Thursday, December 13, 2012

Tiada Arti



Cerpen ditulis oleh: Naura Nada Salsabila
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com
FB: Komunitas Penulis Pelajar
 ________________________________________________________________

sumber foto

“Sudah ku bilang daritadi kalau aku tak mau pergi ke pasar, Ibu saja sana yang pergi! Gudeg itu kan urusan Ibu dan bukan urusanku” Bantahku keras saat disuruh ibu pergi ke pasar untuk membeli bumbu-bumbu untuk membuat gudeg. Ibu yang mendengarkan jawabanku itu hanya diam tertunduk lalu pergi meninggalkanku yang sedang sarapan pagi.


“Gudeg lagi, gudeg lagi.. sudah 3 hari kita makan gudeg. Apa gak ada makanan lain yang buat dimakan pagi ini hah?” Kataku menggerutu sambil memainkan nasi dipiringku.


“Sudahlah kak, ini semua kan karena akhir-akhir ini warung gudeg ibu kurang diminati pelanggan, syukuri saja makanan yang ada di meja makan ini” Kata adikku menasihati.

“Jangan pernah coba untuk menasihatiku anak kecil” Kataku kesal dan langsung pergi meninggalkan ruang makan.


Sejak kapan Ika berani menceramahiku seperti ibu? Apa yang ibu ajarkan padanya? Huh daridulu ibu memang tak pernah benar. Pantas saja Ayah tak betah dan memilih pergi meninggalkan rumah ini.


            Ayah. Mengingat kata itu membuat rasa rinduku semakin berkecamuk. Dimana Ayah sekarang? Apa Beliau baik-baik saja? Apakah Beliau juga rindu padaku?. Dulu, aku dan ayah selalu bersama, bercanda, tertawa bahkan ayah lah yang membuatku tenang saat menangis. Tapi itu dulu sebelum ibu merusak semuanya.Argh, sebenarnya aku benci mengingat kejadian itu, tapi bayangan kejadian itu masih sangat jelas di pikiranku.


            Hari itu, kurang lebih 10 tahun yang lalu ketika aku kelas 3 SD. Aku pulang sekolah dengan hati senang dan ingin memperlihatkan nilai ujianku yang bagus kepada Ayah. Tapi saat aku ingin membuka pintu, terdengar suara cekcok pertengkaran antara ayah dan ibu. Mereka berdua bertengkar hebat sampai terdengar suara barang-barang rumahku pecah. Aku yang tak mengerti apa-apa hanya bisa meringkuk sambil menangis di depan pintu, sampai akhirnya terdengar suara ayah bicara “Yasudah terserah kamu saja! Aku sudah tak sanggup hidup denganmu!”. Ayah berkata terserah dan berkata tak sanggup hidup dengan ibu? Aku tak menyangka ini semua salah ibu, kataku dalam hati. Tak beberapa lama dari itu, aku mendengar gagang pintu rumahku dibuka, dan ternyata ayahlah yang membuka pintu itu. Kami berdua saling pandang sebentar, setelah itu ayah pergi meninggalkanku sendirian di depan pintu…


“Kak..”


Aku tersontak kaget mendengar suara itu, dan segera menengok ke belakang.


“Oh kamu dek, ada apa?” Kataku dengan suara lebih tenang setelah melihat adekku si Ika ini berdiri di depan meja belajarku.


“Kakak melamun?” Tanyanya lugu.


“Bukan urusanmu, sebenarnya ada apa kau kemari?”


“Hhh.. Itu kak, sepertinya penyakit ibu semakin parah” Jawab Ika lesu.“Lalu? Apa peduliku?” Jawabku ketus. Aku tak tahu kenapa ucapan seperti ini langsung terlontar dari mulutku, apa segitu bencinya aku pada ibuku?“Kakak ini bicara apasih?! Kakak sadar ga sih kalau beliau itu Ibu kita!” Seru ika membentak.


“Dan apakah orang yang kau sebut ibu itu sadar kalau ia yang membuat ayah pergi meninggalkan kita?!” Jawabku lebih keras agar ibu yang sedang dikamar bisa mendengarkan omonganku itu.


“Astagfirullahaladzim.. Istighfar kak,Istighfar!” Setelah Ika berbicara seperti itu ia langsung pergi dari kamarku.


Istighfar? Sepertinya itu tidak akan bisa mengobati rasa benciku terhadap ibuku.


                                                                           ***


            Keesokan harinya, saat aku berjalan pulang dari sekolah. Aku melihat keramaian di rumahku, tentunya aku bingung dan segera mempercepat langkahku agar segera sampai di rumah.
            “Ada apa ini kok banyak orang disini?” kataku penasaran.


            “Yang sabar ya nduk..” jawab salah satu tetanggaku.


            “Hah? Apa maksudnya?” tanya ku lebih penasaran.


Tapi pertanyaanku tak di jawab oleh siapapun, sampai akhirnya aku melihat ada sesuatu yang tergeletak dengan kain putih diatasnya. Aku berjalan mendekat, sampai aku sadar dan terlihat jelas bahwa dibawah kain putih itu ada seseorang. Jantungku semakin berdegup kencang dan tubuhku mulai bergetar ketika aku mulai mengangkat kain putih itu agar bisa melihat orang yang ada dibaliknya.


            Dahi yang penuh kerut. Mata yang tertutup. Hidung yang sudah di sumbat. Mulut yang kaku dan terlihat pucat pasi. Wajah itu.. ya.. wajah yang tua renta dan terlihat sudah tak bernyawa. Warna kulitnya benar-benar pucat.


            Dipojok ruangan, terdengar suara tangis Ika dan tiada henti-hentinya ia menyebut nama “Ibu”. Aku tidak merasakan apapun, aku hanya bisa diam terpaku menghadapi semua ini..



   ***


            Sudah tujuh hari ibuku pergi meninggalkanku hanya berdua dengan Ika. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kurasakan. Apa aku harus senang karena orang yang membuat ayahku pergi itu telah pergi untuk selamanya? Atau aku harus sedih karena sekarang aku benar-benar tak punya keluarga kecuali Ika? Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar tak mengerti. Dan setiap aku melakukan sesuatu perasaanku selalu tidak enak dan hasilnya selalu lebih rendah dari perkiraan. Apa maksud semua ini? Apa sejahat itukah ibu mendoakanku agar tidak berhasil?. Berjuta-juta pertanyaan muncul di benakku tapi tak ada satupun yang bisa menjawabnya.


                                                                        ***



            “Aaaaargh!!!” Teriakku kesal sambil membanting buku-buku yang aku pegang. Benar-benar kesal, marah, kecewa. Aku merasa gagal melakukan ujian simulasi hari ini, banyak soal yang tidak bisa aku kerjakan. Bahan yang aku pelajari semalam banyak yang tidak keluar, argh!. Apa yang di rencanakanNya? Mengapa nasibku begini? Argh!.


            “Braaaakk!!” Suara buku berjatuhan dari lemari yang tak sengaja ku senggol, aku mengambil buku-buku yang berserakan itu sambil mengomel sendiri. Hmm.. sepetinya diantara buku-buku yang berjatuhan itu ada satu buku yang belum pernah kulihat. Kondisi fisik buku itu kurang bagus, seperti buku lama, cover warna coklat tuanya sudah sedikit memudar, kertasnya pun menguning. Buku siapa ini? Pikirku. Aku memutuskan untuk membuka buku ini dan membaca isinya..


            17 Maret 1991
            “Sah”. Yah kata itulah yang kudengar di masjid tadi, semua orang di masjid mengatakan kata itu saat ijab qobul. Ingin rasanya aku meneteskan air mata bahagia saat ia mencium keningku. Terimakasih ya Allah, engkau telah memberikan hari dimana aku tidak akan pernah melupakan hari ini. Hari terindah untukku dan suamiku Ari. Akhirnya kita berdua sudah bisa merajut cinta kita dengan ikatan suci. Kelak, jadikanlah kami keluarga sakinah ya Allah, Amin..


Ari adalah nama ayahku. Jika seseorang yang menulis ini menuliskan hari pernikahan dengan ayahku, berarti yang menulis ini semua adalah ibu. Ya, ini adalah buku harian ibu. Setelah aku menyadari ini buku harian ibu, aku memutuskan untuk melanjutkan membaca buku ini sampai habis.


            19 Agustus 1992
            Aku dan Ari sudah membeli rumah sendiri, karena aku yang lihai memasak. Kami memutuskan untuk wirausaha membuka warung makan gudeg di bagian rumah depan kami. Lebih tepatnya lagi di jalan Widjilan kota Yogyakarta ini. Awalnya warung makan kami memang sepi, tapi semoga saja dari waktu ke waktu semakin ramai.. Amin.


            17 Maret 1994
            Hari ini tepat 3 tahun pernikahanku dengan Ari. Alhamdulillah aku sudah mulai mengandung buah hatiku dengan Aris selama 7 bulan. Semoga kelak ia menjadi anak yang Sholehah amin..


            Aku membuka lembar berikutnya. Ada beberapa lembar yang tersobek di buku itu. Setelah aku membaca buku ini, aku menyimpulkan bahwa ibu jarang menulis buku hariannya, buktinya setiap lembar bisa beda waktu beberapa tahun. Aku membuka-buka buku itu lagi, siapa tau masih ada halaman yang ditulis. Dan ternyata memang masih ada lembaran yang ditulis.


            17 Maret 2012..
            Andaikan sampai hari ini Ari tak meninggalkanku, sekarang tepat 21 tahun aku dan Ari merajut cinta suci. Tapi sayangnya itu hanya sebuah pengandaian. Tak kusangka ada sebuah penghianatan dari sebuah janji suci, hanya aku yang merasakan sakitnya perasaan ini. Ditambah lagi anak pertamaku terlihat semakin membenci diriku membuat ku semakin sakit. Ia salah sangka, ia pikir akulah yang bersalah. Padahal jelas-jelas Ari yang melakukan penghianatan di depan kedua mataku ini. Astagfirullahaladzim.. Tak pernahkah dia mengerti bagaimana beratnya menjaganya selama 9 bulan ditubuhku ini? Tak pernahkah dia sadari aku mengorbankan hidup matiku untuk melahirkannya? Tak pernahkah dia tau aku yang selalu menjaganya dikala dia sakit?. Mungkin memang Ari yang selalu ada buat Rena, tapi akulah yang ada dibalik Ari saat Ari kebingungan bagaimana caranya membuat Rena berhenti menangis, mungkin aku jarang mengobrol dan bercanda bersama Rena, tapi ini semua karena aku sibuk mengurus warung makan Gudeg tempat dimana keluarga ku bisa hidup. Sakit rasanya dibenci anak sendiri, tiap hari aku bersujud dan memohon kepadaNya agar diberi ketabahan dan kekuatan. Tak kusangka Rena semakin menjadi, dan hatiku semakin sakit. Tak hanya hati, ternyata badan ini sudah mulai renta. Aku terkena penyakit TBC, Rena ataupun Ika tak ada yang tahu. Karena aku tak mau membebankan pikiran Ika anak keduaku, dan aku tak mau semakin sakit hati jika Rena semakin acuh padaku dan penyakitku. Aku tahu aku seorang ibu, tapi aku juga masih mempunyai hati. Hati ini tak selamanya tegar, mata ini tak selamanya kuat menampung air mata, jiwa ini tak selamanya kuat menampun cobaan yang diawali dari penghianatan oleh orang yang aku cinta, lalu ditusuk kebencian oleh anakku sendiri, dan di gerogoti usia yang tak tahu sampai kapan bertahan..


Bak petir di siang bolong yang menghantam seluruh saraf-sarafku, Aku terdiam dan terpaku membaca tulisan ibu. Hati ini bergetar, perih rasanya mengingat semua yang telah aku lakukan pada ibuku. Berjuta-juta air mata mengalir di pipi, kata maaf dan kata penyesalan tak henti-hentinya terucap dalam hatiku. Tapi semua sudah tiada arti, semua sudah terlambat..
Aku segera berlari kencang menuju makam tempat ibu dikuburkan, aku berlari dengan air mata.


“Ibuuu!!! Ibuuu!!! Kembali.. kembalii!!!! Aku menyesaaaaaal!! Aku minta maaaf! Aaaarghhhh!!! yaAllaaaaaah, kau mendengar ucapanku hahh?! Kembalikan ibuku! Kembalikan!! Huhu..”


Aku memanggil-manggil namanya tanpa henti. Aku berteriak kata maaf sekencang-kencangnya. Aku juga tertawa., aku menertawai diriku sendiri yang bodoh, berkali-kali aku mengumpat sambil membodoh-bodohi diriku sendiri. Lalu aku meringkuk diatas kuburan ibu sambil menangis tersedu sedu. Aku tak peduli semua orang melihatku dengan tatapan aneh, aku akan peduli jika ibu muncul dihadapanku sekarang juga. Hahaha.


Tiba-tiba hujan turun deras, membasahi seluruh tubuhku. Derasnya hujan itu sama dengan derasnya air mata penyesalanku yang kusadari sudah tiada arti, karena semua sudah terlambat…
Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *