Thursday, January 10, 2013

Menjelajah Pulau Tersembunyi

Cerpen ditulis oleh: Nissa --- SMA 1 Yogyakarta
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
Twitter: @kpp_menulis | klik
___________________________________________________________
sumber foto
         Menjelang sore hari saat matahari mulai tenggelam di ufuk Barat. Sekelompok anak remaja berusia 13-15 tahun, asyik bermain air di sebuah sungai kuno yang berdekatan dengan rumah mereka. Sungai itu letaknya agak tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Anak remaja tersebut terdiri dari Maya, Miya, Ezra, Vino, dan Adit. Tak jauh dari sungai kuno tersebut, Ezra menemukan sebuah kapal tua yang dibuat pada abad 18 yang tertutup semak belukar. Tertulis pada bagian luar kapal “Lion-Venice” yang berarti “Singa-Venesia”.

         Kapal  itu mereka dorong bersama-sama kemudian mereka naiki satu-persatu. Saat setelah semuanya naik anehnya perahu itu tidak bergerak sama sekali. Kapal  itu justru terdiam ditempat seakan ada pegeremnya. Padahal di sungai itu terdapat arus yang memungkinkan untuk kapal itu berjalan. Setelah diteliti terdapat sebuah panduan bagaimana cara mengemudikannya yang terselip di dek kapal. Dalam panduan tersebut, tertulis bahwa harus ada kapten kapal yang pemberani, tangguh dan pantang menyerah hanya sang kapten sejati lah yang bisa mengemudikan kapal. Dan untuk anak buah harus memiliki rasa percaya kepada sang kapten. Cara mengemudikannya, sang kapten harus mengatakan kata-kata bijak yang diakhiri dengan kata MAJU dan kata terakhir harus dikatakan bersama-sama sebanyak orang yang menaikinya. Jika salah satu orang tersebut tidak mengatakan maka kapal tersebut tidak akan bereaksi. Setelah mengetahui caranya, mereka akhirnya memilih Adit sebagai kapten kapal yang diketahui memiliki sifat yang tertulis dibuku panduan.

         “ Jika kita mengarungi samudera luas maka, janganlah kita berbalik arah. Lakukan. Apapun yang terjadi kita akan-bersama-sama.” Sang kapten berucap.

         “MAJU” ucap mereka bersama.

         Sesuatu yang aneh terjadi di sungai itu, tiba-tiba kapal itu berputar berlawanan arah jarum jam dan kemudian hilang.

         Secercah cahaya masuk melalui semak-semak. Mereka memandang sekeliling, tak ada orang. Saat itu matahari berada tepat di ujung kepala. Ezra kaget saat melihat jam tangannya yang tiba-tiba mati. Mereka kemudian keluar dari semak-semak. Saat melihat sekitar, mereka saling berpandangan aneh.

         “Kita ada di mana ini?” Tanya Miya heran.

         “Entah, ada apa dengan semua ini?” Jawab Miya.

         “Semuanya berantakan.” Ucap Adit dengan nada geram.

         “Lihat itu di dinding.” Ezra menunjuk kearah tulisan.
Di dinding tertulis ‘SIAPA YANG MENYEBERANG KAN MENYELAMATKAN’. Apa maksud dari tulisan itu? Apa tulisan itu ditujukan untuk kita?

         Saat mereka berkeliling daerah tersebut, mereka menemukan papan bertuliskan Hidden Island-Pulau Tersembunyi, dan di belakangnya terselip sebuah jenis kertas yang sama seperti yang ada di kapal. Berisi kalimat aneh bersimbol-simbol dan anehnya tulisan tersebut bertinta emas dan bergambar sketsa orang. Berambut keriting memakai jas dan berdasi. Siapa orang ini? di samping foto seorang pria berjas tersebut terdapat sebuah gambar bangunan tua yang terbakar. Di bawah bangunan tersebut tergambar sebuah lorong yang menuju ruang bawah tanah. 

         Mreka akhirnya mencari jalan untuk menuju bangunan  tersebut sesuai dengan peta yang berada dikertas. Jalan menuju bangunan tua itu sangatlah jauh dan berliku-liku, melalui gang ke gang dan jalan setapak. Tibalah mereka di sebuah gerbang besar. Gerbang itu sudah terlihat tua karena karatan. Mereka mendorong gerbang dengan sekuat tenaga dan terlihatlah bangunan tua itu. Rupanya bangunan tersebut lebih besar dari gambar yang ada dikertas. Halamannya pun luas dengan rumput liar yang tak terawat. 

         Ketika akan memasuki bangunan itu Adit melihat ada hal aneh di rumah itu. Seperti fatamorgana aneh berbentuk patung manusia. Namun, ia menghiraukannya dan memilih berdiam seribu bahasa mengenai keanehan itu. Mereka akhirnya memasuki rumah itu, namun setelah semua masuk, bangunan itu tiba-tiba menghilang tak berbekas.

Kunjungan Pertamaku di TBY

Cerpen ditulis oleh: Ade Rizki Mahardika ---
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

            
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik

FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
Twitter: @kpp_menulis | klik
___________________________________________________________


        Pagi  yang cerah dan sedikit berawan. Aku terbangun dari tidur lelapku. Setelah selesai membantu membereskan rumah bersama ibu, bapak menyuruhku agar bergegas mandi. Tanpa menjawab, aku segera bergegas mandi. Selesai mandi, langsung saja aku bergegas ke ruang makan. Ternyata ibu sudah menyiapkan sarapan untuk kami.
        
         “Wah, sarapannya sudah siap ya bu?.” Sambut bapak sambil menata koran yang baru saja dibaca.

        “Iya pak, seperti biasanya saja ya. Bakmi sambal dan gorengan buatan Mbak Narti.” Ibuku menjawab dengan tersenyum.

        “Bagianku mana bu?” Tanpa basa-basi aku bertanya pada ibu dengan nada penuh semangat.

        “Ini nak bagianmu.” Jawab ibu sambil memberikan bakmi sambal kesukaanku.

        Kamipun menikmati sarapan sederhana namun penuh dengan rasa kebersamaan. Siang harinya bapak mengajakku melihat pameran di Taman Budaya Yogyakarta(TBY). Belum tergambar jelas dalam pikiranku, apa nanti yang akan aku temui.
Sesampainya di TBY, kami langsung disambut dengan lukisan pada sebuah kanvas super besar yang bertuliskan ”BIENNALE JOGJA X – 2009”. Setelah aku dan bapak turun dari sepeda motor dan membacanya kembali ternyata masih ada tulisan Aksara Jawa pada kanvas tersebut yang berbunyi “Seni Agawe Santosa”. Barulah aku tersadar bahwa yang akan kami lihat nanti adalah pameran seni.

        Memasuki ruang pameran utama, kami disambut beberapa crew yang memberikan buku panduan dan mempersilahkan untuk mengisi daftar hadir. Banyak benda-benda unik yang terbentang di setiap penjuru ruangan gedung. Aku sendiri sampai keheranan plus takjub. Benda-benda unik yang bernilai seni tersebut dibuat oleh perupa asli Jogja, seperti Edi Prabandono, Nasirun dan Ichwan Noor dan masih banyak lagi. Tentunya nama itu aku ketahui setelah membaca buku panduan. Mulai dari seni rupa, kriya dan lukis semuanya ada dalam wilayah TBY.

        Tidak terasa sudah 2 jam kami menghabiskan waktu di TBY. Hari Minggu 3 Januari 2009 ini, tidak akan aku lupakan karena hari ini merupakan kunjungan pertamaku di TBY bersama bapak. Sungguh sangat senang hati ini. Manfaatnyapun juga langsung terasa ketika aku melukis, ide-ide kreatif langsung muncul dari pikiran ini.

        Sambil tersenyum-senyum sendiri aku menuliskan kisahku ini pada sebuah kertas. Butuh waktu satu jam ternyata, untuk mengingat kisah kunjungan pertamaku di TBY bersama orang yang aku sanyangi dan banggakan yaitu bapak. Berbeda dengan sekarang aku datang ke TBY untuk memperdalam wawasan mengenai kepenulisan bersama kawan-kawanku di Komunitas Penulis Pelajar(KPP), yaitu Riski, Bayu, Langgeng, Kak Yuris dan masih banyak lagi. Terimakasih wahai bapak yang selalu mendidik dan mendo’akan puteramu ini. Ketika pulang nanti akan kuajak bapak ke TBY lagi, walaupun sedang tidak ada pameran.

________________________________________________________________________________
                                    Bantul, 7 Januari 2013
 

Wednesday, January 9, 2013

Asa Bersuara

Cerpen ditulis oleh: Rizki Kurniawan Saputra --- SMA N 1 KASIHAN (TIRTONIRMOLO)
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

            
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik

FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
Twitter: @kpp_menulis | klik
___________________________________________________________
sumber foto

    Biry sudah merasa sangat lapar, tapi sudah lebih dari lima belas menit Ibunya belum juga kembali ke sarang. Dia benar-benar khawatir jika Ibunya gagal dengan tidak berhasil membawakan makanan untuk Biry dan Stely, serta yang paling ditakutkan tentu jika Ibunya terjebak dalam perangkap manusia.

    Biry memandangi adiknya yang baru saja bangun tidur karena lapar. “Sabar ya, dik. Sebentar lagi Ibu pasti juga kembali”.

    Pukul 09.20 pagi. Matahari masih tertutup awan. Suara kicauan burung diarea Taman Budaya Yogyakarta masih sedikit, kecuali Stely yang sudah mulai berkicau walaupun pita suaranya belum terlalu tebal sehingga tak seindah suara Biry dan Ibunya.

    “Kak, Ibu kemana sih?”. Sambil mengibaskan sayap, dia balik memandangi kakaknya.

    “Sabar, dik. Tunggu sebentar lagi ya”. Dia tersenyum kepada adiknya sambil melihat sekeliling luar sarangnya. “Adik kalau kakak tinggal pergi keluar mencari Ibu sebentar berani?”. Sambil membujuk.

    Stely memegangi perut nya yang mulai bertabuh. “Tapi janji jangan lama-lama ya, kak”

    Kemudian Biry pun pergi meninggalkan sarang yang sudah hampir seminggu itu ada diujung pohon beringin dipinggir jalan yang mulai ramai. Dia terbang sambil berkicau kearah barat. Tapi tidak berselang lama, sang Ibu ternyata baru saja mendarat dan sampai disarang yang tadi terbang dari arah timur. Mereka sama sekali tidak berpapasan. Ibu yang baru saja sampai langsung meletakan makanan dan disambut hangat oleh Stely sambil membuka paruh kecil nya.

    “Kakak mu kemana?”. Sambil membantu Stely makan.

    “Lho barusan kakak keluar mencari Ibu”

    “Tapi tadi Ibu ndak ketemu sama kakak mu. Ah... nanti juga pasti kembali”

    Biry terbang tidak terlalu jauh dari sarang nya, dia masih tidak berani terbang begitu jauh. Dia berhenti dan bersandar disebuah ujung genteng gedung tua yang menghadap ke timur, cukup dekat dengan sarang nya yang ada diarah utara timur laut dari tempat dia berdiri. Dia lupa akan tujuannya keluar sarang, padahal untuk mencari Ibu, tapi pandangan nya terpaku pada sebuah objek. Menikung ke bawah disebuah pendopo yang letaknya ada dibawah pohon besar tempat sarangnya itu berada.

    Biry melihat seorang remaja pria sedang membuka tangan dan menempelkan didaun telinga nya, seperti mendengarkan sesuatu. Pria itu berbaju merah kotak-kotak bercelana panjang, alis nya cukup tebal hingga memberi kesan teduh pada tatapannya, bibir bagian atasnya pun menyatu sempurna dengan bagian bawah, apalagi saat pria itu tersenyum maka lesung pipi nya itu murah sekali terlihat. Setiap Biry berkicau, pria itu terkagum. Semakin serius mendengarkan, bahkan jemari kecil nya menggoyangkan sebuah pena diatas kertas putih.

    Sesekali pria itu menatap ke atas dan melihat Biry bersandar diujung genteng. Matanya kian berbinar, tangan nya ikut bergetar dan halaman dari kertas tadi semakin cepat dibalik olehnya. 

     “Lihat, itu ada burung diatas genteng, bagus ya”. Pria itu menepuk pundak teman disamping nya sambil menujuk kearah Biry.

    Biry semakin paham mengapa pria itu tersenyum ketika mendengar kicauan nya. Dia juga tau kalau dirinya sedang diperbincangkan, bahkan dia sempat heran bahwa ternyata masih ada manusia yang menganggap burung emprit jawa kecil seperti Biry itu bagus. Tau akan hal itu, Biry semakin memperjelas dan memamerkan kicauan terindah nya.

    “Pria itu seorang penulis ternyata, dan sepertinya dia sedang menulis tentang aku”. Biry terbang dan kembali ke sarang.

    Disambutlah oleh Ibunya. “Dari mana saja kamu, Bir?”.

    “Tadi saya berniat mencari Ibu, tapi…”

    “… kamu ndak cepet-cepet langsung pulang, iyakan? Ibu itu sudah pulang dari tadi”. Ibunya sedikit marah karena khawatir dengan Biry yang belum begitu dewasa.

    “Tadi aku malah melihat seseorang, Bu. Dia mendengarkan kicauan ku. Seperti nya dia sedang menulis tentang burung dan itu aku”.

    “Jauhi manusia !!. Apa kamu tidak ingat dulu ayahmu ditembak oleh manusia?”. Ibu nya mendekat kearah Biry dan menajamkan tatapan.

    “Tapi… dia sepertinya beda dengan manusia lain, Bu.  Tatapan nya teduh, aku bisa tau itu. Mungkin dia bermimpi untuk bisa terbang seperti kita”.

    “Apa maksud mu, Bir?”.

    “Dia ingin menjadi penulis dan berkicau di negara orang”

    “Dari mana kamu bisa tau?”.

    “Dari pandangan pria tadi yang sebegitu teduh nya, saat senyumnya tersimpul lebar. Tenang saja, Bu. Dia orang yang baik. Aku bisa membaca pikiran nya”. Biry berusaha meyakinkan Ibunya bahwa pria tadi bukan orang yang jahat. Ibu nya hanya menunduk mendengarkan jawaban dari anak pertama nya itu.

    Biry pun terdiam kemudian. Kalau aku kan bisa terbang dengan sayap dan berkicau dengan indah. Tapi mungkin pria tadi akan bisa berkicau melalui tulisan pena dan terbang dengan mimpi serta keteguhannya. Bisa saja dia akan terbang melebihi ku. Biry berkata dalam batin nya. Dia sangat ingin terbang keluar sekali lagi dan menghampiri pria tadi hanya untuk menanyakan seberapa tinggi dia telah bermimpi dan berani meletakan nya dilangit.

    Semua orang adalah pemimpi. Pria tadi seperti melihat segalanya itu bagaikan kabut lembayung pada musim semi, atau bisa sebagai api yang membakar pada malam musim dingin. Beberapa pemimpi telah membiarkan suatu impian mati, namun yang sebagian lain masih memupuk dan melindunginya, merawatnya dalam hari-hari buruk hingga membawanya ke sinar matahari dan juga cahaya yang selalu menghampiri mereka serta selalu berharap bahwa impiannya akan menjadi nyata. Manusia pasti punya asa dan burung juga bisa bersuara. Ada tujuan yang sama, mereka ingin terbang. ~Pria Penulis Burung

_________________________________________________
*sumber inspirasi : burung yang terbang dan berkicau

Sunday, January 6, 2013

KPP berjumpa dengan Sang Kesatria Pena

         Artikel ditulis oleh: Yuris Saputra
           Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

       
  
 www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
           FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
           Twitter: @kpp_menulis | klik 

        _________________________________________________________________

   
        Sang Kesatria Pena, itulah julukan bagi seorang penulis buku bestseller “Apa Salahku Sayang”, yang ditemui oleh Komunitas Penulis Pelajar (KPP), kemarin sore (2/1). Pertemuan yang berlokasi di kampus UII jalan Taman Siswa Yogyakarya ini dibersamai dengan guyuran hujan yang cukuplah deras. Yuris, selaku ketua dari KPP mengatakan, bahwa pertemuan ini adalah pertemuan yang untuk membahas bagaimana mengelola sebuah organisasi kepenulisan yang baik dan bagaimana kiat-kiat menulis jitu La Ode Munafar sehingga dapat menghasilkan 8 buku di usianya yang masih 21 tahun.

        Ada 3 hal yang perlu diperhatikan agar organisasi itu terus berkembang, jelas La Ode Munafar. Yang pertama, adalah semua pengurusnya harus melangkah memajukan organisasinya dalam satu visi yang sama. Kedua, how to play. Yakni bagaimana cara bermain dari organisasi itu agar visi besarnya dapat diwujudkan. Hal ini berkaitan sangat erat dengan langkah-langkah, program-program dan proyek-proyek kerja. Dan take action, menjadi hal ke-3 yang perlu untuk diperhatikan. Visi ada, cara bermain juga sudah punya, tapi bila tak juga segera beraksi (take action), bagaimana sebuah organisasi itu akan mencapai kesuksesan?

        Ternyata pertemuan selama 90 menit ini juga benar-benar dimanfaatkan oleh 3 personil KPP (Afifah, Yuris, Anisa) untuk bertanya banyak hal mengenai kepenulisan. Di sisi lain, La Ode Munafar juga sangat open mind terhadap antusiasme mereka untuk belajar kiat menulis yang benar kepadanya. Afifah mengaku senang setelah dapat berdiskusi langsung dengan penulis hebat La Ode Munafar sore kemarin. “Aku merasa senang bisa mendengar langsung pengalaman salah satu penulis bestseller, dan mendapat banyak ilmu baru seperti tentang organisasi sampai tentang bagaimana karya kita di sebuah penerbitan,” ujar Afifah.

        Kepada KPP, Sang Kesatria Pena La Ode Munafar menatap optimis komunitas ini, bahwa melalui pena yang digoreskannya, suatu saat nanti akan membawa kemajuan untuk Kota Jogja. “Antusiasme  KPP harus dijaga. Karena saya yakin dari sini Jogja dapat maju,” tandas Sang Kesatria Pena.

SAHABAT JOGJA

Cerpen ditulis oleh: Afifah Nur Rahmah --- SMA 5 Yogyakarta
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

            
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik

FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik
___________________________________________________________

sumber foto



       Suasana begitu menyejukkan. Semilir angin berhembus dari hamparan sawah yang menghijau. Suasana itu selaras dengan nyanyian merdu dari kicauan burung pipit yang terbang kesana kemari. Di tengah pematang sawah itu aku memainkan biolaku, biola peninggalan Kakek ku sebelum beliau pergi untuk selamanya. Aku terus bermain, bermain, dan bermain. Aku mencoba menyatu dengan alam, mengiringi sang surya yang sebentar lagi hilang di ufuk barat. Langit telah berwarna orange, tanda senja mulai datang.


       Plok.. Plok.. Plok.. tepuk tangan dari seseorang di belakangku menghentikan permainanku. Aku menoleh. “Viko?” ujarku. Orang itu tersenyum seraya berkata, “Jalu sudah menunggu, Layka. Kasihan dia harus segera makan malam.” Aku menghela nafas. “Kamu bahkan lebih mementingkan dia daripada aku,” protesku yang kemudian mendahuluinya pergi ke tempat Jalu, sedangkan Viko hanya tertawa pelan.


       Saat aku tiba di pinggir jalan, Jalu sudah menunggu dengan gagahnya. Bahkan, lebih gagah dibandingkan Viko, sahabatku sejak dua tahun yang lalu. Dia sering mengantarku pergi kemana-mana karena kebetulan kami juga bertetangga. Dengan perawakan tinggi, berwarna putih bersih, dan surainya yang berwarna pirang, Jalu memang masih terlihat gagah sebagai kuda bekas perang zaman Belanda dahulu. Sayangnya, kini dia harus menjadi kuda yang menarik andong milik keluarga Viko. Andong adalah sejenis kereta kuda yang ada di Yogyakarta.


       Setengah perjalanan kami hanya diam satu sama lain. “Viko, apa kamu tidak malu membawa andong seperti ini kemana-mana? Kecuali, ya saat ke sekolah, kamu tidak menggunakan ini.” tanyaku memecah keheningan. Viko menggeleng. “Harusnya aku bangga, Layka. Tidak semua orang bisa mengemudikan andong seperti ini,” jawab Viko yang membuatku terheran-heran. Aku memalingkan wajah, memandang hamparan sawah yang menghijau kembali. Suasana menjadi hening, namun keheningan yang membuat hati terasa damai.


****


       Tak lama selepas makan malam selesai, aku mendengar suara gamelan. Aku menuju ruang depan, tempat perlengkapan gamelan milik Ayah ku. Disana aku melihat Ayah yang sedang bermain gamelan, sedangkan di sebelahnya ada seseorang yang asyik memainkan wayang kulit. Seseorang itu ternyata Viko. Sudah lama sekali Ayah tidak bermain gamelan, karena kesibukannya di kantor. Ini hanya salah satu dari sekian banyak hobi Ayah. Aku duduk bersila di samping Ayah, diam mengamati mereka.


       Beberapa menit kemudian Ayah berhenti bermain dan berdiri. Aku mengerutkan dahi, heran. “Ayah ke belakang dulu, Nduk. Buat kopi supaya tidak ngantuk,” ujar Ayah seolah mengerti keherananku.


       Sekarang tinggal aku dan Viko. Aku masih diam memperhatikan, sedangkan Viko juga masih asyik dengan wayang kulitnya. Bahkan, saking asyiknya, dia seolah tidak menyadari keberadaanku. “Viko?” akhirnya aku memanggilnya. Dia hanya melirikku sekilas, kemudian kembali fokus pada wayang kulitnya. “Ko, apa menariknya sih mainan seperti itu? Bukankah sekarang zaman sudah modern? Ada twitter, facebook, game online. Kenapa kamu tidak mencobanya? Itukan lebih keren dibandingkan wayang kulit punya kamu itu,” Ujarku lagi, sedikit emosi karena daritadi tidak diperhatikan. “Gimana ya, Ka. Akukan wong Jawa, ya harusnya juga cinta sama budaya Jawa. Cinta sama produk lokal. Nah, lho apa itu tadi? Facebook? Twitter? Itukan buatan orang Amerika sana. Buat aku, wayang iki, jauh lebih menarik, Layka. Titik,” jawab Viko. Aku hanya bisa menghela nafas, sedangkan Viko tersenyum dengan penuh kemenangan.


       “Ada apa tha ini, Ayah dengar kok sempat ada ribut-ribut?” Ayah tiba-tiba datang dengan kopi ditangan kananya, kemudian duduk disampingku kembali. Viko hanya mengangkat bahu, malas menjelaskan. “Nggak papa kok, Yah. Biasalah aku sama Viko debat lagi soal kebiasaannya Viko,” akhirnya aku yang menjelaskan. Ayah tertawa sambil mengusap rambutku. Setelah meminum kopinya, Ayah kembali bermain gamelan, mengiringi permainan Viko. Semalam suntuk aku habiskan mengamati mereka meskipun sambil terkantuk-kantuk.


****


        “Layka, cepat! Viko sudah menunggu di depan,” ujar Bunda dari dapur. “Iya, Bun,” jawabku sambil menyambar tas. Setelah mencium tangan Ayah dan Bunda, aku menuju ke teras tempat Viko menunggu. Kami memang selalu berangkat sekolah bersama-sama.

Sampai didepan, aku melihat wajah Viko terlihat pucat pasi. “Ko, kamu sakit? Wajahmu pucat,” tanyaku. Viko menggeleng. “Layka, hmm.. hmm.. aku.. aku.. mau ke kamar mandi dulu ya. Perutku sakit,” ujar Viko dengan sedikit malu. Aku mengangguk, “Tapi jangan lama-lama ya!” Viko segera menerobos masuk ke dalam rumah ku menuju ke kamar mandi, sedangkan aku hanya tertawa pelan.


       Sudah lima belas menit Viko di kamar mandi, padahal sebentar lagi kita akan terlambat. “Vikoo.. Buruan!! kita sudah hampir terlambat!!” teriakku dari teras rumah. Tiba-tiba Viko sudah ada di belakangku. “Kamu ngagetin aja, buruan ayo!” ajakku, sedangkan dia hanya nyengir.


       Sesampainya di sekolah gerbang sudah di tutup. “Yah, gara-gara kamu, Ko, kita terlambat,” ujarku kesal. “Maaf. Namanya juga panggilan alam,” jawabnya santai. “Kita lewat pintu belakang aja, Ka,” usul Viko kemudian. “Kamu yakin?” tanya ku ragu. Viko hanya mengangguk.


       Kita melewati kebun pisang yang sudah gundul setengahnya. Aku melihat ada pintu kecil di ujung sana. Pintu itu bisa kami gunakan untuk masuk ke area sekolah, melewati gudang olahraga. “Aman, Ko, ayo!” ujarku setelah memastikan suasana. Viko mengikutiku. Rencananya kami akan membolos pelajaran pertama dan menunggu di perpustakaan sekolah, baru nanti pelajaran kedua kami masuk kedalam kelas.


       Baru dua langkah Viko masuk melalui pintu itu. “Ehem.” Terdengar suara seseorang yang sedang berdeham di belakang kami. Perasaanku menjadi tidak enak. Takut-takut kami berdua menoleh, disana sudah berdiri Pak Irwan, guru olahraga kami yang terkenal kurang bersahabat dengan perawakannya yang tinggi, kulitnya yang sawo matang, kumisnya yang tebal, dan wajahnya yang seolah-olah ingin menerkam kami berdua.

“Kalian berdua, sekarang, berdiri hormat bendera!!” perintah Pak Irwan. Kami berdua hanya bisa berdiri mematung. “CEPAAAAT!!” beliau akhirnya berteriak, sedangkan kami lari terbirit-birit menuju lapangan upacara untuk menjalani hukuman kami.


       Saat Pak Irwan sudah tidak mengawasi kami lagi di lapangan upacara, Viko mengeluarkan mp3nya, dan mendengarkan musik. “Sempet-sempetnya, Ko, ndengerin lagu rock ya?” tebakku. Viko menggeleng, “Bukan, Ka. Lagu campursarinya Didi Kempot,” jawabnya. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.


****


       Siang ini sepulang sekolah aku dan Viko duduk di teras rumahku. Viko sedang membaca buku, bukan buku novel ataupun komik, tetapi majalah City Info. Majalah itu berisi tentang informasi seputar Yogyakarta, kota tempat kami tinggal.


       “Viko, temenin aku yuk nanti sore,” kataku. Viko menurunkan majalahnya, wajahnya seolah-olah bertanya aku ingin mengajaknya kemana. “Nanti ada japan festival, Ko. Pasti keren banget deh. Ada takoyaki, sushi, performance band yang menyanyikan lagu jepang, merchandise, pokoknya yang jepang banget deh.. ya, ya, ya?” ujarku lagi dengan bersemangat. “Kita liat nanti ya?” jawabnya singkat, kemudian dia melanjutkan kembali membaca majalahnya.


       Sorenya Viko datang ke rumahku. Aku tersenyum, kemudian berkata, “Akhirnya, Ko. Kamu mau juga mengantarku.” Namun, senyumku segera menghilang ketika kami sudah sampai di teras. Aku melihat di depan sudah berdiri Jalu dengan Andong di belakangnya. “Ko, kita.. kita.. hmm.. nggak bakal naik itu ke japan festival kan?” tanyaku ragu-ragu. Viko tersenyum. “Aku tahu tempat yang lebih menarik daripada jipang festipal itu, Layka,” katanya. “Yang benar japan festival, Viko. Bukan jipang festipal. Jipang itu kan sayuran,” aku meralatnya. Viko hanya mengangkat bahu. Dengan sedikit malas, aku mengikutinya menuju andong yang sudah ada di depan rumahku.


       Saat kami tiba, hari sudah gelap. Ternyata Viko mengajakku menonton Sendratari       Ramayana di Prambanan. “Ini baru menarik, Layka,” ujarnya senang. Padahal, pertunjukan saja belum dimulai. Viko terlihat sangat antusias. Saat pertunjukan sudah dimulai, aku sempat terkesima dengan pertunjukan di atas panggung. Namun, saat di tengah pertunjukan, aku mulai mengantuk karena sudah malam. Tanpa sadar aku tertidur.


       “Mbak, Mbak, bangun. Pertunjukannya sudah selesai,” ujar seseorang sambil menepuk pundakku. Aku terbangun. Rupanya orang yang membangunkan aku aku adalah salah satu penata rias pemain Sendratari Ramayana. “Makasih Mas,” ujarku. “Sama-sama, Mbak. Mari, saya tinggal dulu,” jawab penata rias itu seraya berbalik pergi. Aku melihat sekelilingku, dan terkejut saat menyadari tinggal aku sendiri yang masih ada di sana. Dimana Viko? Aku mencari kesana kemari tetapi belum juga menemukan Viko. Rasanya aku hampir menangis.


       Akhirnya aku memutuskan menuju tempat Viko memarkirkan andongnya tadi. Siapa tahu Viko masih ada disana. Benar saja, Viko masih ada di sana. Setengah berlari aku menghampirinya. Viko seperti menahan tawa. “Viko jahat. Aku tidak dibangunkan. Kamu juga pergi meninggalkan aku sendirian. Kamu tega, hiks,” kali ini aku sudah menangis. “Adududuuh. Layka, jangan nangis di sini dong, kan malu. Aku cuma bercanda tadi,” ujar Viko panik. “Aku tidak peduli. Kamu, tega, hiks, hiks,” jawabku. “Begini saja. Kamu berhenti menangis dan besok aku akan membawa kamu jalan-jalan ketempat yang lebih menarik,” ujarnya. “Jangan-jangan kesini lagi,” ujar ku curiga. Viko menggeleng. Akhirnya aku memutuskan berhenti menangis, kemudian mengambil tisu ditas kecil yang aku bawa dari rumah, lalu mengusap air mataku. “Janji ya?” ujarku lagi. Viko mengangguk sambil tersenyum lega.


****


       Keesokan harinya aku merasa bosan karena seharian berada di rumah. Ini hari Minggu, malam satu sura. Aku teringat kemarin Viko berjanji akan mengajakku pergi jalan-jalan. Akhirnya aku memutuskan untuk meneleponnya.

“Halo?” ujar suara di seberang sana. Rupanya yang mengangkat adalah Mama Viko. “Sore Tante, ini Layka. Bisa bicara dengan Viko?” tanyaku. “Eh, Layka. Tante kira siapa. Sebentar ya... Viko, ada telepon!! Dari Layka,” ujar Mama Viko. “Iya, Ma. Sebentar,” samar-samar aku mendengar suara Viko. “Halo?” ujar Viko saat sudah memegang ganggang telepon yang tadi dipegang oleh Mamanya. “Ko, aku bosan. Ke Mall, yuk!” ajakku. “Aku tidak mau, Layka. Disana AC nya kan dingin sekali, aku takut nanti masuk angin,” jawab Viko di ujung sana. “Tapi kemarin kamu janji akan mengajakku jalan-jalan. Aku bosan di rumah,” kataku lagi. “Ya sudah, tunggu lima menit! Aku kesana sekarang. Tapi ingat, aku tetap tidak mau pergi ke Mall,” ujar Viko. Belum sempat aku menjawab, Viko sudah mematikan teleponnya.

Benar saja. Lima menit kemudian Viko sudah ada di depan rumahku dengan sepeda motor miliknya. Aku tersenyum. “Tumben kamu menggunakan sepeda motor?” tanyaku. “Andongnya sedang dipakai Ayah. Jadi, aku terpaksa menggunakan ini,” jawabnya santai, sementara aku hanya bisa terheran-heran.


       Ditengah jalan tiba-tiba sepeda motor yang digunakan Viko oleng. Ternyata bannya bocor! Terpaksa kami menuntun sepeda motor itu menuju bengkel. Sesampainya disana kami harus menunggu. Sepertinya Viko mengerti aku tidak nyaman berada di bengkel terlalu lama. Akhirnya Viko mengajakku makan di sebuah warung yang tidak jauh dari situ. Makanan yang kami pesan datang. Hanya ada satu menu disana. Aku tidak tahu nama makanan yang ada di sana. Warnanya cokelat, terdapat ayam dan telur diatasnya. Meskipun begitu, makanan ini terlihat enak. “Viko, ini makanan apa?” akhirnya aku bertanya karena penasaran. “Haha, masak kamu tidak tahu? Itu gudeg, makanan khas Jogja. Kamu itu orang mana, Layka? Katanya lahir di Jogja, masak gudeg saja tidak tahu?! hahahaha,” Viko tertawa. Aku hanya bisa menunduk, malu. Kemudian mulai makan. Rasanya enak!


       Saat kami kembali ke bengkel, sepeda motor Viko sudah selesai dikerjakan. Setelah membayar, kami melanjutkan perjalanan. Ternyata Viko mengajakku ke sekaten. Kami memutuskan bermain bom-bom car terlebih dahulu. Seru sekali! Setelah itu, kami pergi untuk melihat lumba-lumba. Aku senang saat mendapat kesempatan berfoto bersama lumba-lumba. Waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Viko mengajakku pulang, tetapi aku memaksa naik wahana komedi putar sebelum kami pulang. Awalnya Viko menolak, tetapi karena aku terus memaksa, akhirnya dia setuju.


       Saat tiba di atas, komedi putar yang kami naiki sempat berhenti. Wajah Viko terlihat sangat pucat. Padahal, pemandangan dari atas sini amat menakjubkan. “Viko, kamu sakit?” tanyaku cemas. Viko hanya menggeleng. Saat kami sudah di bawah dan keluar dari wahana komedi putar, Viko muntah-muntah. Aku ingat Viko takut ketinggian! Aku menyesal telah memaksana tadi. “Viko, maaf. Aku lupa kamu takut ketinggian,” ujarku. Viko hanya mengangguk. Akhirnya sebelum pulang kami mampir ke salah satu warung tenda di sekitar sekaten. Viko memesan teh panas. Setelah Viko merasa baikan, kami pulang. Malam ini sungguh menyenangkan!

****

       Langit telah berwarna orange, tanda senja mulai datang. Semilir angin berhembus dari hamparan sawah yang menghijau. Suasana itu selaras daengan nyanyian merdu dari kicauan burung pipit yang terbang kesana kemari. Ditengah pematang sawah itu aku memainkan biolaku. Namun, kali ini aku tidak sendirian. Disampingku ada Viko yang memainkan wayang kulit miliknya. Memang, kolaborasi ini terlihat ganjil, tapi ini menyenangkan. Perlahan aku mulai menyadari. Viko telah mengajariku satu hal. Dia mengajariku untuk mencintai segala hal tentang kota kita. Budaya, makanan, dan segalanya yang ada di sini, di Yogyakarta.[]



Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *