Thursday, December 13, 2012

Untuk yang Kurindu


Cerpen ditulis oleh: Vina
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com
FB: Komunitas Penulis Pelajar

_________________________________________________________________



Aku berjalan menyusuri jalan ini. Tak ada yang berbeda, namun aku merasakan perbedaan ada pada diriku. Aku kira, aku tak dapat melanjutkan kerasnya hidup. Kecelakaan yang terjadi pada saat aku berusia 12 tahun, membuatku kehilangan seorang ibu yang sangat aku cinta. Alhamdulillah, Tuhan masih mengizinkan ayah untuk menemani dan memberiku semangat hidup.

Aku hidup dalam keadaan yang menurutku sungguh bertolak belakang dari pejabat- pejabat itu. Mereka dapat merasakan tidur diatas kasur empuk, berpakaian indah, dan makan makanan yang lezat. Bagaimana tidak, aku tidur hanya beralaskan tikar, baju yang sudah mulai kumuh, dan makan makanan seadanya, itupun hanya untuk sepiring nasi yang kami makan berdua.

 “Mei, kamu hati- hati ya dirumah, belajar yang rajin, ibu tidak mau melihat kamu seperti ayah dan ibu ini. Berusahalah untuk memberikan yang terbaik ya, Nak.”

“Siap Bu, pokoknya Mei janji, tak akan mengecewakan Ibu dan Ayah. Mei akan selalu berusaha melakukan yang terbaik.”

Begitulah pesan terakhir ibu dan juga janji terakhirku pada Ibu yang akan selalu kuingat. Saat ini, kulihat ayahku masih duduk di atas kursi roda. Memang, ayahku kehilangan satu kakinya sejak kecelakaan bersama ibu 3 tahun yang lalu. Beruntunglah ayah, sang penabrak bertanggung jawab atas peristwa itu. Ia memberi sebuah kursi roda untuk ayah. Sampai saat ini, ayah masih ingat  kejadian itu. Ayah sangat merasa kehilangan ibu, sampai aku pun tak dapat menghiburnya. Aku hanya bisa berdoa untuk ayah. Aku tak mau keluargaku hancur karena larut dalam kesedihan terlalu lama. Aku selalu berusaha untuk menepati janjiku.

***

 Aku duduk di atas dinding jembatan. Aku melihat langit begitu indah, biru cerah bersama awan putih yang berarakan.

“Andai hidupku dapat secerah langit itu.”

Mataku lalu melihat ke bawah. Air yang keruh tetapi mengalir tetap pada tujuannya. Kulihat sosok seorang lelaki yang begitu berarti bagiku. Duduk diatas kursi roda yang mulai rusak dan rapuh. Baju yang sudah compang- camping, membuatku merasa bersalah tidak bisa merawat Ayah dengan baik. Ia hanya terdiam, entah apa yang ia lihat.

“Ayah, Mei masih ada di sini. Mei butuh Ayah sebagai pengganti Ibu. Mei takut jika Mei harus kehilangan untuk kedua kalinya.” Aku berharap dan mengarahkan pandanganku kelangit.

“Hey, siang- siang melamun. Di atas jembatan pula.” Mendadak Tito mengagetkanku.

“Huuh, kamu To. Kebiasaan deh.”

“Ya maaf. Mei, gimana kabar Ayahmu ? sudah ada perubahan ?”

“Belum To, masih sama. Aku bingung harus gimana lagi. Eh, kamu udah pulang sekolah ?

“iya nih, gurunya mau rapat. Jadi ya pulangnya agak pagi.”

“Ow.. seperti biasa ya….”

“Oke..”

 Beginilah keseharianku. Setiap hari aku belajar dari Tito. Apa yang disampaikan gurunya pasti disampaikannya untukku. Aku putus sekolah sejak peristiwa itu. Memang, peristiwa itu berpengaruh besar untukku. Tapi aku yakin, aku pasti dapat menjalaninya. Hal ini tak akan menghalangiku meraih cita-cita.

Tito adalah sahabatku sejak kecil.  Ia berasal dari keluarga yang berada namun Ia dan keluarganya tak pernah memandang status sosial orang- orang yang mereka kenal. Setiap hari saya selalu meluangkan untuk belajar dan bermain bersama teman- teman. Betapa bahagianya melihat mereka tersenyum bebas tanpa merasakan beban hidup.

***

Pagi ini begitu cerah. Ku awali hari dengan senyuman untuk ayah. Berharap ayah cepat sembuh. Aku memasak nasi satu genggam dan lauk yang hanya cukup untuk sarapan kami berdua.

“Ayah, makan ya.. Biar Ayah tidak sakit,” kataku sambil merayu Ayah dan hanya sebuah anggukan darinya yang diberikan padaku. Ku suap Ayah sedikit demi sedikit dengan nasi dalam piring ini.

“Ayah, Mei pergi dulu ya. Mei pamit. Assalamu’alaikum,” kataku sambil mencium tangan Ayah. Kulihat Ayah ingin menyampaikan sesuatu. Namun, kurasa tak mungkin. Menatapku pun jarang. Pandangannya sering kosong. Aku pun berlalu untuk menjalani rutinitasku.

“Mei. Meidiana. Tunggu!” aku pun menoleh dan ternyata Tito. Kulihat dia mengayuh sepedanya dengan kencang.

“Lho, kok baru mau berangkat. Udah jam stengah tujuh lebih kan ?”

“Iya sih, aku cuma ingin bareng aja, ya cari teman ngobrol dijalan”

“Mei, Bapak beli korannya satu ya.” Tiba- tiba seseorang menghampiriku. Semoga menjadi awal yang bagus untuk hari ini.

“Terima kasih ya, Pak.”

“Wah, bakalan laris hari ini!” sahut Tito lagi.

“Ya, semoga saja. Ya sudah sana berangkat. Ntar kalau telat aku yang disalahin?”

“Iya, iya. Aku berangkat. Met jualan ya..” katanya menyemangatiku

“Nanti sore jangan lupa belajar lagi ya!” Teriakku yang mungkin sudah tak terdengan oleh Tito. Aku pun melanjutkan perjalanan untuk mengirim dan menjual Koran. Matahari muncul dengan sinarnya yang membuat peluhku mengalir perlahan.

“Dek, Dek, koran !”

“Iya, Pak. Tiga ribu rupiah ya, Pak. Terima kasih,"begitu kataku. Pukul 2 siang, koran sudah terjual semua. Maklum, untuk mengetahui kabar tentang sepak bola Eropa. Aku segera pulang, takut Tito sudah menunggu. Sebelumnya, aku menyetor uang kepada pak Hasan, pemilik koran.

“Pak, ini hasil jualan hari ini.”

“Wah, tumben cepet. Ya sudah, tunggu sini dulu ya.”

“Iya, Pak. Tapi jangan lama-lama, mau belajar sama teman.”

Halah, belajar. Memang kamu sudah sekolah lagi ? Buat makan saja susah. Hemm… ya sudah lah, terserah kau saja. Ini ada nasi bungkus untuk ayahmu.”

“Iya, Pak. Terima kasih ya, Pak. Saya langsung pulang.”

Uang hari ini sisanya lumayan untuk ditabung. Kuletakkan uang tabunganku dibawah lipatan bajuku. Aku ingin membeli peralatan melukis. Aku ingin menjadi pelukis yang hebat. Aku akan membuktikan janjiku pada Ayah dan Ibu.

“Ayah, Mei tak akan mengecewakanmu.” Kataku dalam hati sambil melihat Ayah dari kejauhan. Ia berada di depan rumah yang berukuran 3x2 meter yang terbuat dari potongan tripleks. 10 tahun yang lalu aku sempat merasakan hidup yang berkecukupan sampai akhirnya usaha Ayahku bangkrut. Ayah ibuku selalu berusaha membiayai sekolahku hingga aku putus sekolah saat ibu dan Ayah mengalami kecelakaan itu. Hari itu menjadi hari kebahagiaanku mendapat peringkat 1 di kelas dan juga hari terakhirku bersekolah. Akupun belum sempat memberitahukan berita gembira itu pada Ibu.

Assalamu’alaikum Ayah, Mei pulang.”

“Ayah, makan dulu ya. Tadi ada titipan dari Pak Hasan,” tambahku. Aku berusaha untuk menyuapinya namun ayah tidak mau membuka mulutnya. Kucoba sekali lagi, namun tak ada respon darinya. Tiba- tiba ayah tersenyum. Aku kaget. Aku yakin, ayah pasti sembuh. Kuikuti pandangannya yang membuat ia tersenyum. 30°, 90°, 180° dan tak ada yang lucu, karena tak ada satupun orang disana.

“Ayah !” kataku sedikit gemetar. Aku sangat takut. Aku kembali mengikuti arah pandangan Ayah dan saat aku kembali menatap ayah, telah ada air mata yang membasahi pipinya. Aku semakin gemetar.

“Ayah. Ayah baik- baik saja kan ?” kataku meyakinkan. Aku berlari menuju jembatan tempat biasa aku duduk. Melihat awan yang berarakan, air sungai yang mengalir dan tak lupa ayahku sendiri.

“Hey…! Melamun. Jadi belajar tidak ?” gertak seseorang yang ternyata Tito.

“Apakah masa depanku masih cerah, apakah masih menantiku, dan apakah dapat ku capai ?”

“Hah, kamu nanya apaan sih, nggak jelas ! Kan kamu pernah bilang kalau hasil yang kita dapat tergantung pada pengorbanan yang kita lakukan.”

“Ayahku…..”

“Ayahmu ? ada apa dengan Ayahmu ?”

“Tidak tahu.”

“Kamu ini apa-apaan sih. Kalau bercanda jangan garing gitu deh.”

“Gimana kalau aku pergi ke kota ?”

“Kamu ini bicara apa sih sebenarnya. Malah jadi ngelantur kaya gini. Sebenarnya kamu ini kenapa dan ada apa ?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Sudah sudah. Semakin nggak jelas tau nggak ? aku pulang dulu. Nanti kalau udah sembuh kabari aku.” Kata Tito sambil berlalu meninggalkan ku sendiri.

***

Malam ini, aku mmemasukkan baju ku kedalam tas. Berbekal uang tabungan aku beranjak dari rumah kecil itu. Untuk terakhir kalinya, aku melihat ayah tertidur pulas. Kupasangkan selimut untuk menghangatkan tubuhnya. Aku pun membawa lukisan- lukisan berukuran 10x20 cm yang pernah aku lukis 10 tahun yang lalu. Aku tak lupa menulis surat perpisahan untuk Tito.

“Ayah, Mei pamit dulu ya. Mei berharap kita dapat bertemu lagi. Mei tidak bisa diam dengan keadaan seperti ini. Mei janji tak akan mengecewakan Ayah dan Ibu.” Aku berjalan menyusuri gelapnya malam. Tak lupa, kuletakkan surat di depan rumah Tito.  Hari ini aku akan memulai kehidupan ku diatas kerasnya kota Jakarta.

Di kota, Aku tak punya kerabat dekat. Aku tidur di emperan toko, itupun kalau pemiliknya mengizinkan. Untuk menmbah uang simpanan, Aku menjual Lukisan yang kubawa. Hari semakin siang dan udara kota yang semakin panas.

“Pak… Buk… beli lukisannya Pak..!” tawarku. Untungnya aku sudah terbiasa dari menjual Koran .

“Dek. Kakak boleh lihat lukisannya?” tanya seorang wanita cantik yang kelihatannya ramah.

“Boleh Kak, silakan.”

“Lukisanmu bagus- bagus. Kakak mau ambil yang ini. Harganya berapa ?

“Oh, ini Rp 30.000 Kak.

“Oh ya.. ini uangnya. Kembaliannya untuk kamu saja.”

“Ya, Kak. Terima kasih ya, Kak,” aku sangat bahagia. Akhirnya aku bisa melukis lagi dan mengikuti lomba dengan uang yang lebih dari cukup. Ya, sebelumnya aku menemukan poster lomba melukis untuk umum. Aku melukis sosok ayah yang selalu menyayangiku dan kutulis harapanku untuk Ayah.

***

“Aku di mana ?” tanyaku sedikit memaksa diriku. Di dekatku ada Kak Dina, yang membeli lukisanku kemarin.

“Kamu tenang saja ya, Dek. Semua baik- baik saja. Oh iya, kamu di sini tinggal sama siapa? ”

“Aku di sini sendiri Kak,” kataku agak sedikit menundukkan kepala. Aku teringat keadaan ayah dirumah. Aku ingat kejadian yang kualami beberapa jam yang lalu. Aku dalam perjalanan untuk mengirim lukisan itu, namun mobil itu telah merusak segalanya. Harapanku mulai pupus. Aku tak mau menyalahkan Kak Dina, ia terlalu baik padaku. Kak Dina juga mengajakku menginap dirumahnya untuk beberapa hari.

“Tok… tok… tok… Permisi. Benarkah ini kediaman saudari Meidiana Putri ?“

“Iya. Ada yang dapat saya bantu ?” Kak Dina membenarkan pertanyaan sang tamu. Setelah mengetahui tujuan tamu itu, sekali lagi Kak Dina menolongku. Aku memenangkan lomba melukis yang setahuku lukisan itu telah rusak karena kecelakaan beberapa hari yang lalu. Kak Dina mengirimkan lukisan itu dan menjadi yang terbaik.

“Kak, Mei tak tau bagaimana harus berterimakasih kepada Kakak.”

“Kamu tak perlu lakukan itu. Kakak yang seharusnya meminta maaf padamu.”

Aku tak dapat berbuat apa- apa. Kak Dina sangat senang dengan berita itu. Beberapa hari setelah itu, aku memutuskan untuk pulang. Sebelum aku pulang, Kak Dina mengajakku ke suatu tempat. Aku tak pernah tau dari mana Kak Dina mengetahui Aku ingin membeli kursi roda untuk Ayah. Selalu baik kepadaku, itulah Kak Dina. Ia mengantarku sampai rumah. Menurutku, aku terlambat pulang. Kulihat seluruh rumah hancur. Banyak orang yang merasa kehilangan tempat tinggalnya. Kami memang tinggal di tanah terlarang, yang sewaktu- waktu dapat digusur paksa.

“Ayah……..” Aku mencari sosok yang ku rindu. Tak kutemukan disana.

Kak Dina telah meninggalkanku beberapa waktu yang lalu. Aku tak mau merepotkannya lagi. Aku menuju ke rumah Tito. Kubawa semua barang bawaanku.

Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam. Mei ! Dari mana saja Kau ?” kata Tito kaget melihatku dan ia langsung memelukku. Aku tak menyangka betapa Ia menghawatirkanku.

“Maaf, To. Aku tak sempat menemuimu waktu itu. Tito, di mana ayahku ?

“Kita tunggu orang tuaku pulang ya, nanti kita ketemu ayahmu sama- sama.” Aku hanya mengangguk. Kuceritakan semua yang kualami pada Tito.

***

“Mei, Bapak dan Tito minta maaf ya tidak bisa menjaga Ayahmu dengan baik.”

“Maksud Bapak ?”

Belum sempat menjawab, mobil yang kami naiki berhenti di sebuah tempat yang belum pernah aku lihat. Aku hanya mengikuti ayah Tito berjalan. Tito hanya diam sejak perjalanan tadi. Kulihat orang sedang bernyanyi dengan sapu, menggendong dan memanjakan sebuah boneka sambil tersenyum sendiri.

“Ayah..” kataku perlahan. Aku tak berharap bertemu Ayah disini. Namun semua terlambat, Ia telah berada di depan mataku.

“Ayah, Mei pulang. Mei menang lomba melukis, Ayah !” Ku perlihatkan piala dan juga kursi roda untuk Ayah. “Ayah, Lukisan ini kupersembahkan untuk Ayah. Ayah cepat sembuh ya ?” perlahan aku meneteskan air mata. Tito dan Ayahnya hanya terdiam melihat pertemuan ayah dan anaknya itu.

“Ibu, Aku minta maaf karena tidak dapat menjaga Ayah dengan baik. Tuhan, berikanlah Ayah yang terbaik untuknya.”

Sejak saat itu, aku tinggal bersama dengan keluarga Tito. Mereka menjadi keluarga baru bagiku yang selalu menerimaku dalam keadaan apapun. Untuk ayah, Aku tak dapat melakukan apa-apa. Aku mengunjungi Ayah satu minggu sekali. Terlalu kejam memang, namun aku tak ingin merepotkan lebih banyak lagi. Aku berharap Ayah dapat segera kembali menemaniku setiap hari.

Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *