Thursday, December 13, 2012

Diari Jibril dan Sepede Onthel


Cerpen ditulis oleh: M Adi Mubarok
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
Twitter: @kpp_menulis |  klik
_______________________________________________________


"Ngonthel Ndadosaken Sehat Rogo Lan Resik Ing Bumi"
Komunitas Podjok (Paguyuban Onthel Djogjakarta)


10 Juni 2008

Saat aku masih berusia tiga tahunan, ibu mengajakku silaturahim ke rumah dan pesantren para Ulama di daerah Jombang. Tur ziarah wali dan silaturahim ke pesantren dan para Ulama adalah program rutin yang diadakan jama’ah ibu-ibu pengajian di kampung kami. Aku tahu ziarah kubur masih menjadi perdebatan boleh tidaknya di kalangan para Ulama, tapi karena saat itu aku masih belia, aku tak tahu menahu tentang boleh tidaknya ziarah kubur ini. Seperti anak ayam yang kemana-mana selalu ngekor dengan induknya, aku pun begitu, kemanapun Ibu pergi, aku selalu ikut. Namanya juga anak kecil. Diajak ziarah kubur dan ziarah ulama ya ngikut saja.

Saat tiba di rumah salah seorang Kyai, kami dan rombongan dipersilahkan untuk masuk ke ruang tamu dengan jamuan sederhana dari Pak Kyai dan Istrinya.”Tiba-tiba saja lantai basah dan rupanya kamu yang lagi ngompol di karpet ruang tamu Pak Kyai.” kata ibu dengan senyum merekah. Ibu sontak langsung menggendongku dan segera meminta maaf ke Pak Kyai atas insiden ini. Ibu sangat merasa malu dan bersalah telah membiarkan anaknya pipis sembarangan. Jelas saat itu mungkin belum ada teknologi popok bayi yang bisa meredam pipis dari anak kecil.

Tak disangka Pak Kyai malah mengambilku dari gendongan ibu dan menggendongku. “Gak apa-apa ya Nak ya.... Insya Alloh berkah.. Pipis di rumahnya Kyai, insya Alloh kamu  kalau besar akan jadi Kyai pula ya..”
Sungguh bersih dan tulus hati Sang Kyai ini. Kalau orang lain mungkin sudah jingkrak-jingkrak minta ganti rugi, minimal membersihkan sampai tak ada noda dan bau.

Cerita ibu tentang kata-kata Sang Kyai itu sangat membekas di dadaku sampai saat ini. Ibu memang punya keinginan agar anak pertamanya ini, yaitu aku, menjadi seorang Ustadz atau Kyai. Jangan heran jika Ibu selalu memanggilku Pak Ustadz sejak kecil. Namun karena saat itu Bapak Ibu masih memiliki keterbatasan dalam dana dan informasi sekolah-sekolah dan pesantren-pesantren berbasis agama, maka aku dimasukkan sekolah negeri yang murah meriah. Saat itu sekolah agama identik dengan mahal  dan tak terjangkau bagi kami yang hidupnya pas-pasan. Mungkin Bapak Ibu juga tak paham tentang adanya beasiswa dan keringanan bagi orang miskin.

Aku langsung masuk SD tak perlu TK, karena aku dianggap mampu dan cerdas. Kalau ditanya guru aku TK-nya  darimana, kujawab saja dengan lantang, “Dari TK Pancasila, Bu!” teriakku ikut-ikutan teman-teman lain yang juga menjawab dengan TK Pancasila. Ibu Guru yang tahu aku tak pernah TK hanya cengar-cengir saja melihat anak didiknya yang pede abis.

Dari sejak SD, SMP dan SMK aku selalu bersekolah di sekolah negeri. Karena adikku 3 orang masih kecil-kecil dan penghasilan Bapak Ibu tak memadai, aku sejak SMP berinisiatif untuk membantu meringankana beban keluarga dengan berjualan koran menggunakan sepeda tua pemberian kakek. Sepeda Ontel tua merk Gazelle produksi tahun 1930 inilah yang menemaniku sejak aku SMP sampai sekarang. Dengan kendaraan tua ini aku melaju untuk mengirimkan koran ke seluruh rumah pelanggan.

Aku tumbuh dan besar tanpa bimbingan dan pemahaman agama yang tepat. Maklumlah, orang tua dan keluarga berasal dari keluarga abangan, yang berarti lebih mengedepankan tradisi dan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Jangan heran jika ada pendapat unik tatkala melihat ada perempuan menutup aurotnya. “Buat apa menutup aurot kalau hatinya busuk. Yang penting hatinya ‘dikerudungi’ dulu dan bersih dan sifat-sifat jahat!” kata Tanteku yang juga tak mengerti agama.  Ada juga pendapat,”Sholat gak sholat itu urusan masing-masing. Yang penting baik sama tetangga!”

Di keluarga seperti inilah aku dan adik-adikku dibesarkan. Dangkal, minim dan sederhana sekali terhadap pemahaman agama yang luas.

Sesuai dengan penuturan ibu, ungkapan Sang Kyai yang mendo’akan aku menjadi seorang Ustadz atau Kyai, membuatku penasaran dan seperti ingin mengejarnya menjadi sebuah impian yang terwujud. Walau latar belakangku tak pernah jadi santri, tapi aku selalu tertarik dengan segala hal yang berbau agama. Semua masalah bisa terselesaikan apabila kita hidup sesuai dengan aturan Alloh SWT. Begitu kata Ustadz Slamet, yang baru kukenal semenjak aku lulus SMK. Dari beliaulah aku belajar agama. Tak seperti Ustadz-ustadz yang lain yang menampilkan Islam dalam bentuk dan wajah yang angker dan sulit. Dengan Ustadz Slamet aku merasa nyaman dan enjoy dalam menjalankan agama.


5 Agustus 2008
Sudah hampir dua bulan aku berinteraksi intens dengan Ustadz Slamet. Aku pun menjadi rajin sholat dan banyak berdiskusi tentang segala hal. Ada saja hal-hal menarik seputar kehidupanku yang bisa dijadikan topik perbincangan yang asyik oleh Ustadz Slamet. Beliau seperti memiliki medan magnet tersendiri. Banyak anak kecil, pemuda, dan orang-orang tua pun terpikat dengan pendekatannya yang hangat dan halus ke masyarakat.

Dari beliaulah aku mendapatkan jawaban berbagai masalah dalam keluargaku.

“Inti kebahagiaan adalah menjaga keseimbangan. Keseimbangan ruhiyah, jasmaniyah, akal dan emosi. Dengan menjaga kualitas ibadah, berolahraga, bekerja, belajar dan berkasih sayang dengan sesama, terus menerus memperbaiki diri dan mengingatkan orang lain untuk juga menjadi lebih baik, niscaya model kehidupan seperti ini akan menimbulkan keseimbangan dan berujung pada ketentraman batin. Disinilah letak kebahagiaan seorang muslim. Perbaikan itu dimulai diri sendiri, keluarga terus ke masyarakat.” tutur Ustadz Slamet sembari memegang pundakku.

Aku jadi sadar bahwa penyebab ketidaktentraman di keluarga kami adalah karena tidak seimbangnya menjalankan segala peran. Termasuk peran sebagai hamba Alloh. Setelah hampir dua bulan belajar mengaji, dan merutinkan sholat lima waktu di masjid, aku mulai memberanikan diri untuk mengingatkan Bapak Ibu yang jarang sholat dengan alasan sibuk sangat sibuk berjualan Bakso. Semenjak Bapak di PHK tiga tahun yang lalu, Bapak beralih profesi sebagai penjual bakso. Kami membuka Warung Bakso di pertengahan pasar dan perumahan Griya Indah di sebelah kampung kami.

“Bu, Pak... dijaga ya sholatnya, agar Alloh memberikan berkah atas semua usaha kita. Khan Alloh yang memberikan rizki dan keberkahan, jadi ya kepada Alloh-lah seharusnya kita bergantung. Rizki itu bukan sekadar dari seberapa hebat kita bekerja keras, tapi semuanya harus seimbang, antara kerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas!” bujukku kepada Bapak Ibu yang sejak shubuh sudah membuat pentol di dapur.

“Alloh pasti tahu dan mengerti kalau hamba-Nya lagi repot dan  sibuk kerja. Khan kerja juga ibadah. Kamu jangan banyak omonglah, kamu bantu kerja sajalah. Dan yang penting saat ini adalah kerja agar kita dapat bayar kontrakan dan makan bulan ini. Adik-adikmu juga sudah waktunya bayar sekolah dan kuliah.” jawab Ibu dengan seenaknya. Bapak sebagai kepala keluarga yang harusnya menjadi pemimpin Ibu malah diam seribu kata.

Mungkin caraku yang salah atau Bapak Ibu belum mendapatkan hidayah Alloh. Ya Alloh, limpahkanlah rahmatmu. Aku sedih dengan jawaban Ibu. Tapi ya bagaimana lagi. Aku belum memiliki kekuatan untuk bisa mengentaskan Bapak Ibu dari kemiskinan ini. Aku hanyalah seorang lulusan SMK yang hanya menjadi asisten montir di sebuah Bengkel Motor di Surabaya. Keinginanku untuk kuliah dan belajar agama tetap menggebu, tapi aku harus mengalah sebagai anak tertua. Paling tidak aku harus membantu dua adik perempuanku, Yasmin dan Hasna yang hampir lulus di Jurusan Farmasi dan Ekonomi. Yang paling bungsu masih kelas 3 SMA dan ingin melanjutkan D1 Komputer. Dia tak ingin kuliah lama-lama agar bisa cepat kerja.

Mau tak mau aku harus mengalah. Membantu orang tua dan adik-adikku melanjutkan pendidikan adalah kemungkinan dan pilihan terbaik. Setelah adikku selesai kuliah dan bekerja, aku ingin kuliah di Jogja dan belajar agama disana.

10 Agustus 2008
                Tabrakan? Semalam? Percaya tidak percaya, semalam Bapak mengalami tabrak lari dengan Bus dan Truk Gandeng. Kata beberapa saksi yang ditanya oleh anggota keluargaku menyebutkan bahwa sebuah Bus Sumber Makmur melaju dengan sangat kencang. Mungkin tak melihat didepannya ada motor Bapak yang sedang melaju akan menyalip Truck Gandeng yang berjalan perlahan karena penuh muatan. Setelah diserempet Bus, motor Bapak terperosok masuk ke tengah-tengah Truk Gandeng. Alhamdulillah nyawa Bapak masih tertolong. Selain kaki kanannya yang dagingnya terkoyak dan habis karena terseret sekian dua ratus meteran oleh Truk Gandeng. Motor hancur, nyawa Bapak masih tertolong.

                Aku sudah bilang ke Bapak agar tak pulang terlalu malam untuk pilihan Kepala Desa di Mojokerto, dan jangan pula membawa muatan bakso dan kuah untuk oleh-oleh. Terlalu berat bebannya. Tapi, bukan Bapak namanya kalau tak keras kepala. “Aku ingin bermalam disana. Sambil jualan bakso!” kata Bapak sebelum berangkat.Nah, memang Bapak bermalam, tapi bukan di rumah Nenek, tapi di Rumah Sakit. Faktor penyebabnya beragam. Mungkin bisa karena kelelahan setelah seharian berjualan bakso atau mungkin juga sudah takdirnya. Aku hanya berdoa semoga diberikan hikmah dan jalan keluar.

                 Ibu dan dua adik perempuanku mendengar berita ini langsung histeris dan tangisnya meledak,”Nak, cobaan apa lagi yang diberikan Alloh kepada kita? Kok Alloh terus menerus menguji kita ya?” ratap Ibu diikuti isak tangis adik-adikku.

                Entah apakah ini cobaan ataukah memang ‘azab’ bagi keluarga kami yang masih jauh dari-Nya. Masih terlalu mementingkan kehidupan duniawi, sampai lupa dengan sujud syukur kepada-Nya. Aku yang saat itu naik motor dibelakang Bapak langsung menghubungi polisi dan Rumah Sakit terdekat. Nyawa Bapak tertolong. Tapi bagaimana dengan uang operasinya? Dari mana kami mendapatkan uang dua juta lima ratus untuk uang administrasi awalnya. Kuhubungi beberapa keluarga, belum ada yang merespon, lantaran kami semua memang dari keluarga tak mampu. Beberapa teman yang kuhubungi juga masih belum memberikan kepastian, sementara Bapak sudah kehilangan banyak darah. Kuminta ibu menunggu di rumah sakit dan aku pulang.

                Tak ada aset berharga yang bisa diuangkan. Motor yang kami tunggangi pun motor pinjaman. Itu pun kami harus menyervis total motor yang hancur tadi. Hanya ada televisi dan Sepeda Ontel Gazelle tahun 1930 kenangan-kenangan dari Kakek sebelum meninggal. Sepeda ini telah dipakai Bapak sejak kecil dan terus menemani keluarga kami sampai saat ini. Kuhubungi beberapa teman penghobi sepeda tua, kutawarkan sepeda kesayanganku. Berat rasanya melepas sepeda kesayanganku ini. Dia sudah menemaniku sejak aku SMP sampai sekarang. Tapi Bapak lebih menemaniku lebih lama, bahkan mengasuh dan membesarkanku sampai aku dewasa. Seorang teman teman tertarik dengan tawaranku. Kulihat di internet jenis dan tahun sepedaku ini bisa laku diatas tiga juta, jadi kutawarkan saja ke temanku dengan harga empat lima juta.

                “ Ada gerangan apa niy, kok sepeda kesayanganmu kamu jual, Bril? Bukannya ini sepeda kesayanganmu, ya?” tanyanya dengan gaya menyelidik.

                “Sebenarnya aku berat melepas sepeda ini, Gus. Tapi Bapak butuh dana pagi ini untuk operasi. Kau bisa membantuku dengan membeli sepedaku ini, Gus.”

                “Innalillahi... Kapan kejadiannya? Kok kamu gak ngasih tahu aku? Aku turut prihatin ya, Bril. Begini saja, aku gak ada dana lima juta, tapi ini ada tiga juta, kamu pakai dulu sajalah. Gak perlu berpikir bagaimana mengembalikannya.”

                “Tadi malam Bapak tabrakan di daerah Krian. Tapi aku tak bisa menerima uangmu begitu saja, Gus!”

                “Pakai saja dululah. Alhamdulillah aku masih ada dana kok. Kau pakai dulu, sekarang kau dan keluargamu lebih membutuhkan dana ini. Anggap saja ini bantuan dariku.”

                Setelah memberikan amplop berisi uang, Bagus langsung pamitan dan mengingatkanku agar tetap bersyukur kepada Alloh apapun yang terjadi. “Insya Alloh akan ada kemudahan, Bril. Yakinlah. Ini cobaan dan pelajaran bagimu dan keluargamu!” ucap sahabatku Bagus dengan mata berkaca-kaca sembari menepuk lenganku.

                Subhanalloh. Masih ada di zaman seperti ini malaikat yang berwujud manusia. Suatu saat aku akan mengembalikan uangnya kalau aku semua sudah membaik.


20 Agustus 2008
                Bapak selamat. Kakinya tak jadi diamputasi. Sekarang sudah mulai membaik. Tentu saja membutuhkan waktu yang panjang untuk me-recovery kakinya agar berfungsi normal. Kabarnya otot depan belakang kakinya putus, dan butuh biaya yang lumayan besar untuk menyambungnya. Kami menyerah. Tanah kami di desa pun harus direlakan dijual murah untuk menutupi biaya rumah sakit dan  membeli resep tiap pekannya.

                Sungguh tak dapat kubayangkan bagaimana kondisi keluarga kami tanpa adanya nafkah dari Bapak? Aku sendiri penghasilanku di bengkel tak seberapa. Adik-adik masih harus menyelesaikan kuliahnya dan hanya nyambi jadi guru les. Maklum lah perempuan, tak bisa kerja yang berat dan macem-macem. Paling tidak mereka bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Mereka kuminta agar untuk sementara tak merepotkan Bapak Ibu dalam hal keuangan.

                Seluruh gajianku habis untuk membeli resep Bapak untuk dua minggu saja. Warung bakso macet untuk sementara karena ditinggal ibu mendampingi Bapak di Rumah Sakit. Tak boleh begini. Nadi keuangan harus berdenyut kembali. Kalau tidak kami akan kehabisan dana.

                Sementara itu aku dan si Ragil akan membantu ibu melanjutkan warung bakso kami. Karena waktuku terbatas harus segera mengayuh Sepeda Ontel ke bengkel motor, maka aku hanya bisa membantu belanja, dan memasak pentol, kuah, goreng, tahu, siomay dan sambal. Aku membantu masak dan Ragil membantu berjualan. Semua anggota keluarga tak ada yang boleh bersantai, semua harus berikhtiar. Belajar, bekerja, berdoa dan bertawakkal. Mau tidak mau setiap orang harus berkontribusi untuk meringankan beban Bapak Ibu.

                Ada dua cara untuk mengatasi masalah ini, selain mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Yaitu meningkatkan penghasilan dan melakukan penghematan semaksimal mungki. Adik-adik kuhimbau untuk tak naik angkot, lebih sehat dan lebih hemat naik sepeda. Beberapa tetangga bersedia meminjamkan sepadanya untuk kami pakai.

                Paling tidak setahun ke depan aku harus ‘berpuasa’ dari keinginanku meneruskan studi. Untuk saat ini prioritasku adalah bagaimana agar mengurangi beban Bapak Ibu dan adik-adik menyelesaikan studinya. Aku harus menahan desakan dalam diriku yang ingin berpetualangan ke tempat-tempat menarik di seluruh Indonesia dengan sepeda Gazelle-ku. Aku ingin bersepeda mengejar impian dan bayanganku yang lari entah kemana. Dan Jogja kabarnya adalah surganya bagi para pecinta sepeda tua. Aku ingin kesana, walau tak bisa sekarang paling tidak tahun depan.


1 Agustus 2009
        Sudah genap setahunan aku  bersama keluargaku melewati masa-masa sulit. Keluarga besar dan teman-teman silih berganti berkunjung dan membantu meringankan beban kami. Alloh menurunkan pertolongannya lewat tangan-tangan mereka semua. Mereka yang tergelitik dan terpanggil untuk membantu disaat saudaranya sedang dirundung kesulitan. Adikku Yasmin telah lulus dengan gelar Sarjana Farmasi, dan Hasna sedang skripsi dan sudah diterima kerja di perusahaan milik orang tua teman sekelasnya. Si Ragil juga sudah bekerja di percetakan. Walau tak bisa sembuh total dan kembali normal, Bapak sudah mulai menemani Ibu di Warung Baksonya.

        Sekarang aku telah menginjakkan kakiku di Kota Pelajar ini. Sebuah kota legenda yang selalu memanggil-manggil namaku agar aku datang mengunjunginya. Aku telah datang mengunjungimu Jogja. Kau ingin apa dariku?

        Terlintas pikiran untuk bersepeda dari Surabaya ke Jogja, tapi terlalu melelahkan. Aku ingin segera sampai di kota impianku ini. Kunaikkan Sepeda Gazelle-ku ke kereta barang, sedangkan aku melesat sendirian dengan kereta penumpang kelas ekonomi.

                Berbekal peta Jogja seharga lima ribuan, aku melesat bersama Gazelle-ku langsung menuju Malioboro. Sebuah jalan yang dibicarakan oleh banyak orang. Yang dilewati oleh Raja-raja dan para ksatria jaman dulu. Yang menjadi jalan tersibuk dan teramai diseantero Jogja. Tak sadar sudah hampir setengah jam aku mengayuh sepeda dan sejak dikereta belum mengisi perut sama sekali. Aku ingin mencoba warung Angkringan yang terkenal itu. Di Surabaya warung seperti ini biasa disebut dengan Warung Kopi atau Warkop yang biasanya tak menjual nasi, hanya minuman, beberapa jenis makanan kecil dan gorengan, juga mie rebus. Menu utamanya adalah kopi. Namanya juga Warung Kopi. Sedangkan Angkringan lebih unik lagi. Aku bisa mengenyangkan perut walau hanya punya dua tiga ribu dikantong. Dua bungkus Nasi Kucing yang berisi segenggam nasi dan lauk sambal atau kering tempe sudah bisa mengenyangkan perut kecilku ini, ditemani teh hangat yang khas aroma dan rasanya, juga lampu minyak tanah yang temaram. Lebih pas jika disebut dengan Warung Remang-remang, ya!

                Bagi seseorang yang hidup ditengah kota metropolitan terbesar kedua, Jogja telah membuatku takjub dengan bagaimana sistem tata kota, tata budaya, budaya belajarnya dan pengaplikasian agama dalam kehidupan sehari-hari. Dan yang paling takjub adalah bagaimana budaya bertransportasinya sangat berorientasi pada masa depan. Masyarakat disini sangat hobi bersepeda. Apalagi hari libur, jalan-jalan besar akan macet dengan sepeda. Benar, macet dengan sepeda. Ribuan orang menggelar aksi bersepeda ria untuk sekadar membuat udara Jogja bersih dari asap kendaraan bermotor dari pagi sampai siang. Walau tingkat penggunaan sepedanya belum seperti di “Negeri Liliput, Tulip dan Sepeda” Belanda, masyarakat Jogja paling tidak punya keinginan yang sama dengan masyarakat Belanda agar lingkungan lebih bersih. Di tengah zaman industri modern yang mengutamakan kecepatan, sebagian masyarakat mulai meninggalkan budaya bersepeda dan lebih memilih transportasi pribadi berupa mobil dan motor yang polutif yang mengandung gas karbondioksida dan monoksida yang berbahaya bagi manusia dan tentu saja bumi.

                Ada sekitar 16 juta sepeda di negeri liliput, hampir setara dengan jumlah penduduknya. Jadi bisa diperkirakan bahwa setiap penduduk mempunyai satu sepeda. Bahkan tak jarang penduduk yang mempunyai dua hingga tiga sepeda sekaligus. Sepeda khusus untuk ke kampus, sepeda khusus  untuk perjalanan jauh, dan sepeda khusus hang-out. Kalau mau bukti kecintaan penduduk negeri Liliput pada sepeda ontel, kita bisa melihat dari fakta bahwa semua lapisan masyarakat mereka menggunakan sepeda ontel sebagai alat transportasi.  Dari kakek, nenek, ibu rumah tangga, anak sekolah, mahasiswa, dosen hingga anggota parlemen, pengusaha, dan bahkan menteri juga bersepeda. Sepeda ontel digunakan untuk hampir semua keperluan transportasi, mulai dari belanja, ke sekolah, ke kampus, mengunjungi teman, rekreasi, hingga ke kantor. Karena bervariasinya jenis keperluan sepeda ini menyebabkan beragam pula jenis sepedanya, ada sepeda-nenek (omafiets), sepeda-kakek (opafiets), sepeda-perempuan (damesfiets), sepeda-pria (herenfiets), dan sepeda-anak (kinderfiets). Nah… kini aku sadar dan percaya, betapa istimewanya sepeda ontel bagi penduduk negeri liliput?

                Tak hanya itu saja, di Negeri Liliput ini pula ada ‘ekstrakurikuler bersepeda’. Yang mengajarkan para pelajar akan keterampilan bersepeda berikut aturan lalu lintas berkendara di jalan raya. Sejak dari usia beliau masyarakat Belanda mengenal sepeda. Tak perlu heran jika sepeda seperti mendarah daging dan menjadi gaya hidup mereka sampai tua. Dan Jogja mungkin ‘mulai’ merintis gaya hidup bersepedanya setiap hari Minggu. Walau belum apa-apa kalau dibandingkan Belanda, paling tidak pemeriintah Jogja telah memberikan jalur khusus bersepeda bagi para pengendaranya.

       Sebelum berangkat ke Jogja, dari Surabaya aku sudah menghubungi sebuah kampus swasta berbasis agama untuk mengambil jurusan agama. Kabarnya ada beasiswa bagi mahasiswa tidak mampu dan berprestasi. Tapi, masalahnya aku bagaimana dan dimana aku tinggal nanti? Aku mencoba melihat phone book-ku, dan kulihat ada nama seorang adik kelas di SMK dan kabarnya ia sudah hafidz (sebutan bagi yang sudah berhasil menghafal Al-Qur’an 30 Juz) dan memperdalam agama di sebuah pesantren di Jogja juga. Walau dana nipis, tak punya kenalan, dan belum tahu mau tinggal dimana, aku tetap yakin pertolongan Alloh akan datang pada siapa saja yang ingin belajar ilmu surga. Aku pernah mendengar hadits tentang pertolongan dan kemudahan Alloh yang turun kepada siapa saja yang berusaha terus menerus menuntut ilmu agama. Dan sekarang aku sedang melaju di jalur ini.

       Beberapa SMS kulayangkan ke Anshor adik kelasku ini, tapi tak ada balasan. Apa dia tak punya pulsa, ya? Kutelpon sajalah.

       “Assalamu’alaikum, Anshor ada?”

       “Wa’alaikumussalam, ya saya sendiri!” jawabnya dengan logat Sulawesi-annya.

       “Anshor di Sulawesi atau di Jogja? Masih di Pesantren Tahfidz? Dimana alamatnya? Aku mau mampir niy?”

       Anshor menyebutkan sebuah alamat di pinggiran Sleman. Dari Malioboro sekitar satu jam-an bersepeda. Segera kukayuh Gazelle-ku dan bertanya satu dua orang dimana alamat Dusun Tebon Pasar Godean itu. Jalan Godean rupanya panjang sekali. Sampai 10 kilometer lebih. Setelah bersusah payah dan tersasar beberapa kali, sampai juga aku didepan sebuah pesantren bernama Pesantren Tahfidz Al-Mubarokah dengan bangunan masijid besar seolah menyambut setiap tamu yang datang.

       Pimpinan pesantren dan didampingi Anshor menyambutku dengan hangat. Kusampaikan niatku untuk kuliah dan belajar agama di kota ini.
       "Mas Jibril bisa mondok disini untuk belajar agama dan kuliah di UMY untuk jurusan Bahasa Arab, Hadist, Tafsir atau jurusan apapun yang Mas Jibril suka. Pagi malam bisa nyantri disini, siangnya bisa kuliah di UMY!” tawaran dari Ustadz Sholeh selaku pimpinan Pesantren.

       “Insya Alloh Ustadz, saya bersedia. Terima kasih sudah mau menerima saya.”


4 Agustus 2009
       Setelah mengurus berkas dan menjalani tes tulis dan wawancara di UMY, rupanya aku mendapat kabar bahwa aku mendapat beasiswa berprestasi hanya karena menunjukkan dua buah buku yang telah kutulis dan kucetak secara indie. Kebiasaanku sedari kecil menulis jurnal harian ternyata membawa berkah dikemudian hari.

       “Alhamdulillah... Subhanalloh..!” berkali-kali aku mengucap tasbih dan hamdalah atas kemudahan-kemudahan yang ajaib yang tak pernah kuduga sebelumnya. Aku masih ingat kata-kata seorang penyair Arab... 

       “Kalian tidak akan mencapai sesuatu kecuali melewati anak tangganya.”

               Untuk menjadi seorang Ustadz-Ulama atau Kyai aku harus melewati anak tangganya, yaitu menjadi santri dan mahasiswa jurusan agama. Dan mungkin juga sekian banyak rintangan dan kesulitan yang kualami bersama keluargaku adalah juga bagian dari anak tangga menjadi seorang ulama. Dan apakah aku adalah seseorang yang dipilih Alloh untuk belajar ilmu-Nya? Aku harap begitu. Beberapa tahun kedepan aku akan mengalami bagaimana makan hanya dengan sayur dan satu nampan tiga orang, menghabiskan waktuku untuk membaca kitab-kitab kuning tanpa harokat, sholat lima waktu selalu di masjid. Dan aku mendapatkan ‘fasilitas’ ini semua dengan tanpa biaya sepeser pun.

                Bapak ibu sangat gembira dengan kabar ini. Mohon doanya Pak Bu, doakan anakmu ini bisa memuliakanmu didunia dan akhirat. Anakmu akan benar-benar dipanggil Pak Ustadz... Aamiin..

Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *