Friday, December 21, 2012

Workshop kepenulisan bareng KPP

AYO HADIRI DAN AJAK YANG LAIN JUGA!



________________________
Gratis dan ada doorprize!


Monday, December 17, 2012

Di dalam Genggaman Tangan

Cerpen ditulis oleh: Yuris Saputra --- SMK MUH 3 YK, STMIK EL RAHMA YK
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
         FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
         Twitter: @kpp_menulis | klik

________________________________________________________________

        SUKAMTO ADILUHUR nama lelaki itu. Aku, yang kebetulan tinggal tak lebih enam langkah dari rumahnya, pernah mendengar dia teriak-teriak sendiri, bak sedang kesurupan. Terlebih dia tinggal di situ sendirian. Dan teriakannya itu didengar pula oleh beberapa warga kampung. Tapi, setelah kami mencoba masuk ke dalam rumahnya, kami menemukan Sukamto dalam keadaan tak kurang suatu apapun. Ia waras apa adanya. Ia katakan pula tak ada apa-apa. Kami pun langsung meninggalkan rumahnya, tiada berpikir panjang. Malahan kami, sebagai warga Sukamto yang harus hidup penuh cinta dengan sesama warga, merasa kasihan dengan keadaannya.

        Tentu bukan sekadar kasihan akan perilakunya yang aneh belaka. Melainkan terdapat latar belakang kenapa Sukamto bertingkah seperti itu. Latar belakang yang tak tentu setiap orang mampu memahaminya. Semua berawal dari doa-doa yang selalu Sukamto panjatkan. Doanya pada Tuhan adalah ia ingin menjadi orang kaya. Maka, ia yang sejak dulu pintar tahu dimana tempat untuk meminta kekayaan, yaitu di setiap usai salat. Dengan menengadahkan tangan dan dengan sepenuh hati memohon kemurahan dari Tuhan. Meski sebenarnya dari dulu tahu berdoa adalah wajib hukumnya, tetapi ia baru merutinkan salat dan berdoa tak lama ini, setelah ia sadar bahwa ia harus berdoa untuk mendapatkan sesuatu yang ia dambakan. Inilah penyebab terkadang manusia memang perlu disadarkan.

        Tapi urusan hidup sejak ia rutin berdoa malah semakin rumit. Ternyata masalah seperti ini yang sudah membuat Sukamto menganggap hidup begitu sembab. Misalnya saja harus membayar uang tagihan listrik, pajak bumi dan bangunan, beli pulsa, beli bensin, maka sehari-hari, dan rokok. Mungkin ini karena dia terkatagori salah satu pengangguran di Indonesia yang disamping tak kerja, juga tak berniat cari kerja. Sekali lagi, mengenai masalah-masalahnya yang mungkin beberapa orang menganggap sepele, padanya menjadi problematika yang sangat menyengsarakan. Hinggahandphone-nya pun harus ikut menanggung kenyataan bahwa sebulan penuh tak pernah diisi pulsa. Kabar menarik lainnya, adalah meski dilanda paceklik panjang, tetap saja di usai salatnya tak pernah ia lupa untuk memanjatkan doa. “Ya Allah jadikanlah aku orang yang kaya. Amin.”

.....

        Satu bulan lewat. Kebutuhannya kian mendesak. Jarang sudah ia keluar rumah dengan motor, kini. Andai harus keluar, ia pilih mengayuh sepeda saja. Tikus-tikus di rumahnya mestinya sadar bahwasanya pilihan ini yakin gara-gara uang bensin. Seorang penganggur kelas atas semacam dia mana dapat membeli bensin genap seliter, Sudah jatuh tertimpa durian runtuh. Ternyata, handphoneyang tak diberi makan pulsa itu, bisa sakit sebab satu bulan lamanya tak mendapatkan asupan gizi pulsa. Apakah itu benar? Entah. Hanya saja, sejak ia nampak seperti orang sekarat karena harusmembiasakan diri bepergian dengan sepeda, handphone-nya juga ikut sekarat. Handphone-nya perlu dibedah dan dioperasi. Mereka itu bagaikan satu badan saja. Bilamana sakit satu, sakitlah yang lain. Tapi, Sukamto, bujang pengangguran versi Indonesia, mana ada uang untuk membiayai ongkos operasi. Dia ‘kan pengangguran kelas atas. Dan pengangguran kelas atas, boro-boro mendatangi dokter bedah apapun dan di manapun. Memikirkan sampai ke situ saja tak memiliki nyali. Paling-palingnyalinya sekadar pergi ke rumah teman yang juga sama penganggurannya, lalu bersatu padu untuk menerbitkan obrolan khas mereka: sing penting iso madhang lan iso urip.

        Oh malang seribu malang, dalam kondisinya yang sudah paceklik, ada-ada saja problematika yang datang sederas hujan kemarin sore. Terjadi kembali pada Sukamto saat sedang bersama teman yang juga pengangguran. Namanya Puji. Puji Soejadi. Saat itu Sukamto berumur 28 tahun. Pertama, Sukamto memang diajak Puji pergi ke Sleman untuk mengambil beberapa barang pesanan. Setelah mengabil barang itu, ternyata, temannya ini mengaku kalau tak ada uang ongkos untuk pulang naik bus. Usut punya usut, teman sesama penganggurannya itu memang sengaja mengajak Sukamto, supaya mengenai ongkos untuk pulang naik bus, adalah Sukamto yang bersedia membayarnya. Karena Puji pikir, Sukamto membawa uang sebagai antisipasi ketika terjadi apa-apa. Sukamto yang tergagap tak percaya dengan pengakuan dari si pengangguran Indonesia itu berkata dan malah tersenyum, tapi senyuman getir.

        “Teman, jalan kaki itu sehat. Jadi, mari kita jalan kaki saja.”

        Tawaran semacam ini mudah sekali dipahami maksudnya. Puji tahu pasti dia sama-sama tidak memiliki uang. Sehingga ia menjawab pun dengan dinamika nada penuh ketidakpercayaan, “Oh, jadi dirimu.., Sukamto… Juga.”

        Dalam pikiran, Sukamto sudah mentaksir temannya akan mengatakan: Oh, jadi dirimu.., Sukamto… Juga tidak memiliki uang sama sepertiku? Kemudian,

        “Maaf Teman,” komentar Sukamto cepat dan memutus kalimat yang hendak diucap temannya, “Kau memang benar. Jadi mari kita anggap saja perjalanan ini sebagai mata pencaharian kita yang baru. Atau, kita akan tetap di sini sampai salah satu teman kita yang memiliki mobil melawati di jalan ini. Lalu meminta mengantarnya?”

        “Gila kau! Tidak mungkin lah itu. Tapi… Ah, ya… 25 kilometer. Sanggup kau?” Tanyanya untuk selidik.

        “Hmm… Tentu!” jawab Sukamto.

        Sekalipun tentu, tetap saja ia beringsut menahan kata tak tentu. Alias, suara hati si pengangguran kelas atas itu mengatakan yang berseberangan! Mulutnya memilih utara, hatinya berselingkuh dengan memilih selatan. Tak sinkron. Dan ia katakan tentu, tentu saja karena desakan dari kenyataan sudah membuatnya tiada berdaya untuk membuatnya semakin rumit. Untuk apa dibuat rumit? Kalau takdirnya jalan, ya jalan. Sejurus dengan kemalangannya, ia pun mengeluarkan jurus terampuhnya, yaitu jurus elemen air yang digabungkan dengan elemen api. Artinya: Sikapnya itu bagai air yang diam tenteram. Tetapi, nun jauh di lubuk sanubari, berkobarlah gejolak api kemarahan lantaran tak sanggup menerima keadaan yang kenyataannya sedang terjadi. 25 kilometer? Oh, Tuhan…

        Sungguh ironi, memang, kehidupan para penggangguran kelas atas itu.

        Tapi walau jalan yang terjal terus Sukamto lewati termasuk berjalan kaki 25 kilo seharian penuh. Tak jua ia jera untuk tetap berdoa di setiap usai salat. Tak jera jua ia menengadahkan tangan dan berdoa supaya diberi limpahan harta benda. Ya, karena disitulah ia dapat meluapkan berbagai problematika dan memohan pada Dzat Yang Maha Tinggi tentang apa yang ia inginkan. Hingga saat itu tiba. Saat dimana Sukamto merasa tak mendapat timbal balik yang setimpal atas doa-doanya. Terlebih, saat nestapa-nestapa itu sudah kian penuh menggerogoti dirinya. Ia pilu. Ia ragu. Ia berontak. Maka, MahamengabulkanNya itu…, adalah palsu! hardiknya. Bukan main geramnya kali ini.

        Bukankah Dia Maha Mengabulkan. Tetapi, kenapa yang selalu terbit  adalah nestapa demi nestapa? Membuat rasa letih itu mencapai batasnya! Nestapa apa ini? Nestapa yang berdatangan seiring kebutuhan yang terus mendesak. Mendesak-desak hingga sulit untuk bebas bernapas. Dimana keadilan? Dimana MahamengabulkanNya? Dimanakah juga harta yang terus terpanjatkan di dalam setiap doa? Sudah bertahun-tahun berdoa, namun apa hasilnya? Oh tiada…
Bagai cuaca, suasana hati Sukamto berubah drastis. Perkataan tak pantas mulai keluar dari mulutnya. Mulutnya yang dahulu suci bekas doa-doa yang selalu ia sampaikan pada Sang Maha Mengabulkan. Begitu hari itu menjelang, nyaris letupan cerca-cerca itu tak tertahankan. Terlepas begitu saja. Gelap mencuri dirinya. Terang memudar darinya. Setelah ditelusri, ternyata, teriakan mengerikan Sukamto yang dahulu inilah latar belakangnya. Tapi lumrah. Manusia –Sukamto atau siapapun- tetap memiliki batas-batas kesabaran sekalipun mereka sebenarnya sanggup bersabar lebih jauh. Namun tetaplah ini yang terjadi pada Sukamto : Tidak sanggup lagi bersabar!

        Hari demi hari ia tambah dongkol dengan keadaan ini. Jadilah ia kini tak pernah shalat lagi. Juga berdoa. Dia merasa dikecewakan Tuhan makanya berbuat demikian. Sudah tiada guna sujud menghadap kiblat. Malahan ia berpikir untuk sujud di hadapan wanita supaya mau diajak begitu, berdua, memadu cinta yang katanya enak rasanya. Parahnya setiap melihat wanita Jogja berbusana seperti di zaman bahuela, pikiran jahat mulai dimainkan karena ia merasakan indah pada melodinya. Begitu seterusnya. Hidup sebagai pengangguran memang tak pernah mulus. Selalu saja tercipta problematika di setiap bait-bait perjalanan hidupnya.

....

        Hari ini di kampung Mantrijeron, Kota Jogja, Sukamto sedang duduk-duduk di kursi panjang dari bambu dan cukup untuk tiga orang, di depan rumah. Orang Jogja menyebut kursi itu : lincak. Dibersamai dengan nuansa sawah yang megah dan angin sepoi-sepoi yang nyaman, membuat ia semakin tenggelam dalam rasa santainya. Suasana desa bercampur kota dapat ditemukan di dini. Desa karena sawahnya dan kota karena bangunan perumahan yang cukup banyak.  Seorang Puji yang melihatnya santai lalu mendatangi dan lagi-lagi mengobrolkan tema khas mereka: sing penting isi madhang lan iso urip. Satu jam lewat. Dua jam menjelang. Sukamto merasa lidahnya kelu karena candu rokok. Maka,
        “Bung, ada rokok?”
        “Ya.”

        “Satu ya.”

        Puji merogoh saku dan mengeluarkan sekotak rokok.

        “Ini. Ambil saja. Dan ini koreknya.”

        Diambilnya sebatang. Lalu diberi api. Dan,

        Wuss!

        Ribuan asap racun itu melayang di udara dan sebagian lain bertugas memusnahkan paru-paru dan organ-organ vital yang lain. Pelajaran penting: ternyata pengangguran juga bisa merokok, padahal harga rokok mahal.

        Wahai Teman, tahukah kalau sebenarnya aku sedang menyaksikan mereka di lincak itu semenjak dua jam yang lalu, dari rumahku ? Kulakukan ini, Teman, agar aku dapat tahu bagaimana kehidupan para pengangguran itu. Mungkin dengan menguping percakapan mereka aku akan menemukan tema pembicaraan tentang apa sih yang sebenarnya membuat mereka tetap menjadi pengangguran. Siapa tahu kelak aku dapat berjasa bagi mereka. Semisal membuka lapangan pekerjaan jika memang masalah mereka adalah kurangnya lapangan pekerjaan. Tetapi, setelah aku melihat dari balik jendela rumahku Sekamto sedang menghembuskan asap rokok, aku jadi ingin mengatakan hal ini pedanya: Hei, Teman, kau ini seorang pria 28 tahun dan belum beristri. Kalau kau rusak terus tubuhmu, mana ada wanita jelita mau denganmu. Pikiranmu juga kotor. Tak mungkin lah ada wanita shalihah mantap pekertinya bersedia melalui hari-hari bersamamu. Pikiranmu yang kotor karena wanita itu, Teman, pertanda kau harus cepat-cepat menikah. Tapi mengapa kau masih saja duduk bermesra dengan temanmu yang bujang lagi sama-sama pengangguran? Apa kau berpikir untuk menikahinya, wahai Teman? Maka, Teman, lengkaplah sudah deritamu itu! Ugh.

        Tiba-tiba terdengar suara dari arah samping. Suara dari seorang pria yang hobi berbusana putih dan berkopiyah. Suaranya serak basah. Namun halus.

        “Assalamu’alaykum ….”

        “Oh,” jawab mereka sedikit kaget, “Wa’alaikumussalam warahmatullah, Pak Ustad ….”

        Dia ternyata Pak Ustad yang sering disebut-sebut di kampungku. Akan tetapi aku tak pernah memanggilnya Pak Ustad. Aku jika memanggilnya lebih enak dengan kata Pakdhe. Ya, Ustad itu adalahPakdhe-ku. Dia seorang yang tegas sepak terjangnya dan sering mengisi pengajian di kampung.Omong-omong soal kiamat, beliau juga yang pernah memberi penjelasan prihal kiamat kepadaku tempo lalu.

        Pak Ustad kemudian duduk membersamai mereka. Aku yakin hari ini beliau punya banyak waktu mengobrol dengan mereka. Kalau tidak, tidak mungkin beliau ada di situ. Jadi, tenang.

        “Bagaimana kabar kalian. Sehat?” tanya Pak Ustad.

        “Sehat Pak Ustad, Alhamdulillah,” jawab Sukamto.

        “Iya sehat,” sambung Puji sambil memegang batang rokok, “Tapi kantong kami tak sesehat badan kami Pak Ustad. Bagaimana ini?” Dia tersenyum lugu. Lalu memberikan api pada rokok, meneladani apa yang sudah Sukamto lakukan tadi.

        “Hei Bung! Apa maksudmu kami? Jangan pernah kau samakan aku denganmu. Paham kau?” Rupanya bagi Sukamato kata-kata Puji nampak tidak segar.

“Hei, hei, memangnya kau sudah jadi orang kaya Bung?” Tanyanya lirih tapi bernada tinggi. Berharap Pak Ustad mendengarnya samar-samar.

“Ya belum,” jawab Sukamto ikut lirih dan bernada tinggi.

“Ya sudah kalau begitu. Repot!”

        “Sudah-sudah,” Pak Ustad ikut bicara, melerai.“Tidak baik itu marah-marah.”

        “Ah, Pak Ustad ini. Siapa yang marah-marah? Hanya sedikit lelucon khas kami saja Pak,” kata Sukamto mencoba menenangkan.

        Pak Ustad manggut-manggut. Ia arahkan pembicaraan untuk mengomentari pertanyaan Puji tadi: Kantong kami tak sesehat badan kami.

        “Jadi, apa masalah kalian sekarang?”

        Sukamto dan teman sesama penganggurannya pun berusaha untuk saling melengkapi menjelaskan segala problematika pada Pak Ustad. Tentang keinginan jadi kaya. Tentang problematika hidup yang kian mendesak. Tentang nuansa bujang yang mengenaskan. Dan tentang hujatan dari Sukamto kepada Tuhan karena tak pernah dikabulkan doa-doanya, meski seribu satu doa terpanjat di setiap usai salat.

        Semula aku melihat Pakdhe sanggup memahami problematika yang mereka sedang hadapi. Namun terdapat satu bagian yang membuat Pakdhe kecewa berat, yaitu hardikan Sukamto pada Allah!

        “MasyaAllah, Akh Kamto! Benar kau mengata-ngatai Allah seperti itu? Cepatlah sekarang mohon ampun sebelum Dia murka besar padamu, Akh!” Perkataan Pak Ustad itu begitu lantang lagi tegas. Membuat Sukamto menentang pernyataan dari Pak Ustad.

        Aku jadi tahu,  terkadang ucapan meskipun benar dapat menjadi menyakitkan karena tidak dikelola dengan baik. Sehingga Sukamto berusaha berontak. Ia merasa terusik hatinya.

         
        “Mohon ampun? Panjenengan apa sedang bercanda? Tidak. Itu tidak akan.”

         “Baiklah Akh Kamto. Maafkan perkataan tak berkenan saya. Tapi mari kita hindari untuk berdebat. Sekarang bolehkah saya membantu masalah-masalah kalian?”

        “Sebaiknya memang begitu. Sekalipun Anda Ustad, jangan asal main perintah!”

        Na’am. Tapi, sebelum saya membantu masalah-masalah kalian, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan. Dijawab ya, Akh.”

        “Ya, ya, ya,” jawab Sukamto membosan. “Pertanyaan apa Pak Ustad yang baik hati dan lembut sepak terjangnya?!” Tanyanya sedikit jengkel.

        Mendengarnya, si Puji yang sedang asyik menghirup asap rokok berseloroh, “Oh, benar Pak Ustad yang baik hatinya. Pertanyaan apa itu?” Ia menggoda.

        Pakdhe tetap bersikap tenang. Aura wibawanya seolah nampak sekali dari sikapnya ini.
        “Kalian ini, ada-ada saja.”

        Aku perhatikan beliau. Kira-kira dua menit Pakdhe sempat berhenti bicara. Di sisi lain, mereka –Sukamto dan Puji- aku lihat seperti menunggu yang hendak diucap Pakdhe. Usai seratus-duapuluh-detik, mulailah Pakdhe ­buka mulut.
Tak sabar mereka menunggu pertanyaan dari Pak Ustad.

        “Oh iya, Akh , maaf,” kata beliau membuat mereka berkerut dahi. “Sebentar. Saya lupa akan sesuatu. Ini terdapat satu kalimat penting dan itu harus terus kalian ingat-ingat. Nanti bisa kalian gunakan untuk membuka pintu apa saja. Seperti Doraemon. Diingat-ingat saja, penjelasannya akan saya sampaikan nanti setelah pertanyaan-pertanyaan saya kalian jawab. ”

        “Kalimat apa lagi itu Pak Ustad yang lembut sepak terjangnya?” Seloroh si Puji lagi. Memang, Puji adalah tipikal orang yang selalu bersemangat. Jadi, walau banyak problematika, dia selalu nampak ceria. Beda jauh dengan Sukamto, si pengangguran kelas atas itu. Geleng kepala aku dibuatnya.

        “Kalimat itu adalah: ‘Pilihan ada di dalam genggaman tanganmu!’. Ya, pilihan ada di dalam genggaman tanganmu.  Gampang dan mudah diingat bukan?”
        “Pilihan ada di dalam genggaman tanganmu, ya? Hmm… Oke!” Ujar si teman dalam pengangguran.
        “Oh ya, ya. Pilihan ada di dalam genggaman tanganmu. Akan saya ingat-ingat,” setuju Sukamto, lesu.
Pak Ustad mengangguk-angguk. Kemudian mulai bertanya,

        “Ini pertanyaan untukmu Akh KamtoDi waktu kau kecil dahulu, mainan apa yang paling kau sukai?”
Ia coba mengingat-ingat.

        “Tamia. Karena saya suka betul dengan mobil-mobilan.”

        “Baiklah. Berapa harganya dulu?”
        “Macam-macam. Ada yang sepuluh, ada yang limabelas, limapuluh juga ada.”                                             
        “Pernah membelinya?”
        “Pernah. Tapi yang harganya limabelas ribu. ”
        “Uang dari siapa itu? Tabungan atau dari orang tua?”
        “Dari orang tua saya.”
        “Nah, kenapa kau bisa memiliki mainan itu. Apakah orang tua yang senantiasa memberikanya tanpa kau minta atau orang tuamu memberikannya lantaran kau meminta untuk dibelikan?”
        “Waktu itu saya minta Ibu untuk membelikan.”
        “Yang beli di toko tamia kau sendiri atau Ibumu yang pergi? ”
        “Saya sendiri ditemani dia. ” Ia menunjuk Puji di sampingnya.

        “Aku?” kata temannya itu sembari mengingat. “Inggih, betul Pak Ustad. Dulu dia pernah meminta saya mengantar karena saya memang punya sepeda untuk mengantarkannya. Sedangkan dia tidak. Karena perjalanannya radha jauh, tidak mungkin dia berjalan kaki, sendirian. Dia ‘kan gampang capek! Kalau dia ada apa-apa bisa rumit masalahnya. Tapi sebagai imbalannya saya diberi upah es jeruk seharga 400 rupiah.” Dia lalu tertawa.

        Pak Ustad tersenyum. Di samping, Sukamto bibirnya malah mengerucut sebab tak terima dikatakan begitu oleh temannya. Gampang capek? Hmm…

    “Hmm… Ibu memberikanmu uang sejumlah limabelas ribu untuk kau belanjakan sebuah mobil Tamia,” sambung Ustad asli Jogja itu. “Akh Kamto, tahukah kenapa Ibumu tidak membelikanmu langsung Tamia saja, melainkan malah memberimu uang limabelas ribu untuk kau belanjakan sendiri?”

         
       “Pada awalnya sih saya juga meminta ibu mengantarku karena saya belum tahu dimana letak toko Tamia. Tapi Ibu tidak mau. Ibu bilang saya yang harus mencarinya sendiri. Mungkin Ibu merasa sudah memberikan uang, jadi tidak mau lagi jika harus mengantar-mengantar segala. Akhirnya saya meminta teman saya ini mengantarkan dengan imbalan es jeruk ala Jogja. Benar harga es jeruk saat itu 400 perak.” Jelas Sukamto pada Pak Ustad.

   “Begini ya. Keinginanmu memiliki Tamia dimisalkan saja sekeras batu. Alhamdulillah Ibumu merestui dengan membelikanmu mobil-mobilan itu. Tetapi Akh Kamto, seandainya ketika di tengah jalan menuju toko tiba-tiba pandanganmu tergoda oleh nasi gudeg dan kemudian kau gunakan uang itu untuk membelinya sehingga uangnya habis, bagaimana? Ini dimisalkan saja, Akh. ”

        “Ya Ibu saya bisa marah. Wong uang itu seharusnya dipakai beli Tamia. Kalau tidak marah ya mungkin saya tidak akan diberi uang lagi untuk membelinya. Karena bagi kami uang limabelas ribu adalah jumlah yang sangat besar. Dan itu sudah saya sia-siakan.”

        “Tepat sekali !!!”
Tiba-tiba Pak Ustad bersuara lantang membuat kedua bujang pengangguran itu tersentak. Keluarlah kata-kata kasar dari mulut mereka berdua. Tapi sambil lalu, suasana jadi aman terkendali lagi.

       “Maaf, maaf sudah membuat kalian kaget.” Pakdhe mengatakannya halus, kemudian mengajak membicarakan problematika mereka yang ada kaitannya dengan masa-masa kecil ini.

       “Mari Akh Kamto kita misalkan posisi Allah sama dengan posisi Ibumu. Mainan adalah kekayaan yang kau inginkan. Uang adalah media untuk membeli mainan. Dan temanmu adalah seseorang yang dikirim Allah untuk membantumu. Paham Akh Kamto?”

    “Lanjutkan saja Ustad,” pintanya cuek tetapi aku melihatnya berusaha untuk memahami.

       “Ketika kau berdoa, Akh, itu sama halnya dengan pintamu pada Ibu untuk membelikan  mainan. Hanya, di situ kau meminta kekayaan pada Allah, Dzat Yang Maha Mengabulkan. Sama juga seperti Ibu yang malah memberikan uang sejumlah limabelas ribu padahal kau minta Tamia, mungkin saja Allah mengabulkan doamu tapi lewat media juga. Jadi, uang itu adalah mediamu untuk mendapatkan Tamia.”

       “Nah, Pak Ustad,” seloroh si bujang yang dipanggil Pak Ustad Akh Kamto, “Dalam kasus sayaini, apa yang menjadi medianya?”

        “Baik.” Pak Ustad menjawab dengan nada senang karena Sukamto sudah mulai mengkritisi ucapannya. “Media bisa bermacam-macam, sesuai kehendak Rabbi. Mungkin setelah lama kau berdoa ada sesorang yang memberimu modal usaha sehingga kau dapat berwirausaha dan mencapai sukses bersamanya. Tapi kau tidak sadar mengenai hal itu dan menolak pemberian modal darinya. Atau, kau pernah diajak seseorang untuk berwirausaha namun menolaknya. Bagaimana?”

        “Tidak. Kedua-duanya tidak ada dalam catatan hidupku.”

        Sepertinya aku menemukan rona wajah terkesima di wajah Pakdhe. Mungkin beliau terkesima pada gaya bahasa Sukamto yang melangit dan menawan. Kata ‘dalam catatan hidupku’ rupanya dapat menggoda Pakdhe. Tapi ia mencoba menyembunyikan kekagumannya di dasar hati. Beliau memilih melanjutkan pembahasan.

        “Kalau begitu bagaimana dengan buku-buku? Mungkin kau pernah menemukan buku bagaimana membangun kesuksesan. Tapi kau tak sadar bahwa buku itu dapat membantu meraih impianmu. Atau kau malah tak berkenan membacanya? Itu, Akh  Kamto, juga dapat menjadi mediamu!”

        “Bagaimana membaca. Melihat buku saja muak!” suara Sukamto yang dinaikkan beberapa oktaf.

        “Baik. Bagaiman jika dengan wirausahawan di dekat rumah? Apakah ada?” Kata Ustad tenang.

        “Ada apa dengannya?” Tanya Sukamto.

        “Ya kau dapat belajar dari pengusaha itu lah! Tentang caranya bagaimana biar  jadi orang kaya!” Tiba-tiba teman penangguran Sukamto angkat bicara. Seakan ia mengeluarkan jurus elemen petirnya.

        “Heh! Diem kau, ikut-ikut saja!” komentar Sukamto keras, karena terganggu oleh suara elemen petir Puji.

        “Benar temanmu Akh Kamto. Kau dapat belajar darinya,” ujar Pakdhe membela si teman penganggurannya itu.

        “Tapi tidak ada pengusaha seperti pemilik toko di Malioboro si sini. Pengusaha di sini sebagian besar juga miskin. Bagaimna bisa belajar dari mereka?”

        Pak Ustad memaklumi. Ia arahkah saja pembicaraan pada alur yang lain. Tapi tidak merusak tema pembahasan sedikitpun.

        “Masihkah ingat dengan apa yang saya tadi pinta kalian mengingat-ingatnya?”

        “Pilihan ada di genggaman tanganmu?” Tanya Sukamto segera.

        “Benar.”

        “Terus?”

        “Ini tentang bagaimana kau menyambut apa yang sebenarnya sudah Allah kabulkan dari doa-doamu. Kita andaikan Allah sudah memberikan media-Nya padamu berupa buku-buku. Sekarang, apakah kau akan menggunakan buku-buku itu sebagai mediamu untuk meraih mimpi atau malah kau belikan nasi gudeg Jogja?” Pak Ustad mengatakan sambil senyum. Dia pasti berharap Sukamto mengerti maksudnya mengatakan dibelikan nasi gudeg.

        “Oh, jadi begitu. Saya paham. Apakah saya memilih buku itu untuk  saya jadikan guru belajar saya, ataukah saya memilihnya untuk disia-siakan? Jadi, pilihan diantara dua ini ada di dalam genggaman tangan saya. Benarkah seperti ini?”
Allahukariim... Akhirnya kau mengert juga Akh Kamto. Sungguh Allah telah karuniakan padamu pikiran yang mengagumkan! Iya, Akh, ini yang saya maksudkan.”

        “Tapi Ustad. Kalau medianya tetap tidak saya temukan, bagaimana?” Sukamto bertanya ingin tahu lebih jauh.

        “Kembalilah berdoa. Berdoa seirama dengan harap dan inginmu. Ingat, dengan harap dan inginmu! Jika Ibumu saja memberikan apa yang kau pinta, mengapa Allah tidak, Akh? Allah pasti akan menjawa doa-doamu,” jawaban Pakdhe bermaksud menyenangkan dirinya.

        Sukamto menunduk, terdiam. Tak kumengerti seperti apa maknanya. Apa ia sedang memikirkan sesuatu? Tapi apa? Pakdhe yang oleh orang-orang kampung dijuluki Pak Ustad itu membiarkan Sukamto tetap menunduk. Malahan Pakdhe juga ikut diam tanpa kata. Sedangkan Puji, ia lemparkan pandangannya ke arah selatan. Aku ikuti pandangannya. Tak ada apa-apa. Sekadar sawah yang sedari dahulu tetap ada di situ. Kenapa suasananya jadi sunyi begini? Sore nan sunyi. Apa yang mereka pikirkan dalam temaran yang sesore ini?

        Lama…

        Hampir saja aku jenuh memata-matai gerak-gerik mereka. Kuminum saja minuman di meja sebelahku. Kuhentikan sejenak bernafas ketika minum. Oh, segar sekali. Lama diam, Sukamto memulai kembali pembicaraan. Ia jelaskan pada Pakdhe bahwa sebenarnya ia yakin Allah itu Maha Mengabulkan. Hanya, karena Allah tiada menyegerakan terkabulnya doa, maka ia kecewa kemudian ingkarlah pada tali Allah. Ia juga mengatakan bahwa Allah telah menjawab doa-doanya dengan media berupa buku-buku. Dulu ia begitu sering membaca buku. Bahkan buku bagaimana dari kerajinan tangan menuai kekayaan pernah dibacanya. Sayang, sedikitpun ia tak hendak mempraktikkan isi dari buku tersebut. Karena, di setiap kali mencoba, semangatnya sudah lebih dahulu tumbang sebelum mulai untuk berjalan. Mungkin kata motivasi diri dan konsistensi terlalu berat padanya untuk dimengerti. 
     
   Tetapi, nasihat Pakdhe telah membuka cakrawala baru untuknya bahwasanya cita-cita tanpa perjuangan ialah putih dikemudiannya. Tak ada warna-warni pelangi yang akan membuat hidup menjdai lebih hidup. Ia sesali diri kenapa tak memilih jalan para pejung sejati dan malah tak acuh terhadap jawaban-jawaban dari Allah, Dzat Yang Maha Menunjukkan. Sesal berjuta sesal menggelayuti dirinya. Satu hal, tentu: dari sini aku jadi tahu kenapa ia tadi sempat terdiam, menunduk… Ia menyesal!

        Oh, sekalipun dunia ada begitu cepat dan sesaat, soal cita-cita, ia tak memperkenankan setiap insan untuk dapat meraihnya dengan cepat. Ia adalah tinggi, sehingga perjuangannya pun haruslah tinggi. Tetapi, jika perjuangannya saja tidak dilalui, apa kata dunia nanti? Maka, seperti yang Pakdhekatakan, apakah hendak menempuh jalan perjuangan ataukah tidak, apakah hendak melewati jalan pengorbanan demi impian tertinggi ataukah tidak, maka, semua pilihan ada di genggaman tanganmu!

        ‘Pilihan ada di dalam genggaman tanganmu!’ menjadi sebaris kalimat yang indah dan memiliki segudang arti bagi Sukamto, kini.

        Teman, aku jadi teringat puisi Pakdhe yang dulu pernah kutemukan di meja kamarnya. Pakdhe bilang puisi itu ditulis saat berumur 20 tahun. Dihitung-hitung puisi itu sudah berumur 18 tahun. Judul puisi itu persis dengan apa yang dipesankan Pakdhe, kepada dua bujang pengangguran tersebut. Sukamto dan Puji, nama mereka. Begini isinya,

        Saat harapan-harapan menghilang
        Saat pikiran malah melayang-layang

        Wahai Teman,
        Buka tangan kanan, temukan angka satu dan delapan
        Buka tangan kiri, temukan angka delapan dan satu
        Atas-bawah-kan tanganmu
        Dan jumlahkan angka di situ
        Lihat, ada angka sembilan dan sembilan!

        Maka,
        Akan aku bisikkan sesuatu kepadamu
        Tentang kekuatan yang kupakai untuk menerjang waktu
        Di dalam genggaman tangan
        Kumemiliki angka sembilan dan sembilan
        Wahai Teman,
        Di situlah kekuatanku

DI Atas Normal

   Cerpen ditulis oleh: Yuris Saputra --- SMK MUH 3 YK, STMIK EL RAHMA YK
   Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

   www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
            FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik
 _________________________________________________________________________
    (kado untuk ibu, menyongsong hari Ibu 22 Desember 2011)

        Temanku. Di TK dahulu dia dijuluki ‘Anak Mami Cengeng’. Karena sdikit-sedikit ibu. Dan sering sekali menangis. Seperti surat dan perangko, dia ini tidak pernah bisa lepas sedikitpun dari ibunya. Dia menganggap ibunya adalah satu-satunya tempat pengaduan. Tempat berkeluh kesah. Terlebih, yang dia inginkan ibunya tetap menunggunya sampai jam di TK berakhir, lalu pulang bersama. Walau teman-teman sering menertawakan, dengan acuh ia hiraukan. Yang penting dia gembira bisa bermanja dengan ibu. Dia bernama Rohmat.

        Berlanjut ke jenjang Menengah Kejuruan, tidak banyak perbedaan. Ketika SD diejek dengan sebutan ‘si Culun’, ‘si Bodoh’, ‘si Anak Manja’. Dan terkadang dikatakan ‘Banci’. Pernah juga di SMP dipanggil Bisu. Karena memang, Rohmat adalah anak yang sungguh pendiam. Agaknya kata patung lebih halus ketimbang kata bisu. Begitulah Rohmat sewaktu SMK yang dianggap dan diejek dengan sebutan benda mati itu; Patung.

      Enam bulan penuh sebelum hari kenaikan kelasku, aku bertemu dengannya. Dia bercerita. Tentang semua tentangnya yang belum pernah aku ketahui. Ceritanya menyisakan haru.

     Dimulai dengan segenap kisahnya tentang kepindahan tempat tinggalnya, dan diteruskan dengan kisah masa lalunya.
      “Kalau kamu ingin tahu Ris, tentang diriku,” Ujarnya yang tiba-tiba membuatku jadi ingin tahu. “Kata inilah yang kurasa paling tepat untukku. Munafiq! Bagaimana tidak, disaat aku sedang bersama teman-teman aku hanya sanggup diam tanpa kata, seperti patung. Tetapi ketika sudah dengan ibu, cerewetku datang dengan sendirinya. Tak sekedar cerewet, bentakan-bentakanpun sering muncul dari tuturku jika tidak dipenuhinya kemauanku. Lalu, disaat mengobrol dengan teman-teman aku bermuka manis. Ketika bersanding dengan ibu.., Ahh!! Tak jarang mukaku malah menampakkan ekspresi kecutnya! Aku merasa menjadi anak yang durhaka.”

          Aku hanyut dan memahami.

“Menurutmu, apa yang menyababkanmu menjadi sperti itu Mas?” Tanyaku. Kupanggil Mas karena dia lebih tua dariku. Dan karena keakraban kami sangatlah kentara, tak jarang juga aku memanggilnya tanpa Mas.

          Setelah pnjang berkisah, Mas Rohmat memubuat kesimpulan.

        “Mungkin sebab manjanya aku,” Lirihnya menyesali. “Aku menjadi lupa diri. Aku lupa kalau sebenarnya aku memiliki ibu yang selalu memberikan yang terbaik untukku. Aku selalu saja menganggap apa yang sudah ibu berikan kurang. Aku tidak pernah merasa puas. Aku sungguh telah melupakan banyaknya pemberian ibu selama ini. Hingga aku tumbuh besar. Aku lupa untuk berterima kasih pada ibu. Apalagi untuk bersyukur kepada Tuhan!”

     “Namun kebodohan ini,” Lanjutnya dengan terisak. “Baru aku sadari, setelah hubunganku dengan ibu menjauh Ris!”

        Mendengar namaku diucapnya, membuat kaca-kaca tangis di mataku menggenang. Aku terkena letupan perasaannya. Kehanyutanku di dalam cerita-ceritanya juga semakin parah. Tapi aku tetap menahan. Aku mengalami kesulitan. Dia terus saja berkisah.

        “Sekarang ibuku cuek denganku. Aku juga acuh dengan ibuku. Rasanya sudah tiada lagi kasih sayang diantara aku dan ibu. Tidak seperti dulu. Semua ini karena aku. Ya, siapa lagi kalau bukan aku! Kemanjaanku ternyata mampu menghadirkan keegoisan diriku. Dan keegoisan itu, kini telah menodai indahnya cinta ibu kepada anaknya.”

Aku iba dengan Mas Rohmat. Dia terus-menerus mengulangi kata-katanya. Bahwa dia sangat menyesal. Bahwa dia sudah keterlaluan. Bahwa dia anak durhaka. Bahwa dialah penyebab rusaknya kasih sayang itu. Rasa cinta itu. Bahwa dia yang sudah menghancurkan semuanya.. Semuanya…

Aku iba dengan Mas Rohmat. Dia serius dengan ucapannya. Baru kali ini aku melihat dengan kedua mata telanjangku ada pemuda 20 tahun menangis sebegitu dahsyatnya. Dia berhati lembut. Meski masih muda, pribadinya dewasa!

        “Tapi aku tidak memiliki cukup keberanian untuk meminta maaf.” Begini jawabnya atas nasihatku supaya meminta maaf pada ibunya.

       Dia takut, atau pengecut? Aku malah ingin menarik lagi kataku soal dia sudah dewasa.

        Tapi aku dikejutkan oleh suara hatinya selang kemudian.

     “Yang jelas, aku akan tetap berusaha mendapatkan maaf dan kasih sayang ibuku kembali. Aku akan mencari jalan lain!”
Dia ber’azzam’. Dia juga memintaku menjadi saksi atas azzamnya itu.


* ** ** ** ** ** ** ** ** ** **


        Dalam temaram Kota Yogyakarta, Mas Rohmat mengambil Handphone-nya di saku celana. Dia fikir dengan mendengarkan radio rasa gusarnya sejak lama sedikit terobati. Rasa gusar karena banyaknya masalah yang sebenarnya tidak hanya dengan ibunya saja. Teman-teman serta orang-orang yang pernah mengenalnya pun memendam amarah padanya. Sebab yang ada di otak mereka, Mas Rohmat adalah orang yang sombong, acuh tak acuh, dan sering menyakiti hati. Semua orang tahu itu. Dan benar adanya.

        Biasanya ia memilih siaran yang memutar lagu-lagu pop Indonesia. Tentang percintaan. Akan tetapi sore menjelang petang ini tidak. Dia takut apabila tembang-tembang cengeng dan beraroma menyedihkan itu dilantunkan akan membuatnya ‘down’. Sehingga teruaplah impiannya yang teramat mulia itu. “Sudah keadaanku murung,” Katanya dalam bathin. “Dijejali lagu-lagu yang menjatuhkan. Akan jadi apa aku!?”

        Satu jam berlalu. Jam di Handphone-nya menunjukkan angka 18.53. Dari tadi yang ia lakukan hanyalah memindah-mindah siaran. Menurutnya tidak ada siaran yang bagus. Dia hentikan pencet-pencetnya. Dia bosan. Dia membiarkan siaran ini siaran apa..dengarkan saja. Sekarang masih iklan.

        MQ FM. Manajemen Qalbu FM. Ternyata siaran pengajian malam minggu.

      Dia mulai membathin lagi. “Gila! Di saat manusia-manusia sedang asyik berpacaran Radio ini malah pengajian. Radionya Lebay, ah! Hehehe, lugu sekali. Tapi…yasudahlah tidak apa-apa. Dengarkan saja. Sekali-sekali.”

      Pembahasannya mengenai rezeki. Cara membuka lebar-lebar pintu rezeki. Seketika Rohmat senang. Ia pikir ini menarik. Melihat kantongnya yang juga gosong …

        “Rezeki itu bukan ditunggu yaa Akhi, yaa Ukhti.. Tapi dicari! Dan kalau mencari, jangan cari yang tanggung-tanggung. Carilah yang banyak sekalian. Atau kalau ingin yang lebih baik lagi, miliki yang banyak tapi rentan waktu mendapatkannya yang sesingkat mungkin.”

     Mendengar Pak Ustadz mengoceh begitu, dia merasa bahwa Ustadz ini memang benar-benar gila. Sudah siarannya malam minggu, pembahasannya juga tidak masuk akal. Rezeki banyak, didapetnya cepat. Bukankah ini gila?

        “Kalau bisa,” Lanjut Pak Ustadz. “Tiga bulan menjadi Milyarder!”

     Mas Rohmat geleng-geleng kepala. Mukanya menyindir. Emosinya menyebalkan. Ia memikirkan yang aneh-aneh. Tapi ia tetap diam…dan mendengarkan saja. “Seru juga si Ustadz. Hehe!” Guraunya dalam hati…

        Limabelas menit berganti.Kini membahas bagaimana caranya.
“..Yang pertama adalah ‘Jika me- maka di-’. Jika memukul maka Anda akan dipukul. Jika menghina maka Anda akan dihina. Jika mempemainkan maka dipermainkan. Dan jika memberi, balasan bagimu adalah diberi. ‘Jika me- maka di-’. Perbanyaklah sedekah. Sedekah berarti Anda memberi. Dan memberi tidak pernah ada ruginya karena Allah akan menggantinya dengan sepuluh kali lipat hingga tujuhratus kali lipat lebih banyak. Misalkan Anda infaq satu juta, maka Allah minimal akan menggantinya sepuluh juta. Dan maksimalnya bisa mencapai satu milyar. Bahkan lebih sesuai yang Allah kehendaki. Nah, Anda sekarang sudah menjadi Milyarder. Benar?”

     Materi bersambung hingga, semestiya poin ke-10 papar Ustadz di MQ FM itu. Tapi sayang,Handphone-nya mati di poin ke-3, tentang Ibu.


** ** **  ** ** ** **


      Mas Rohmat menyesal…. Masalahnya dengan ibu tak dinyana telah melahirkan berjuta masalah baru dalam hidupnya.
Mas Rohmat juga gembira…. Ia sekarang tahu Rezeki bukan sekedar uang saja. Ibu, orang tua, kemudahan, keberkahan, teman-teman, dan kesempatan hidup pun adalah rezeki. Kesadarannya tumbuh. Ia mulai cerdas
Ustadz MQ FM membukakan pintu sanubarinya.

     Entah mengapa semula tak bersemangat, Mas Rohmat menjadi bersemangat baru. Sudah lama Rohmat mencari jawaban atas segala masalah, dan ia memperolehnya di tempat nan tiada terduga. Ya, disaat ia melihat jemaat pacaran di Alun-alun utara Kota Yogyakrta, ia menerima hidayah. Di bawah remang lampu malam sebelah selatan, ia-nya menginginkan menangis sesenggukan bahagia bercampur luka. Tetapi banyaknya orang di situ menahan air matanya menggelora. Ia hanya tak ingin dianggap gila. Ia berusah tetap tenang.

     Bersamaan dengan jemaat yang senang dan ada yang pasrah digiring syaithan ke Neraka itu, Mas Rohmat menghapus luh dengan tissue yang disediakan oleh pemilik warung lesehan sebelah selatan. Ia keluarkan juga ingusnya yang deras.

        Kemudian mengucap ketegasan..,

      “Aku bukan Rohmat kecil lagi. Aku sudah besar. Umurku sudah 20 tahun. Sudah saatnya untuk memperbaiki diri agar menjadi dewasa. Aku harus berubah! Aku jadi ingat dulu aku pernah berberjanji di hadapan temanku. Ya, akan kubuktikan komitmenku itu! Aku sudah rindu dengan ibu. Aku juga kangen dengan teman-teman. Aku kangen, aku ingin melihat senyuman-senyuman mereka lagi. Aku tidak ingin hidup sendiri sperti ini. Aku menginginkan kasih sayang! Yaa Allah, tolonglah aku…”


 ***************


        Habis gelapnya Koya Yogyakarta terbitlah terang. Fajar pagi itu begitu memesona. Sinarnya yang hangat menyeruak jatuh ke wajah putihnya. Rohmat terbangun. Ia merasakan pagi yang bersahabat tak seperi biasa. Ia kembali diingatkan dengan komitmennya tadi malam. “Yaa Allah, akan kubuktikan komitmenku itu!” Ia bangkit menuju kamar mandi. Ia mandi dan bersiap diri.

        Meski semua orang membenci dan Mas Rohmat tinggal sendiri di kost-kostannya, dia nampak ceria hari ini. Dia berniat memperbaiki kesalahan-kesalahannya. Baginya, hari Minggu kali ini adalah hari Minggu yang cerah untuk jiwanya yang sepi. Karena, rindunya kepada ibu membuat hatinya tergerakkan. Jadilah Ibu sebagai motivasi penggugah jiwanya. Walau sepi… Walau sepi… Walau sepi…

        Aku terngiang sesuatu. Kata patung.. Ya. Patung! Sesungguhnya benda ini tak bermakna hanya diam saja bagi teman-temannya. Terlebih, maknanya meluas. Diam, acuh, tidak mau tahu. Dan satu lagi. Sombong! Bukankah sifat acuh, tidak peduli, cuek, adalah ungkapan dari kesombongan itu sendiri? Jadi, kalau boleh aku berbicara, seumpama Mas Rohmat yang dibenci karena keangkuhannya. Mungkin salah satu sebab kenapa aku pernah dibenci oleh temanku Roni, adalah karena aku sombong. Tapi aku tidak merasa kalau diriku pernah sombong. Selain kesombongan yang sedikit, yang halus, yang tak kasat mata, yang biasa-biasa saja, dan yang kelihatannya lumrah… Ini gila. Yang sederhana saja berdamapk luar biasa, bagaimana kalau sombong itu sudah tidak biasa lagi!?

        Dan patung, kukira seperti mayat yang berdiri di tengah jalan. Pendapatku pun didukung oleh guru SMK-ku.. “Orang sombong sebenarnya,” ungkap beliau. “Adalah orang yang mati.” Ya, patung adalah benda mati. Maka teman-temannya memanggilnya seperti itu.

        Terkadang, patung-patung di tengah jalan-jalan keramaian kota membuat mataku risih. Entah mengapa….


 ****************

        Usaha Mas Rohmat mencari solusi tetap berjalan. Dia berdoa.
“Yaa Allah,” Doanya sepanjang hari. “Tolonglah aku. Udari semua masalahku.”

        Lima pekan lewat. Tiada perubahan signifikan meski doanya masih saja seperti itu. Masalahnya tetap. Mas Rohmat berhasrat tanya kepada ahli-ahli agama. Kepada Ustadz-ustadz yang dikenalnya. Pertanyaannnya selalu sama; Mengapa Allah tidak mengabulan doaku, padahal Dia Maha Pengabul doa?

        Tidak terasa duapuluhtiga Ustadz ia datangi. Ia rasa cukup. Ia menyeksamai nasihat-nasihat para Ustadz itu. Intinya selalu serupa. Ia ejawantahkan dalam bukunya mencapai limabelas konsep. Allah menyegerakan ijabahnya doa, apabila;
  1. Bersabar menanti terkabulnya
  2. Mengangkat tangan
  3. Mengucurkan air mata permohonan
  4. Merendah diri dan bersungguh harap diijabah
  5. Berpakaian pantas, suci
  6. Berbaik sangka kepada Allah
  7. Menhaga halal dan naiknya makanan yang diasup
  8. Doa setelah shalat wajib
  9. Doa setelah shalat tahajjud dan sahur
  10. Doa diantara Adzan dan Iqomah
  11. Doa ketika turun hujan dan Adzan
  12. Doa ketika sedang bepergian dan teraniaya
  13. Doa ketika sujud terakhir
  14. Doa anak yatim dan yatim piatu
  15. Doa ibu kepada anaknya, dan sebaliknya

        Gairahnya untuk melakukan nasihat-nasihat ini meletup. Dia ubah segenap pola pikirnya. Singkat cerita, dia langsung menjadi rajin sembahyang ke Masjid. Dia memperbaiki makanan dan pakaiannya demi ijabahnya doa. Dia mengangkat tangan bila berdoa. Barangkali terkesan terpaksa, tapi ia selalu mencoba untuk meneteskan air mata ketika berdoa. Tak jarang pula ia tampak sangat segar. Sebab ia mendenagar hujan bergericik disaat waktu shalat tiba. Dia mengira, jika melakukan nasihat-nasihat itu secara bersamaan Allah lebih bersegera lagi dalam mengijabah doanya.

        Namun dunia memang melenakan. Terbukti, bukannya mengajukan doa supaya persoalan dengan orang tuanya disudahi, Mas Rohmat malah mempergunakan doanya agar rezekinya dilimpahkan. Dia mencari perbendaharaan dunia. Dia menginginkan dunia. Dan bukan sesuatu yang asing lagi, tekad bajanya yang menggebu telah mampu mengubah kebiasaannya selama separoh bulan. Dia terus berdoa keberlimpahan rezeki.. Sembari terus bermunajat, dia tidak lupa megerjakan limabelas nasihat Ustadz sedikit demi sedikit. Tak lupa jua ia lipatgandakan amalan-amalannya. Dia istiqomah beribadah walau tujuannya dunia.

        Di satu bulan penuh rezekinya menetes. Mungkin sebab amal sedekahnya masih sedikit angka rupiahnya, balasan baginya pun sudah sepantasnya bila menetes. Mas Rohmat mengambil pelajaran, dan dia terus meninggikan bilangan sedekahnya. Dia semakin cerdas saja. Dan benar, rezekinya mulai mengalir, menderas. Dia pun semakin mantab dengan kekuatan doa. Dahulu meminta rezeki dan sudah terijabah. Sedang karena pernah meminta “Limpahkanlah”, rezekinya pun dilimpahkan. Tentu tidak gamblang Allah mengabulkan, melainkan satu demi satu, waktu demi waktu Allah mengajarkan langkah-langkahnya kepada Mas Rohmat. Sekarang Mas Rohmat mengerti caranya melimpahkan rezeki. Yaitu dengan memperbanyak serta mempercepat bilangan rupiah yang disedekahkannya. Mas Rohmat sungguh telah diajarkan banyak olek Tuhan. Ada doa, ada sedekah, ada keberlimpahan, ada jalan keluar.

        Mas Rohmat mulai tertegun. Terkesima akan Ustadz yang dulu dianggapnya gila. Ia melongok ingatan, dijumpainyalah kata-kata Ustadz itu. Mengenai rezeki. Lingkupannya meliputi; Harta, kemudahan, ibu, orang tua, pasangan, anak, teman-teman, dan yang lainnya. Ia kembali hanyut memikirkan ibu. Ia sempat bersedih. Tapi ia bangkit. Lantas memilih doa sebagai pereda kegusarannya. Ia pun berdoa laiknya sedia kala.

        “Yaa Allah, aku mohon ampunan atas segala khilafku. Dan aku memohon kepadaMu, pertemukannlah aku dengan ibuku lagi di dalam ruang kehangatan dan kebersamaan. Aku sungguh merindukan hangatnya kasih sayang ibu, Yaa Allah. Ya Allah, aku tahu Engkau Maha Penolong lagi Maha Kuasa. Engkau pasti akan menolong hamba-hambaMu yang sedang kesulitan seperti hambaMu ini. Dan aku berbaik sangka kepadaMu Yaa Allah. Semoga Engkau memperkenankan doaku.”
Kini Mas Rohmat lebih mementingkan kondisi keluarganya daripada harta. Perubahan ini terjadi begitu cepat. Dari yang bertujuan memuaskan hawa nafsu, menjadi tujuan yang sungguh indah; Bagaimana Mas Rohmat mendapatkan kasih sayang ibunya kembali.


 ** ** *** *** ***

        Karena libur panjang, Mas Rohmat pulang ke rumah. Rumahnya di daerah Bantul, DIY. Tiada sambutan istemewa dari pihak ibu. Hanya senyuman sejenak atas kepulangan Mas Rohmat. Setelah itu sudah, keadaan sepi lagi. Makan ya tinggal makan. Minum ya tinggal minum. Main ya tinggal main. Begitu seterusnya.

        Sekian lama bermalam, sang Ibu memergoki Mas Rohmat shalat di Masjid. Mas Rohmat juga mulai pandai bergaul dengan tetangga. Dan begitu banyak kebaikan yang Mas Rohmat tebarkan akhi-akhir ini. Itu semua diketahui ibunya sehingga membuat ibunya tak mengira. Dulu Mas Rohmat orangnya acuh, sepulang dari kost tiba-tiba menjadi ramah. Sungguh suatu hal yang tak terduga sama sekali. Dari manja jadi dewasa. Dari cuek jadi suka memberi. Dari malas sembahyang menjadi tekun sembahyang.

        Ada sebuah makna mengapa Allah memerintahkan sesuatu. Seumpama saja shalat. Ya, Allah memang mempersiapkan surga di situ. Tapi, Allah Yang Maha Penyayang tahu bahwa hambaNya juga menginginkan dunia. Maka, telah berserakan di pasaran buku mengenai rahasia shalat. Ini hasil penelitian dari beberapa ahli. Shalat dapat mencegah banyak penyakit. Dari flu, hingga kanker maupun serangan jantung sekalipun. Ada lagi menangis sewaktu shalat. Manfaatnya sebagai penurun beban pikiran. Ini berseberangan dengan prinsip penduduk barat. Yang mengatakan; “Menangis berari orang cengeng!” Dan semua ibadah-ibadah lain termasuk berdoa, memiliki maknanya sendiri-sendiri. Kemuadian, untuk menanggapi prinsip islami ini, ada Imam yang mengatakan, “Kejarlah akhiratmu, maka engkau akan mendapatkan dunia.”

        Berlaku pada Mas Rohmat yang dari shalatnya saja membuat hubungannya dengan sang ibu membaik. Seperti sabda Rasulullah yang berintikan ‘jika Shalat seseorang baik, maka semua hal tentangnya pasti baik’. Begitulah seseorang yang shalatnya seperti Mas Rohmat. Akhlaqnya juga ikut-ikutan baik. Dan dari kebaikan akhlaq itu, ibunya yang selama bertahun-tahun terus bersikap cuek menjadi bersimpati Dan, bersulam baiklah hubungan mereka, hubungan antara orang tua dengan anak.

        Cerdasnya pemikiran Mas Rohmat membuatnya langsung menyadari prinsip islami ini. Lalu dia menceritakannya kepada Ibunda tercinta. Ada doa, ada shalat, ada kemudahan, ada kejutan dari Allah.. Semuanya sungguh menakjubkan. Benarlah Islam agama yang sempurna.

          Ibunya kagum padanya.
   Anaknya sudah dewasa. Anaknya bisa memahami bagaimana hubungannya dengan sang ibu, kemudian mencoba memperbaikinya. Anaknya menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Roda telah berputar. Berputarlah pula hidup Mas Rohmat. Dari sepi menjadi penuh makna-makna. Ada cinta. Kasih sayang. Pengertian. Kebahagiaan. Yang pasti semua ini indah..
Nafas sang ibunda mulai tak karuan. Matanya memerah. Meneteslah air mata suci itu. Air mata penuh cinta dan rindu. Sang ibunda menangis sesenggukan. Semakin tak karuan. Tapi ibu berusaha untuk membuka muludnya dan berkata, “Ibu bangga denganmu Nak. Rohmat memang anak yang sangat baik. Maafkan Ibu ya Nak kalau selama ini ibu bersikap cuek kepada Rohmat.. ibu sayang padamu Nak.”



**************

         
        Tiga hari berturut-turut Mas Rohmat bersyukur dengan keadaannya yang baru. Yang terbayang adalah wajah ibunya yang cantik. Sudah lama Mas Rohmat tidak bertemu dengan ibunya. Maka Mas Rohmat ingin menyenangkan hati ibunya dengan memutuskan untuk memberikan hadiah kepada ibu. Hadiah special. Ia membayangkan mobil.
Keesokan harinya Mas Rohmat meminta doa kepada ibunya agar Allah memberikan mobil kepada Mas Rohmat. Mobilnya yang bermerk Honda Odyssey. Meski dengan sedikit keraguan, akhirnya ibunya mendoakannya. Mas Rohmat sangat berterimakasih.



* ** ** *** ** ** **


        Hari-hari Mas Rohmat dan Ibunya di rumah terlihat seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Ibunya mengurus rumah dan Mas Rohmat sedikit-sedikit mengumpulkan uang dari hasil kerjanya di toko kertas. Gajinya lumayan. Cukup untuk meringankan beban ibunya yang kini tinggal berdua dengan Mas Rohmat. Tinggal berdua karena ayah sudah lama meninggal. Adik perempuannya juga sudah meninggal di umurnya yang ke-13. Itulah sebabnya dahulu ibunya acuh terhadap Mas Rohmat. Karena Mas Rohmat memaksa untuk pergi dari rumah dan memilih kost yang jauh dari rumah sebagai tempat persinggahannya. Ini semua membuat sang ibu kecewa dan bersedih, dan akhirnya membiarkan Mas Rohmat pergi dengan acuh. Sebenarnya, hubungan keduanya sudah lama rusak. Saat tinggal berdua dahulu, Mas Rohmat hanya bisa membuat ibunya marah. Mungkin, keluarga ini menjadi sebuah keluarga yang tak hanya miskin, tetapi juga penuh amarah.

        Ketika suatu hari Mas Rohmat selesai bekerja, di tengah perjalanan pulang ia bertemu Pak Mufdi mengendarai mobilnya. Beliau saudagar kaya. Mereka saling sapa. Beliau kemudian mengajak Mas Rohmat mengobrol setelah mengajaknya naik ke mobil Pak Mufdi. Mereka berhenti di sebuah warung makan sederhana.

        Mereka mengobrol seperti ayah dan anak. Asyik sekali. Mereka berdua begitu menikmati pertemuan ini. Tiba-tiba Pak Mufdi menawarkan kepada Mas Rohmat tawaran yang menurutnya gila. Ya, Pak Mufdi mengajaknya bekerja sama dalam hal bisnis. Angka tawaran cukup fantastis.. 25 Milyar!! Bayangkan, Mas Rohmat yang bergaji tak lebih dari sejuta tapi sudah merasa berlimpahan harta diberi tawaran itu. Mungkin yang bisa diekspresikan oleh Mas Rohmat hanya geleng-geleng kepala saja dan mungucapkan “Oh tidak..” Dan ternyata Mas Rohmat memang melakukannya.

        Tawaran ini sementara Mas Rohmat Sembunyikan dari ibu. Yang Mas Rohmat katakan hanya mendapat tawaran kerja yang lebih baik dari Pak Mufdi saja. Tidak lebih. Ibunya mempersilakan dengan perasaan ikut senang. Karena sudah jelas, bila sang anak senang sang ibu pasti jauh lebih senang. Walau sebenarnya, tawaran ini membuat ibunya tinggal sendirian lagi. Tawaran ini menghendaki Mas Rohmat merantau beberapa bulan. Bersama Pak Mufdi di Kota Bandung Jawa Barat. Dan dihari perpisaan mereka, sang ibu melepaskan Mas Rohmat dengan isak tangis dan doa mustajabah. Dan, doa seperti inilah yang Mas Rohmat harapkan atas kepergiaannya.


****************


        Benar kata Rasulullah bahwa waktu itu sejatinya hanya sementara dan singkat. Tak terasa, waktu sudah berjalan empat bulan semenjak kepergian Mas Rohmat. Di bulan ke-4 ini juga Mas Rohmat ingin memberikan ‘surprise’ kepada sang Ibu dengan oleh-oleh keselamatan anaknya serta sejumlah buah tangan yang sedikit dan sederhana.

        Sesampai di rumah, sebab ingin mengejutkan sang ibu, Mas Rohnat datang secara sembunyi-sembunyi. Ketika Mas Rohmat memasuki rumahnya, terlihat sang Ibu sedang duduk menonton Televisi di kursi yang reot. Dari arah belakang, dilemparkanlah kunci ke kepangkuan ibunya. Sontak ibunya pun keget. Mas Rohmat tersenyum-senyum melihat ibunya terjahili oleh kelakuannya. Lalu senyumnya pun ditangkap oleh ibunya.. Dan, waw!! Sang ibu langsung berlari menuju arah Mas Rohmat dengan terisak-isak. Seperti di film-film saja. Dan Mas Rohmat juga menyambutnya dengan kebahagiaan. Mereka saling berpelukan dalam suasana haru.

        “Nak Rohmat,” Ibunya memulai pembicaraan. “Kunci apa ini. Kenapa panjang sekali?”

        Gubbbrrraaakkkkkk#@$@#@%@ Bukannya tanya kabar atau bilang yang enak-enak malah tanya kunci. Begitulah yang Mas Rohmat sedang pikirkan. Tapi tidak apa-apalah. Namanya juga orang tua…

        “Ini Rohmat berikan untuk Ibu.” Jawabnya. “Sekarang ibu cepat keluar. Di luarlah hadiah yang sebenarnya.”

        Mereka berdua melangkah keluar. Mas Rohmat menunjukkan sesuatu pada ibunya. Mobil. Ya, mobil… Mobil hitam kinyis.
Ibu memang orang miskin. Jadi wajar kalau melihat mobil semewah itu salah tingkah. Apalagi jika diberi..

        Singkat ceritanya Mas Rohmat menjelaskan semuanya pada ibu.

        Dia sekarang bekerja di Bandung di Pabrik makanan yang dikembangkannya besama Pak Mufdi. Pak Mufdi yang dulu ternyata menawarkan proyek 25 Milyar untuk mendirikan pabrik ini. Karena modalnya besar, pertumbuhan bisnisnya juga cepat melesat. Dan Mas Rohmat sendiri mendaptkan gaji rutin tiap bulannya sebesar 450 juta. Walau bulan pertamanya tidak digaji. Akan tetapi bukan masalah untuk memproleh sesuatu hal yang besar. Ini menjadi sebuah pengorbanan tersendiri.

        Mas Rohmat juga bercerita kalau di Bandung diberi tempat tinggal berupa perumahan oleh Pak Mufti. Rumah beserta isinya gratis. Padahal total nilainya mencapai 1,5 Milyar.

        Tidak lupa juga, Mas Rohmat mengungkapkannya dengan gamblang bahwa ini berkat doa dari ibunya. Dahulu, Mas Rohmat pernah memohon kepada ibunya supaya Allah memberikannya mobil. Karena Ridha Allah bertempat pada Ridha Ibu, Allah sekarang sudah mengabulkannya. Dan, terang Mas Rohnat lagi, dulu Mas Rohmat bercita-cita untuk menghadiahkan ibu mobil. Karena harapan ini sangat kuat, Mas Rohmat pun meminta doa ibu tanpa memberitahu bahwa mobil kinyis ini kelaknya akan dihadiahkan kepada sang ibu. Kemudian sesuai yang juga Mas Rohmat mintakan doa pada ibu mobilnya adalah Honda Odyssey terbaru, Allah kini sudah memberikan Honda ini. Dan ini, dihadiahkan kepada ibu yang sangat dicintainya.



** ** ** ** ** ** **


        Wakatunya tidak lama. Mas Roahmat harus segera kembali ke Bandung untuk bekerja. Menjabat Direktur Utama bagi perusahaan barunya. Mas Rohmat berpamitan. Dia meninggalkan Odyssey itu bersama seorang sopir. Dia tahu ibunya tidak bisa menopir. Maka sopir telah dipersiapkannya. Kemanapun pergi Pak Sopir harus mengantar.


        Dengan Odyssey itu Pak sopir mengantar Mas Rohmat ke Bandara. Mas Rohmat memilih pesawat supaya perjalanan pulangnya cepat. Ketika di mobil Mas Rohmat memberkan uang 10 juta kepada Pak Sopir. Uang ini digunakan untuk membangun garasi rumah. Sebab rmah ibunya tidak akan muat untuk menampung mobil itu. Rencana garasi akan dibangun di samping rumah.

        Sesampai bandara Mas Rohmat berpamitan. Ibunya melepasnya dengan hati gemilang.



                                                        ** ** ** ** ** ** **



        Genap satu tahun Mas Rohmat gemar berbagi dengan kata-kata. Lewat situs-situs di internet seperti blog, facebook, dan twitter. Mas Rohmat berharap orang yang membacanya termotivasi. Selebihnya Mas Eohmat ingin memperoleh pahala jariyah. Karena beliau peduli sesame wajarlah bila beliau gemar berbagi. Bukannya mengumbar nafu dalam jejaring seumpama para remaja pada zaman diambang kehancuran ini. Mas Rohmat istiqomah menebar kebaikan. Dia beroleh pujian dari langit dan bumi.

        Suatu hari kami bertemu di Facebbok. Kebetulan sekali aku bisa menjalin siaturahmi dengannya kali ini. Kami pun mengobrol. Tetapi barangkali Mas Rohmat sedang sibuk, obrolan ini tidak bisa memakan waktu lama. Obrolan kami singkat. Walau singkat, itu cukup membuatku bertanya-tanya oleh ceritanya yang aneh. Keluhannya yang aneh.
Mas Rohmat mengeluhkan tinggalnya di Bandung. Mas Rohmat tinggal sendiri, dan itu membuatnya kesepian. Dia memintaku menemaninya. Tapi itu tidak mungkin. Aku masih sekolah di SMK Muhammadiyak 3 Yogyakarta. Aku juga sebentar lagi ada ujian kenaikan kelas 3. Lantas dia berpindah mencari orang lain yang dengan senang hati bersedia menemaninya. Dari situlah aku bertanya-tanya. Aku curiga. Di akhir obrolan kami, dia mengatakan akan segera pulang ke Jogja untuk menemui diriku.

        Ucapannya benar. Setengah bulan berselang, hari Kamis 2 Desember 2010 ia datang mengejutkan aku. Mas Rohmat kembali dengan tiba-tiba. Tanpa konfirmasi seperti biasanya. Sudah datangnya tiba-tiba, dia pun nongol begitu saja di muka rumahku. Dia berdiri. Kira-kira 20 meter dari rumah. Aku dapat melihatnya karena saat itu aku sedang memberikan ikanku di kolam halaman rumah makan. Dia menghampiriku. Aku juga berjalan menghampirinya. Kami berjalan capat. Dengan sikap yang tegas Mas Rohmat menjabat tanganku dengan segera dan memelukku. Tanpa berucap apa-apa selain hanya senyuman tulusnya, ia berikan kertas berukuran 15x20 centimeter kepada diriku. Harum dan rapi. Terbungkus plastik bening.

        “Ini untukmu.” Mas Rohmat bilang.

        “Apa ini Mas?” Tanyaku kepadanya.

        Dengan tergesa-gesa, tanpa menjawab pertanyaanku Mas Rohmat minta undur diri. Setelah memberikan salam langsung pergi lagi. Aku keheranan tingkat tinggi. Dari jarak yang lumayan jauh, aku melihat Mas Rohmat membuka pintu mobilnya yang merah kinyis. Mobil yang elegan. Bentuknya jarang kulihat. Aku pun bersikikuh mendekati mobilnya. Tapi dari dalam mobil Mas Rohmat malah berteriak. Membuatku berhenti berjalan.

        “Hei Ris, ajak keluargamu ya! Tanggal 17 Desember 2009. Petanya lihat di situ. Ini acara walimahanku…”
Kecurigaanku beberapa waktu lalu ternyata benar. Yang beliau cari untuk menemani kesendiriaannya di Bandung adalah.., Sang Bidadari! Sungguh suatu hal yang tiada terduga. Diumurnya yang ke-21 meminang bidadari berusia 19 tahun. Aku tahu setelah membaca tanggal lahirnya di dalam undangan. Masih kuliah kata Mas Rohmat kelak. Wah nikah muda!! Berarti, mereka berdua sudah penuh hasratnya yaa.. Hehehehe!


  ** ** ** ** ** ** ** **


        Kelak, setahun lebih setelah hari pernikahan itu terjadi. Setelah mereka terkarunia satu putra satu tahun.
Dari Bandung menuju Yogyakarta sesudah menemui ibunya. Mereka berdua hendak pulang lagi ke Bandung. Hari ini hari Sabtu 21 Mei 2011. Malam minggu. Malam yang indah untuk berdua. Memadu cinta. Dan maksiat. Namun tidak untuk pasangan ini. Mereka sudah sah menjadi suami-istri.

        Tak mau kalah, Mas Rohmat mengajak ke suatu tempat bidadari manjanya sebelum berpulang ke Bandung. Cantik, imut, lugu, tingkahnya seperti anak-anak, tubuhnya pun tidak gemuk dan tidak kurus. Dia wanita yang menawan. Setelah shalat isya’ bersama di Masjid Agung Syuhada Kotabaru Kota Yogyakarta, mereka berdua berkeliling sebentar sebelum akhirnya mendarat di sebuah restoran. Mereka pergi menggunakan motor. Tertulis menarik di bodi motornya Kawasaki Ninja 250 RR. Suaranya bergema tapi halus. Terlihat, bidadari Mas Rohmat menjulurkan tangannya ke depan dan memeluk rapat-rapat Mas Rohmat dari belakang. Suasana hati mereka brerbunga-bunga. Walau dengan motor, ritme beningnya tetaplah terasa romantis.

        Setelah berkeliling dalam naungan kebarokahan Allah karena halalnya merajut cinta, sampailah mereka di resotan. Memilih menu kemudian makan berdua. Menunya nampak begitu lezat bila dirasakan berdua. Mereka sangat menikmatinya dengan obrolan-obrolan ringan khasnya orang jatuh cinta. Sungguh indah.
Lama mengobrol Mas Rohmat sempat terdiam. Sejenak. Lalu memanggil bidadarinya yang diteruskan dengan beberapa ungkapan makna…

        “Mi’,” Panggilnya yang mengartikan Umi, terjemahannya adalah Ibu. Kalau Abi, berarti Ayah.

        “Ya, Sayang.” Jawabnya segera. Ia tahu suaminya akan mengeluarkan kata-kata melankoliknya lagi. Ia gembira menunggu kata-kata itu.

        “Kalau Abi menikah lagi, bagaimana..?”

        Umi tersedak tak karuan. Makanan yang dikunyahnya pun muncerat ke muka sang Abi. Matanya memerah. Sedakannya telah membuatnya menangis. Mukanya pucat. Sedekannya malah menjadi semakin tidak karuan.
Abi yang panik lalu memberikan gelas berisi air. Umi meminumnya. Sudah sedikit lega. Tapi nafasnya masih belum normal.

        Abi kembali berkata. “Maaf Sayang, Abi hanya bercanda. Abi tidak serius. Hehehehe!”
      Ahh, kau ini!” Jawab sang istri dengen raut muka berkelebat yang beranjak memberikan cubitan kekesalan pada suaminya. “Kau menyebalkan sekali…”

        Aduh!?!?!?!?!” Teriak sang suami menerima cubitannya.

        Seketika keadaan menjadi lebih menyenangkan.

        Nuansa bening, ritme romantisme, senandung cinta.., Semuanya mereka rasakan berdua dalam kebarokahan. Hanya berdua saja.


  *** *** *** *** ***


        Di rumah reot sang ibu namun ber-Odyssey di sampingnya, di malam hari. Mas Rohmat menulis di Laptopnya sebelum nantinya dikirimkan ke e-mailku. Ini tulisannya…

        “Hei Ris, jam 4 sore hari selasa 25 Oktober 2011 kita harus ketemu. Kutunggu di warung sederhana Pak Bomang.”

        Esok hari tanggal 23 Oktober 2011 aku membuka e-maiku. Aku menerima pesan dari Mas Rohmat. Aku balas, “Oke deh Mas!”



** *** *** *** ***


        Hari itu tiba. Kami bertemu. Seperti biasa, Mas Rohmat selalu berbagi cerita denganku. Tentang perjuangannya, tentang keajaiban yang dialaminya.

       Aku tidak ingin berpanjang lebar di sini. Aku hanya akan mengambil intinya saja. Karena aku yakin semua tentangnya sungguh menakjubkan. Tanpa terkecuali.

        Boleh dikatakan tidak sengaja, boleh dibilang kebetulan, atau dianggap sederhana. Tetapi perjumpaan kami kali ini. Di saat aku berumur sembilanbelas dan beliau berumur duapuluhtiga. Membawa keelokan tersendiri pada hidupku. Aku tergugah disebabkan tutur tegasnya, dan tersentuh oleh kedalaman emosinya. Semua hal tentangnya menurutku sungguh menakjubkan. Dahsyatnya lagi, begitu cerita Mas Rohmat yang aku padatkan, semua keluarbiasaan dirinya bukanlah karena ia mematuhi hukum proses menjadi luar biasa. Bukan! Proses untuk menjadi luar biasa baginya hanyalah sekedar akibat. Tidak lebih tidak kurang. Dan penyebab perubahan seratus-delapan-puluh-derajatya terletak pada ibunya.

        Benar, penyebab utamanya adalah ibu…

        Inilah luapan sanubarinya yang membuatku tergugah, dan membangkitkan diri.

       “Aku juga tidak menyangka semua ini akan terjadi padaku. Keberlimpahan harta, nikah muda, istri shalihah dua tahun lebih muda, bayi mungil satu tahun, rumahku ini, kendaraan-kendaraanku, kemudahan-kemudahan, dan semua yang kumiliki. Tapi perlu kamu tahu Ris, ibukulah yang sesungguhnya telah membuatku seperti ini. Awalnya memang aku hanya ingin mendapatkan maaf dan kasih sayang ibuku kembali. Ternyata dari impian yang sesederhana ini, aku menemukan keterijabahan doa, komitmen, sedekah, shalat, dan prinsip-prinsip islami seumpama kejujuran, kecerdasan, kepercayaan, dan rasa ingin berbagi kebaikan. Aku tak pernah membayangkan semua ini akan terjadi padaku.

       “Namun kuanggap semua ini sebagai akibat saja. Akibat dari penyebab utamanya, yakni ibuku. Ya, beliaulah penyebabnya. Ibulah impianku. Ibulah harapanku. Ibulah cita-citaku. Sebuah cita-cita sederhana yang telah mengajarkan aku untuk berjuang dan berkorban lebih mulia. Hingga aku menjadi seperti ini. Tak kukira, ibuku sanggup menggugah jiwaku sedemikian rupa.

      Mas Rohmat menerawang ke langit. Dia sedikit tersenyum, tapi wajahnya menampakkan kebahagiaan yang sangat kuat. Dengan mata berkaca-kaca serta kerinduan yang dalam kepada ibunya, Mas Rohmat berucap, “Ibu, kau penggugah jiwaku…”

        Aku termakan suasana. Kami menitikkan air mata berdua. Kami berdiri. Lalu kami berpelukan sendu. Ya, beginilah islam. Menjadikan pelukan pada saudaranya sebagai ungkapan cinta dan rasa kasih sayang kepada sesama. Mungkin sebagian orang tidak sanggup memahami apakah arti air mata yang kami tetaskan bersama. Karena sebenarnya kisah-kisah Mas Rohmat susah ditelan oleh akal-akal yang tiada cukup keberanian untuk mepercayainya. Ada ibu, ada doa, ada kesuksesan. Ini suatu yang sudah tidak zamannya lagi.

        Kabar baiknya, apa yang sudah dialami Mas Rohmat dalam kurun waktu yang sesingkat ini memang benar-benar di atas normal. Orang-orang normal tidak akan pernah mampu meyakininya. Tidak akan pernah! Hanyalah orang-orang beriman saja yang meyakininya. Lha wong sebenernya saja Mas Rohmat sudah membuktikannya tho?? Mengapa masih ada yang tidak percaya? Begitulah orang-orang beriman. Sebenarnya, orang gila itu adalah orang yang dianggap gila itu sendiri atau orang yang menganggap orang yang dianggapnya gila adalah orang gila? Aku yakin pertanyaan rumit untuk dijawab.

        Yah…Beginilah orang beriman. Dianggap gila karena pikirannya yang sudah di atas normal. Pikirannya jauh entah kemana. Padahal para orang beriman ini hanya mengandalkan lepercayaannya kepada Allah untuk mempercepat dan menyongsong balasan kebaikan yang lebih besar. Orang beriman sungguh di atas normal. Mau-maunya memercayai kisah-kisah ini kemudian melakukannya agar juga beroleh limpahan seperti Mas Rohmat.

        Pikiranku berkelebat. Ternyata ibunya Mas Rohmat sendiri masih belum bisa percaya dengan apa yang Mas Rohmat dapat. Terkadang ibunya juga malah memanggilnya Orang Gila. Ahh.. Ini cukup digunakan ibunya sebagai gurauan agar Mas Rohmat semakin sayang. Dan ibunya pikir, dengan semakin sayangnya Mas Rohmat pada sang ibu, semakin banyak pula yang Mas Rohmat berikan kepada ibunya. Entah hadiah-hadian atau apalah itu....

Ahh, Ibu itu...!!

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *