Sunday, June 5, 2011

Tatkala Embun Menetes

Tatkala Embun Menetes

Sinar mentari pertama yang
Mengusik ketenangan malam
Membawa peduli atas apa-apa yang dijanjikan
Menembus celah-celah hari,
Hangatkan angkasa

Pernah suatu kali,
Berbondong mega tangguhkan makna
Asap-asap busuk dari cerobong tua
Yang terus menerus
Hitamkan dunia
Buatnya gelap dalam kelabu
Makin rusak, makin buruk rupanya

Daun-daun jatuh menurut gravitasi
Ulah jelmaan manusia,
Maksudkan untuk berlembar uang kertas
Hina

Gersang datang, kering melanda
Jeritkan atas pengembalian daun-daun itu
Jatuhnya melewati batang dan dahan
Lalu aliran sungai tercekat, karenanya
Selusin pemandangan yang memilukan

Sebuah cinta terkirim dari Maha Mengasihi
DibuatkanNya jeruji-jeruji perbatasan
Akan senandung pagi yang menyejukkan
Irama daun-daun yang berdendang
Semilir angin sepoi-sepoi dari timur
Pembawaan dari utara
Yang saling berhembus
Hapuskan duka

Satukan semangat rindu yang membuncah
Atas syukur yang terpersembahkan pada Tuhan
Untuk nafas kita, untuk hidup kita
Yang murni dan mengaliri setiap sendi semesta

Tatkala embun murni menetes
Penuh angin surga
Bawakan nyanyian esok pelangi
Diiringi musik kehidupan, alam, dan semesta

Angin berputar mengudara
Doa berpilin ke atas langit
Serbuk bunga yang mewangi
Hijau yang melembari permukaan
Warna-warni mahkota bunga
Penuhi ketika sorak sorai membahana,
Agungkan nikmatNya


_________________
Oleh Arina Hasanah 
Komunitas Penulis Pelajar Smart Syuhada
Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *