Sunday, January 13, 2013

Sebuah mimpi dalam mimpi

Cerpen ditulis oleh: Afifah Nur Rahmah -- SMK N 5 Yogyakarta
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
Twitter: @kpp_menulis | klik
________________________________________
sumber foto



Hari sudah beranjak malam saat aku dan tiga temanku melintasi sebuah pohon beringin di pinggir jalan. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat kami pulang dari rumah salah satu teman kami yang terletak di dekat nol km kota Yogyakarta. Namun kami mungkin kurang beruntung karena ban mobil yang kami naiki bocor, sedangkan tidak ada ban cadangan yang biasanya di letakkan di belakang bagasi mobil. Hari sudah terlalu larut untuk mencari tukang tambal ban yang masih buka. Akhirnya kami semua sepakat untuk menginap di mobil malam ini.

       Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lebih lima menit saat aku terbangun dari tidurku. Aku memandang keluar jendela di sebelah kiriku dan terkejut. Aku melihat ada seberkas cahaya yang keluar dari pohon beringin di samping mobil. Aku menyikut lengan Arial, salah satu teman yang duduk di sebelahku.

        “Arial, bangun! Itu ada sesuatu,” bisikku pelan.

    “Apaan sih, Na? Aku masih ngantuk,” jawabnya dengan mata masih terpejam.

    “Bangun, lihat sendiri!” ujarku. Kali ini lebih keras. Arial mengucek matanya, kemudian memandang keluar jendela. Dia sama terkejutnya denganku melihat ada seberkas cahaya yang keluar dari pohon beringin di samping mobil.

       “It..I-tt-tu.. Huwaaa!!” Arial berteriak dan membangunkan yang lain.

       “Ada apa sih? Berisik!” ujar Dea, temanku yang duduk di kursi depan dengan kesal. Dia merasa terganggu.

       “It-ttu, Ya. Lihat aja sendiri,”Arial memberi penjelasan sambil menunjuk keluar jendela di mana pohon beringin itu berada. Dea sama terkejutnya. Kemudian dia membangunkan temanku yang satu lagi, Mega. Mega tadi memang sempat bangun sebentar, kemudian tidur lagi. Berbeda dengan kami semua, Mega tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun, tapi justru dia merasa penasaran.

       “Ayo kita periksa,” ujar Mega sambil menyeringai. Kemudian dia membuka pintu mobil di sebelahnya dan keluar. Dengan ragu-ragu kami mengikutinya.

       “Mega, aku takut,”ujar Arial yang memang paling penakut di ntara kami semua.

       “Kalau kita tidak memeriksanya, kita tidak akan tahu cahaya apa itu,” jawab Mega santai.

        Kami sudah berada di depan pohon beringin itu. Mega berdiri paling depan sementara aku, Dea, dan Arial berdiri di belakangnya sampil memegangi ransel miliknya. Semakin kami dekat dengan pohon itu, cahayanya semakin besar. Cahayanya menyilaukan mata. Kemudian kami secara perlahan seolah-olah seperti terseret ke dalamnya.

        Beberapa menit kemudian, cahaya menyilaukan tadi perlahan pudar, tapi pemandangan di depan kami sungguh mengerikan. Api ada di mana-mana, orang-orang berlarian, teriakan kesakitan yang meyayat hati pun terdengar. Di ujung sana terlihat seseorang yang di rantai dan di cambuk dengan sadisnya oleh orang bertudung hitam. Bukan cambuk biasa, tapi sebuah cambuk dari besi yang sudah dipanaskan. Di ujung lain terlihat seseorang yang bertudung hitam juga sedang mengiris sesuatu. Tapi, astaga.. di sebelah daging merah itu ada sebuah.. Kepala manusia! Perutku mual melihat semua itu, begitupula dengan teman-temanku yang wajahnya sudah menjadi sangat pucat. Kami merasa takut melihat itu semua. Kami seperti melihat sebuah pembantaian yang nyata dengan latar belakang langit berwarna ungu.

        Salah satu orang yang bertudung hitam tadi menoleh ke arah kami. Ternyata dia bukan manusia, tapi sebuah tengkorak! Wajahnya begitu mengerikan dengan banyak belatung dan cacing yang keluar dari rongga matanya yang kosong. Tubuhku gemetar hebat, kemudian segalanya menjadi gelap.

        Saat aku tersadar aku sudah berada di mobil kembali dengan keringat bercucuran. Aku lega semua itu hanya mimpi. Aku melihat sekelilingku dan tidak menemukan teman-temanku. Mobil yang aku naiki bergoncang dengan hebatnya, saat aku melihat keluar jendela mata ku terbelalak. Ternyata mobil ini sedang terombang-ambing dalam lautan merah. Bukan, tapi lautan darah!
“Tidaaaak!!” aku berteriak dan terbangun. Ternyata aku hanya bermimpi. Keringatku sudah bercucuran. Sebuah mimpi dalam mimpi. Saat aku melihat sekitarku aku merasa lega. Teman-temanku ada di tempatnya masing-masing. Matahari juga sudah mulai terbit dan menyuguhkan pemandangan yang indah. Mendengar teriakanku mereka semua terbangun. “Kamu kenapa, Na?” tanya Arial. Aku hanya menggeleng pelan.

       Mobil kami meninggalkan tempat itu. Aku menoleh kearah belakang mobil dan melihat ada tengkorak bertudung hitam menatapku dari arah jalan tak jauh di belakang mobil. Aku terlonjak kaget. Tapi secepat itu pula tengkorak tadi menghilang tanpa meninggalkan bekas.

___________________________________________

Yogyakarta, 10 Januari 2013
20.42 WIB

*Catatan : Kisah ini terinspirasi dari sebuah pohon beringin di Taman Budaya Yogyakarta. Pohon itu berada di belakang pendopo tempat minggu kemarin KPP mengadakan latihan. Karena posisi dudukku waktu itu mengahadap pohon beringin tadi, aku menjadi ingin menuliskan cerita tentang itu. Meskipun jadinya malah seperti ini. 
Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *