Wednesday, January 9, 2013

Asa Bersuara

Cerpen ditulis oleh: Rizki Kurniawan Saputra --- SMA N 1 KASIHAN (TIRTONIRMOLO)
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

            
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik

FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
Twitter: @kpp_menulis | klik
___________________________________________________________
sumber foto

    Biry sudah merasa sangat lapar, tapi sudah lebih dari lima belas menit Ibunya belum juga kembali ke sarang. Dia benar-benar khawatir jika Ibunya gagal dengan tidak berhasil membawakan makanan untuk Biry dan Stely, serta yang paling ditakutkan tentu jika Ibunya terjebak dalam perangkap manusia.

    Biry memandangi adiknya yang baru saja bangun tidur karena lapar. “Sabar ya, dik. Sebentar lagi Ibu pasti juga kembali”.

    Pukul 09.20 pagi. Matahari masih tertutup awan. Suara kicauan burung diarea Taman Budaya Yogyakarta masih sedikit, kecuali Stely yang sudah mulai berkicau walaupun pita suaranya belum terlalu tebal sehingga tak seindah suara Biry dan Ibunya.

    “Kak, Ibu kemana sih?”. Sambil mengibaskan sayap, dia balik memandangi kakaknya.

    “Sabar, dik. Tunggu sebentar lagi ya”. Dia tersenyum kepada adiknya sambil melihat sekeliling luar sarangnya. “Adik kalau kakak tinggal pergi keluar mencari Ibu sebentar berani?”. Sambil membujuk.

    Stely memegangi perut nya yang mulai bertabuh. “Tapi janji jangan lama-lama ya, kak”

    Kemudian Biry pun pergi meninggalkan sarang yang sudah hampir seminggu itu ada diujung pohon beringin dipinggir jalan yang mulai ramai. Dia terbang sambil berkicau kearah barat. Tapi tidak berselang lama, sang Ibu ternyata baru saja mendarat dan sampai disarang yang tadi terbang dari arah timur. Mereka sama sekali tidak berpapasan. Ibu yang baru saja sampai langsung meletakan makanan dan disambut hangat oleh Stely sambil membuka paruh kecil nya.

    “Kakak mu kemana?”. Sambil membantu Stely makan.

    “Lho barusan kakak keluar mencari Ibu”

    “Tapi tadi Ibu ndak ketemu sama kakak mu. Ah... nanti juga pasti kembali”

    Biry terbang tidak terlalu jauh dari sarang nya, dia masih tidak berani terbang begitu jauh. Dia berhenti dan bersandar disebuah ujung genteng gedung tua yang menghadap ke timur, cukup dekat dengan sarang nya yang ada diarah utara timur laut dari tempat dia berdiri. Dia lupa akan tujuannya keluar sarang, padahal untuk mencari Ibu, tapi pandangan nya terpaku pada sebuah objek. Menikung ke bawah disebuah pendopo yang letaknya ada dibawah pohon besar tempat sarangnya itu berada.

    Biry melihat seorang remaja pria sedang membuka tangan dan menempelkan didaun telinga nya, seperti mendengarkan sesuatu. Pria itu berbaju merah kotak-kotak bercelana panjang, alis nya cukup tebal hingga memberi kesan teduh pada tatapannya, bibir bagian atasnya pun menyatu sempurna dengan bagian bawah, apalagi saat pria itu tersenyum maka lesung pipi nya itu murah sekali terlihat. Setiap Biry berkicau, pria itu terkagum. Semakin serius mendengarkan, bahkan jemari kecil nya menggoyangkan sebuah pena diatas kertas putih.

    Sesekali pria itu menatap ke atas dan melihat Biry bersandar diujung genteng. Matanya kian berbinar, tangan nya ikut bergetar dan halaman dari kertas tadi semakin cepat dibalik olehnya. 

     “Lihat, itu ada burung diatas genteng, bagus ya”. Pria itu menepuk pundak teman disamping nya sambil menujuk kearah Biry.

    Biry semakin paham mengapa pria itu tersenyum ketika mendengar kicauan nya. Dia juga tau kalau dirinya sedang diperbincangkan, bahkan dia sempat heran bahwa ternyata masih ada manusia yang menganggap burung emprit jawa kecil seperti Biry itu bagus. Tau akan hal itu, Biry semakin memperjelas dan memamerkan kicauan terindah nya.

    “Pria itu seorang penulis ternyata, dan sepertinya dia sedang menulis tentang aku”. Biry terbang dan kembali ke sarang.

    Disambutlah oleh Ibunya. “Dari mana saja kamu, Bir?”.

    “Tadi saya berniat mencari Ibu, tapi…”

    “… kamu ndak cepet-cepet langsung pulang, iyakan? Ibu itu sudah pulang dari tadi”. Ibunya sedikit marah karena khawatir dengan Biry yang belum begitu dewasa.

    “Tadi aku malah melihat seseorang, Bu. Dia mendengarkan kicauan ku. Seperti nya dia sedang menulis tentang burung dan itu aku”.

    “Jauhi manusia !!. Apa kamu tidak ingat dulu ayahmu ditembak oleh manusia?”. Ibu nya mendekat kearah Biry dan menajamkan tatapan.

    “Tapi… dia sepertinya beda dengan manusia lain, Bu.  Tatapan nya teduh, aku bisa tau itu. Mungkin dia bermimpi untuk bisa terbang seperti kita”.

    “Apa maksud mu, Bir?”.

    “Dia ingin menjadi penulis dan berkicau di negara orang”

    “Dari mana kamu bisa tau?”.

    “Dari pandangan pria tadi yang sebegitu teduh nya, saat senyumnya tersimpul lebar. Tenang saja, Bu. Dia orang yang baik. Aku bisa membaca pikiran nya”. Biry berusaha meyakinkan Ibunya bahwa pria tadi bukan orang yang jahat. Ibu nya hanya menunduk mendengarkan jawaban dari anak pertama nya itu.

    Biry pun terdiam kemudian. Kalau aku kan bisa terbang dengan sayap dan berkicau dengan indah. Tapi mungkin pria tadi akan bisa berkicau melalui tulisan pena dan terbang dengan mimpi serta keteguhannya. Bisa saja dia akan terbang melebihi ku. Biry berkata dalam batin nya. Dia sangat ingin terbang keluar sekali lagi dan menghampiri pria tadi hanya untuk menanyakan seberapa tinggi dia telah bermimpi dan berani meletakan nya dilangit.

    Semua orang adalah pemimpi. Pria tadi seperti melihat segalanya itu bagaikan kabut lembayung pada musim semi, atau bisa sebagai api yang membakar pada malam musim dingin. Beberapa pemimpi telah membiarkan suatu impian mati, namun yang sebagian lain masih memupuk dan melindunginya, merawatnya dalam hari-hari buruk hingga membawanya ke sinar matahari dan juga cahaya yang selalu menghampiri mereka serta selalu berharap bahwa impiannya akan menjadi nyata. Manusia pasti punya asa dan burung juga bisa bersuara. Ada tujuan yang sama, mereka ingin terbang. ~Pria Penulis Burung

_________________________________________________
*sumber inspirasi : burung yang terbang dan berkicau
Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *