Sunday, January 13, 2013

Sebuah mimpi dalam mimpi

Cerpen ditulis oleh: Afifah Nur Rahmah -- SMK N 5 Yogyakarta
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
Twitter: @kpp_menulis | klik
________________________________________
sumber foto



Hari sudah beranjak malam saat aku dan tiga temanku melintasi sebuah pohon beringin di pinggir jalan. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat kami pulang dari rumah salah satu teman kami yang terletak di dekat nol km kota Yogyakarta. Namun kami mungkin kurang beruntung karena ban mobil yang kami naiki bocor, sedangkan tidak ada ban cadangan yang biasanya di letakkan di belakang bagasi mobil. Hari sudah terlalu larut untuk mencari tukang tambal ban yang masih buka. Akhirnya kami semua sepakat untuk menginap di mobil malam ini.

       Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lebih lima menit saat aku terbangun dari tidurku. Aku memandang keluar jendela di sebelah kiriku dan terkejut. Aku melihat ada seberkas cahaya yang keluar dari pohon beringin di samping mobil. Aku menyikut lengan Arial, salah satu teman yang duduk di sebelahku.

        “Arial, bangun! Itu ada sesuatu,” bisikku pelan.

    “Apaan sih, Na? Aku masih ngantuk,” jawabnya dengan mata masih terpejam.

    “Bangun, lihat sendiri!” ujarku. Kali ini lebih keras. Arial mengucek matanya, kemudian memandang keluar jendela. Dia sama terkejutnya denganku melihat ada seberkas cahaya yang keluar dari pohon beringin di samping mobil.

       “It..I-tt-tu.. Huwaaa!!” Arial berteriak dan membangunkan yang lain.

       “Ada apa sih? Berisik!” ujar Dea, temanku yang duduk di kursi depan dengan kesal. Dia merasa terganggu.

       “It-ttu, Ya. Lihat aja sendiri,”Arial memberi penjelasan sambil menunjuk keluar jendela di mana pohon beringin itu berada. Dea sama terkejutnya. Kemudian dia membangunkan temanku yang satu lagi, Mega. Mega tadi memang sempat bangun sebentar, kemudian tidur lagi. Berbeda dengan kami semua, Mega tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun, tapi justru dia merasa penasaran.

       “Ayo kita periksa,” ujar Mega sambil menyeringai. Kemudian dia membuka pintu mobil di sebelahnya dan keluar. Dengan ragu-ragu kami mengikutinya.

       “Mega, aku takut,”ujar Arial yang memang paling penakut di ntara kami semua.

       “Kalau kita tidak memeriksanya, kita tidak akan tahu cahaya apa itu,” jawab Mega santai.

        Kami sudah berada di depan pohon beringin itu. Mega berdiri paling depan sementara aku, Dea, dan Arial berdiri di belakangnya sampil memegangi ransel miliknya. Semakin kami dekat dengan pohon itu, cahayanya semakin besar. Cahayanya menyilaukan mata. Kemudian kami secara perlahan seolah-olah seperti terseret ke dalamnya.

        Beberapa menit kemudian, cahaya menyilaukan tadi perlahan pudar, tapi pemandangan di depan kami sungguh mengerikan. Api ada di mana-mana, orang-orang berlarian, teriakan kesakitan yang meyayat hati pun terdengar. Di ujung sana terlihat seseorang yang di rantai dan di cambuk dengan sadisnya oleh orang bertudung hitam. Bukan cambuk biasa, tapi sebuah cambuk dari besi yang sudah dipanaskan. Di ujung lain terlihat seseorang yang bertudung hitam juga sedang mengiris sesuatu. Tapi, astaga.. di sebelah daging merah itu ada sebuah.. Kepala manusia! Perutku mual melihat semua itu, begitupula dengan teman-temanku yang wajahnya sudah menjadi sangat pucat. Kami merasa takut melihat itu semua. Kami seperti melihat sebuah pembantaian yang nyata dengan latar belakang langit berwarna ungu.

        Salah satu orang yang bertudung hitam tadi menoleh ke arah kami. Ternyata dia bukan manusia, tapi sebuah tengkorak! Wajahnya begitu mengerikan dengan banyak belatung dan cacing yang keluar dari rongga matanya yang kosong. Tubuhku gemetar hebat, kemudian segalanya menjadi gelap.

        Saat aku tersadar aku sudah berada di mobil kembali dengan keringat bercucuran. Aku lega semua itu hanya mimpi. Aku melihat sekelilingku dan tidak menemukan teman-temanku. Mobil yang aku naiki bergoncang dengan hebatnya, saat aku melihat keluar jendela mata ku terbelalak. Ternyata mobil ini sedang terombang-ambing dalam lautan merah. Bukan, tapi lautan darah!
“Tidaaaak!!” aku berteriak dan terbangun. Ternyata aku hanya bermimpi. Keringatku sudah bercucuran. Sebuah mimpi dalam mimpi. Saat aku melihat sekitarku aku merasa lega. Teman-temanku ada di tempatnya masing-masing. Matahari juga sudah mulai terbit dan menyuguhkan pemandangan yang indah. Mendengar teriakanku mereka semua terbangun. “Kamu kenapa, Na?” tanya Arial. Aku hanya menggeleng pelan.

       Mobil kami meninggalkan tempat itu. Aku menoleh kearah belakang mobil dan melihat ada tengkorak bertudung hitam menatapku dari arah jalan tak jauh di belakang mobil. Aku terlonjak kaget. Tapi secepat itu pula tengkorak tadi menghilang tanpa meninggalkan bekas.

___________________________________________

Yogyakarta, 10 Januari 2013
20.42 WIB

*Catatan : Kisah ini terinspirasi dari sebuah pohon beringin di Taman Budaya Yogyakarta. Pohon itu berada di belakang pendopo tempat minggu kemarin KPP mengadakan latihan. Karena posisi dudukku waktu itu mengahadap pohon beringin tadi, aku menjadi ingin menuliskan cerita tentang itu. Meskipun jadinya malah seperti ini. 

THE GARDEN ETHNIC OF JOGJAKARTA


         Reportase ditulis oleh: M. Farouk Bayu Aji -- SMK PENERBANGAN Yogyakarta
  Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

            www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
            FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik
_______________________________________________________________________


       Disela-sela kepadatan arus lalu lintas di Jogjakarta, ternyata tersembunyi sebuah tempat yang indah, yang bernama Taman Budaya. Tidak sulit untuk menemukan lokasi Taman Budaya, jika kita berada di perempatan nol kilometer atau di Jalan Malioboro (sampai terlihat Monumen Serangan Umum 1 Maret) lalu kita ke arah timur hingga menemukan berjejeran toko buku atau nama bekennya pasar buku Shopping. Pasar buku Shopping yang berdekatan dengan gedung sarana olahraga Karbol AAU, kita masuk ke gerbang Shopping menuju utara kira-kira 15 meter. Di kiri jalan tertulis The First Toy Museum of Jogja, lebih jelasnya Taman Budaya memiliki banyak tanaman dan pohon penuh dengan penuh kicauan burung adalah suatu kekhasan Jogja. Di Taman Budaya terdapat suatu gedung besar yang kebanyakan ruangan berisikan mainan. Semua los mainan dibuka pada pukul 11 siang sampai 8 malam. 

       Tempat ini tidak membosankan karena di setiap ujung lantai tersedia tangga dan disalah satu tangga terdapat mainan ruang semacam lorong. Kebanyakan mainan berupa toko superhero, namun Jogja Edition jelas pembuatnya adalah tangan anak jogja dari atas gedung terlihat betapa indahnya taman lingkungannya, tetapi juga taman Benteng Vredeburg. Mainan itu tidak hanya hand toy, tapi cenderung berbentuk seni yng berbahankan karet, besi bahkan kayu dan logam. Ada patung kura-kura raksasa, kapal kreasi dan lainnya. Untuk dapat memasuki gedung ini, bagi anak dibawah 15 tahun tidak membayar dan lebih dari 15 tahun gratis. (Bayu)

Berlibur ke Benteng Vredeburg



         Reportase ditulis oleh: Shabrina Kurniasar -- SMA N 1 Sewon Bantul
  Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

            www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik

            FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik 

____________________________________________________________



       Minggu pagi  yang cerah, disertai cahaya mentari yang perlahan – lahan muncul menghangatkan tubuhku, aku menunggu balasan dari teman – temankuyang rencananya akan   menghabiskan hari libur bersama. Aku berencana akan pergi ke gedung Vredeburg, selain berlibur aku juga ingin menambah wawasan. Aku , pergi bersama tiga orang temanku Fida, Dian, dan Yuris. Kami berangkat bersama menggunakan bis Trans Jogja.Kami tiba di Benteng Vredeburg pukul 10.00 pagi.

          Sesampainya di Benteng Vredeburg aku bersama teman – teman langsung mengabadikan moment kami dengan berfoto bersama, di salah satu situs bangunan di Benteng Vredeburg.Aku bersama teman – teman ditemani seorang guide/pendamping bernama bu Rita.Sepanjang perjalanan beliau menemani dan menjelaskan berbagai macam situs bangunan yang kami lewati.

        “Benteng yang dibangun pada tahun 1765 oleh Pemerintah Belanda ini digunakan untuk menahan serangan dari Kraton Yogyakarta. Dengan parit yang mengelilinginya, benteng yang berbentuk segi empat ini memiliki menara pengawas di ke-empat sudutnya dan kubu yang memungkinkan tentara Belanda untuk berjalan berkeliling sambil berjaga-jaga dan melepaskan tembakan jika diperlukan.” Kata bu Rita menerangkan. 

        “O…” jawab serempak aku,dan teman –teman. 

        “Ehm..saya dengar di sini juga punya meriam ya bu?” tanya Fida pada bu Rita. 

        “iya, benar disini memang ada meriam, yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1765.” Jawab bu Rita. “Sama, saya ingin tau,  sebenarnya luas benteng Vredeburg itu sendiri berapa?” Tanya Dian dengan penasaran.“Luas benteng ini kurang lebih 2100 meter persegi.”

          “Wah, kalian semua ini kayaknya bersemangat banget ya? Dari tadi tanya terus, emang sebelumnya kalian belum pernah kesini?” Tanya bu Rita dengan semangat. 

        “Sebenarnya kami pernah kesini bu, tapi buat foto – foto aja, hehehe . .” jawab Yuris dengan sedikit malu – malu. 

        “Iya, kami kesini ngambil foto buat buku tahunan sama kami juga ngambil foto di pos Indonesia, sama di deket tulisan yang ada aksara jawanya bu.”Jawabku panjang lebar. 

        “O, ya bu sama pas waktu ngambil foto buat buku tahunan Fida itu ekspresinya lucu banget lho bu, masa pas di foto dia malah ngowohmulutnya pas lagi terbuka, wah pokoknya lucu deh bu, coba kalau ibu liat pasti bakal ketawa. Hahaha . . .” jawabku panjang lebar. 

        “Hush, kamu itu jangan di critain dong aku kan malu.” “la habis gimana, pas waktu itu kamu itu lucu banget e.”jawabku. “Udah – udah kalian itu guyon terus.” Lerai Yuris.

        “Hem, bu koleksi apa saja yang dimiliki benteng Vredeburg?” Tanya Yuris, dengan rasa ingin tau.” Bangunan-bangunan peninggalan Belanda, yang dipugar sesuai bentuk aslinya.

      Diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan masa Orde Baru. - Koleksi benda-benda bersejarah, foto-foto, dan lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mencapai, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia.” O… “jawab kami serempak.


          ======

Allahu akbar,allahu akbar,allahu akbar . . . 

Terdengar kumandang suara azan. 

“Eh, udah azan tu, solat dulu yo,” ajakku pada teman – teman. 

“Iya” jawab teman - teman ku. Bu Rita yang ternyata seorang nasrani, mempersilahkan kami untuk menunaikan kewajiban solat, memenuhi panggilan Illahi. Kami melaksanakan solat di mushola yang  tersedia di Benteng Vredeburg. Sebelumnya kami sudah janjian akan bertemu di tempat tadi. Setelah melaksanakan salat duhur, kami berjalan menemui bu Rita.Kami diajak bu Rita mengelilingi dan melihat – lihat benteng Vredeburg sambil dijelaskan mengenai beberapa bangunan yang kami lewati.

“Waw, ternyata Benteng Vredeburg kalau dilihat – lihat bagus juga ya? Baru sadar, Hehehe…” kataku penuh kagum.

“Masyaallah ternyata kamu baru sadar to ta? La, dari tadi itu kamu ngamati apa ?” tanya Yuris. 

“Ngamati apa ya lupa , hehehe.. jawabku. 

“Eh, kita ambil foto disitu yuk, ayo ibunya juga. Ajakku.

“Ah, enggak ah, dari tadi foto terus. Tadi baru nyampe aja langsung foto – foto.” Jawab Yuris. ”Halah cuma dua atau tiga jepretan doang, ayo to sini.” renggekku. . 

“Hiih..iya, iya.” Jawab Yuris dengan gemas. 

“Ayo cepetan, nanti enggak selesai – selesai ni.” jawabku.

“Iya buk, sabar buru – buru amat sih.”

Jawab Dian dan Fida dengan nada sedikit kesal.Aku  minta tolong sama salah satu pengunjung untuk mengambil gambar mereka. 

“Oke, siap ya..satu, dua, tiga, jepret..” Bentar – bentar mas, ganti posisi dulu, sabar, oke siap.” pinta Dian. “satu, dua jepret ..”

“Makasih ya mas, maaf lho udah ngrepotin. Mas, kalau misalnya nanti ketemu di tempat wisata lain tolong fotoin lagi ya, hehehe… Apa masnya juga mau ikut difoto?” kata ku dengan nada canda. 

“Hush..kamu itu ngawurta.” Kata Dian dengan nada sedikit sebel.

“Halah, cuma bercanda kok.”Jawabku santai. 

“Udah yuk, ayo kesana.” ajak Fida. 

“Eh, sebentar istirahat dulu dong, capek ni.” Pinta kuaku yang sudah ngos – ngosandan berkeringat dari tadi. 

“Ya ampun Renata, kamu itu masa baru jalan dikit udah capek sih, manja.” Kata Yuris dengan sedikit kesal. 

“Eh, beneran capek banget ini, kalau nanti aku pingsan, mau gendong?” balas Renata yang enggak mau ngalah. 

“Udah – udah istirahat sebentar aja, aku juga agak capek.” bela Fida.

“Aku juga, duduk sini bentar ya.” kata Dian.

Kami duduk dibawah pohon, bersantai, dan sambil minum es dawet  yang dijual abang dawet yang kebetulan lewat. Sambil istirahat, disertai dengan berhembusnya angin sepoi – sepoi yang membelai halus wajah dan mengibarkan  lembut kerudung yang dikenakan aku, Fida, dan Dian. Dengan suasana yang nyaman dan tenang ini membuat ku dan kedua temanku  mengantuk dan akhirnya tertidur, tidak halnya dengan Yuris yang sebentar lagi akan mengeluarkan jurusnya untuk bertanya lebih dalam mengenai benteng Vredeburg, Yuris memang anak yang berbeda, dia memiliki rasa ingin tahu yang besar dari pada teman – temannya. 

Dengan wajah penuh penasaran Yuris bertanya pada bu Rita “Bu, sebenarnya sejarah Benteng Vredeburg itu gimana sih?.” 

“Hem, kamu ini anak yang kritis ya, banyak ingin tau. Museum Benteng Yogyakarta, semula bernama "Benteng Rustenburg" yang mempunyai arti "Benteng Peristirahatan" , dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah Keraton. Berkat izin Sri Sultan Hamengku Buwono I, sekitar tahun 1765 - 1788 bangunan disempurnakan dan selanjutnya diganti namanya menjadi "Benteng Vredeburg" yang mempunyai arti Benteng Perdamaian."

Secara historis bangunan ini sejak berdiri sampai sekarang telah mengalami berbagai perubahan fungsi yaitu pada tahun 1760 - 1830 berfungsi sebagai benteng pertahanan, pada tahun 1830 -1945 berfungsi sebagai markas militer Belanda dan Jepang, dan pada tahun 1945 - 1977 berfungsi sebagai markas militer RI.

Setelah tahun 1977 pihak Hankam mengembalikan kepada pemerintah. Oleh pemerintah melalui Mendikbud yang saat itu dijabat Bapak Daoed Yoesoep atas persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku pemilik, ditetapkan sebagai pusat informasi dan pengembangan budaya nusantara pada tanggal 9 Agustus 1980.

Pada tanggal 16 April 1985 dipugar menjadi Museum Perjuangan dan dibuka untuk umum pada tahun 1987. Kemudian pada tanggal 23 November 1992 resmi menjadi "Museum Khusus Perjuangan Nasional" dengan nama "Museum Benteng Yogyakarta". 

“O.. begitu, makasih  ya bu, atas penjelasannya. Dengan ini, saya sama teman – temanbisa  mengenal lebih dekat tentang benteng Vredeburg, dan nambah wawasan," kata Yuris, mengucapkan rasa terima kasihnya, dengan sumringah

Aku yang tiba- tiba terbangun mengagetkannya “Gimana, udah puas belum nanyanya?.” 

Yuris, yang sempat kaget, menoleh “Eh, Renata ngagetin aja , kamu sendiri uda puas belum tidurnya?.” tanya Yuris dengan tersenyum. 

“Hehehe, lumayanlah walaupun belum puas sih..” jawabku sambil meringis memamerkan kedua gigin yang besar seperti kelinci. 

“Fida, Dian pulang yuk udah siang nih.” ajak ku. Fida dan Dian segera terbangun dari tidurnya. 

“Huah… ayok.” ajak Dian. 

“Ya udah, yo  pulang,” jawab Fida. 

Tak terasa jam ditangan ku  sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Akhirnya aku dan teman - teman memutuskan untuk pulang, kami keluar dari benteng Vredeburg dan menuju halte bus Trans Jogja terdekat. Sesampainya di halte, aku  merasa puas atas kunjungan yang menyenangkan di benteng Vredeburg dan berharap suatu saat nanti bisa berkunjung ke sana lagi, ya suatu saat nanti. 

Sego Hiburan Ikasada (Sepeda Kanggo Hiburan Ikasada)


         Reportase ditulis oleh: Nur Fitriatus Shalihah -- MAN 1 Yogyakarta
  Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

            www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik

            FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik

____________________________________________________________

Ikasada (Ikatan Pemuda Sawahan) Minggu pagi (6/1) bersepeda dari Bantul ke Benteng Vredevurg Yogyakarta. Acara Cycling yang diikuti oleh 32 orang ini dalam rangka mempererat tali silaturahim dan kekompakan pemuda di daerah Sumber Agung, Jetis, Bantul.
“Kegiatan ini tidak rutin, pengin mencari hiburan saja. Jadi kami mengadakan rapat, terus pada usul pengen ke mana gitu,” ungkap Rizal, ketua panitia kegiatan ketika ditemui di pintu masuk timur Benteng Vredeburg.
Peserta paling muda duduk di kelas 3 SMP, lanjutnya. Namun, mayoritas mahasiswa. Mereka hendak melanjutkan perjalanan ke Tamansari selepas dari Benteng Vredeburg.
Kegiatan Ikasada tidak hanya bersepeda. Mereka mengadakan kajian rutin sepekan sekali dan beragam kegiatan lainnya. Pemuda saat ini memang sebaiknya aktif menyalurkan bakatnya pada komunitas atau organisasi kepemudaan semacam ini. (Nufisha)

Kelompok Seni Saka Akan Adakan “Rashoman”


         Reportase ditulis oleh: Nur Fitriatus Shalihah -- MAN 1 Yogyakarta
  Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

            www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik

            FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik
__________________________________________________


Berawal dari teater kampus UAD, sekelompok orang yang tergabung dalam Kelompok Seni Saka Yogyakarta akan mengadakan teater berjudul “Rashoman”. Rencananya teater ini akan diadakan bulan depan di 3 kota besar, yakni Yogyakarta, Solo, dan Magelang.
Gerbang Rashoman yang merupakan legenda Jepang, diangkat menjadi sebuah pementasan oleh Seni Saka karena sering terjadi penculikan orang oleh perampok di tempat tersebut. Banyak kasus orang hilang ketika berkunjung. Kasus hilangnya manusia di sana mirip dengan yang terjadi di Lubang Buaya.
“Kami ingin menekankan bahwa tidak ada unsur pornografi dan SARA dalam cerita kami. Jadi teater ini bisa dinikmati oleh umum,” kata Dinar Setiawan, koordinator acara sekaligus ketua Kelompok Seni Saka Yogyakarta saat ditemui di beranda Taman Budaya Yogyakarta (6/1).
Tiap pekan para pemain melakukan latihan 3 kali dan bertempat di Taman Budaya Yogyakarta, lanjutnya. Acara ini merupakan acara besar yang pertama kali mereka adakan. (Nufisha)

Dibalik Tirai Klasik TBY

Cerpen ditulis oleh: Hafida --- SMA 1 Yogyakarta
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

         
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
          FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
          Twitter: @kpp_menulis | klik

___________________________________________________________



Taman Budaya Yogyakarta (TBY) adalah sebuah kompleks pengembangan pelatihan seni budaya yang terdapat di Yogyakarta. Kompleks yang beralamat di Jalan Sriwedari No.1 ini berdiri atas surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bersamaan didirikannya pusat-pusat kebudayaan di seluruh provinsi di Indonesia. Didirikan tanggal 11 Maret 1977, tak lepas dari masukan para seniman dan cendekiawan yang ikut aktif dalam pemerhati kebudayaan Indonesia untuk mendirikan sebuah kompleks tempat untuk pengapresi dan pengembangan seni agar dapat dinikmati masyarakat umum baik nasional maupun internasional.
Kompleks dengan bangunan cagar budaya ini memiliki visi The Window of Yogyakarta atau Jendela Yogyakarta. Dari jendela inilah aroma budaya dapat terhirup, terhimpun dalam berbagai karya yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Dari jendela inilah angin segar dari berbagai budaya masuk dan menghembuskan berbagai wawasan, memperkaya pengetahuan dan pengalaman serta komunitas seni budaya di Yogyakarta. Disinilah rumah kreatif yang dapat dikembangkan sedemikian rupa, sumbangan para seniman dan masyarakat nasional maupun internasional. Untuk mewujudkan visi tersebut TBY mempunyai empat tugas pokok yaitu melaksanakan pengolahan dan pengembangan seni budaya, melaksanakan laboratorium dan eksperimentasi seni budaya, melaksanakan tata usaha dan rumah tangga dinas, dan memfasilitasi kegiatan seni budaya.
TBY mempunyai beberapa bangunan atau gedung penting yang digunakan untuk kegiatan mengenai seni dan kebudayaan. Antara lain Gedung Kesenian Sositet, Concert Hall, Ruang Pameran Seni Rupa, Ruang Seminar, Amphiteater, Pendhapa, Perpustakaan dan sebuah kantin mungil yang tak jarang penuh sesak oleh pengunjung.
Gedung Kesenian Sositet merupakan gedung cagar budaya, yang didirikan oleh Belanda, namun arsiteknya tidak diketahui. Gedung Kesenian Sositet mempunyai luas panggung 10 x 8 meter dilengkapi dengan lobi, ruang rias, AC, tata lampu dan tata suara. Dengan statusnya sebagai gedung buatan Belanda, gedung Sositet mempunyai mitos tersendiri. “Yang main teaternya kurang konsen, bisa kemasukan setan“ ujar Haryanto selaku petugas keamanan TBY (10/1). Walaupun hanya sekedar mitos, hal itu bisa dijadikan sebagai motivasi agar tetap konsentrasi dan serius dalam berlatih, tidak menyepelekan apa yang sedang dipelajari. Gedung Concert Hall terletak di lantai dua, berkapasitas 1200 penonton. Gedung ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti ruang rias, lobi, ruang stem alat musik, ruang VIP, tata lampu, tata suara dan AC sentral.
Karena letaknya yang strategis berada di sebelah Selatan Pasar Beringharjo, Utara Taman Pintar, dan Timur Benteng Vendenbrug, TBY menjadi padat pengunjung maupun para pelajar dan mahasiswa yang mengadakan sebagian aktivitas atau kegiatannya di TBY.
Tak hanya itu, pelatihan dan pengembangan seni juga diadakan baik dari pihak pengelola TBY atau dari lembaga / organisasi luar. Salah satu lembaga formal untuk pelatihan seni dan budaya adalah AFC atau Art For Children. “AFC biasanya dilaksanakan jum’at sore atau hari minggu pagi” ujar Dina, salah satu pegawai TBY (11/1). Pelatihan ini ditujukan khususnya bagi anak-anak pada jenjang TK-SMP agar memperoleh pengetahuan, pengenalan, dan menumbuhkan kecintaan anak terhadap seni sebagai wujud dari pelestarian seni budaya Yogyakarta. Bidang-bidang AFC meliputi seni rupa, karawitan, seni tari, seni musik, vokal, sastra dan teater. Selain pelatihan, AFC juga mengajak anak untuk mengunjungi studio seniman, tempat pameran, dan lain-lain. Selain AFC, terdapat lembaga informal yang menyelenggarakan kursus atau pelatihan rutin sesuai izin pengelola TBY. “ Ada izin latihan dance, diluar jam kerja,” tambah Pak Adi selaku petugas pengadministrasi umum(10/1)
TBY mempunyai segudang kegiatan yang dilaksanakan secara periodik, dari bulanan hingga tahunan. “Kegiatan-kegiatannya bermacam-macam. Ada Festival Sendratari, Kethoprak, Maestro, Rekontruksi Seni Klasik, Duta Seni, Festival Teater, Pameran dan masih banyak lagi,” tambah Dina (11/1). Setiap kegiatan akan diinformasikan di papan pengumuman yang berada di samping Pendhapa dan akan didokumentasikan dalam bentuk buku agar pelestariannya tetap terjaga.
Keindahan dan kenyamanan berkunjung ke Taman Budaya Yogyakarta sering diwarnai dengan maraknya orang-orang tak dikenal yang tidur sembarangan di sepanjang halaman atau lantai gedung TBY. Petugas keamanan TBY pun segan untuk menanyakan perihal perbuatan orang-orang yang sering tidur sembarangan, dengan alasan sulitnya membedakan ciri fisik seorang seniman dan gelandangan. “Sulit misahin seniman atau gelandangan. Kan nggak enak kalau ternyata dia seniman,” komentar Adi, seorang pekerja di bidang pengadministrasian umum. Komentar berbeda diutarakan oleh Clara, pengunjung asal SMAN 1 Prambanan, “Ya ngotorin sih, mengganggu. Kan gedung seni budaya.” Keindahan, pengaturan sistem tata ruang dan nilai klasik Taman Budaya Yogyakarta memiliki nilai estetika tersendiri dari segi penampilan gedung yang menjadi salah satu cagar budaya, harus dijaga dan dirawat kerapihan dan kebersihannya sehingga nyaman dan berkesan baik bagi para pengunjung.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *