Sunday, January 13, 2013

Berlibur ke Benteng Vredeburg



         Reportase ditulis oleh: Shabrina Kurniasar -- SMA N 1 Sewon Bantul
  Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

            www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik

            FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik 

____________________________________________________________



       Minggu pagi  yang cerah, disertai cahaya mentari yang perlahan – lahan muncul menghangatkan tubuhku, aku menunggu balasan dari teman – temankuyang rencananya akan   menghabiskan hari libur bersama. Aku berencana akan pergi ke gedung Vredeburg, selain berlibur aku juga ingin menambah wawasan. Aku , pergi bersama tiga orang temanku Fida, Dian, dan Yuris. Kami berangkat bersama menggunakan bis Trans Jogja.Kami tiba di Benteng Vredeburg pukul 10.00 pagi.

          Sesampainya di Benteng Vredeburg aku bersama teman – teman langsung mengabadikan moment kami dengan berfoto bersama, di salah satu situs bangunan di Benteng Vredeburg.Aku bersama teman – teman ditemani seorang guide/pendamping bernama bu Rita.Sepanjang perjalanan beliau menemani dan menjelaskan berbagai macam situs bangunan yang kami lewati.

        “Benteng yang dibangun pada tahun 1765 oleh Pemerintah Belanda ini digunakan untuk menahan serangan dari Kraton Yogyakarta. Dengan parit yang mengelilinginya, benteng yang berbentuk segi empat ini memiliki menara pengawas di ke-empat sudutnya dan kubu yang memungkinkan tentara Belanda untuk berjalan berkeliling sambil berjaga-jaga dan melepaskan tembakan jika diperlukan.” Kata bu Rita menerangkan. 

        “O…” jawab serempak aku,dan teman –teman. 

        “Ehm..saya dengar di sini juga punya meriam ya bu?” tanya Fida pada bu Rita. 

        “iya, benar disini memang ada meriam, yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1765.” Jawab bu Rita. “Sama, saya ingin tau,  sebenarnya luas benteng Vredeburg itu sendiri berapa?” Tanya Dian dengan penasaran.“Luas benteng ini kurang lebih 2100 meter persegi.”

          “Wah, kalian semua ini kayaknya bersemangat banget ya? Dari tadi tanya terus, emang sebelumnya kalian belum pernah kesini?” Tanya bu Rita dengan semangat. 

        “Sebenarnya kami pernah kesini bu, tapi buat foto – foto aja, hehehe . .” jawab Yuris dengan sedikit malu – malu. 

        “Iya, kami kesini ngambil foto buat buku tahunan sama kami juga ngambil foto di pos Indonesia, sama di deket tulisan yang ada aksara jawanya bu.”Jawabku panjang lebar. 

        “O, ya bu sama pas waktu ngambil foto buat buku tahunan Fida itu ekspresinya lucu banget lho bu, masa pas di foto dia malah ngowohmulutnya pas lagi terbuka, wah pokoknya lucu deh bu, coba kalau ibu liat pasti bakal ketawa. Hahaha . . .” jawabku panjang lebar. 

        “Hush, kamu itu jangan di critain dong aku kan malu.” “la habis gimana, pas waktu itu kamu itu lucu banget e.”jawabku. “Udah – udah kalian itu guyon terus.” Lerai Yuris.

        “Hem, bu koleksi apa saja yang dimiliki benteng Vredeburg?” Tanya Yuris, dengan rasa ingin tau.” Bangunan-bangunan peninggalan Belanda, yang dipugar sesuai bentuk aslinya.

      Diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan masa Orde Baru. - Koleksi benda-benda bersejarah, foto-foto, dan lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mencapai, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia.” O… “jawab kami serempak.


          ======

Allahu akbar,allahu akbar,allahu akbar . . . 

Terdengar kumandang suara azan. 

“Eh, udah azan tu, solat dulu yo,” ajakku pada teman – teman. 

“Iya” jawab teman - teman ku. Bu Rita yang ternyata seorang nasrani, mempersilahkan kami untuk menunaikan kewajiban solat, memenuhi panggilan Illahi. Kami melaksanakan solat di mushola yang  tersedia di Benteng Vredeburg. Sebelumnya kami sudah janjian akan bertemu di tempat tadi. Setelah melaksanakan salat duhur, kami berjalan menemui bu Rita.Kami diajak bu Rita mengelilingi dan melihat – lihat benteng Vredeburg sambil dijelaskan mengenai beberapa bangunan yang kami lewati.

“Waw, ternyata Benteng Vredeburg kalau dilihat – lihat bagus juga ya? Baru sadar, Hehehe…” kataku penuh kagum.

“Masyaallah ternyata kamu baru sadar to ta? La, dari tadi itu kamu ngamati apa ?” tanya Yuris. 

“Ngamati apa ya lupa , hehehe.. jawabku. 

“Eh, kita ambil foto disitu yuk, ayo ibunya juga. Ajakku.

“Ah, enggak ah, dari tadi foto terus. Tadi baru nyampe aja langsung foto – foto.” Jawab Yuris. ”Halah cuma dua atau tiga jepretan doang, ayo to sini.” renggekku. . 

“Hiih..iya, iya.” Jawab Yuris dengan gemas. 

“Ayo cepetan, nanti enggak selesai – selesai ni.” jawabku.

“Iya buk, sabar buru – buru amat sih.”

Jawab Dian dan Fida dengan nada sedikit kesal.Aku  minta tolong sama salah satu pengunjung untuk mengambil gambar mereka. 

“Oke, siap ya..satu, dua, tiga, jepret..” Bentar – bentar mas, ganti posisi dulu, sabar, oke siap.” pinta Dian. “satu, dua jepret ..”

“Makasih ya mas, maaf lho udah ngrepotin. Mas, kalau misalnya nanti ketemu di tempat wisata lain tolong fotoin lagi ya, hehehe… Apa masnya juga mau ikut difoto?” kata ku dengan nada canda. 

“Hush..kamu itu ngawurta.” Kata Dian dengan nada sedikit sebel.

“Halah, cuma bercanda kok.”Jawabku santai. 

“Udah yuk, ayo kesana.” ajak Fida. 

“Eh, sebentar istirahat dulu dong, capek ni.” Pinta kuaku yang sudah ngos – ngosandan berkeringat dari tadi. 

“Ya ampun Renata, kamu itu masa baru jalan dikit udah capek sih, manja.” Kata Yuris dengan sedikit kesal. 

“Eh, beneran capek banget ini, kalau nanti aku pingsan, mau gendong?” balas Renata yang enggak mau ngalah. 

“Udah – udah istirahat sebentar aja, aku juga agak capek.” bela Fida.

“Aku juga, duduk sini bentar ya.” kata Dian.

Kami duduk dibawah pohon, bersantai, dan sambil minum es dawet  yang dijual abang dawet yang kebetulan lewat. Sambil istirahat, disertai dengan berhembusnya angin sepoi – sepoi yang membelai halus wajah dan mengibarkan  lembut kerudung yang dikenakan aku, Fida, dan Dian. Dengan suasana yang nyaman dan tenang ini membuat ku dan kedua temanku  mengantuk dan akhirnya tertidur, tidak halnya dengan Yuris yang sebentar lagi akan mengeluarkan jurusnya untuk bertanya lebih dalam mengenai benteng Vredeburg, Yuris memang anak yang berbeda, dia memiliki rasa ingin tahu yang besar dari pada teman – temannya. 

Dengan wajah penuh penasaran Yuris bertanya pada bu Rita “Bu, sebenarnya sejarah Benteng Vredeburg itu gimana sih?.” 

“Hem, kamu ini anak yang kritis ya, banyak ingin tau. Museum Benteng Yogyakarta, semula bernama "Benteng Rustenburg" yang mempunyai arti "Benteng Peristirahatan" , dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah Keraton. Berkat izin Sri Sultan Hamengku Buwono I, sekitar tahun 1765 - 1788 bangunan disempurnakan dan selanjutnya diganti namanya menjadi "Benteng Vredeburg" yang mempunyai arti Benteng Perdamaian."

Secara historis bangunan ini sejak berdiri sampai sekarang telah mengalami berbagai perubahan fungsi yaitu pada tahun 1760 - 1830 berfungsi sebagai benteng pertahanan, pada tahun 1830 -1945 berfungsi sebagai markas militer Belanda dan Jepang, dan pada tahun 1945 - 1977 berfungsi sebagai markas militer RI.

Setelah tahun 1977 pihak Hankam mengembalikan kepada pemerintah. Oleh pemerintah melalui Mendikbud yang saat itu dijabat Bapak Daoed Yoesoep atas persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku pemilik, ditetapkan sebagai pusat informasi dan pengembangan budaya nusantara pada tanggal 9 Agustus 1980.

Pada tanggal 16 April 1985 dipugar menjadi Museum Perjuangan dan dibuka untuk umum pada tahun 1987. Kemudian pada tanggal 23 November 1992 resmi menjadi "Museum Khusus Perjuangan Nasional" dengan nama "Museum Benteng Yogyakarta". 

“O.. begitu, makasih  ya bu, atas penjelasannya. Dengan ini, saya sama teman – temanbisa  mengenal lebih dekat tentang benteng Vredeburg, dan nambah wawasan," kata Yuris, mengucapkan rasa terima kasihnya, dengan sumringah

Aku yang tiba- tiba terbangun mengagetkannya “Gimana, udah puas belum nanyanya?.” 

Yuris, yang sempat kaget, menoleh “Eh, Renata ngagetin aja , kamu sendiri uda puas belum tidurnya?.” tanya Yuris dengan tersenyum. 

“Hehehe, lumayanlah walaupun belum puas sih..” jawabku sambil meringis memamerkan kedua gigin yang besar seperti kelinci. 

“Fida, Dian pulang yuk udah siang nih.” ajak ku. Fida dan Dian segera terbangun dari tidurnya. 

“Huah… ayok.” ajak Dian. 

“Ya udah, yo  pulang,” jawab Fida. 

Tak terasa jam ditangan ku  sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Akhirnya aku dan teman - teman memutuskan untuk pulang, kami keluar dari benteng Vredeburg dan menuju halte bus Trans Jogja terdekat. Sesampainya di halte, aku  merasa puas atas kunjungan yang menyenangkan di benteng Vredeburg dan berharap suatu saat nanti bisa berkunjung ke sana lagi, ya suatu saat nanti. 
Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *