cerita.
Ini hanya awal. Menuju jalan yang lain.
Segala hal yang bercampur.kuning ke-emasan.
Gelora yang masih tak beraturan. Membara. Meledak-ledak.


Tiada bisa ku lupa. Diantara seribu cerita.
Di mana kita saling bercerita. Tentang berbagai hal.
Kala duka, suka, tangis, dan ceria. Merangkul. Memeluk.
Dimana aku, kamu, dia, dan mereka ada di dalamnya.


Antara kisah dari cinta, problema. Angan dan mimpi.
Yang sebelumnya belum pernah aku rasa.
Idah terasa, walau duka kadang menikam. Menyayat. Menjatuhkan diri.
Kembali. Kita saling merangkul. Menghangatkan perasaan yang dingin.


Semua ini yang akan mengingatkanku. Tenang segala hal.
Disini. Di antara renggang dewas dan remaja.
Disini. Diputih abu-abu mereka bercerita.





Pengarang:

Ibnu Carles Edison, SMA IT Abu Bakar


Biarlah Waktu Menjawab















Kulihat awan disana.
Terbentang hiasi langit.
Ditemani rerumputan hijau.
Aku terbaring menatap langit.

Kurenungi hari-hariku.
Tiap detaknya memiliki arti yang berbeda.
Tiap denyutannya meresap dihati dan jiwa.

Sering pedang-pedang hitam.
Menyayat raga lelah yang menua ini.
Namun selalalu ada api yang membara.
Memekarkan bunga yang telah jatuh.

Kita sering mengharap hari yang indah.
Namun takdir kadang berkata lain.
Walaupun kita telang berjuang. Berhujan keringat. Berlinang air maat.

Biarlah waktu menjawab takdir yang tersimpan.
Hingga jiwa dan raga menginjak masanya.
Karna kita hanya insan lemah penuh noda.
Yang tak punya daya upaya tanda kasihnya.






Pengarang:

Ibnu Carles Edison, SMA IT Abu Bakar

Mozaik Kaca















Menawan keindahan.
Pecahan-pecahan kaca yang bermacam.
Saling melengkapi satu dengan yang lain.
Membuatnya bermakna dan ber’arti.

            Beragam bentuk, kualitas, ataupun masa.
            Pecahan-pecahan kaca yang terangkai dalam mozaik.
            Tak merubah arti dari keidahan gelora pesonamu.
            Walaupun telah habis begelut dengan masa.
            Namun pesonamu, terus terpancar abadi dalam hati dan jiwa.
            Menghias bumi dengan kehangatan.

Membangkitkan.
Semangat yang redup.
Karna tiupan angin kehidupan yang kencang.
Menghapus segala amarah dan duka yang melanda.
Semua tersenyum, semua tertawa riang.


Pengarang:

Ibnu Carles Edison, SMA IT Abu Bakar

Puisi untuk ayah















Semerbak tubuhnya
meresap terpancar di jiwa
Membungkus tubuh yang belia
Dari kerasnya tanah yang dipijak raga

Semangatnya tak pernah surut ataupun luluh
Senantiasa terus membara tak pernah terpecah
Ditanah kring yang tengah meleleh
Dalam langkah yang memgrogoti jiwa tanpa kasih

Namanya dikenang sepanjang masa
Menjadi angin dalam panasnya api yang membara
Menyejukan jiwa yang tengah mendamba
Dalam kisah hitup yang tengah diukir jiwa

Sepenggal kata bermakna tak terhingga
Berkata lembut halus melelehkan keangkuhan hati yg ada
Itulah engkau yg slalu didamba tiap jiwa
Itulah engkau yg slalu kami panggil ayah trcinta



Pengarang:

Ibnu Carles Edison, SMA IT Abu Bakar

Dan Untuk Indonesiaku












Sungai dahaga terbentang sabana bumi.
Kaki-kaki pepohonan menancap langit.
Dan keanekaragaman hayati yang melimpah.
Membanjiri tanah daku. Ibu pertiwi.

Berbeda suku, budaya, bahasa, dan agama.
Terpisahkan oleh benteng laut yang terhampar.
Namun kita terangkai dalam satu ikatan wadah.
Dengan semangat cita yang berlandaskan jiwa persaudaraan yang teguh.
Dalam satu tujuan dan satu pandangan yang esa.

Merah darahku. Putih tulangku.
Lambang bendera negriku yang agung.
Burung garuda yang mencengkram pulau-pulau.
Bukti akan besarnya bangsaku.
Dan pancasila dasar negriku.
Menjadi bukti luhurnya pribadi bangsaku.

Wahai pemuda pemudi anak bangsa.
Mari bergegaslah. Angkat jangkar.
Tanjap gas. Bentangkan layar.
Katakana pada dunia… kami anak Indonesia.
Kami anak Indonesia. Kami anak Indonesia.
                             
Buktikan pada mereka Indonesia Negara yang besar dan luhur.
Buktikan pada mereka tak selamanya awan hitang menutupi bangsa ini.
Dan buktikan pada merka. Kita anak Indonesia. Kita anak Indonesia.
Kita anak Indonesia. Yang akan memegang mentari ditangan kanan.
Rembulan ditangan kiri dan pelangi didalam hati kita.



Pengarang: 

Ibnu Carles Edison, SMA IT Abu Bakar

Friday, March 15, 2013

Hasil Waktu Itu


Tuesday, March 12, 2013

Ikutilah! TRAVEL WRITER Trainning


Traver Writer
Cara baru buat ekspresiin dirimu yang 
hobi nulis sekaligus jalan-jalan

Kenangan Manis di Bulan Menulis

Bulan Menulis adalah event tahunan Komunitas Penulis Pelajar, dimana acara tersebut dilaksanakan setiap hari Ahad, selama 1 bulan. Biasanya mengambil Bulan Februari untuk event ini. Berikut foto-foto Kenangan manis disaat Bulan Menulis...




Launching Berdirinya Komunitas Penulis Pelajar







Salim A Fillah



Peserta Bulan Menulis #1




Panitia Bulan Menulis #2




Suasana Tampak Belakang



Pemenang Lomba Saat Bulan Menulis










Monday, March 4, 2013

Evaluasi Komunitas Penulis Pelajar

Saat itu, adalah pagi menjelang siang, hari Minggu (3/3), usai melaksanakan “Mentoring Menulis”. Anggota Komunitas Penulis Pelajar diminta mengisi Evaluasi oleh Yuris, selaku ketua komunitas. Dalam hal ini terdapat 3 konten pertanyaan sebagai bahan evaluasi. Berikut 3 pertanyaan tersebut:
1. Apa yang kamu cari di KPP
2. Apa yang siap kamu lakukan untuk mendapatkannya?
3. Apa yang mesti dilakukan KPP untuk membantumu mendapatkannya?

Jawaban....

Anggota 1
1.   Di KPP saya ingin menambah pengetahuan tentang kepenulisan dan membuat hasil dari organisasi tersebut
2.    Menuliskan suatu peristiwa, sebuah tulisan yang berguna/memotivasi orang lain
3.    Mengikuti KPP dengan ceria dan canda gurau yang tetap mengedepankan kefokusan forum

Anggota 2
1.  Yang pasti ilmu, ingin menambah teman, ingin lebih mengembangkan dan lebih tahu tentang menulis
2.    2. Siap kerja keras dan belajar
3.    Praktik lapangan, motivasi

Anggota 3
1.     Ilmu tentang menulis, menambah teman dalam KPP
2.    Berusaha untuk memberikan masukan kepada anggota bagaimana menulis yang benar

Anggota 4
1.     Ilmu, keluarga, semangat untuk menulis terus dan terus
2.   Datang ke acara KPP sebisa mungkin dengan rutin, merutinkan diri untuk menulis setiap hari, menargetkan diri untuk berkarya
3.  Berbagi segala yang dipunya, harus ada makanan dan minuman, tempatnya yang mudah dijangkau transportasi umum, tidak bosan-bosan mengajak untuk datang, memaksa diri kami untuk berkarya

Anggota 5
1.     Untuk mengembangkan ilmu, karena saya bercita-cita jadi penulis, menambah pengalaman dalam berorganisasi/komunitas/keluarga baru, penjelasan tentang tata bahasa
2.   Komitmen untuk membagi waktu, harus mau bertanya untuk menambah ilmu dan mendapatkan apa yang dicari, siap untuk menerima saran, masukan dan kritikan
3.   Membeeri celah/ruang bagi anggota untuk menyampaikan aspiraasi, mendatangkan/berkunjung ke penulis/seseorang yang ahli bahasa, berpindah-pindah tenpat, pengurusnya juga harus terus belajar setinggi mungkin

Anggota 6
1.  Cari ilmu, cari teman, wawasan, pengalaman
2. Berlatih, rutin datang ke KPP, mentoring, berbagi ilmu dan cerita
3.  Memotivasi, trainning dan praktik lapangan, materi, penyampaian materi yang jelas, yang mudah dimengerti

Anggota 7
1.   Sesuai dengan nafas hidupku, mencoretkan tinta di atas kertas, berharap dengan tujuan pasti aku berharap di KPP dapat mengembangkan bakatku sebagai penulis yang berguna
2.   Berkarya dengan penuh, mencoba menuliskan pikiran dalam kata, berusaha datang walaupun dari Gunung Kidul, InsyaAllah
3.   Mengembangkan bakat anggota, mencari tempat yang inspiratif untuk mengembangkan ide dan pikiran, mencari tempat yang tenang dan damai

Anggota 8
1.    Ilmu yang bermanfaat, mendalami, mempelajari karya tulis
2.    Aktif di KPP, melaksanakan tugas-tugas sebagai anggota KPP untuk mutu sekaligus kualitas karya komunitas KPP
3.   Mengorganisir dan KPP mempersiapkan segala perlengkapan untuk KPP dan anggotanya, untuk mewujudkan pengembangan komunitas KPP

Anggota 9
1.     Agar bisa menulis novel, menemani teman, menjalin tali persaudaraan
2.    Membaca noel, mencari inspirasi
3.    Memberi motivasi, meneruskan perjuangan

Friday, March 1, 2013

Nur Fitriatus KPP jadi penyiar di MQ FM?



Foto diambil di Studio Siaran MQ FM. 

Foto Perempuan dalam foto, adalah Nur Fitriatus Shalihah, salah satu pengurus Komunitas Penulis Pelajar, yang saat ini tengah menjalani study-nya di MAN 1 Yogyakarta. Kelas XII

Foto KPP Bersama SMA 1 Yogyakarta


Foto diambil usai event "Goes To School" ke SMA Ngeri 1 Yogyakarta

Foto Komunitas Penulis Pelajar dengan Beberapa Anggota Tim Kepenulisan SMA 1 Yogyakarta, yang bernama SIGMA

Event Goes To School ke SMA 1 Yogyakarta



Usai Goes To School ke MAN 3 Yogyakarta


Lokasi: Halaman Sekolah MAN 3 Yogyakarta

Foto diambil setelah usai event "Goes To School" ke MAN 3 Yogyakarta

Thursday, February 28, 2013

Monday, February 25, 2013

Anggota KPP meraih juara 2



Para juara lomba reportase Debat Nilai-nilai Pancasila tingkat SMA/sederajat se-DIY


           Afifah Nur Rahmah (pemegang piala-tengah), seorang perempuan kelas XI SMA yang juga merupakan salah satu anggota Kounitas Penulis Pelajar berhasil meraih juara 2, Lomba Reportase Debat Nilai-nilai Pancasila tingkat SMA/Sederajat se-DIY. Afifah tak sendirian dalam ajang perlombaan ini, melainkan bersama kedua temannya mewakili sekolahnya, SMA Negeri 5 Yogyakarya, yaitu Rahadyan Widya Isnawan kelas X dan Alifah Amalia kelas XI. Perlombaan ini diadakan oleh Koran KR.

Thursday, February 14, 2013

Problematiika Menulis Part #4

Masalah 
1. Bagaimana memilih ide 
2. Bagaimana agar karyaku dikenal 

Solusi 
Ini pernah aku sampaikan sewaktu LARUT (Latihan Rutin) di KPP dahulu. Terdapat 4 tahapannya. Namun ini sebatas pemahamanku, dan belum tentu benar. Untuk itu, mohon masukan ya apabila salah. 

4 tahab tersebut adalah... 

1. Tahap berpikir mau apa 
Lalu ada 3 hal besar di sini 


a. Berpikir mau menulis apa; harus sejalan dgn cita-cita. Misal menulis novel, cerpen, berita, dll. Kelak, aku pengin jadi penulis apa sih? Nonel, puisi, lagu, skenario, berita, atau apa...? Nah, ini mesti dijawab. 

b. Berpikir mau menulis apa; harus sejalan dgn keahlian. Apabila keseharianmu di bengkel, memilih menulis tentang kesehatan jantung? Ini agak lugu. Masa ahli mesin menerapkan ilmunya pada organ tubuh manusia? Yang kesehariannya memagang palu dan gergaji, mau mencoba di tubuh manusia? Kalau aku membayangkannya saja merasakan ngeri. Oya mungkin bisa sih, tapi itu bukanlah keahlianmu. Kamu akan kesulitan menuliskan hal itu tanpa adanya keahliany yang mumpuni. 

C. Berpikir mau menulis apa; harus sejalan dgn keinginan. Misal ingin menulis karya ilmiyah, tapi malah menulis novel. Menulis hal yang tak diinginkan. Bisa saja terdapat unsur keterpaksaan di sini. Maka ini kurang baik untuk dilakukan menurutku. Menulislah sesuai keinginan; agar kau juga enjoy untuk menuliskannya. 

2. Mulailah mencari bahan 
Setelah kau temui pikiran yang tepat akan menulis apa, aku ilustrasikan menulis buku bertema cinta yang islami begitu ya, maka tahapan selanjutnya adalah lakukan riset (cari bahan untuk ditulis, dibagikan). Pusatkan perhatian pada tema besarmu. Jika mendapati bahan tak sesuai dgn tema, pinggirkanlah dahulu. Hari ini kau harus betul-betul fokus pada tema itu. 

3. Memilih ciri khas
Wah! Kayaknya serem yah? Tapi tudak kok. Hanya judulnya saja yang mainsteam, he he. Maksutnya begini Kawan... 
Kau sudah punya cita-cita menulis apa. Sudah tahu bentuk tulisanmu bagaimana. Langkah selanjutnya yaitu menjadikan hal itu sebagai ciri khas. 
Kang Abik punya ciri khas, menulis tentang cinta islami. Andrea Hirata, tentang cita-cita dan impian. Salim A Fillah dengan shirah nabawiyahnya. Asma Nadia, juga punya ciri khas, begitu juga penulis-penulis lain. Ciri khas, itu sangatlah penting. Jangan menulis banyak tema dan keahlian, sedapat mungkin. Dokter spesialis dengan dokter umum, mana yang lebih berpengaruh? Tentu saja dokter spesialis. 
Aku pernah menjumpai orang berobat di dokter umum bisa sembuh dalam waktu 4-5 hari, sedangkan berobat di dokter spesialis, ia bisa sembuh kurang lebih 2 hari saja. 
Ciri khas, peganglah kata kuci ini. 

4. Sampaikan kepada khalayak 
Tahap menulis sudah usai. Adalah tahapan penting nan sering dilupakan, adalah tentang personal branding. Menyampaikan karya diri. 

Ilustrasi sederhananya, coba kamu berstatus FB hanya tentang kesehatan saja. Lakukan berkesinambungan, 2-5 bulan. Jadi tiap saat hanya menulis tentang kesehatan, bukan tentang cinta maupun persahabatan. Lihatlah tanggapan orang-orang. Perkatan orang pastilah begini, "Wah sekarang udah jadi ahli kesehatan nih..." 
Betul tidak? Aku yakin itu. 
Maka aku jamin pula, barang siapa ada diantara kawan-kawanmu sedang sakit, jalan pertama yang dilakukan kawanmu itu adalah: bertanya padamu. "Aku sakit nih, tolong dong kasih aku saran bagaimana berobat yang benar..." 
Dari pernyataan tersebut, bisa kita ambil pelajaran bahwa, terjadilah kepercayaan. Ia percaya kau lah sang ahlinya, maka ia bertanya padamu. Padahal kau belum tentu bisa mengobati orang. Yang ia tahu, kau sering menulis status tentang kesehatan, jadinya yang ia tahu juga kau lah ahlinya. Dan kabar baiknya, setiap kenalanmu yang sakit, kemungkinan akan mendatangimu untuk berkonsultasi. Hei, aku juga mengalami hal ini! Tapi bukan tentang kesehatan... 

Pelajaran petikan kita, adalah personal branding, kabarkan kepada semua orang bahwa kau bisa ini. Bahwa kau punya tulisan ini. Apabila kalian ingin membaca apapun seputar kesehatan, otomatis mereka yang sudah tahu tentang keahlianmu dalam kesehatan, akan dengan sendirinya mendatangi kamu. Kami sudah menjadi kepercayaan mereka jika sudah begitu. 

Personal branding. Sampaikan pada semua orang kau punya ini dan itu. Tapi aku sekalipun tidak pernah menuliskan di sini: sombongkan keahlianmu pada orang-orang. 

Secara singkat: 
1. Berpikirlah mau apa 
2. Cari ilmunya 
3. Tentukan ciri khas 
4. Personal brandingkan 



__________________________


Oleh: Yuris Saputra 

Problematika Menulis Part #3


Masalah dalam menulis: 

'Aku sudah banyak belajar tentang kepenulisan. Tapi aku merasa malas ketika akan menulis. Jadi tak jadi menulis jadinya.' 


Solusi: 
Satu hal saja sebagai pertimbangannya, adalah soal niat kita. 


Sebaiknya jawab dahulu pertanyaan ini sebelum menulis... 

"Untuk apa aku menulis dan mengapa harus menulis?" 


Jika kamu bingung untuk menjawabnya, berarti memang ada somethink wrong pada niatmu. Sekali lagi, ada somethink wrong, ada sesuatu yang keliru. Maka cobalah sedikit demi sedikit memperbaiki niat dalam menulis ini ya... :) 
Bagaimana caranya? Hmm... Jawablah pertanyaan di atas dengan bersungguh-sungguh. "Untuk apa aku menulis dan mengapa harus menulis?" 



_________________
Oleh: Yuris Saputra

Latihan Obserfasi (Wawancara)





Gedung Utama, Taman Budaya, Yogyakarta

Silaturrahim ke Penulis




















Lokasi: Kediaman Bapak Darsan, S.Pd
Imogiri, Bantul, DIY

Kunjungan ke Penerbit


Lokasi: Kantor Penerbit Pro-U Media, Jogokariyan, Yogyakarta

Diskusi Anggota KPP


Lokasi: Masjid Syuhada, Kota Baru, Yogyakarta

Latihan Rutin Kepenulisan kelas "Pekan Pertama"



Lokasi : Gazebo, Taman Budaya, Yogyakarta

Habiburrahman El Shirazy


Motivasi Menulis oleh Habiburrahman El Shirazy

Penulis Novel: Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Cinta Suci Zahrana, Bumi Cinta

Monday, February 4, 2013

Problematika Menulis Part #2


Masalah dalam menulis: 


1. Susah rutin menulis 

2. Bagaimana agar produktif dalam menulis 



Untuk solusi ada 11 hal besar, yang selama ini coba KPP amati...
sumber foto



1. Berkorban waktu atau memanagemen waktu 




Setiap orang punya kesibukan masing-masing, kita faham. Begitu juga penulis yang sudah ternama, yang tentu saja juga kamu idolakan. Tapi mereka tetap bisa produktif menulis walau padatnya jadwal mereka. Jawabannya sederhana saja: mereka pandai memenagemen waktu. Mereka buat jadwal seteratur mungkin, kapan harus bekerja, kapan hrs membaca, kapan harus menulis, ke toko-toko buku, mengisi seminar, rapat-rapat organisasi, mengurus rumah tangga, dll. Mereka bisa, tentu kamu juga bisa seperti mereka. Maka cobalah mulai membagi-bagi waktumu dengan baik. Berusahalah. 



2. Bercita-cita jadi penulis hebat 



Facebook dapat mengalahkan Google, bukankah karena si pemilik Facebook dahulu bercita-cita kelak akan mengalahkan Facebook? Dari cita-cita besar itu, terwujudlah hal itu sekarang. Google terkalahkan. Bahkan Facebook telah jadi situs terbesar di dunia. 

Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu salah satunya yang akan bercita-cita mengalahkan JK Rowlling si penulis Harry Potter? Atau, menyaingi Andrea Hirata, Kang Abik, Tere Liye, Ahmad Fuadi, atau Raditya Dika? Mulailah bercita-cita besar. Jangan hanya bercita-cita yang rendahan saja! Dunia ini terlalu indah untuk disia-siakan, begitu ucap kawanku sekolah dulu. 



3. Tekad untuk bisa 


Aku percaya kamu sudah punya cita-cita yang besar. Maka sekarang bertekadlah untuk bisa melakukannya! Belajarlah, tuntutlah ilmu dimanapun berada. Di KPP pun tersedia banyak ilmu tentang kepenulisan. Belajarlah di situ. Jangan menyerah. Jangan hanya pengin jadi penulis tapi tidak mau belajar. Itu sama saja bohong. Kang Abik, penulis Ayat-ayat cinta pernah berkata padaku, "Menulislah dengan sungguh-sungguh." Maka lewati dulu proses belajarnya, sebelum akhirnya jadi penulis yang hebat. Kalau menyerah di tengah jalan? Kamu bukanlah kamu kalau begitu! *terinspirasi iklan di TV 


4. Suka membaca 


Kita memahami hukum sunnatullah, bahwa kalau kita tidak suka membaca, tidaklah mungkin ada pembaca yang menyukai tulisan kita. Kita saja tak suka baca, bagaimana bisa membuat orang lain membaca? :) 


5. Diawali dari menulis jurnal harian 


Ini cerita salah satu anggota KPP. Ia suka menulis karena ia suka menuliskan kisah kesehariannya dalam sebuah jurnal. Jurnal harian, ketahuilah, ia sama saja dengan diary. Hanya kita kan sudah berkecimpung dalam dunia menulis. Maka jurnal harian adalah bahasa bagi kaum intelek. Sedangkan diary adalah bahasa umumnya. Begitu filosofinya, he he he. 


6. Menyenangi dan mencintai menulis 


Para ulama seumpama Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Bukhori, dll, sebab begitu dahsyat kecintaannya pada ilmu hadits dan menulis, maka karya-karya mereka pun begitu luar biasa. Sungguh jika bukan karena cinta mereka pada menulis, kitab-kitab hadits yang tersebar di seluruh perpustakaan dan toko buku hari ini, mungkin tidak akan pernah ada. Cinta, mampu menembus ruang dan waktu. Menembus hati dan zaman. 


7. Tahu ilmu dasar kepenulisan 


Ini termasuk tema, diksi, amanah, setting, alur, sudut pandang, gaya bahasa, dll. Apabila kita sudah tahu ilmu tentang itu semua, insyaAllah untuk menulis pun akan jadi mudah. Di KPP, terdapat momen tersendiri juga untuk membahas hal tersebut. Terlalu panjang andaikan aku bahas satu per satu di sini. Maaf yah :( tapi kapan-kapan kita bisa membahasnya di forum KPP 


8. Berkecimpung dalam kegiatan belajar-mengajar 


Selain belajar tentang kepenulisan, sebaiknya kamu juga mengajarkan ilmumu itu. Ilmu bukan hanya untuk diri sendiri, kata guruku. 


9. Punya ambisi berbagi atau berdakwah yang besar 


Begini. Ia yang punya keinginan besar untuk memberikan sesuatu, akan berusaha penuh untuk memberi walaupun tidak punya. Maka di sinilah letak kuncinya. Mencari. Mencari ilmu untuk dibagikan, untuk dituliskan, untuk diberikan kepada pembaca. Ketika ia kehabisan, ia pun akan terus mencari ilmunya lagi dan lagi. 
Maka milikilah ambisi besar untuk berbagi! 



10. Memiliki komunitas penulis 


Gunanya adalah untuk menjaga semangatmu. Saat kamu kurang bersemangat, nanti akan ada kawan penulis yang setia mengembalikan semangatmu itu. Ini sangat penting. Yang kedua menjadi tempatmu berdiskusi. Ketika kamu bingung tenang tulisanmu, dengan berdiskusi dengan mereka, berharap masalah-masalahmu dalam menulis (seperti kurang ide) bisa terselesaikan. Ketika selesai tulisanmu pun, kamu bisa meminta mereka memberikan masukan dan penilaian akan tulisanmu itu. 


11. Memiliki figur idola 
Aku punya figur idola yang banyak. Seperti Salim A Fillah, Kang Abik, Andrea Hirata dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawy. Aku ingin jadi seperti mereka, bahkan kalau bisa: lebih. Maka dengan mengingat atau melihat wajah mereka, aku meresa seperti ada dorongan untuk terus menulis. Sungguh mereka adalah inspirasi bagiku. 

Bagaimana dengan kamu? Siapa penulis idolamu? 



_________________
Oleh: Yuris Saputra 

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *