Thursday, December 13, 2012

Lantunan Ngalah Berkah


Cerpen ditulis oleh: Ipnu
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com
FB: Komunitas Penulis Pelajar

____________________________________________________________________


Semilir angin menerpa wajaku. Terasa dingin menyengat kulit. Walau sudah memakai jaket, masih kurasakan hawa yang begitu dingin. Ditambah lagi dengan basuhan air wudlu tadi juga belum hilang. Seolah udara dingin menembus pakaianku. 

Salat maghrib telah selesai kukerjakan, kini melanjutkan perjalanan wisata ke sebuah tempat, yang kata orang-orang begitu indah, di Yogyakarta. Sebuah tempat yang cukup luas ditumbuhi padang rumput membentang dengan beringin kembar di tengah. Yup, Alun-alun kidul. Kata orang-orang sih tempat inilah surganya wisatawan untuk menenangkan diri.

Alun-alun kidul yang merupakan penyeimbang dari alun-alun utara. Awalnya sih aku tidak begitu tertarik. Tapi, selagi aku menimba ilmu di kota pelajar ini, tak apalah mencoba melihat-lihat keadaan tempat wisatanya yang konon begitu ngangeni.

Aku terus melangkah menyusuri trotoar dari arah timur. Dari kejauhan telah nampak olehku warna-warni cahaya. Memesona dan memanjakan mata. Terang benderang menari satu sama lain. Segera saja kupercepat langkahku agar segera sampai.

Begitu sampai, aku langsung di sambut hembusan angin yang semakin dingin. Angin yang terhempas oleh kendaraan yang melintas itu cukup membuat tubuhku menggigil kedinginan. Cukup banyak juga kendaraan yang melintas, walau tak sebanyak kendaraan yang parkir di pinggir jalan.

Aku mulai berkeliling untuk sekedar melihat-lihat. Ramai. Hampir semua kedai penjual makanan dan minuman penuh dengan pembeli. Mulai dari angkringan, wedhang ronde, jajanan pasar, sampai penjual kacang rebus. Ke mana pun melangkah pasti bertemu dengan kerumunan orang. Bahkan jalanan juga cukup ramai oleh orang-orang yang menyewa sepeda berhiaskan lampu neon. Kebanyakan dinaiki oleh sepasang kekasih, sekumpulan sahabat, bahkan satu keluarga. Kelihatannya seru juga. Mengayuh, tertawa, tersenyum, dan bersendagurau bersama. Ingin ku mencoba, tapi… Aku sendiri.

“Pak, ini apa ya?” tanyaku pada seseorang yang menyewakan kain hitam. Aku penasaran untuk apa kain hitam ini disewakan. Yang lainnya menjual aneka makanan, minuman, wahana, tapi... ini kok aneh.

“Mau sewa, Mas?” tanya orang tua tersebut. Sebelumnya kusempat berkenalan dengan beliau. Sebut saja namanya Albertus. Nama yang keren. Awalnya kupikir pindahan dari Eropa atau sekitarnya. Tunggu, jika beliau ini dari Eropa, untuk apa jauh-jauh ke Kota Pelajar hanya untuk jadi penyewa kain hitam? Dan lagi, kenapa pula hanya menjadi penyewa kain hitam?

Yup, ternyata aku salah. Beliau ini orang jawa asli. Nama lengkapnya Albertus Harjo Suwito.

“Ini untuk apa ya, Pak?” tanyaku heran.

“Mas baru ya?” tanya beliau tepat. “Mau mencoba ritual Ngalah Berkah?”

“Yang melewati pohon beringin dengan mata tertutup itu ya?” tanyaku sok tahu. Temanku pernah memberitahuku tentang budaya yang kerap disebut dengan nama Masangin tersebut.

“Nah itu tahu mas. Ngalah Berkah itu bukan hanya takhayul, Mas. Tetapi sebuah sarana untuk menghantarkan permohonan pada Allah SWT. Terkabul atau tidaknya tergantung pada Sang Khaliq.” tuturnya membujuk.

“Maksudnya?”

“Konon, jika bisa melewati beringin kembar tersebut dengan mata tertutup dan tanpa serong atau menabrak, akan mendapat berkah. Kabarnya permohonan mas akan segera terkabul, apa pun itu.”

       “Boleh tuh.” Kataku tertarik.

   “Tapi jangan mengintip, Mas.” Beliau memperingatkan. “Konon jika mengintip akan terdampar di dunia lain dan sulit untuk kembali.”

       “Dunia lain?” Aku mulai ragu. Ingin mencoba, tapi…

     “Iya, katanya dunia itu seperti di sini. Mirip seperti alun-alun, namun sangat sepi.”

        Aku menelan ludah. Bagaimana jika itu terjadi padaku? “Astaghfirullah…” Sebutku dalam hati.

      “Tenang, mas. Itu hanya legenda...” Beliau seolah mengerti apa yang ada dalam pikiranku. “Ngalah berkah hanya sebuah budaya. Sudah sepantasnya kita hanya memohon pada Sang Khaliq.”
            Jika kupikir baik-baik, beliau sangat benar. Allah telah memberi kita mulut dan hati nurani untuk memanjatkan doa hanya kepada-Nya. Mengapa kita mencari-cari penolong yang lain? Sedang kita tahu, Allah-lah satu-satunya yang Maha Menolong hamba-hambanya.
“Kalau boleh tahu, bapak sudah lama bekerja sebagai penjual kain hitam seperti ini?” Entah mengapa aku merasa beliau telah banyak pengalaman. Mungkin beliau banyak melihat orang-orang yang salah mengartikan budaya ini. Menurutku, beliau pasti telah melihat orang-orang berbuat syirik dengan memohon pada kedua beringin tersebut.
         “Ya, belum lama sih mas. Sekitar tiga puluh tahun.”

       Belum lama? Tak terbayangkan olehku, jika tiga puluh tahun itu belum lama, terus yang lama itu berapa tahun???

Aku mencoba menerka-nerka. Tiga puluh tahun yang lalu sampai sekarang terus mencari nafkah sebagai penyewa kain hitam. “Kok betah usaha seperti ini?” tanyaku keluar begitu saja.

        “Hm, usaha ini kan bagus mas. Bukan hanya mencari nafkah saja. Tetapi untuk melestarikan budaya.”

       “Subhanallah…”

        “Jadi, Mas?”

     “Oh, iya. Berapa, Pak?” Tanyaku menanyakan harga sewa kain hitam tersebut.

            “Tiga ribu saja.”

            Kuambil uang secukupnya, kutukar dengan sehelai kain hitam tersebut. “Semoga beruntung, Mas.” Kata beliau menyemangati. “Ingat, hanya kepada Allah-lah manusia harus menyembah dan meminta pertolongan.”
            “Terimakasih, Pak.”

           Aku segera pergi ke utara beringin kembar tersebut. Kuhirup nafas segar disela detak jantung yang semakin cepat. Kusiapkan mental dan mulai menutup kedua mataku dengan kain hitam yang kusewa. Aku siap.
           
          “Bismillah… Semoga budaya ini tetap lestari!” Aku mulai melangkah sembari terus melantunkan harapan kepada Allah Yang Maha Pemberi Rizki.

Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *