Thursday, December 13, 2012

Bukan Sekedar Ingin Memiliki


  Cerpen ditulis oleh: Isti
  Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

   www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
            FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik
 ________________________________________________________


       Semerbak makanan khas membaur jadi satu di dalam pikiran Tara. Bau rasa yang sangat khas telah mengalihkan dunianya. Sengat matahari yang terus bersinar terang telah memanaskan pikiran Tara. Semilir angin tidak dapat mengusik apa yang sedang Tara pikirkan. Akhirnya, ia merasa sangat bosan dengan pelajaran kimia yang sejak tadi berlangsung. Ingin rasanya ia keluar kelas dan lari ke gunung sambil berteriak-teriak. Tetapi itu mustahil.

       Akhirnya pelajaran pun selesai. Tidak ada canda tawa dalam benak pikiran Tara. Ia merasa sangat benci dengan keadaan yang sekarang ini terjadi dalam hidupnya. Manurut Tara, Ayah Tara terlalu cinta dengan perusahaan geplaknya. Sedangkan ibunya entah pergi kemana. Tara sangat benci dengan ayahnya termasuk geplaknya. Padahal, sebelumnya ia sangat suka sekali dengan geplak buatan ayahnya. Tapi itu dulu. Dulu, ayah dan ibunya sangat perhatian dengan Tara. Dulu, ayahnya senang sekali membuatkan geplak untuk Tara. Dan kini tinggal kenangan.

       Sudah dua bulan ibunya tidak pulang ke rumah. Ayahnya pun selalu pulang malam saat Tara sudah tertidur. Tetapi, Tara tidak merasa kesepian. Karena ia selalu ditemani seorang sahabatnya. Sahabat yang selalu ada dalam suka dan duka. Tiba-tiba ponsel Tara berbunyi. Ibunya yang sudah 2 bulan tidak pulang ke rumah meneleponnya.

       “Hallo Tara! Maafin ibu nak? Ibu harus berpisah dengan ayah. Maafin ibu nak!”  Ponsel Tara langsung jatuh kelantai. Ia tak sanggup lagi menahan air matanya. Tampak disadari ia telah menangis tersedu-sedu. Ponselnya pun kembali berdering. Tetapi bukan telepon dari ibunya. Tetapi telepon dari ibunya Dian. Dian adalah sahabat Tara sejak kecil. Sejak TK,SD,SMP, bahkan saat SMA mereka berada disekolah yang sama. Ibu Dian memberi tahu bahwa Dian sudah berangkat ke luar negeri dan pindah sekolah. Ibunya tidak memberi tahu kenapa Dian tiba-tiba pergi menghilang tanpa kabar.

       Hal ini membuat Tara benar-benar frustasi. Ia pun menangis histeris dikamarnya.

       “A..aaaaaaaarrgghhh…. Kenapa semuanya jahat?

       Apa salahku ya Tuhan?? Kenapa ibu harus berpisah dengan ayah?  Kenapa??? Kenapa?? Kenapa Dian pergi begitu saja tanpa mengabari sedikitpun???

       Semuanya jahat……. Jahat!!!!”



       Pembantu dirumahnya pun bingung mendengar histerisnya Tara. Tetapi, ia tidak berani mengusiknya. Ia hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya saja.

       Hari-hari Tara berubah seratus delapan puluh derajat. Tara yang biasanya ceria berubah menjadi murung. Matanya selalu sembab setiap ia berangkat sekolah. Teman-temannya sangat khawatir dengan keadaan Tara yang semakin memburuk. Nilai-nilainya turun drastis. Guru-gurunya pun selalu menanyakan keadaan Tara. Sayangnya, ayahnya tidak pernah menanyakan kabarnya sekatapun. Ini yang membuat Tara sangat benci dengan ayahnya.

***

       “Hallo Dek!! Apa kabar??” tiba-tiba salah seorang kakak kelas Tara menghampirinya saat di kantin.

       “Eh kak Feno, hallo juga kak!!”

       “Apa kabar dek? Kok murung terus tiap hari. Lagi putus sama pacar ya?”

       “Enggak kok kak, Alhamdulillah baik, ya beginilah!!”

       “Jangan galaulah dek, galau itu temennya setan lho?”

       “Emang iya kak, kamu setan dong?? Hahaha..”

       Tiba-tiba Tara tertawa untuk pertama kalinya setelah galau beberapa minggu. Teman-temannya pun ikut tersenyum-senyum sambil menggodanya. Mereka pun bercanda dan tertawa bersama.

       Sejak kedatangan Feno, Tara kembali dengan keceriaanya. Ia kembali bersemangat melewati hari-harinya. Tara yang dulu murung dan malas telah kembali ceria dan rajin belajar. Tara yang sebelumnya suka mencontek saat ulangan kini ia percaya diri dengan hasil kerjanya sendiri. Karena Feno sangat benci dengan orang yang suka mencontek saat ulangan. Menurutnya mencontek itu sama saja mencuri jawaban.

       Arah jarum jam terus berputar. Tara dan Feno semakin dekat hubungannya. Hingga mereka menjalin hubungan persahabatan. Tampaknya Feno telah menggantikan sosok Dian yang telah lama menghilang. Tetapi, disisi lain Tara sangat rindu dengan ayahnya.  Ia sangat kangen dengan geplak buatan ayahnya. Sebenarnya ia merasa sangat bersalah karena telah mengacuhkan ayahnya. Lalu, Tara ingin meminta maaf kepada ayahnya dan memberikan sebuah kejutan. Ia mulai sadar ayahnya usianya terus bertambah dan nampaknya de kepala ayahnya sudah ada beberapa helai uban.

       Di malam yang yang di taburi sejuta bintang dan sebuah bulan Tara berjaln menuju rumahnya. Langkahnya berpadu dalam warna-warna kehidupannya. Tara telah menyiapkan sebuah kejutan untuk ayahnya sebagai tanda maafnya. Tetapi, skenario Tuhan berbeda. Ketika masuk menuju ruang kerja ayahnya, Tara kaget ketika melihat ayahnya terkulai lemas diatas lantai. Di usianya yang semakin bertambah dan pekerjaannya yang semakin hari semakin banyak, ayahnya jatuh sakit. Ayahnya merasa sudah tak mampu lagi memimpin perusahaannya sendirian.

       “Ayah?? Maafin Tara Ayah?” Ia menangis sesenggukan.

       “Ayah,  yang seharusnya minta maaf Tara” Jawab Ayahnya sambil terbata-bata.

       Bulan pun menghilang tak berpamitan. Tetesan air mata Tara terus mengalir tiada henti. Di saat Tara bisa kembali tertawa kenapa harus kembali mengeluarkan air mata jernihnya. Mau tidak mau Tara harus menggantikan posisi ayahnya diperusahaan geplak.

       Harum baunya sangat terasa semerbak. Tetapi Tara tidak bisa membuat geplak yang semerbak baunya. Ia hanya dapat menebak bau khas geplak asli buatan ayahnya. Mungkin, ini anugrah terindah yang diberikan Tuhan untuk menggantikan posisi ayahnya. Ia mempunyai indra penciuman yang tajam terhadap rasa geplak buatan ayahnya. Untuk mendapatkan resep dari ayahnya ia harus bisa membuat geplak seenak geplak buatan ayahnya dan ia harus bersaing dengan pamannya yang pura-pura baik didepan ayahnya. Sebenarnya, pamannya hanya ingin menguasai geplak ayahnya. Sehingga hal ini membuat Tara merasa harus bekerja keras untuk mendapatkan resep dari ayahnya. Berbagai cara telah dilakukan oleh Tara untuk mendapatkan resep itu. Hingga akhirnya, ia bisa membuat geplak ala ayahnya. Demikian juga dengan pamannya. Pamannya bisa membuat geplak sangat mirip dengan buatan ayahnya. Tara sangat bingung dengan keadaan seperti ini. Ia tidak ingin ayahnya kecewa dan ia juga tidak ingin pamannya menguasai perusahaan geplak milik ayahnya. Ia terus berusaha dan bekerja keras agar ia dapat mengalahkan pamannya. Ia rela tidak berangkat sekolah beberapa hari demi bisa membuat geplak ala ayahnya. Hal ini membuat Feno khawatir. Tetapi Tara tidak menghiraukannya. Saat mentari menyapa hingga bintang muncul Tara masih didapur belajar membuat geplak. Wajahnya keliatan tampak begitu lelah dan letih. Pembantunya yang dari tadi menemani sangat khawatir sekali. Berbagai godaan pun mulai datang menghampiri pikirannya. Ia merasa sangat kecewa dan amarahnya muncul karena belum bisa mendapatkan resep dari ayahnya. Tara pun tergoda untuk melakukan kecurangan. Ia sengaja berbohong kepada ayahnya dengan mengambil resep yang dibuat pamannya yang akan digunakan. Ia mencuri resep pamannya yang akan dipresentasikan esok harinya.

       " Aku harus menang. Apapun caranya, aku harus menang, aku tidak ingin mengecewakan ayah.”

       Pembantunya hanya menggeleng-geleng kepala melihat perbuatan yang dilakukan Tara.

       “Tara, apa kamu benar-benar akan melakukan kecurangan ini? Enggak sebaiknya tidak usah saja nak?”

       “Iya bik, aku gak mungkin bisa membuat resep secepat ini. Aku tidak punya pengalaman apa-apa. Sedangkan paman juga jahat. Ia hanya ingin menguasai perusahaan ayah.”

       “Tapi, ini sama saja tidak jujur dan bohong nak?”

       “Udah deh bik, Tara udah kehabisan akal. Aku hanya ingin ayah tidak kecewa mempunyai anak seperti aku.”

       “Kalo sudah keputusan Tara, bibik hanya bisa berpesan supaya tidak terlalu menyesali perbuatan ini suatu saat.”

       Ia hanya terdiam. Jantungnya berdetak begitu cepat. Langkahnya berpadu satu dalam pikirannya. Walaupun ia tahu bahwa yang dilakukan itu salah, tetapi ia tetap melakukannya. Di dalam pikirannya hanya terpikir tidak ingin mengecewakan ayahnya.

***

       Bunga api terus menderu diatas rumah Tara. Ia telah berhasil memenangkan persaingan mendapatkan resep geplak ayahnya. Kedipan bintang-bintang dan senyuman bulan ikut merayakannya. Tara memiliki aktivitas baru. Sekarang, selain bersekolah, ia juga memimpin perusahaan geplak ayahnya.

       Tetapi Tara selalu gelisah, pikirannya selalu dihantui oleh resep pamannya yang telah dicuri. Tara tidak merasakan indahnya menjadi seorang pemimpin muda diperusahaan ayahnya. Ia selalu memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi. Hingga pada akhirnya hal buruk pun terjadi.

       Asap mengepul tiba-tiba berada dihadapan Tara yang sedang melamun didapur. Bau gosong sangat menyengat hidungnya. Kepalanya terasa sangat pusing sekali. Tangannya terseret cepat keluar menuju halaman depan perusahaan ayahnya. Tubuhnya terkulai lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Orang-orang berteriak keluar menyelamatkan diri. Gemuruh angin membuat orang bertambah berteriak bahkan histeris ketakutan. Tubuh Tara terasa dingin dan bergetar. Tubuhnya terasa tertusuk oleh benda asing yang sangat dingin. Tangannya sudah berlumuran darah. Tetapi Tara tidak merasakan sakit. Banyangan-bayangan di depan matanya pun hilang. Ia hanya menyisakan darah yang bercucuran.

       Rintik-rintik hujan masih membekas dikaca jendela ruangan di suatu rumah sakit. Sudah tiga hari Tara terbaring disini. Kepalanya terasa sangat pusing sekali. Tetapi kini telah mereda. Jantung Tara berdekup bukan main. Didepan matanya ada 3 orang yang sangat Tara cintai. Mereka adalah ayahnya, sahabat lamanya si Dian yang tiba-tiba muncul kembali, dan kak Feno yang selama ini menjadi pengganti Dian. Tetapi di dalam pikirannya masih di hantui kegelisahan sekaligus menyeramkan dan ia merasa sangat bersalah sekali dengan ayahnya.

       “Ayah,maafkan Tara. Tara minta mohon maaf!”

       “Sudah Tara, ayah sudah tahu semuanya. Seharusnya ayah yang minta maaf.”

       “Tapi yah?? Tara yang salah?”

       “Tidak nak!”
                                                                                                                                                    
       Disaat genting seperti ini, sebenarnya ia ingin sekali meluapkan kekecewaannya terhadap sahabatnya. Tetapi mulutnya tidak kuasa berkata apa-apa. Ia hanya diam seribu bahasa.

       Satu minggu kemudian, keadaan Tara sudah pulih kembali. Tetapi ia masih sedih dengan peristiwa kebakaran hebat yang telah menimpanya. Selain itu, dia sangat kecewa dengan sahabatnya yang tiba-tiba muncul kembali setelah lama meninggalkannya. Ia sangat menyesal dengan apa yang telah dilakukannya selama ini. Ia merasa sangat bersalah sekali. Tanpa ia sadari sahabatnya dan kak Feno bersaing untuk mendapatkan Tara. Dian dan Feno sama-sama mencintai Tara.[1] Hal ini membuat Tara semakin tidak karuan rasanya. Hari-harinya terasa hanya berwarna hitam putih saja. Tidak ada lagi warna biru yang menghiasinya. Kegalauanpun merasuki jiwanya. Ia bingung harus memilih siapa. Baginya, sudah tidak ada lagi yang salah dan disalahkan.

       Kini, waktu pun telah menjawabnya. Rasa kekecewaaan terhadap sahabatnya menghilang. Sahabatnya pergi bukan berarti meninggalkannya. Dian pergi karena tidak ingin memperparah keadaan yang dialami Tara satu tahun yang lalu. Sebenarnya Dian selama ini mengidap penyakit leukimia dan ia meninggalkan Tara untuk berobat di luar negeri. Feno pun tahu keadaan Dian setelah ia melihat sebuah kertas yang dibawa Dian jatuh. Feno sangat menyesal telah menyakiti Dian.

***
       
Taman kota pagi ini masih sangat sepi. Sejuk angin datang bersemilir silih berganti. Air-air sisa hujan masih tergenang diantara rerumputan hijau. Pelangi muncul dari ufuk timur. Warna-warnanya sangat menakjubkan. Warna pelangi mengajari tentang banyak hal. Pelangi ada dilangit tinggi sana. Tetapi pelangi juga ada didalam hidup ini. Tara pun membaca sebuah kutipan dari sebuah buku yang berjudul “Karena cinta harus memilih” yang sedang dibacanya.

       “Ketika cinta menyapa, jangan silau dengan indahnya dia, tetapi lihatlah apakah cinta itu akan membuat kita semakin dekat dengan Allah SWT atau tidak.”

       Ia pun bangkit kembali mengingat geplaknya. Bersama sang ayahnya ia mulai lagi membuka usaha geplaknya dari nol. Ia membuka lembaran-lembaran baru lagi.

       “Kan kutinggalkan masa lalu itu dan aku buka lembaran baru ini!”

       Ayahnya pun tersenyum sangat bangga dengan anaknya.

       “Dan jujurlah dengan apapun, dimanapun, bagaimanapun keadaannya!”

       Kini Tara memulai hidup dilembaran barunya….

       “ Semua aku kembalikan kepada Mu”

Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *