Cerpen ditulis oleh: Yuris Saputra --- SMK MUH 3 YK, STMIK EL RAHMA YK
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
Twitter: @kpp_menulis | klik
________________________________________________________________
SUKAMTO ADILUHUR nama lelaki itu. Aku, yang kebetulan tinggal
tak lebih enam langkah dari rumahnya, pernah mendengar dia teriak-teriak
sendiri, bak sedang kesurupan. Terlebih dia tinggal di situ sendirian.
Dan teriakannya itu didengar pula oleh beberapa warga kampung. Tapi,
setelah kami mencoba masuk ke dalam rumahnya, kami menemukan Sukamto
dalam keadaan tak kurang suatu apapun. Ia waras apa adanya. Ia katakan
pula tak ada apa-apa. Kami pun langsung meninggalkan rumahnya, tiada
berpikir panjang. Malahan kami, sebagai warga Sukamto yang harus hidup
penuh cinta dengan sesama warga, merasa kasihan dengan keadaannya.
Tentu bukan sekadar kasihan akan perilakunya yang aneh belaka.
Melainkan terdapat latar belakang kenapa Sukamto bertingkah seperti itu.
Latar belakang yang tak tentu setiap orang mampu memahaminya. Semua
berawal dari doa-doa yang selalu Sukamto panjatkan. Doanya pada Tuhan
adalah ia ingin menjadi orang kaya. Maka, ia yang sejak dulu pintar tahu
dimana tempat untuk meminta kekayaan, yaitu di setiap usai salat.
Dengan menengadahkan tangan dan dengan sepenuh hati memohon kemurahan
dari Tuhan. Meski sebenarnya dari dulu tahu berdoa adalah wajib
hukumnya, tetapi ia baru merutinkan salat dan berdoa tak lama ini,
setelah ia sadar bahwa ia harus berdoa untuk mendapatkan sesuatu yang ia
dambakan. Inilah penyebab terkadang manusia memang perlu disadarkan.
Tapi urusan hidup sejak ia rutin berdoa malah semakin rumit.
Ternyata masalah seperti ini yang sudah membuat Sukamto menganggap hidup
begitu sembab. Misalnya saja harus membayar uang tagihan listrik, pajak
bumi dan bangunan, beli pulsa, beli bensin, maka sehari-hari, dan
rokok. Mungkin ini karena dia terkatagori salah satu pengangguran di
Indonesia yang disamping tak kerja, juga tak berniat cari kerja. Sekali
lagi, mengenai masalah-masalahnya yang mungkin beberapa orang menganggap
sepele, padanya menjadi problematika yang sangat menyengsarakan. Hinggahandphone-nya
pun harus ikut menanggung kenyataan bahwa sebulan penuh tak pernah
diisi pulsa. Kabar menarik lainnya, adalah meski dilanda paceklik
panjang, tetap saja di usai salatnya tak pernah ia lupa untuk
memanjatkan doa. “Ya Allah jadikanlah aku orang yang kaya. Amin.”
.....
Satu bulan lewat. Kebutuhannya kian mendesak. Jarang sudah ia
keluar rumah dengan motor, kini. Andai harus keluar, ia pilih mengayuh
sepeda saja. Tikus-tikus di rumahnya mestinya sadar bahwasanya pilihan
ini yakin gara-gara uang bensin. Seorang penganggur kelas atas semacam
dia mana dapat membeli bensin genap seliter, Sudah jatuh tertimpa durian
runtuh. Ternyata, handphoneyang tak diberi makan pulsa itu,
bisa sakit sebab satu bulan lamanya tak mendapatkan asupan gizi pulsa.
Apakah itu benar? Entah. Hanya saja, sejak ia nampak seperti orang
sekarat karena harusmembiasakan diri bepergian dengan sepeda, handphone-nya juga ikut sekarat. Handphone-nya
perlu dibedah dan dioperasi. Mereka itu bagaikan satu badan saja.
Bilamana sakit satu, sakitlah yang lain. Tapi, Sukamto, bujang
pengangguran versi Indonesia, mana ada uang untuk membiayai ongkos
operasi. Dia ‘kan pengangguran kelas atas. Dan pengangguran kelas atas, boro-boro mendatangi dokter bedah apapun dan di manapun. Memikirkan sampai ke situ saja tak memiliki nyali. Paling-palingnyalinya sekadar pergi ke rumah teman yang juga sama penganggurannya, lalu bersatu padu untuk menerbitkan obrolan khas mereka: sing penting iso madhang lan iso urip.
Oh malang seribu malang, dalam kondisinya yang sudah paceklik,
ada-ada saja problematika yang datang sederas hujan kemarin sore.
Terjadi kembali pada Sukamto saat sedang bersama teman yang juga
pengangguran. Namanya Puji. Puji Soejadi. Saat itu Sukamto berumur 28
tahun. Pertama, Sukamto memang diajak Puji pergi ke Sleman untuk
mengambil beberapa barang pesanan. Setelah mengabil barang itu,
ternyata, temannya ini mengaku kalau tak ada uang ongkos untuk pulang
naik bus. Usut punya usut, teman sesama penganggurannya itu memang
sengaja mengajak Sukamto, supaya mengenai ongkos untuk pulang naik bus,
adalah Sukamto yang bersedia membayarnya. Karena Puji pikir, Sukamto
membawa uang sebagai antisipasi ketika terjadi apa-apa. Sukamto yang
tergagap tak percaya dengan pengakuan dari si pengangguran Indonesia itu
berkata dan malah tersenyum, tapi senyuman getir.
“Teman, jalan kaki itu sehat. Jadi, mari kita jalan kaki saja.”
Tawaran semacam ini mudah sekali dipahami maksudnya. Puji tahu
pasti dia sama-sama tidak memiliki uang. Sehingga ia menjawab pun dengan
dinamika nada penuh ketidakpercayaan, “Oh, jadi dirimu.., Sukamto…
Juga.”
Dalam pikiran, Sukamto sudah mentaksir temannya akan mengatakan:
Oh, jadi dirimu.., Sukamto… Juga tidak memiliki uang sama sepertiku?
Kemudian,
“Maaf Teman,” komentar Sukamto cepat dan memutus kalimat yang
hendak diucap temannya, “Kau memang benar. Jadi mari kita anggap saja
perjalanan ini sebagai mata pencaharian kita yang baru. Atau, kita akan
tetap di sini sampai salah satu teman kita yang memiliki mobil melawati
di jalan ini. Lalu meminta mengantarnya?”
“Gila kau! Tidak mungkin lah itu. Tapi… Ah, ya… 25 kilometer. Sanggup kau?” Tanyanya untuk selidik.
“Hmm… Tentu!” jawab Sukamto.
Sekalipun tentu, tetap saja ia beringsut menahan kata tak tentu.
Alias, suara hati si pengangguran kelas atas itu mengatakan yang
berseberangan! Mulutnya memilih utara, hatinya berselingkuh dengan
memilih selatan. Tak sinkron. Dan ia katakan tentu, tentu saja karena
desakan dari kenyataan sudah membuatnya tiada berdaya untuk membuatnya
semakin rumit. Untuk apa dibuat rumit? Kalau takdirnya jalan, ya jalan.
Sejurus dengan kemalangannya, ia pun mengeluarkan jurus terampuhnya,
yaitu jurus elemen air yang digabungkan dengan elemen api. Artinya: Sikapnya
itu bagai air yang diam tenteram. Tetapi, nun jauh di lubuk sanubari,
berkobarlah gejolak api kemarahan lantaran tak sanggup menerima keadaan
yang kenyataannya sedang terjadi. 25 kilometer? Oh, Tuhan…
Sungguh ironi, memang, kehidupan para penggangguran kelas atas itu.
Tapi walau jalan yang terjal terus Sukamto lewati termasuk
berjalan kaki 25 kilo seharian penuh. Tak jua ia jera untuk tetap berdoa
di setiap usai salat. Tak jera jua ia menengadahkan tangan dan berdoa
supaya diberi limpahan harta benda. Ya, karena disitulah ia dapat
meluapkan berbagai problematika dan memohan pada Dzat Yang Maha Tinggi
tentang apa yang ia inginkan. Hingga saat itu tiba. Saat dimana Sukamto
merasa tak mendapat timbal balik yang setimpal atas doa-doanya.
Terlebih, saat nestapa-nestapa itu sudah kian penuh menggerogoti
dirinya. Ia pilu. Ia ragu. Ia berontak. Maka, MahamengabulkanNya itu…,
adalah palsu! hardiknya. Bukan main geramnya kali ini.
Bukankah Dia Maha Mengabulkan. Tetapi, kenapa yang selalu terbit
adalah nestapa demi nestapa? Membuat rasa letih itu mencapai batasnya!
Nestapa apa ini? Nestapa yang berdatangan seiring kebutuhan yang terus
mendesak. Mendesak-desak hingga sulit untuk bebas bernapas. Dimana
keadilan? Dimana MahamengabulkanNya? Dimanakah juga harta yang terus
terpanjatkan di dalam setiap doa? Sudah bertahun-tahun berdoa, namun apa
hasilnya? Oh tiada…
Bagai cuaca, suasana hati Sukamto berubah drastis. Perkataan tak pantas
mulai keluar dari mulutnya. Mulutnya yang dahulu suci bekas doa-doa yang
selalu ia sampaikan pada Sang Maha Mengabulkan. Begitu hari itu
menjelang, nyaris letupan cerca-cerca itu tak tertahankan. Terlepas
begitu saja. Gelap mencuri dirinya. Terang memudar darinya. Setelah
ditelusri, ternyata, teriakan mengerikan Sukamto yang dahulu inilah
latar belakangnya. Tapi lumrah. Manusia –Sukamto atau siapapun- tetap
memiliki batas-batas kesabaran sekalipun mereka sebenarnya sanggup
bersabar lebih jauh. Namun tetaplah ini yang terjadi pada Sukamto :
Tidak sanggup lagi bersabar!
Hari demi hari ia tambah dongkol dengan keadaan ini. Jadilah ia
kini tak pernah shalat lagi. Juga berdoa. Dia merasa dikecewakan Tuhan
makanya berbuat demikian. Sudah tiada guna sujud menghadap kiblat.
Malahan ia berpikir untuk sujud di hadapan wanita supaya mau diajak
begitu, berdua, memadu cinta yang katanya enak rasanya. Parahnya setiap
melihat wanita Jogja berbusana seperti di zaman bahuela,
pikiran jahat mulai dimainkan karena ia merasakan indah pada melodinya.
Begitu seterusnya. Hidup sebagai pengangguran memang tak pernah mulus.
Selalu saja tercipta problematika di setiap bait-bait perjalanan
hidupnya.
....
Hari ini di kampung Mantrijeron, Kota Jogja, Sukamto sedang
duduk-duduk di kursi panjang dari bambu dan cukup untuk tiga orang, di
depan rumah. Orang Jogja menyebut kursi itu : lincak. Dibersamai
dengan nuansa sawah yang megah dan angin sepoi-sepoi yang nyaman,
membuat ia semakin tenggelam dalam rasa santainya. Suasana desa
bercampur kota dapat ditemukan di dini. Desa karena sawahnya dan kota
karena bangunan perumahan yang cukup banyak. Seorang Puji yang
melihatnya santai lalu mendatangi dan lagi-lagi mengobrolkan tema khas
mereka: sing penting isi madhang lan iso urip. Satu jam lewat. Dua jam menjelang. Sukamto merasa lidahnya kelu karena candu rokok. Maka,
“Bung, ada rokok?”
“Ya.”
“Satu ya.”
Puji merogoh saku dan mengeluarkan sekotak rokok.
“Ini. Ambil saja. Dan ini koreknya.”
Diambilnya sebatang. Lalu diberi api. Dan,
Wuss!
Ribuan asap racun itu melayang di udara dan sebagian lain
bertugas memusnahkan paru-paru dan organ-organ vital yang lain.
Pelajaran penting: ternyata pengangguran juga bisa merokok, padahal
harga rokok mahal.
Wahai Teman, tahukah kalau sebenarnya aku sedang menyaksikan mereka di lincak itu
semenjak dua jam yang lalu, dari rumahku ? Kulakukan ini, Teman, agar
aku dapat tahu bagaimana kehidupan para pengangguran itu. Mungkin dengan
menguping percakapan mereka aku akan menemukan tema pembicaraan tentang
apa sih yang sebenarnya membuat mereka tetap menjadi pengangguran.
Siapa tahu kelak aku dapat berjasa bagi mereka. Semisal membuka lapangan
pekerjaan jika memang masalah mereka adalah kurangnya lapangan
pekerjaan. Tetapi, setelah aku melihat dari balik jendela rumahku
Sekamto sedang menghembuskan asap rokok, aku jadi ingin mengatakan hal
ini pedanya: Hei, Teman, kau ini seorang pria 28 tahun dan belum
beristri. Kalau kau rusak terus tubuhmu, mana ada wanita jelita mau
denganmu. Pikiranmu juga kotor. Tak mungkin lah ada wanita shalihah
mantap pekertinya bersedia melalui hari-hari bersamamu. Pikiranmu yang
kotor karena wanita itu, Teman, pertanda kau harus cepat-cepat menikah.
Tapi mengapa kau masih saja duduk bermesra dengan temanmu yang bujang
lagi sama-sama pengangguran? Apa kau berpikir untuk menikahinya, wahai
Teman? Maka, Teman, lengkaplah sudah deritamu itu! Ugh.
Tiba-tiba terdengar suara dari arah samping. Suara dari seorang
pria yang hobi berbusana putih dan berkopiyah. Suaranya serak basah.
Namun halus.
“Assalamu’alaykum ….”
“Oh,” jawab mereka sedikit kaget, “Wa’alaikumussalam warahmatullah, Pak Ustad ….”
Dia ternyata Pak Ustad yang sering disebut-sebut di kampungku.
Akan tetapi aku tak pernah memanggilnya Pak Ustad. Aku jika memanggilnya
lebih enak dengan kata Pakdhe. Ya, Ustad itu adalahPakdhe-ku. Dia seorang yang tegas sepak terjangnya dan sering mengisi pengajian di kampung.Omong-omong soal kiamat, beliau juga yang pernah memberi penjelasan prihal kiamat kepadaku tempo lalu.
Pak Ustad kemudian duduk membersamai mereka. Aku yakin hari ini
beliau punya banyak waktu mengobrol dengan mereka. Kalau tidak, tidak
mungkin beliau ada di situ. Jadi, tenang.
“Bagaimana kabar kalian. Sehat?” tanya Pak Ustad.
“Sehat Pak Ustad, Alhamdulillah,” jawab Sukamto.
“Iya sehat,” sambung Puji sambil memegang batang rokok, “Tapi
kantong kami tak sesehat badan kami Pak Ustad. Bagaimana ini?” Dia
tersenyum lugu. Lalu memberikan api pada rokok, meneladani apa yang
sudah Sukamto lakukan tadi.
“Hei Bung! Apa maksudmu kami? Jangan pernah kau samakan aku
denganmu. Paham kau?” Rupanya bagi Sukamato kata-kata Puji nampak tidak
segar.
“Hei, hei, memangnya kau sudah jadi orang kaya Bung?” Tanyanya lirih
tapi bernada tinggi. Berharap Pak Ustad mendengarnya samar-samar.
“Ya belum,” jawab Sukamto ikut lirih dan bernada tinggi.
“Ya sudah kalau begitu. Repot!”
“Sudah-sudah,” Pak Ustad ikut bicara, melerai.“Tidak baik itu marah-marah.”
“Ah, Pak Ustad ini. Siapa yang marah-marah? Hanya sedikit lelucon khas kami saja Pak,” kata Sukamto mencoba menenangkan.
Pak Ustad manggut-manggut. Ia arahkan pembicaraan untuk mengomentari pertanyaan Puji tadi: Kantong kami tak sesehat badan kami.
“Jadi, apa masalah kalian sekarang?”
Sukamto dan teman sesama penganggurannya pun berusaha untuk
saling melengkapi menjelaskan segala problematika pada Pak Ustad.
Tentang keinginan jadi kaya. Tentang problematika hidup yang kian
mendesak. Tentang nuansa bujang yang mengenaskan. Dan tentang hujatan
dari Sukamto kepada Tuhan karena tak pernah dikabulkan doa-doanya, meski
seribu satu doa terpanjat di setiap usai salat.
Semula aku melihat Pakdhe sanggup memahami problematika yang mereka sedang hadapi. Namun terdapat satu bagian yang membuat Pakdhe kecewa berat, yaitu hardikan Sukamto pada Allah!
“MasyaAllah, Akh Kamto! Benar kau mengata-ngatai Allah seperti itu? Cepatlah sekarang mohon ampun sebelum Dia murka besar padamu, Akh!” Perkataan Pak Ustad itu begitu lantang lagi tegas. Membuat Sukamto menentang pernyataan dari Pak Ustad.
Aku jadi tahu, terkadang ucapan meskipun benar dapat menjadi
menyakitkan karena tidak dikelola dengan baik. Sehingga Sukamto berusaha
berontak. Ia merasa terusik hatinya.
“Mohon ampun? Panjenengan apa sedang bercanda? Tidak. Itu tidak akan.”
“Baiklah Akh Kamto.
Maafkan perkataan tak berkenan saya. Tapi mari kita hindari untuk
berdebat. Sekarang bolehkah saya membantu masalah-masalah kalian?”
“Sebaiknya memang begitu. Sekalipun Anda Ustad, jangan asal main perintah!”
“Na’am. Tapi, sebelum saya membantu masalah-masalah kalian, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan. Dijawab ya, Akh.”
“Ya,
ya, ya,” jawab Sukamto membosan. “Pertanyaan apa Pak Ustad yang baik
hati dan lembut sepak terjangnya?!” Tanyanya sedikit jengkel.
Mendengarnya,
si Puji yang sedang asyik menghirup asap rokok berseloroh, “Oh, benar
Pak Ustad yang baik hatinya. Pertanyaan apa itu?” Ia menggoda.
Pakdhe tetap bersikap tenang. Aura wibawanya seolah nampak sekali dari sikapnya ini.
“Kalian ini, ada-ada saja.”
Aku perhatikan beliau. Kira-kira dua menit Pakdhe sempat berhenti bicara. Di sisi lain, mereka –Sukamto dan Puji- aku lihat seperti menunggu yang hendak diucap Pakdhe. Usai seratus-duapuluh-detik, mulailah Pakdhe buka mulut.
Tak sabar mereka menunggu pertanyaan dari Pak Ustad.
“Oh iya, Akh ,
maaf,” kata beliau membuat mereka berkerut dahi. “Sebentar. Saya lupa
akan sesuatu. Ini terdapat satu kalimat penting dan itu harus terus
kalian ingat-ingat. Nanti bisa kalian gunakan untuk membuka pintu apa
saja. Seperti Doraemon. Diingat-ingat saja, penjelasannya akan saya
sampaikan nanti setelah pertanyaan-pertanyaan saya kalian jawab. ”
“Kalimat
apa lagi itu Pak Ustad yang lembut sepak terjangnya?” Seloroh si Puji
lagi. Memang, Puji adalah tipikal orang yang selalu bersemangat. Jadi,
walau banyak problematika, dia selalu nampak ceria. Beda jauh dengan
Sukamto, si pengangguran kelas atas itu. Geleng kepala aku dibuatnya.
“Kalimat
itu adalah: ‘Pilihan ada di dalam genggaman tanganmu!’. Ya, pilihan ada
di dalam genggaman tanganmu. Gampang dan mudah diingat bukan?”
“Pilihan ada di dalam genggaman tanganmu, ya? Hmm… Oke!” Ujar si teman dalam pengangguran.
“Oh ya, ya. Pilihan ada di dalam genggaman tanganmu. Akan saya ingat-ingat,” setuju Sukamto, lesu.
Pak Ustad mengangguk-angguk. Kemudian mulai bertanya,
“Ini pertanyaan untukmu Akh Kamto. Di waktu kau kecil dahulu, mainan apa yang paling kau sukai?”
Ia coba mengingat-ingat.
“Tamia. Karena saya suka betul dengan mobil-mobilan.”
“Baiklah. Berapa harganya dulu?”
“Macam-macam. Ada yang sepuluh, ada yang limabelas, limapuluh juga ada.”
“Pernah membelinya?”
“Pernah. Tapi yang harganya limabelas ribu. ”
“Uang dari siapa itu? Tabungan atau dari orang tua?”
“Dari orang tua saya.”
“Nah,
kenapa kau bisa memiliki mainan itu. Apakah orang tua yang senantiasa
memberikanya tanpa kau minta atau orang tuamu memberikannya lantaran kau
meminta untuk dibelikan?”
“Waktu itu saya minta Ibu untuk membelikan.”
“Yang beli di toko tamia kau sendiri atau Ibumu yang pergi? ”
“Saya sendiri ditemani dia. ” Ia menunjuk Puji di sampingnya.
“Aku?”
kata temannya itu sembari mengingat. “Inggih, betul Pak Ustad. Dulu dia
pernah meminta saya mengantar karena saya memang punya sepeda untuk
mengantarkannya. Sedangkan dia tidak. Karena perjalanannya radha jauh,
tidak mungkin dia berjalan kaki, sendirian. Dia ‘kan gampang capek!
Kalau dia ada apa-apa bisa rumit masalahnya. Tapi sebagai imbalannya
saya diberi upah es jeruk seharga 400 rupiah.” Dia lalu tertawa.
Pak
Ustad tersenyum. Di samping, Sukamto bibirnya malah mengerucut sebab
tak terima dikatakan begitu oleh temannya. Gampang capek? Hmm…
“Hmm… Ibu memberikanmu uang sejumlah limabelas ribu untuk kau belanjakan sebuah mobil Tamia,” sambung Ustad asli Jogja itu. “Akh Kamto, tahukah
kenapa Ibumu tidak membelikanmu langsung Tamia saja, melainkan malah
memberimu uang limabelas ribu untuk kau belanjakan sendiri?”
“Pada awalnya sih saya juga meminta ibu mengantarku karena saya belum
tahu dimana letak toko Tamia. Tapi Ibu tidak mau. Ibu bilang saya yang
harus mencarinya sendiri. Mungkin Ibu merasa sudah memberikan uang, jadi
tidak mau lagi jika harus mengantar-mengantar segala. Akhirnya saya
meminta teman saya ini mengantarkan dengan imbalan es jeruk ala Jogja.
Benar harga es jeruk saat itu 400 perak.” Jelas Sukamto pada Pak Ustad.
“Begini ya. Keinginanmu memiliki Tamia dimisalkan saja sekeras batu. Alhamdulillah Ibumu merestui dengan membelikanmu mobil-mobilan itu. Tetapi Akh Kamto, seandainya ketika di tengah jalan menuju toko tiba-tiba pandanganmu tergoda oleh nasi gudeg dan kemudian kau gunakan uang itu untuk membelinya sehingga uangnya habis, bagaimana? Ini dimisalkan saja, Akh. ”
“Ya Ibu saya bisa marah. Wong uang
itu seharusnya dipakai beli Tamia. Kalau tidak marah ya mungkin saya
tidak akan diberi uang lagi untuk membelinya. Karena bagi kami uang
limabelas ribu adalah jumlah yang sangat besar. Dan itu sudah saya
sia-siakan.”
“Tepat sekali !!!”
Tiba-tiba Pak Ustad bersuara lantang membuat kedua bujang pengangguran
itu tersentak. Keluarlah kata-kata kasar dari mulut mereka berdua. Tapi
sambil lalu, suasana jadi aman terkendali lagi.
“Maaf, maaf sudah membuat kalian kaget.” Pakdhe mengatakannya halus, kemudian mengajak membicarakan problematika mereka yang ada kaitannya dengan masa-masa kecil ini.
“Mari Akh Kamto
kita misalkan posisi Allah sama dengan posisi Ibumu. Mainan adalah
kekayaan yang kau inginkan. Uang adalah media untuk membeli mainan. Dan
temanmu adalah seseorang yang dikirim Allah untuk membantumu. Paham Akh Kamto?”
“Lanjutkan saja Ustad,” pintanya cuek tetapi aku melihatnya berusaha untuk memahami.
“Ketika kau berdoa, Akh, itu
sama halnya dengan pintamu pada Ibu untuk membelikan mainan. Hanya, di
situ kau meminta kekayaan pada Allah, Dzat Yang Maha Mengabulkan. Sama
juga seperti Ibu yang malah memberikan uang sejumlah limabelas ribu
padahal kau minta Tamia, mungkin saja Allah mengabulkan doamu tapi lewat
media juga. Jadi, uang itu adalah mediamu untuk mendapatkan Tamia.”
“Nah, Pak Ustad,” seloroh si bujang yang dipanggil Pak Ustad Akh Kamto, “Dalam kasus sayaini, apa yang menjadi medianya?”
“Baik.”
Pak Ustad menjawab dengan nada senang karena Sukamto sudah mulai
mengkritisi ucapannya. “Media bisa bermacam-macam, sesuai kehendak Rabbi. Mungkin
setelah lama kau berdoa ada sesorang yang memberimu modal usaha
sehingga kau dapat berwirausaha dan mencapai sukses bersamanya. Tapi kau
tidak sadar mengenai hal itu dan menolak pemberian modal darinya. Atau,
kau pernah diajak seseorang untuk berwirausaha namun menolaknya.
Bagaimana?”
“Tidak. Kedua-duanya tidak ada dalam catatan hidupku.”
Sepertinya aku menemukan rona wajah terkesima di wajah Pakdhe. Mungkin
beliau terkesima pada gaya bahasa Sukamto yang melangit dan menawan.
Kata ‘dalam catatan hidupku’ rupanya dapat menggoda Pakdhe. Tapi ia mencoba menyembunyikan kekagumannya di dasar hati. Beliau memilih melanjutkan pembahasan.
“Kalau
begitu bagaimana dengan buku-buku? Mungkin kau pernah menemukan buku
bagaimana membangun kesuksesan. Tapi kau tak sadar bahwa buku itu dapat
membantu meraih impianmu. Atau kau malah tak berkenan membacanya? Itu, Akh Kamto, juga dapat menjadi mediamu!”
“Bagaimana membaca. Melihat buku saja muak!” suara Sukamto yang dinaikkan beberapa oktaf.
“Baik. Bagaiman jika dengan wirausahawan di dekat rumah? Apakah ada?” Kata Ustad tenang.
“Ada apa dengannya?” Tanya Sukamto.
“Ya
kau dapat belajar dari pengusaha itu lah! Tentang caranya bagaimana
biar jadi orang kaya!” Tiba-tiba teman penangguran Sukamto angkat
bicara. Seakan ia mengeluarkan jurus elemen petirnya.
“Heh! Diem kau, ikut-ikut saja!” komentar Sukamto keras, karena terganggu oleh suara elemen petir Puji.
“Benar temanmu Akh Kamto. Kau dapat belajar darinya,” ujar Pakdhe membela si teman penganggurannya itu.
“Tapi
tidak ada pengusaha seperti pemilik toko di Malioboro si sini.
Pengusaha di sini sebagian besar juga miskin. Bagaimna bisa belajar dari
mereka?”
Pak Ustad memaklumi. Ia arahkah saja pembicaraan pada alur yang lain. Tapi tidak merusak tema pembahasan sedikitpun.
“Masihkah ingat dengan apa yang saya tadi pinta kalian mengingat-ingatnya?”
“Pilihan ada di genggaman tanganmu?” Tanya Sukamto segera.
“Benar.”
“Terus?”
“Ini
tentang bagaimana kau menyambut apa yang sebenarnya sudah Allah
kabulkan dari doa-doamu. Kita andaikan Allah sudah memberikan media-Nya
padamu berupa buku-buku. Sekarang, apakah kau akan menggunakan buku-buku
itu sebagai mediamu untuk meraih mimpi atau malah kau belikan nasi
gudeg Jogja?” Pak Ustad mengatakan sambil senyum. Dia pasti berharap
Sukamto mengerti maksudnya mengatakan dibelikan nasi gudeg.
“Oh,
jadi begitu. Saya paham. Apakah saya memilih buku itu untuk saya
jadikan guru belajar saya, ataukah saya memilihnya untuk disia-siakan?
Jadi, pilihan diantara dua ini ada di dalam genggaman tangan saya.
Benarkah seperti ini?”
“Allahukariim... Akhirnya kau mengert juga Akh Kamto. Sungguh Allah telah karuniakan padamu pikiran yang mengagumkan! Iya, Akh, ini yang saya maksudkan.”
“Tapi Ustad. Kalau medianya tetap tidak saya temukan, bagaimana?” Sukamto bertanya ingin tahu lebih jauh.
“Kembalilah
berdoa. Berdoa seirama dengan harap dan inginmu. Ingat, dengan harap
dan inginmu! Jika Ibumu saja memberikan apa yang kau pinta, mengapa
Allah tidak, Akh? Allah pasti akan menjawa doa-doamu,” jawaban Pakdhe bermaksud menyenangkan dirinya.
Sukamto menunduk, terdiam. Tak kumengerti seperti apa maknanya. Apa ia sedang memikirkan sesuatu? Tapi apa? Pakdhe yang oleh orang-orang kampung dijuluki Pak Ustad itu membiarkan Sukamto tetap menunduk. Malahan Pakdhe juga
ikut diam tanpa kata. Sedangkan Puji, ia lemparkan pandangannya ke arah
selatan. Aku ikuti pandangannya. Tak ada apa-apa. Sekadar sawah yang
sedari dahulu tetap ada di situ. Kenapa suasananya jadi sunyi begini?
Sore nan sunyi. Apa yang mereka pikirkan dalam temaran yang sesore ini?
Lama…
Hampir
saja aku jenuh memata-matai gerak-gerik mereka. Kuminum saja minuman di
meja sebelahku. Kuhentikan sejenak bernafas ketika minum. Oh, segar
sekali. Lama diam, Sukamto memulai kembali pembicaraan. Ia jelaskan
pada Pakdhe bahwa sebenarnya ia yakin Allah itu Maha
Mengabulkan. Hanya, karena Allah tiada menyegerakan terkabulnya doa,
maka ia kecewa kemudian ingkarlah pada tali Allah. Ia juga mengatakan
bahwa Allah telah menjawab doa-doanya dengan media berupa buku-buku.
Dulu ia begitu sering membaca buku. Bahkan buku bagaimana dari kerajinan
tangan menuai kekayaan pernah dibacanya. Sayang, sedikitpun ia tak
hendak mempraktikkan isi dari buku tersebut. Karena, di setiap kali
mencoba, semangatnya sudah lebih dahulu tumbang sebelum mulai untuk
berjalan. Mungkin kata motivasi diri dan konsistensi terlalu berat
padanya untuk dimengerti.
Tetapi, nasihat Pakdhe telah
membuka cakrawala baru untuknya bahwasanya cita-cita tanpa perjuangan
ialah putih dikemudiannya. Tak ada warna-warni pelangi yang akan membuat
hidup menjdai lebih hidup. Ia sesali diri kenapa tak memilih jalan para
pejung sejati dan malah tak acuh terhadap jawaban-jawaban dari Allah,
Dzat Yang Maha Menunjukkan. Sesal berjuta sesal menggelayuti dirinya.
Satu hal, tentu: dari sini aku jadi tahu kenapa ia tadi sempat terdiam,
menunduk… Ia menyesal!
Oh,
sekalipun dunia ada begitu cepat dan sesaat, soal cita-cita, ia tak
memperkenankan setiap insan untuk dapat meraihnya dengan cepat. Ia
adalah tinggi, sehingga perjuangannya pun haruslah tinggi. Tetapi, jika
perjuangannya saja tidak dilalui, apa kata dunia nanti? Maka, seperti
yang Pakdhekatakan, apakah hendak menempuh jalan perjuangan
ataukah tidak, apakah hendak melewati jalan pengorbanan demi impian
tertinggi ataukah tidak, maka, semua pilihan ada di genggaman tanganmu!
‘Pilihan ada di dalam genggaman tanganmu!’ menjadi sebaris kalimat yang indah dan memiliki segudang arti bagi Sukamto, kini.
Teman, aku jadi teringat puisi Pakdhe yang dulu pernah kutemukan di meja kamarnya. Pakdhe bilang
puisi itu ditulis saat berumur 20 tahun. Dihitung-hitung puisi itu
sudah berumur 18 tahun. Judul puisi itu persis dengan apa yang
dipesankan Pakdhe, kepada dua bujang pengangguran tersebut. Sukamto dan Puji, nama mereka. Begini isinya,
Saat harapan-harapan menghilang
Saat pikiran malah melayang-layang
Wahai Teman,
Buka tangan kanan, temukan angka satu dan delapan
Buka tangan kiri, temukan angka delapan dan satu
Atas-bawah-kan tanganmu
Dan jumlahkan angka di situ
Lihat, ada angka sembilan dan sembilan!
Maka,
Akan aku bisikkan sesuatu kepadamu
Tentang kekuatan yang kupakai untuk menerjang waktu
Di dalam genggaman tangan
Kumemiliki angka sembilan dan sembilan
Wahai Teman,
Di situlah kekuatanku