Sunday, January 6, 2013

SAHABAT JOGJA

Cerpen ditulis oleh: Afifah Nur Rahmah --- SMA 5 Yogyakarta
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

            
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik

FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik
___________________________________________________________

sumber foto



       Suasana begitu menyejukkan. Semilir angin berhembus dari hamparan sawah yang menghijau. Suasana itu selaras dengan nyanyian merdu dari kicauan burung pipit yang terbang kesana kemari. Di tengah pematang sawah itu aku memainkan biolaku, biola peninggalan Kakek ku sebelum beliau pergi untuk selamanya. Aku terus bermain, bermain, dan bermain. Aku mencoba menyatu dengan alam, mengiringi sang surya yang sebentar lagi hilang di ufuk barat. Langit telah berwarna orange, tanda senja mulai datang.


       Plok.. Plok.. Plok.. tepuk tangan dari seseorang di belakangku menghentikan permainanku. Aku menoleh. “Viko?” ujarku. Orang itu tersenyum seraya berkata, “Jalu sudah menunggu, Layka. Kasihan dia harus segera makan malam.” Aku menghela nafas. “Kamu bahkan lebih mementingkan dia daripada aku,” protesku yang kemudian mendahuluinya pergi ke tempat Jalu, sedangkan Viko hanya tertawa pelan.


       Saat aku tiba di pinggir jalan, Jalu sudah menunggu dengan gagahnya. Bahkan, lebih gagah dibandingkan Viko, sahabatku sejak dua tahun yang lalu. Dia sering mengantarku pergi kemana-mana karena kebetulan kami juga bertetangga. Dengan perawakan tinggi, berwarna putih bersih, dan surainya yang berwarna pirang, Jalu memang masih terlihat gagah sebagai kuda bekas perang zaman Belanda dahulu. Sayangnya, kini dia harus menjadi kuda yang menarik andong milik keluarga Viko. Andong adalah sejenis kereta kuda yang ada di Yogyakarta.


       Setengah perjalanan kami hanya diam satu sama lain. “Viko, apa kamu tidak malu membawa andong seperti ini kemana-mana? Kecuali, ya saat ke sekolah, kamu tidak menggunakan ini.” tanyaku memecah keheningan. Viko menggeleng. “Harusnya aku bangga, Layka. Tidak semua orang bisa mengemudikan andong seperti ini,” jawab Viko yang membuatku terheran-heran. Aku memalingkan wajah, memandang hamparan sawah yang menghijau kembali. Suasana menjadi hening, namun keheningan yang membuat hati terasa damai.


****


       Tak lama selepas makan malam selesai, aku mendengar suara gamelan. Aku menuju ruang depan, tempat perlengkapan gamelan milik Ayah ku. Disana aku melihat Ayah yang sedang bermain gamelan, sedangkan di sebelahnya ada seseorang yang asyik memainkan wayang kulit. Seseorang itu ternyata Viko. Sudah lama sekali Ayah tidak bermain gamelan, karena kesibukannya di kantor. Ini hanya salah satu dari sekian banyak hobi Ayah. Aku duduk bersila di samping Ayah, diam mengamati mereka.


       Beberapa menit kemudian Ayah berhenti bermain dan berdiri. Aku mengerutkan dahi, heran. “Ayah ke belakang dulu, Nduk. Buat kopi supaya tidak ngantuk,” ujar Ayah seolah mengerti keherananku.


       Sekarang tinggal aku dan Viko. Aku masih diam memperhatikan, sedangkan Viko juga masih asyik dengan wayang kulitnya. Bahkan, saking asyiknya, dia seolah tidak menyadari keberadaanku. “Viko?” akhirnya aku memanggilnya. Dia hanya melirikku sekilas, kemudian kembali fokus pada wayang kulitnya. “Ko, apa menariknya sih mainan seperti itu? Bukankah sekarang zaman sudah modern? Ada twitter, facebook, game online. Kenapa kamu tidak mencobanya? Itukan lebih keren dibandingkan wayang kulit punya kamu itu,” Ujarku lagi, sedikit emosi karena daritadi tidak diperhatikan. “Gimana ya, Ka. Akukan wong Jawa, ya harusnya juga cinta sama budaya Jawa. Cinta sama produk lokal. Nah, lho apa itu tadi? Facebook? Twitter? Itukan buatan orang Amerika sana. Buat aku, wayang iki, jauh lebih menarik, Layka. Titik,” jawab Viko. Aku hanya bisa menghela nafas, sedangkan Viko tersenyum dengan penuh kemenangan.


       “Ada apa tha ini, Ayah dengar kok sempat ada ribut-ribut?” Ayah tiba-tiba datang dengan kopi ditangan kananya, kemudian duduk disampingku kembali. Viko hanya mengangkat bahu, malas menjelaskan. “Nggak papa kok, Yah. Biasalah aku sama Viko debat lagi soal kebiasaannya Viko,” akhirnya aku yang menjelaskan. Ayah tertawa sambil mengusap rambutku. Setelah meminum kopinya, Ayah kembali bermain gamelan, mengiringi permainan Viko. Semalam suntuk aku habiskan mengamati mereka meskipun sambil terkantuk-kantuk.


****


        “Layka, cepat! Viko sudah menunggu di depan,” ujar Bunda dari dapur. “Iya, Bun,” jawabku sambil menyambar tas. Setelah mencium tangan Ayah dan Bunda, aku menuju ke teras tempat Viko menunggu. Kami memang selalu berangkat sekolah bersama-sama.

Sampai didepan, aku melihat wajah Viko terlihat pucat pasi. “Ko, kamu sakit? Wajahmu pucat,” tanyaku. Viko menggeleng. “Layka, hmm.. hmm.. aku.. aku.. mau ke kamar mandi dulu ya. Perutku sakit,” ujar Viko dengan sedikit malu. Aku mengangguk, “Tapi jangan lama-lama ya!” Viko segera menerobos masuk ke dalam rumah ku menuju ke kamar mandi, sedangkan aku hanya tertawa pelan.


       Sudah lima belas menit Viko di kamar mandi, padahal sebentar lagi kita akan terlambat. “Vikoo.. Buruan!! kita sudah hampir terlambat!!” teriakku dari teras rumah. Tiba-tiba Viko sudah ada di belakangku. “Kamu ngagetin aja, buruan ayo!” ajakku, sedangkan dia hanya nyengir.


       Sesampainya di sekolah gerbang sudah di tutup. “Yah, gara-gara kamu, Ko, kita terlambat,” ujarku kesal. “Maaf. Namanya juga panggilan alam,” jawabnya santai. “Kita lewat pintu belakang aja, Ka,” usul Viko kemudian. “Kamu yakin?” tanya ku ragu. Viko hanya mengangguk.


       Kita melewati kebun pisang yang sudah gundul setengahnya. Aku melihat ada pintu kecil di ujung sana. Pintu itu bisa kami gunakan untuk masuk ke area sekolah, melewati gudang olahraga. “Aman, Ko, ayo!” ujarku setelah memastikan suasana. Viko mengikutiku. Rencananya kami akan membolos pelajaran pertama dan menunggu di perpustakaan sekolah, baru nanti pelajaran kedua kami masuk kedalam kelas.


       Baru dua langkah Viko masuk melalui pintu itu. “Ehem.” Terdengar suara seseorang yang sedang berdeham di belakang kami. Perasaanku menjadi tidak enak. Takut-takut kami berdua menoleh, disana sudah berdiri Pak Irwan, guru olahraga kami yang terkenal kurang bersahabat dengan perawakannya yang tinggi, kulitnya yang sawo matang, kumisnya yang tebal, dan wajahnya yang seolah-olah ingin menerkam kami berdua.

“Kalian berdua, sekarang, berdiri hormat bendera!!” perintah Pak Irwan. Kami berdua hanya bisa berdiri mematung. “CEPAAAAT!!” beliau akhirnya berteriak, sedangkan kami lari terbirit-birit menuju lapangan upacara untuk menjalani hukuman kami.


       Saat Pak Irwan sudah tidak mengawasi kami lagi di lapangan upacara, Viko mengeluarkan mp3nya, dan mendengarkan musik. “Sempet-sempetnya, Ko, ndengerin lagu rock ya?” tebakku. Viko menggeleng, “Bukan, Ka. Lagu campursarinya Didi Kempot,” jawabnya. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.


****


       Siang ini sepulang sekolah aku dan Viko duduk di teras rumahku. Viko sedang membaca buku, bukan buku novel ataupun komik, tetapi majalah City Info. Majalah itu berisi tentang informasi seputar Yogyakarta, kota tempat kami tinggal.


       “Viko, temenin aku yuk nanti sore,” kataku. Viko menurunkan majalahnya, wajahnya seolah-olah bertanya aku ingin mengajaknya kemana. “Nanti ada japan festival, Ko. Pasti keren banget deh. Ada takoyaki, sushi, performance band yang menyanyikan lagu jepang, merchandise, pokoknya yang jepang banget deh.. ya, ya, ya?” ujarku lagi dengan bersemangat. “Kita liat nanti ya?” jawabnya singkat, kemudian dia melanjutkan kembali membaca majalahnya.


       Sorenya Viko datang ke rumahku. Aku tersenyum, kemudian berkata, “Akhirnya, Ko. Kamu mau juga mengantarku.” Namun, senyumku segera menghilang ketika kami sudah sampai di teras. Aku melihat di depan sudah berdiri Jalu dengan Andong di belakangnya. “Ko, kita.. kita.. hmm.. nggak bakal naik itu ke japan festival kan?” tanyaku ragu-ragu. Viko tersenyum. “Aku tahu tempat yang lebih menarik daripada jipang festipal itu, Layka,” katanya. “Yang benar japan festival, Viko. Bukan jipang festipal. Jipang itu kan sayuran,” aku meralatnya. Viko hanya mengangkat bahu. Dengan sedikit malas, aku mengikutinya menuju andong yang sudah ada di depan rumahku.


       Saat kami tiba, hari sudah gelap. Ternyata Viko mengajakku menonton Sendratari       Ramayana di Prambanan. “Ini baru menarik, Layka,” ujarnya senang. Padahal, pertunjukan saja belum dimulai. Viko terlihat sangat antusias. Saat pertunjukan sudah dimulai, aku sempat terkesima dengan pertunjukan di atas panggung. Namun, saat di tengah pertunjukan, aku mulai mengantuk karena sudah malam. Tanpa sadar aku tertidur.


       “Mbak, Mbak, bangun. Pertunjukannya sudah selesai,” ujar seseorang sambil menepuk pundakku. Aku terbangun. Rupanya orang yang membangunkan aku aku adalah salah satu penata rias pemain Sendratari Ramayana. “Makasih Mas,” ujarku. “Sama-sama, Mbak. Mari, saya tinggal dulu,” jawab penata rias itu seraya berbalik pergi. Aku melihat sekelilingku, dan terkejut saat menyadari tinggal aku sendiri yang masih ada di sana. Dimana Viko? Aku mencari kesana kemari tetapi belum juga menemukan Viko. Rasanya aku hampir menangis.


       Akhirnya aku memutuskan menuju tempat Viko memarkirkan andongnya tadi. Siapa tahu Viko masih ada disana. Benar saja, Viko masih ada di sana. Setengah berlari aku menghampirinya. Viko seperti menahan tawa. “Viko jahat. Aku tidak dibangunkan. Kamu juga pergi meninggalkan aku sendirian. Kamu tega, hiks,” kali ini aku sudah menangis. “Adududuuh. Layka, jangan nangis di sini dong, kan malu. Aku cuma bercanda tadi,” ujar Viko panik. “Aku tidak peduli. Kamu, tega, hiks, hiks,” jawabku. “Begini saja. Kamu berhenti menangis dan besok aku akan membawa kamu jalan-jalan ketempat yang lebih menarik,” ujarnya. “Jangan-jangan kesini lagi,” ujar ku curiga. Viko menggeleng. Akhirnya aku memutuskan berhenti menangis, kemudian mengambil tisu ditas kecil yang aku bawa dari rumah, lalu mengusap air mataku. “Janji ya?” ujarku lagi. Viko mengangguk sambil tersenyum lega.


****


       Keesokan harinya aku merasa bosan karena seharian berada di rumah. Ini hari Minggu, malam satu sura. Aku teringat kemarin Viko berjanji akan mengajakku pergi jalan-jalan. Akhirnya aku memutuskan untuk meneleponnya.

“Halo?” ujar suara di seberang sana. Rupanya yang mengangkat adalah Mama Viko. “Sore Tante, ini Layka. Bisa bicara dengan Viko?” tanyaku. “Eh, Layka. Tante kira siapa. Sebentar ya... Viko, ada telepon!! Dari Layka,” ujar Mama Viko. “Iya, Ma. Sebentar,” samar-samar aku mendengar suara Viko. “Halo?” ujar Viko saat sudah memegang ganggang telepon yang tadi dipegang oleh Mamanya. “Ko, aku bosan. Ke Mall, yuk!” ajakku. “Aku tidak mau, Layka. Disana AC nya kan dingin sekali, aku takut nanti masuk angin,” jawab Viko di ujung sana. “Tapi kemarin kamu janji akan mengajakku jalan-jalan. Aku bosan di rumah,” kataku lagi. “Ya sudah, tunggu lima menit! Aku kesana sekarang. Tapi ingat, aku tetap tidak mau pergi ke Mall,” ujar Viko. Belum sempat aku menjawab, Viko sudah mematikan teleponnya.

Benar saja. Lima menit kemudian Viko sudah ada di depan rumahku dengan sepeda motor miliknya. Aku tersenyum. “Tumben kamu menggunakan sepeda motor?” tanyaku. “Andongnya sedang dipakai Ayah. Jadi, aku terpaksa menggunakan ini,” jawabnya santai, sementara aku hanya bisa terheran-heran.


       Ditengah jalan tiba-tiba sepeda motor yang digunakan Viko oleng. Ternyata bannya bocor! Terpaksa kami menuntun sepeda motor itu menuju bengkel. Sesampainya disana kami harus menunggu. Sepertinya Viko mengerti aku tidak nyaman berada di bengkel terlalu lama. Akhirnya Viko mengajakku makan di sebuah warung yang tidak jauh dari situ. Makanan yang kami pesan datang. Hanya ada satu menu disana. Aku tidak tahu nama makanan yang ada di sana. Warnanya cokelat, terdapat ayam dan telur diatasnya. Meskipun begitu, makanan ini terlihat enak. “Viko, ini makanan apa?” akhirnya aku bertanya karena penasaran. “Haha, masak kamu tidak tahu? Itu gudeg, makanan khas Jogja. Kamu itu orang mana, Layka? Katanya lahir di Jogja, masak gudeg saja tidak tahu?! hahahaha,” Viko tertawa. Aku hanya bisa menunduk, malu. Kemudian mulai makan. Rasanya enak!


       Saat kami kembali ke bengkel, sepeda motor Viko sudah selesai dikerjakan. Setelah membayar, kami melanjutkan perjalanan. Ternyata Viko mengajakku ke sekaten. Kami memutuskan bermain bom-bom car terlebih dahulu. Seru sekali! Setelah itu, kami pergi untuk melihat lumba-lumba. Aku senang saat mendapat kesempatan berfoto bersama lumba-lumba. Waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Viko mengajakku pulang, tetapi aku memaksa naik wahana komedi putar sebelum kami pulang. Awalnya Viko menolak, tetapi karena aku terus memaksa, akhirnya dia setuju.


       Saat tiba di atas, komedi putar yang kami naiki sempat berhenti. Wajah Viko terlihat sangat pucat. Padahal, pemandangan dari atas sini amat menakjubkan. “Viko, kamu sakit?” tanyaku cemas. Viko hanya menggeleng. Saat kami sudah di bawah dan keluar dari wahana komedi putar, Viko muntah-muntah. Aku ingat Viko takut ketinggian! Aku menyesal telah memaksana tadi. “Viko, maaf. Aku lupa kamu takut ketinggian,” ujarku. Viko hanya mengangguk. Akhirnya sebelum pulang kami mampir ke salah satu warung tenda di sekitar sekaten. Viko memesan teh panas. Setelah Viko merasa baikan, kami pulang. Malam ini sungguh menyenangkan!

****

       Langit telah berwarna orange, tanda senja mulai datang. Semilir angin berhembus dari hamparan sawah yang menghijau. Suasana itu selaras daengan nyanyian merdu dari kicauan burung pipit yang terbang kesana kemari. Ditengah pematang sawah itu aku memainkan biolaku. Namun, kali ini aku tidak sendirian. Disampingku ada Viko yang memainkan wayang kulit miliknya. Memang, kolaborasi ini terlihat ganjil, tapi ini menyenangkan. Perlahan aku mulai menyadari. Viko telah mengajariku satu hal. Dia mengajariku untuk mencintai segala hal tentang kota kita. Budaya, makanan, dan segalanya yang ada di sini, di Yogyakarta.[]



Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *