Monday, December 17, 2012

Di dalam Genggaman Tangan

Cerpen ditulis oleh: Yuris Saputra --- SMK MUH 3 YK, STMIK EL RAHMA YK
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
         FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
         Twitter: @kpp_menulis | klik

________________________________________________________________

        SUKAMTO ADILUHUR nama lelaki itu. Aku, yang kebetulan tinggal tak lebih enam langkah dari rumahnya, pernah mendengar dia teriak-teriak sendiri, bak sedang kesurupan. Terlebih dia tinggal di situ sendirian. Dan teriakannya itu didengar pula oleh beberapa warga kampung. Tapi, setelah kami mencoba masuk ke dalam rumahnya, kami menemukan Sukamto dalam keadaan tak kurang suatu apapun. Ia waras apa adanya. Ia katakan pula tak ada apa-apa. Kami pun langsung meninggalkan rumahnya, tiada berpikir panjang. Malahan kami, sebagai warga Sukamto yang harus hidup penuh cinta dengan sesama warga, merasa kasihan dengan keadaannya.

        Tentu bukan sekadar kasihan akan perilakunya yang aneh belaka. Melainkan terdapat latar belakang kenapa Sukamto bertingkah seperti itu. Latar belakang yang tak tentu setiap orang mampu memahaminya. Semua berawal dari doa-doa yang selalu Sukamto panjatkan. Doanya pada Tuhan adalah ia ingin menjadi orang kaya. Maka, ia yang sejak dulu pintar tahu dimana tempat untuk meminta kekayaan, yaitu di setiap usai salat. Dengan menengadahkan tangan dan dengan sepenuh hati memohon kemurahan dari Tuhan. Meski sebenarnya dari dulu tahu berdoa adalah wajib hukumnya, tetapi ia baru merutinkan salat dan berdoa tak lama ini, setelah ia sadar bahwa ia harus berdoa untuk mendapatkan sesuatu yang ia dambakan. Inilah penyebab terkadang manusia memang perlu disadarkan.

        Tapi urusan hidup sejak ia rutin berdoa malah semakin rumit. Ternyata masalah seperti ini yang sudah membuat Sukamto menganggap hidup begitu sembab. Misalnya saja harus membayar uang tagihan listrik, pajak bumi dan bangunan, beli pulsa, beli bensin, maka sehari-hari, dan rokok. Mungkin ini karena dia terkatagori salah satu pengangguran di Indonesia yang disamping tak kerja, juga tak berniat cari kerja. Sekali lagi, mengenai masalah-masalahnya yang mungkin beberapa orang menganggap sepele, padanya menjadi problematika yang sangat menyengsarakan. Hinggahandphone-nya pun harus ikut menanggung kenyataan bahwa sebulan penuh tak pernah diisi pulsa. Kabar menarik lainnya, adalah meski dilanda paceklik panjang, tetap saja di usai salatnya tak pernah ia lupa untuk memanjatkan doa. “Ya Allah jadikanlah aku orang yang kaya. Amin.”

.....

        Satu bulan lewat. Kebutuhannya kian mendesak. Jarang sudah ia keluar rumah dengan motor, kini. Andai harus keluar, ia pilih mengayuh sepeda saja. Tikus-tikus di rumahnya mestinya sadar bahwasanya pilihan ini yakin gara-gara uang bensin. Seorang penganggur kelas atas semacam dia mana dapat membeli bensin genap seliter, Sudah jatuh tertimpa durian runtuh. Ternyata, handphoneyang tak diberi makan pulsa itu, bisa sakit sebab satu bulan lamanya tak mendapatkan asupan gizi pulsa. Apakah itu benar? Entah. Hanya saja, sejak ia nampak seperti orang sekarat karena harusmembiasakan diri bepergian dengan sepeda, handphone-nya juga ikut sekarat. Handphone-nya perlu dibedah dan dioperasi. Mereka itu bagaikan satu badan saja. Bilamana sakit satu, sakitlah yang lain. Tapi, Sukamto, bujang pengangguran versi Indonesia, mana ada uang untuk membiayai ongkos operasi. Dia ‘kan pengangguran kelas atas. Dan pengangguran kelas atas, boro-boro mendatangi dokter bedah apapun dan di manapun. Memikirkan sampai ke situ saja tak memiliki nyali. Paling-palingnyalinya sekadar pergi ke rumah teman yang juga sama penganggurannya, lalu bersatu padu untuk menerbitkan obrolan khas mereka: sing penting iso madhang lan iso urip.

        Oh malang seribu malang, dalam kondisinya yang sudah paceklik, ada-ada saja problematika yang datang sederas hujan kemarin sore. Terjadi kembali pada Sukamto saat sedang bersama teman yang juga pengangguran. Namanya Puji. Puji Soejadi. Saat itu Sukamto berumur 28 tahun. Pertama, Sukamto memang diajak Puji pergi ke Sleman untuk mengambil beberapa barang pesanan. Setelah mengabil barang itu, ternyata, temannya ini mengaku kalau tak ada uang ongkos untuk pulang naik bus. Usut punya usut, teman sesama penganggurannya itu memang sengaja mengajak Sukamto, supaya mengenai ongkos untuk pulang naik bus, adalah Sukamto yang bersedia membayarnya. Karena Puji pikir, Sukamto membawa uang sebagai antisipasi ketika terjadi apa-apa. Sukamto yang tergagap tak percaya dengan pengakuan dari si pengangguran Indonesia itu berkata dan malah tersenyum, tapi senyuman getir.

        “Teman, jalan kaki itu sehat. Jadi, mari kita jalan kaki saja.”

        Tawaran semacam ini mudah sekali dipahami maksudnya. Puji tahu pasti dia sama-sama tidak memiliki uang. Sehingga ia menjawab pun dengan dinamika nada penuh ketidakpercayaan, “Oh, jadi dirimu.., Sukamto… Juga.”

        Dalam pikiran, Sukamto sudah mentaksir temannya akan mengatakan: Oh, jadi dirimu.., Sukamto… Juga tidak memiliki uang sama sepertiku? Kemudian,

        “Maaf Teman,” komentar Sukamto cepat dan memutus kalimat yang hendak diucap temannya, “Kau memang benar. Jadi mari kita anggap saja perjalanan ini sebagai mata pencaharian kita yang baru. Atau, kita akan tetap di sini sampai salah satu teman kita yang memiliki mobil melawati di jalan ini. Lalu meminta mengantarnya?”

        “Gila kau! Tidak mungkin lah itu. Tapi… Ah, ya… 25 kilometer. Sanggup kau?” Tanyanya untuk selidik.

        “Hmm… Tentu!” jawab Sukamto.

        Sekalipun tentu, tetap saja ia beringsut menahan kata tak tentu. Alias, suara hati si pengangguran kelas atas itu mengatakan yang berseberangan! Mulutnya memilih utara, hatinya berselingkuh dengan memilih selatan. Tak sinkron. Dan ia katakan tentu, tentu saja karena desakan dari kenyataan sudah membuatnya tiada berdaya untuk membuatnya semakin rumit. Untuk apa dibuat rumit? Kalau takdirnya jalan, ya jalan. Sejurus dengan kemalangannya, ia pun mengeluarkan jurus terampuhnya, yaitu jurus elemen air yang digabungkan dengan elemen api. Artinya: Sikapnya itu bagai air yang diam tenteram. Tetapi, nun jauh di lubuk sanubari, berkobarlah gejolak api kemarahan lantaran tak sanggup menerima keadaan yang kenyataannya sedang terjadi. 25 kilometer? Oh, Tuhan…

        Sungguh ironi, memang, kehidupan para penggangguran kelas atas itu.

        Tapi walau jalan yang terjal terus Sukamto lewati termasuk berjalan kaki 25 kilo seharian penuh. Tak jua ia jera untuk tetap berdoa di setiap usai salat. Tak jera jua ia menengadahkan tangan dan berdoa supaya diberi limpahan harta benda. Ya, karena disitulah ia dapat meluapkan berbagai problematika dan memohan pada Dzat Yang Maha Tinggi tentang apa yang ia inginkan. Hingga saat itu tiba. Saat dimana Sukamto merasa tak mendapat timbal balik yang setimpal atas doa-doanya. Terlebih, saat nestapa-nestapa itu sudah kian penuh menggerogoti dirinya. Ia pilu. Ia ragu. Ia berontak. Maka, MahamengabulkanNya itu…, adalah palsu! hardiknya. Bukan main geramnya kali ini.

        Bukankah Dia Maha Mengabulkan. Tetapi, kenapa yang selalu terbit  adalah nestapa demi nestapa? Membuat rasa letih itu mencapai batasnya! Nestapa apa ini? Nestapa yang berdatangan seiring kebutuhan yang terus mendesak. Mendesak-desak hingga sulit untuk bebas bernapas. Dimana keadilan? Dimana MahamengabulkanNya? Dimanakah juga harta yang terus terpanjatkan di dalam setiap doa? Sudah bertahun-tahun berdoa, namun apa hasilnya? Oh tiada…
Bagai cuaca, suasana hati Sukamto berubah drastis. Perkataan tak pantas mulai keluar dari mulutnya. Mulutnya yang dahulu suci bekas doa-doa yang selalu ia sampaikan pada Sang Maha Mengabulkan. Begitu hari itu menjelang, nyaris letupan cerca-cerca itu tak tertahankan. Terlepas begitu saja. Gelap mencuri dirinya. Terang memudar darinya. Setelah ditelusri, ternyata, teriakan mengerikan Sukamto yang dahulu inilah latar belakangnya. Tapi lumrah. Manusia –Sukamto atau siapapun- tetap memiliki batas-batas kesabaran sekalipun mereka sebenarnya sanggup bersabar lebih jauh. Namun tetaplah ini yang terjadi pada Sukamto : Tidak sanggup lagi bersabar!

        Hari demi hari ia tambah dongkol dengan keadaan ini. Jadilah ia kini tak pernah shalat lagi. Juga berdoa. Dia merasa dikecewakan Tuhan makanya berbuat demikian. Sudah tiada guna sujud menghadap kiblat. Malahan ia berpikir untuk sujud di hadapan wanita supaya mau diajak begitu, berdua, memadu cinta yang katanya enak rasanya. Parahnya setiap melihat wanita Jogja berbusana seperti di zaman bahuela, pikiran jahat mulai dimainkan karena ia merasakan indah pada melodinya. Begitu seterusnya. Hidup sebagai pengangguran memang tak pernah mulus. Selalu saja tercipta problematika di setiap bait-bait perjalanan hidupnya.

....

        Hari ini di kampung Mantrijeron, Kota Jogja, Sukamto sedang duduk-duduk di kursi panjang dari bambu dan cukup untuk tiga orang, di depan rumah. Orang Jogja menyebut kursi itu : lincak. Dibersamai dengan nuansa sawah yang megah dan angin sepoi-sepoi yang nyaman, membuat ia semakin tenggelam dalam rasa santainya. Suasana desa bercampur kota dapat ditemukan di dini. Desa karena sawahnya dan kota karena bangunan perumahan yang cukup banyak.  Seorang Puji yang melihatnya santai lalu mendatangi dan lagi-lagi mengobrolkan tema khas mereka: sing penting isi madhang lan iso urip. Satu jam lewat. Dua jam menjelang. Sukamto merasa lidahnya kelu karena candu rokok. Maka,
        “Bung, ada rokok?”
        “Ya.”

        “Satu ya.”

        Puji merogoh saku dan mengeluarkan sekotak rokok.

        “Ini. Ambil saja. Dan ini koreknya.”

        Diambilnya sebatang. Lalu diberi api. Dan,

        Wuss!

        Ribuan asap racun itu melayang di udara dan sebagian lain bertugas memusnahkan paru-paru dan organ-organ vital yang lain. Pelajaran penting: ternyata pengangguran juga bisa merokok, padahal harga rokok mahal.

        Wahai Teman, tahukah kalau sebenarnya aku sedang menyaksikan mereka di lincak itu semenjak dua jam yang lalu, dari rumahku ? Kulakukan ini, Teman, agar aku dapat tahu bagaimana kehidupan para pengangguran itu. Mungkin dengan menguping percakapan mereka aku akan menemukan tema pembicaraan tentang apa sih yang sebenarnya membuat mereka tetap menjadi pengangguran. Siapa tahu kelak aku dapat berjasa bagi mereka. Semisal membuka lapangan pekerjaan jika memang masalah mereka adalah kurangnya lapangan pekerjaan. Tetapi, setelah aku melihat dari balik jendela rumahku Sekamto sedang menghembuskan asap rokok, aku jadi ingin mengatakan hal ini pedanya: Hei, Teman, kau ini seorang pria 28 tahun dan belum beristri. Kalau kau rusak terus tubuhmu, mana ada wanita jelita mau denganmu. Pikiranmu juga kotor. Tak mungkin lah ada wanita shalihah mantap pekertinya bersedia melalui hari-hari bersamamu. Pikiranmu yang kotor karena wanita itu, Teman, pertanda kau harus cepat-cepat menikah. Tapi mengapa kau masih saja duduk bermesra dengan temanmu yang bujang lagi sama-sama pengangguran? Apa kau berpikir untuk menikahinya, wahai Teman? Maka, Teman, lengkaplah sudah deritamu itu! Ugh.

        Tiba-tiba terdengar suara dari arah samping. Suara dari seorang pria yang hobi berbusana putih dan berkopiyah. Suaranya serak basah. Namun halus.

        “Assalamu’alaykum ….”

        “Oh,” jawab mereka sedikit kaget, “Wa’alaikumussalam warahmatullah, Pak Ustad ….”

        Dia ternyata Pak Ustad yang sering disebut-sebut di kampungku. Akan tetapi aku tak pernah memanggilnya Pak Ustad. Aku jika memanggilnya lebih enak dengan kata Pakdhe. Ya, Ustad itu adalahPakdhe-ku. Dia seorang yang tegas sepak terjangnya dan sering mengisi pengajian di kampung.Omong-omong soal kiamat, beliau juga yang pernah memberi penjelasan prihal kiamat kepadaku tempo lalu.

        Pak Ustad kemudian duduk membersamai mereka. Aku yakin hari ini beliau punya banyak waktu mengobrol dengan mereka. Kalau tidak, tidak mungkin beliau ada di situ. Jadi, tenang.

        “Bagaimana kabar kalian. Sehat?” tanya Pak Ustad.

        “Sehat Pak Ustad, Alhamdulillah,” jawab Sukamto.

        “Iya sehat,” sambung Puji sambil memegang batang rokok, “Tapi kantong kami tak sesehat badan kami Pak Ustad. Bagaimana ini?” Dia tersenyum lugu. Lalu memberikan api pada rokok, meneladani apa yang sudah Sukamto lakukan tadi.

        “Hei Bung! Apa maksudmu kami? Jangan pernah kau samakan aku denganmu. Paham kau?” Rupanya bagi Sukamato kata-kata Puji nampak tidak segar.

“Hei, hei, memangnya kau sudah jadi orang kaya Bung?” Tanyanya lirih tapi bernada tinggi. Berharap Pak Ustad mendengarnya samar-samar.

“Ya belum,” jawab Sukamto ikut lirih dan bernada tinggi.

“Ya sudah kalau begitu. Repot!”

        “Sudah-sudah,” Pak Ustad ikut bicara, melerai.“Tidak baik itu marah-marah.”

        “Ah, Pak Ustad ini. Siapa yang marah-marah? Hanya sedikit lelucon khas kami saja Pak,” kata Sukamto mencoba menenangkan.

        Pak Ustad manggut-manggut. Ia arahkan pembicaraan untuk mengomentari pertanyaan Puji tadi: Kantong kami tak sesehat badan kami.

        “Jadi, apa masalah kalian sekarang?”

        Sukamto dan teman sesama penganggurannya pun berusaha untuk saling melengkapi menjelaskan segala problematika pada Pak Ustad. Tentang keinginan jadi kaya. Tentang problematika hidup yang kian mendesak. Tentang nuansa bujang yang mengenaskan. Dan tentang hujatan dari Sukamto kepada Tuhan karena tak pernah dikabulkan doa-doanya, meski seribu satu doa terpanjat di setiap usai salat.

        Semula aku melihat Pakdhe sanggup memahami problematika yang mereka sedang hadapi. Namun terdapat satu bagian yang membuat Pakdhe kecewa berat, yaitu hardikan Sukamto pada Allah!

        “MasyaAllah, Akh Kamto! Benar kau mengata-ngatai Allah seperti itu? Cepatlah sekarang mohon ampun sebelum Dia murka besar padamu, Akh!” Perkataan Pak Ustad itu begitu lantang lagi tegas. Membuat Sukamto menentang pernyataan dari Pak Ustad.

        Aku jadi tahu,  terkadang ucapan meskipun benar dapat menjadi menyakitkan karena tidak dikelola dengan baik. Sehingga Sukamto berusaha berontak. Ia merasa terusik hatinya.

         
        “Mohon ampun? Panjenengan apa sedang bercanda? Tidak. Itu tidak akan.”

         “Baiklah Akh Kamto. Maafkan perkataan tak berkenan saya. Tapi mari kita hindari untuk berdebat. Sekarang bolehkah saya membantu masalah-masalah kalian?”

        “Sebaiknya memang begitu. Sekalipun Anda Ustad, jangan asal main perintah!”

        Na’am. Tapi, sebelum saya membantu masalah-masalah kalian, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan. Dijawab ya, Akh.”

        “Ya, ya, ya,” jawab Sukamto membosan. “Pertanyaan apa Pak Ustad yang baik hati dan lembut sepak terjangnya?!” Tanyanya sedikit jengkel.

        Mendengarnya, si Puji yang sedang asyik menghirup asap rokok berseloroh, “Oh, benar Pak Ustad yang baik hatinya. Pertanyaan apa itu?” Ia menggoda.

        Pakdhe tetap bersikap tenang. Aura wibawanya seolah nampak sekali dari sikapnya ini.
        “Kalian ini, ada-ada saja.”

        Aku perhatikan beliau. Kira-kira dua menit Pakdhe sempat berhenti bicara. Di sisi lain, mereka –Sukamto dan Puji- aku lihat seperti menunggu yang hendak diucap Pakdhe. Usai seratus-duapuluh-detik, mulailah Pakdhe ­buka mulut.
Tak sabar mereka menunggu pertanyaan dari Pak Ustad.

        “Oh iya, Akh , maaf,” kata beliau membuat mereka berkerut dahi. “Sebentar. Saya lupa akan sesuatu. Ini terdapat satu kalimat penting dan itu harus terus kalian ingat-ingat. Nanti bisa kalian gunakan untuk membuka pintu apa saja. Seperti Doraemon. Diingat-ingat saja, penjelasannya akan saya sampaikan nanti setelah pertanyaan-pertanyaan saya kalian jawab. ”

        “Kalimat apa lagi itu Pak Ustad yang lembut sepak terjangnya?” Seloroh si Puji lagi. Memang, Puji adalah tipikal orang yang selalu bersemangat. Jadi, walau banyak problematika, dia selalu nampak ceria. Beda jauh dengan Sukamto, si pengangguran kelas atas itu. Geleng kepala aku dibuatnya.

        “Kalimat itu adalah: ‘Pilihan ada di dalam genggaman tanganmu!’. Ya, pilihan ada di dalam genggaman tanganmu.  Gampang dan mudah diingat bukan?”
        “Pilihan ada di dalam genggaman tanganmu, ya? Hmm… Oke!” Ujar si teman dalam pengangguran.
        “Oh ya, ya. Pilihan ada di dalam genggaman tanganmu. Akan saya ingat-ingat,” setuju Sukamto, lesu.
Pak Ustad mengangguk-angguk. Kemudian mulai bertanya,

        “Ini pertanyaan untukmu Akh KamtoDi waktu kau kecil dahulu, mainan apa yang paling kau sukai?”
Ia coba mengingat-ingat.

        “Tamia. Karena saya suka betul dengan mobil-mobilan.”

        “Baiklah. Berapa harganya dulu?”
        “Macam-macam. Ada yang sepuluh, ada yang limabelas, limapuluh juga ada.”                                             
        “Pernah membelinya?”
        “Pernah. Tapi yang harganya limabelas ribu. ”
        “Uang dari siapa itu? Tabungan atau dari orang tua?”
        “Dari orang tua saya.”
        “Nah, kenapa kau bisa memiliki mainan itu. Apakah orang tua yang senantiasa memberikanya tanpa kau minta atau orang tuamu memberikannya lantaran kau meminta untuk dibelikan?”
        “Waktu itu saya minta Ibu untuk membelikan.”
        “Yang beli di toko tamia kau sendiri atau Ibumu yang pergi? ”
        “Saya sendiri ditemani dia. ” Ia menunjuk Puji di sampingnya.

        “Aku?” kata temannya itu sembari mengingat. “Inggih, betul Pak Ustad. Dulu dia pernah meminta saya mengantar karena saya memang punya sepeda untuk mengantarkannya. Sedangkan dia tidak. Karena perjalanannya radha jauh, tidak mungkin dia berjalan kaki, sendirian. Dia ‘kan gampang capek! Kalau dia ada apa-apa bisa rumit masalahnya. Tapi sebagai imbalannya saya diberi upah es jeruk seharga 400 rupiah.” Dia lalu tertawa.

        Pak Ustad tersenyum. Di samping, Sukamto bibirnya malah mengerucut sebab tak terima dikatakan begitu oleh temannya. Gampang capek? Hmm…

    “Hmm… Ibu memberikanmu uang sejumlah limabelas ribu untuk kau belanjakan sebuah mobil Tamia,” sambung Ustad asli Jogja itu. “Akh Kamto, tahukah kenapa Ibumu tidak membelikanmu langsung Tamia saja, melainkan malah memberimu uang limabelas ribu untuk kau belanjakan sendiri?”

         
       “Pada awalnya sih saya juga meminta ibu mengantarku karena saya belum tahu dimana letak toko Tamia. Tapi Ibu tidak mau. Ibu bilang saya yang harus mencarinya sendiri. Mungkin Ibu merasa sudah memberikan uang, jadi tidak mau lagi jika harus mengantar-mengantar segala. Akhirnya saya meminta teman saya ini mengantarkan dengan imbalan es jeruk ala Jogja. Benar harga es jeruk saat itu 400 perak.” Jelas Sukamto pada Pak Ustad.

   “Begini ya. Keinginanmu memiliki Tamia dimisalkan saja sekeras batu. Alhamdulillah Ibumu merestui dengan membelikanmu mobil-mobilan itu. Tetapi Akh Kamto, seandainya ketika di tengah jalan menuju toko tiba-tiba pandanganmu tergoda oleh nasi gudeg dan kemudian kau gunakan uang itu untuk membelinya sehingga uangnya habis, bagaimana? Ini dimisalkan saja, Akh. ”

        “Ya Ibu saya bisa marah. Wong uang itu seharusnya dipakai beli Tamia. Kalau tidak marah ya mungkin saya tidak akan diberi uang lagi untuk membelinya. Karena bagi kami uang limabelas ribu adalah jumlah yang sangat besar. Dan itu sudah saya sia-siakan.”

        “Tepat sekali !!!”
Tiba-tiba Pak Ustad bersuara lantang membuat kedua bujang pengangguran itu tersentak. Keluarlah kata-kata kasar dari mulut mereka berdua. Tapi sambil lalu, suasana jadi aman terkendali lagi.

       “Maaf, maaf sudah membuat kalian kaget.” Pakdhe mengatakannya halus, kemudian mengajak membicarakan problematika mereka yang ada kaitannya dengan masa-masa kecil ini.

       “Mari Akh Kamto kita misalkan posisi Allah sama dengan posisi Ibumu. Mainan adalah kekayaan yang kau inginkan. Uang adalah media untuk membeli mainan. Dan temanmu adalah seseorang yang dikirim Allah untuk membantumu. Paham Akh Kamto?”

    “Lanjutkan saja Ustad,” pintanya cuek tetapi aku melihatnya berusaha untuk memahami.

       “Ketika kau berdoa, Akh, itu sama halnya dengan pintamu pada Ibu untuk membelikan  mainan. Hanya, di situ kau meminta kekayaan pada Allah, Dzat Yang Maha Mengabulkan. Sama juga seperti Ibu yang malah memberikan uang sejumlah limabelas ribu padahal kau minta Tamia, mungkin saja Allah mengabulkan doamu tapi lewat media juga. Jadi, uang itu adalah mediamu untuk mendapatkan Tamia.”

       “Nah, Pak Ustad,” seloroh si bujang yang dipanggil Pak Ustad Akh Kamto, “Dalam kasus sayaini, apa yang menjadi medianya?”

        “Baik.” Pak Ustad menjawab dengan nada senang karena Sukamto sudah mulai mengkritisi ucapannya. “Media bisa bermacam-macam, sesuai kehendak Rabbi. Mungkin setelah lama kau berdoa ada sesorang yang memberimu modal usaha sehingga kau dapat berwirausaha dan mencapai sukses bersamanya. Tapi kau tidak sadar mengenai hal itu dan menolak pemberian modal darinya. Atau, kau pernah diajak seseorang untuk berwirausaha namun menolaknya. Bagaimana?”

        “Tidak. Kedua-duanya tidak ada dalam catatan hidupku.”

        Sepertinya aku menemukan rona wajah terkesima di wajah Pakdhe. Mungkin beliau terkesima pada gaya bahasa Sukamto yang melangit dan menawan. Kata ‘dalam catatan hidupku’ rupanya dapat menggoda Pakdhe. Tapi ia mencoba menyembunyikan kekagumannya di dasar hati. Beliau memilih melanjutkan pembahasan.

        “Kalau begitu bagaimana dengan buku-buku? Mungkin kau pernah menemukan buku bagaimana membangun kesuksesan. Tapi kau tak sadar bahwa buku itu dapat membantu meraih impianmu. Atau kau malah tak berkenan membacanya? Itu, Akh  Kamto, juga dapat menjadi mediamu!”

        “Bagaimana membaca. Melihat buku saja muak!” suara Sukamto yang dinaikkan beberapa oktaf.

        “Baik. Bagaiman jika dengan wirausahawan di dekat rumah? Apakah ada?” Kata Ustad tenang.

        “Ada apa dengannya?” Tanya Sukamto.

        “Ya kau dapat belajar dari pengusaha itu lah! Tentang caranya bagaimana biar  jadi orang kaya!” Tiba-tiba teman penangguran Sukamto angkat bicara. Seakan ia mengeluarkan jurus elemen petirnya.

        “Heh! Diem kau, ikut-ikut saja!” komentar Sukamto keras, karena terganggu oleh suara elemen petir Puji.

        “Benar temanmu Akh Kamto. Kau dapat belajar darinya,” ujar Pakdhe membela si teman penganggurannya itu.

        “Tapi tidak ada pengusaha seperti pemilik toko di Malioboro si sini. Pengusaha di sini sebagian besar juga miskin. Bagaimna bisa belajar dari mereka?”

        Pak Ustad memaklumi. Ia arahkah saja pembicaraan pada alur yang lain. Tapi tidak merusak tema pembahasan sedikitpun.

        “Masihkah ingat dengan apa yang saya tadi pinta kalian mengingat-ingatnya?”

        “Pilihan ada di genggaman tanganmu?” Tanya Sukamto segera.

        “Benar.”

        “Terus?”

        “Ini tentang bagaimana kau menyambut apa yang sebenarnya sudah Allah kabulkan dari doa-doamu. Kita andaikan Allah sudah memberikan media-Nya padamu berupa buku-buku. Sekarang, apakah kau akan menggunakan buku-buku itu sebagai mediamu untuk meraih mimpi atau malah kau belikan nasi gudeg Jogja?” Pak Ustad mengatakan sambil senyum. Dia pasti berharap Sukamto mengerti maksudnya mengatakan dibelikan nasi gudeg.

        “Oh, jadi begitu. Saya paham. Apakah saya memilih buku itu untuk  saya jadikan guru belajar saya, ataukah saya memilihnya untuk disia-siakan? Jadi, pilihan diantara dua ini ada di dalam genggaman tangan saya. Benarkah seperti ini?”
Allahukariim... Akhirnya kau mengert juga Akh Kamto. Sungguh Allah telah karuniakan padamu pikiran yang mengagumkan! Iya, Akh, ini yang saya maksudkan.”

        “Tapi Ustad. Kalau medianya tetap tidak saya temukan, bagaimana?” Sukamto bertanya ingin tahu lebih jauh.

        “Kembalilah berdoa. Berdoa seirama dengan harap dan inginmu. Ingat, dengan harap dan inginmu! Jika Ibumu saja memberikan apa yang kau pinta, mengapa Allah tidak, Akh? Allah pasti akan menjawa doa-doamu,” jawaban Pakdhe bermaksud menyenangkan dirinya.

        Sukamto menunduk, terdiam. Tak kumengerti seperti apa maknanya. Apa ia sedang memikirkan sesuatu? Tapi apa? Pakdhe yang oleh orang-orang kampung dijuluki Pak Ustad itu membiarkan Sukamto tetap menunduk. Malahan Pakdhe juga ikut diam tanpa kata. Sedangkan Puji, ia lemparkan pandangannya ke arah selatan. Aku ikuti pandangannya. Tak ada apa-apa. Sekadar sawah yang sedari dahulu tetap ada di situ. Kenapa suasananya jadi sunyi begini? Sore nan sunyi. Apa yang mereka pikirkan dalam temaran yang sesore ini?

        Lama…

        Hampir saja aku jenuh memata-matai gerak-gerik mereka. Kuminum saja minuman di meja sebelahku. Kuhentikan sejenak bernafas ketika minum. Oh, segar sekali. Lama diam, Sukamto memulai kembali pembicaraan. Ia jelaskan pada Pakdhe bahwa sebenarnya ia yakin Allah itu Maha Mengabulkan. Hanya, karena Allah tiada menyegerakan terkabulnya doa, maka ia kecewa kemudian ingkarlah pada tali Allah. Ia juga mengatakan bahwa Allah telah menjawab doa-doanya dengan media berupa buku-buku. Dulu ia begitu sering membaca buku. Bahkan buku bagaimana dari kerajinan tangan menuai kekayaan pernah dibacanya. Sayang, sedikitpun ia tak hendak mempraktikkan isi dari buku tersebut. Karena, di setiap kali mencoba, semangatnya sudah lebih dahulu tumbang sebelum mulai untuk berjalan. Mungkin kata motivasi diri dan konsistensi terlalu berat padanya untuk dimengerti. 
     
   Tetapi, nasihat Pakdhe telah membuka cakrawala baru untuknya bahwasanya cita-cita tanpa perjuangan ialah putih dikemudiannya. Tak ada warna-warni pelangi yang akan membuat hidup menjdai lebih hidup. Ia sesali diri kenapa tak memilih jalan para pejung sejati dan malah tak acuh terhadap jawaban-jawaban dari Allah, Dzat Yang Maha Menunjukkan. Sesal berjuta sesal menggelayuti dirinya. Satu hal, tentu: dari sini aku jadi tahu kenapa ia tadi sempat terdiam, menunduk… Ia menyesal!

        Oh, sekalipun dunia ada begitu cepat dan sesaat, soal cita-cita, ia tak memperkenankan setiap insan untuk dapat meraihnya dengan cepat. Ia adalah tinggi, sehingga perjuangannya pun haruslah tinggi. Tetapi, jika perjuangannya saja tidak dilalui, apa kata dunia nanti? Maka, seperti yang Pakdhekatakan, apakah hendak menempuh jalan perjuangan ataukah tidak, apakah hendak melewati jalan pengorbanan demi impian tertinggi ataukah tidak, maka, semua pilihan ada di genggaman tanganmu!

        ‘Pilihan ada di dalam genggaman tanganmu!’ menjadi sebaris kalimat yang indah dan memiliki segudang arti bagi Sukamto, kini.

        Teman, aku jadi teringat puisi Pakdhe yang dulu pernah kutemukan di meja kamarnya. Pakdhe bilang puisi itu ditulis saat berumur 20 tahun. Dihitung-hitung puisi itu sudah berumur 18 tahun. Judul puisi itu persis dengan apa yang dipesankan Pakdhe, kepada dua bujang pengangguran tersebut. Sukamto dan Puji, nama mereka. Begini isinya,

        Saat harapan-harapan menghilang
        Saat pikiran malah melayang-layang

        Wahai Teman,
        Buka tangan kanan, temukan angka satu dan delapan
        Buka tangan kiri, temukan angka delapan dan satu
        Atas-bawah-kan tanganmu
        Dan jumlahkan angka di situ
        Lihat, ada angka sembilan dan sembilan!

        Maka,
        Akan aku bisikkan sesuatu kepadamu
        Tentang kekuatan yang kupakai untuk menerjang waktu
        Di dalam genggaman tangan
        Kumemiliki angka sembilan dan sembilan
        Wahai Teman,
        Di situlah kekuatanku
Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *