Thursday, December 13, 2012

Cerita Tentang Ibu

            Cerpen ditulis oleh: Nurul

   Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

            www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik

            FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik 
_______________________________________________________________


“Hastuti hanya ingin anak Tuti nanti menjadi orang yang di hargai karena dia senang menghargai orang lain, Bu. Karena dia menghargai agama dan budayanya. Sesulit apapun nanti Hastuti membesarkannya sebagai single parents, Hastuti yakin anak ini akan bisa membuat saya bangga telah melahirkannya.” Ibuku, wanita baik yang selalu menggagung-agungkan anaknya sedari aku masih di dalam rahimnya. Yang tak pernah mau aku berfikir untuk mengecewakan beliau. 

“Trus, Si Mbah ngerespon apa tentang perkataan ibu?” aku bertanya pada Si Mbah yang selalu membuat aku terkesima dengan cerita-ceritanya menjelang tidur malamku. Daya ingat mbah yang masih kuat itu pun kembali saat ibu akan meraung sakit karena aku. 

”Iya, Si mbok percaya. Kamu pasti bisa membesarkan anakmu dengan baik. Anakmu akan tumbuh menjadi anak yang sangat berguna pastinya. Has, walaupun si Mbok masih tetap bisa menemanimu di gubuk tua ini, tapi mbok juga ingin melihatmu kembali lebih bahagia seperti dulu. Yen sampun dipuntunjukaken ingkang cocok lan tresno karo koe, ampun damel angel uripmu karo ego mu itu to nduk1.Hardi juga pasti ingin melihatmu merawat anak ini dengan tidak sendirian.” Si Mbok yang tak tega melihat anaknya yang selalu mempertahankan hidupnya di atas doa dan usaha, membujuk Ibuku untuk mencari yang terbaik bagi dirinya sendiri. Hanya senyum pasrah yang diterima si Mbok setelah merespon perkataan Ibu tadi. Tampak tak siap mencari pengganti Ayah yang tersirat dari wajah berpeluh Ibu. 

      Bintang-bintang tampak enggan untuk memperlihatkan rupa eloknya. Langit gelap dan hawa sejuk dengan angin yang selalu numpang lewat menegakkan bulu kuduk yang membuat kedinginan kini menemani Ibu yang tengah berbaring lemas dan Si mbah yang berwajah cemas. Tengah malam itu Ibu sudah meraung sakit, menarik-narik seprei di atas kasurnya. Si Mbok bersiap mendobel profesi sebagai Ibu dan dukun beranak. Dengan tak ada yang menahan tangan ibu selain ibu yang menahan pinggiran kasur dengan tangannya sendiri, Ibu berusaha secepat mungkin melepas rasa sakitnya, Ibu berjuang membebaskan aku dari alam pertamaku dalam rahim. Peluh ibu sudah semakin membanjir, mulut ibu semakin menganga lebar mengeluarkkan jeritan yang tak kalah dahsyatnya dengan hujan yang mulai turun bergerombol. Si Mbah berusaha membujuk ibu untuk terus menarik nafas dan mengeluarkannya. Membujuk ibu untuk terus bertahan dan berjuang sekuat tenaga untuk mengakhiri sakitnya di malam dingin itu.

      Akhirnya, jeritan suara ibu memudar perlahan hilang. Genggaman tangan ibu ke tepian kasur melemas perlahan lepas. Si Mbah telah menggendong aku, membersihkan darah-darah merah yang masih melekat cair diseluruh tubuhku. Membiarkan ibu merasakan plong setelah sukses  berjuang menahan sakit sebagai seorang ibu yang baru dirasakannya itu. Setelah selesai, si Mbok membaringkan aku di samping Ibu. Membiarkan ibu melemparkan kasih sayang pertama kalinya setelah aku lahir. Senyum Ibu tampak melebar melihat raut wajahku yang masih meraung-raung pelan hendak membebaskan diri dari bekukan bedung bayi. 

“Siapa nama baik yang harus Hastuti berikan kepada putri pertama Tuti ini ya, Bu?” si Mbah tersenyum ramah melihat pertanyaan Ibu yang diiringingi wajah cerahnya.

 “Annisa, Bagaimana?” si Mbah memberi saran. 

Putri Njih, Bu? Supados Akhlakke tambah sae dhados Annisa Nur Fatonah nggih bu2.” 

      Itu lah malam bersejarah bagi Ibu dan si Mbah. Melahirkan aku putri tunggal dari pinggiran kampung dalem sekeliling keraton Jogja. Malam pertama gubuk tua ketambahan anggota keluarga yang membuat Ibu semakin memiliki tekad Hidup untuk membawa aku menjadi seperti yang diinginkannnya.

      Aku dirawat oleh Ibuku yang sudah terkenal ramah dan baik hatinya oleh orang-orang disekeliling tempat kami tinggal. Namun tak sedikit dari para tetangga yang beranggapan bahwa Ibuku adalah orang yang lemah. Beliau yang sakit-sakitan dan beliau yang tak pernah bisa melawan paksaan para rentenir yang menagih hutang. Sudah 20 tahun Ibu tinggal bersama si Mbah di pinggiran kampung dalem sekeliling keraton Jogja. Sudah berkali-kali pula Ibu berusaha diusir oleh yang punya rumah kontrakan karena tak mampu membayarnya. Ibuku adalah orang yang tak tega melihat si Mbah menjadi terlantar tak punya atap jika Ibuku sendiri tak sanggup membiayai rumah untuk si Mbah. Suatu hari ketika Ibu dan si Mbah berusaha membela diri dari usiran orang-orang berbadan besar yang membanting barang-barang milik Ibu dan si Mbah, tiba-tiba dibalas banting badan oleh seorang pria yang datang. Dialah Pak Hardi, ayah kandungku. Beliau yang membantu kehidupan Ibu dan si Mbah hingga akhirnya menikah. Ayah membelikan gubuk tua itu untuk bersama-sama ditinggali. Ayah, beliau selalu membimbing Ibu untuk bersikap berani kalau Ibu benar. Semenjak menikah dengan Ayah, keadaan Ibu dan si Mbah menjadi lebih baik. Walaupun atap yang mereka tempati tak lepas dari gubuk tua yang berusia 20 tahun lebih. 

      Ayah sangat sayang pada Ibu, namun dari itu semua ternyata ada latar belakang yang disembunyikan Ayah. Suatu ketika Ayah pulang dengan babak belur. Dalam senyum manis Ibu kala itu yang menunggu Ayah pulang berubah menjadi khawatir melihat wajah ayah yang sudah memar kebiru-biruan. Lekas Ibu mengobati luka Ayah. Sembari Ayah diobati, tiba-tiba Ayah menangis. Ternyata, ayah ingin mengatakan bahwa ia adalah mantan rentenir jahat. Pernah menjadi satu profesi keji bersama orang-orang yang pernah mengusir Ibu dari rumah. Dan malam itu ternyata Ayah sudah dikejar-kejar oleh bos lamanya untuk kembali menjadi bawahan yang dipercayainya mempunyai kekuatan lebih kuat untuk menyiksa orang-orang yang lemah seperti Ibu dulu. Namun, Ayah sengaja tak pernah membicarakan hal itu pada Ibu karena Ayah sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengampu profesi itu lagi, apalagi setelah menikah dengan Ibu. Semenjak kejadian malam itu, ayah terus menjadi buronanan mantan bosnya hingga Ibu hamil 3 bulan. Setelah terlalu sering memberi perlawanan pada grombolan, di bulan ke 4 Ibu hamil, Ayah dijebak oleh-orang-orang besar itu. Ayah dibunuh massa oleh mereka semua dan mayatnya dibuang jauh hingga dasar sungai. Ibu shok berat melihat kondisi Ayah. Ibu tidak pernah mempermasalahkan latar belakang ayah yang menyeramkan, karena Ibu tahu janji Ayah pada dirinya sendiri itu dapat dibuktikannya dan Ayah dapat berubah. Semenjak itu Ibu terkadang menjadi lemah kembali, namun Ibu selalu terbayang sosok Ayah yang selalu memberikan ketegaran padanya. Yang selalu menjadikan janji ayah pada dirinya sendiri itu sebagai motivasinya untuk tetap melahirkan aku dengan baik.

“Nduk Ibumu itu berubah menjadi wanita tegar semenjak bertemu Ayahmu. Lebih terus bangkit dari segala keterpurukan semenjak Ayahmu meninggal dan semenjak kamu dilahirkan. Sewaktu kamu kecil, ingat ndak kamu selalu diajarkan bernyanyi oleh Ibumu: 

      Nduk, Nek eneng uwong tuo lan koe lewat, opo seng mbok ucapke?

     Nuwun sewu.

      Nek koe duwe salah karo sopo wae, terus koe ngopo?

      Njaluk ngapuro

      Nek koe ditulung uwong koe ngomong opo?

      Matur nuwun.

      Nduk. nyuwun sewu, njaluk ngapuro, lan matur nyuwu kui Kudu eling, kudu eling3.” Si Mbah bernyanyi merdu lagu yang diciptakan Ibu untuukku. Dengan lagu itu, Ibu selalu berharap agar aku bisa menjadi orang yang selalu menghormati orang lain. 

      Si Mbah tampak menahan bendungan air matanya yang akhirnya tumpah, wajah keriputnya tampak menyiratkan rasa kerinduannya pada Ibu. Ku peluk tubuh tua itu berusaha meredamkan sedikit sedihnya yang kembali lagi. Si Mbah bilang kalau Ibu selalu berusaha memenuhi kebutuhan pokok kami bertiga. Tak mau membiarkan si Mbah kelaparan dan tak mau membiarkan aku tumbuh tanpa air susu. Namun harapan Ibu itu terasa berat. Ibu setiap hari lontang-lantung menjalani pekerjaan yang tak tetap serta penghasilan si Mbah yang hanya 7500 perhari itu tak mampu memberikan suapan nasi kepada tiga generasi satu gubuk ini.Saking sulitnya, seringkali para tetangga melempar iba kepada keluarga kami. Dan tak sering juga Ibu menolak pemberian itu dari para tetangga. Namun, karena yang dipikirkan oleh Ibu hanya pertumbuhan aku dan kesehatan si Mbah suatu ketika Ibu akhirnya menerima pemberian makanan dari tetangga-tetangga kami.

“Wah nyuwun ngapuro loh Bu Warti. Saya sudah sangat merepotkan Ibu. saya benar-benar bingung harus membalas dengan apa lagi selain doa agar Allah melancarkan rezeki Ibu. Semoga Ibu mendapatkan yang lebih berlipat. Matur nyembah suwun nggih Bu panganane....4” Si Mbah bilang, hanya untuk menerima makanan saja Ibu sampai berlama-lama mengucapkan rasa terimakasi dan doanya kepada Bu Warti. Senyumnya saja tak habis-habis dilemparkannnya. Disaat perut kita yang sedang lapar Ibu rela membiarkan dirinya tak makan dengan membohongi si Mbah, Mbah bilang lagi,

 “Ibumu itu sangat sayang pada mbah dan kamu Nduk. Tapi karena memang keadaan kita yang kurang. dengan makanan itu kamu yang baru berusia dua setengah bulan saja sudah disuapkan nasi. Karena nasi dan lauk seadanya itu mbah dan ibumu saling bertengkar agar kita ndak ada yang ndak makan. Hingga akhirnya ibumu bilang, ‘Ya sudah biar saya yang makan duluan di dapur Mbok, tolong gendong Nisa sebentar ya Mbok.’ Setelah beberapa menit Ibumu makan, Bu Warti datang ke rumah meminjamkan selimut untuk kamu dan bilang ‘Wah makannya gantian ya Mbok sambil gendongin Annisa’. Nah ya Mbah bilang kalau Ibumu sedang makan di dapur. Eh Bu Warti malah jawab kalau Bu Warti barusan berbincang-bincang sama Ibumu buat minjem selimut itu dan melihat nasi itu masih utuh. Dari situ mbah tau kalau Ibumu bohongkaro5 si Mbah.”

      Begitu panjang cerita tentang Ibu. Buat ku, Ibu termasuk pejuang nyawa yg hebat. karena disetiap langkah kakinya ia berusaha memberi gizi untuk aku dan si mbahwalaupun tak pernah mendapatkan pekerjaan tetap. Ibu selalu ramah dan melebarkan senyum untuk hidupnya yang belum ditakdirkan baik oleh Gusti Allah.Nyuwun sewu setiap kali ibu menyinggahi warung-warung makan atau rumah orang-orang yang sedang membutuhkan pembantu namun tak sering Ibu mendapatkan kesempatan pekerjaan itu karena aku yang selalu digendong oleh Ibu, mereka tak mau menerima pekerja yang membawa anaknya. Nyuwun ngapurojika seketika Ibu telah mendapatkan kesempatan pekerjaan dan melakukan kesalahan. Beribu-ribu maaf dan berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama, selalu Ibu ucapkan ke majikannya dulu. Namun menjadi beban hutang jika secara kebetulan juga Ibu mendapatkan majikan yang egois dan Ibu memecahkan sesuatu yang tak mungkin dapat digantikannya entah sampai kapan. Ibu masih menggendongku saat ia mengucapkan Matur sembah nuwun ke orang-orang yang menolak memakai jasa Ibu atau kepada mereka yang telah menerima jasa Ibu dalam beberapa hari. 

      Saat aku berusia tiga tahun Ibu dan si Mbah pernah mencoba membuka usaha warung gudeg dengan meminjam sejumlah uang kepada tetangga sekitar. Sebenarnya banyak yang menyukai Gudeg Ibu dan si Mbah. Banyak pelanggan yang datang tiap pagi. Ibu sudah sedikit merasa lega karena paling tidak mereka sudah bisa makan secara rutin walaupun bukan dengan lauk yang memiliki gizi lebih. Dan walaupun aku belum bisa dibelikan susu, paling tidak ibu sudah bisa membuatkan makanan balita untukku. Namun sayangnya suatu hari dagangan Ibu ditipu orang. Mereka memesan seratus bungkus gudeg untuk acara syukuran. Tapi orang itu belum bisa membayar DP. Ibu tetap menyanggupinya dengan meminjam uang Bu Warti untuk mencukupi belanja bahan-bahan gudeg itu. Setelah di antarkan, dan pembayaran pesanan itu diundur selama berminggu-mingggu ternyata orang yang memesan itu menipu Ibu. dia kabur tanpa jejak dan tak membayar sepeserpun pesanannya. Hutang Ibupun kembali menumpuk. Tak ada balik modal yang diterima. Ibu, Si Mbah, dan aku kembali mengalami keterpurukan. “Uwes Has, ra popo. Ikhlaske wae Nduk. Husnudzan wae nek gusti Allah ngko mbales keikhlasanmu6.” bujuk si Mbah kepada Ibu yang saat itu sedang menangis sedih karena penipuan yang diterimanya.

      Sejak saat itu, setelah satu setengah tahun ibu berdagang gudeg secara perlahan usaha ibu menyusut. Dan lama-lama Ibu tak lagi berjualan Gudeg. Ibu dan si Mbah masih harus memikirkan bagaimana membayar hutang-hutang mereka. Yang membuat Ibu suatu saat membicarakan keputusan baru kepada si Mbah. Sambil menggendong erat aku yang berusia lima tahun waktu itu, “Mbok, Nyuwun sewu. Hastuti mau izin mbok.” dengan ragu-ragu Ibu mulai merancang kata-katanya. “Lah, ono opo to nduk. Kamu bikin mbok takut saja.” Balas mbok menjawab. “Hastuti bingung mau dengan apa membayar Hutang-hutang kita. Hastuti mau bekerja sebagai TKI saja.”

      “Mbah bingung disitu Nis. Bukannya tidak mau merawat kamu, tapi dari mana Ibumu itu bisa berpikiran untuk menjadi TKI. Mbah khawatir malah akan terjadi apa-apa dengan Ibumu. Tapi Ibumu benar-benar ngotot sekali untuk bekerja di Arab. Dia berusaha meyakinkan Mbah kalau dia akan baik-baik saja dengan mengirimkan surat setiap Bulan. Akhirnya Mbah izinkan Ibumu pergi dengan sedikit berat hati. Sewaktu akan meninggalkan kampung ini, Ibumu juga masih sempatnya menyanyikan lagu biasanya buat kamu Nis. Dia benar-benar menitipkan kamu kepada mabah. Mbah berusaha yakin disitu bahwa suatu saat Ibumu akan pulang dan membawa perubahan dikehidupan kita.” Sudah tengah malam, si Mbah masih belum selesai bercerita. 

      Lima bulan bekerja sebagai TKI, Ibu mulai lancar mengirimkan uang kepada si Mbah dan meminta mbah mencoba membuka usaha gudegnya kembali dengan resep jitu yang sama, yang disukai orang banyak seperti dulu. Usaha si mbah melejit pesat membawa perubahan besar untuk kehidupan kami. Awalnya si Mbah berjualan keliling. Karena merasa letih dan susah memantau keadaanku yang masih kecil, mbah memilih untuk membuka warung di depan rumah dengan bantuan uang dari Ibu juga. Setelah empat tahun berdagang, si Mbah memberanikan diri membuka rumah makan gudeg sederhana disebuah toko Yang banyak dilewati wisatawan. Namun sayangnya Ibu masih belum bisa pulang ke Pulau Jawa, karena terikat kontrak untuk bekerja dengan majikannya di Arab selama delapan tahun. 

      Setelah delapan tahun ibu bekerja, akhirnya Ibu memutuskan untuk pulang ke Jawa dengan membawa rindu teramat sangat untukku. Aku yang sudah berusia 13 tahun makin tak sabar menunggu kedatangan ibu. Aku ingin memelukknya dan memperlihatkan pertumbuhanku yang sehat ini. Ibu terbang dari Arab saudi ke Jakarata, dan langsung menaiki travel menuju Jogja. Gusti Allah memang tak pernah menceritakan rencananya apapun kepada hambanya. Beberapa jam sebelum aku akan pergi menjemput Ibu di terminal, aku dan si Mbah mendengar kabar buruk dari orang-orang. Bis yang ditumpangi Ibu terguling ke jurang. Nyawa semua penumpang tak dapat diselamatkan, termasuk Ibu. Aku dan si Mbah segera menuju lokasi kecelakaan untuk memastiakan. Dan ternyata benar, nyawa Ibu tak terselamatkan, ia meninggal dengan jejak senyum, rindu, dan nyanyian untukku. Tak ada yang bisa melawan takdir. Si Mbah menangisi jenazah ibu tak henti-henti. Setelah urusan mengurusi semua jenazah Ibu selesai. Rumah baru yang lebih besar dan nyaman yang sudah satu tahun aku dan mbah tempati yang biasanya memang sepi karena hanya aku dan Mbah yangtinggal, dan kini terasa lebih sepi karena kami tak bisa lagi merasakan wujud Ibu yang akan segera pulang,merasakan kehangatan Ibu yang selalu mengajarkan tiap titik usahanya untuk dapat melewati semua cobaan dari gusti Allah. Mbah sangat berharap bisa memperlihatkan keberhasilan dari usaha Ibu sendiri, dari tiap-tiap usahanya menghidupi kehidupan kami bertiga selama bertahun-tahun. Ini semua usaha Ibuku, semua juga karena semangat Ayahku yang ditularkannya walau tak begitu lama kepada Ibu dan Mbahku.

“Kenapa selama ini, Mbah boten cerito7 karo Nisa tentang Ibu? Nisa merasa belum bisa memberi balasan kepada Ibu. Berbakti pun mungkin belum. Kan terakhir nisa tinggal sama Ibu, waktu nisa masih kecil dan belum bisa membantu apa-apa. Annisa pengen balas jasa Ibu mbah” kantukku hilang malam itu, digantikan genangan air mata yang menampung. Aku rindu Ibu. 

“Maafkan Mbah ya Nisa. Mbah masih belum siap untuk mengenang kepergian Ibumu dengan menceritakan semuanya kepadamu sebelum-sebelum ini. Mbah merasa sekaranglah waktunya mbah siap untuk menyatukan rasa rindu kita ke Ibumu. Nisa masih bisa berbakti untuk Ibu mu kok nduk. Dengan mendoakan ibumu setiap hari, agar tenang disana bersama ayahmu. Besok kita ke Makam ya. Sekarang kamu tidur dulu.” Mbah mengecup keningku dan memeluk aku saat tidur. Tidurku terus resah, menunggu waktu pagi untuk bertemu Ibu dan Ayah di atas tanahnya.

“Bu, ini Annisa. Nisa sudah 17 tahun. Sudah makin rajin minum susu. Makanan yang Nisa dan Mbah bikin juga makin bergizi. Nisa sudah semakin lancar menyanyikan lagu Ibu. tiap malam Mbah selalu menyanyikannya untuk Nisa. Ayah, tetap berikan semangat untuk Ibu disana ya. Terimakasih sudah membantu Ibu dan mbah waktu dulu. Walaupun Nisa belum ketemu Ayah, tapi Nisa bisa merasakan sayangAyah buat Nisa.” Si Mbah yang baru saja mengusap air matanya memimpin doa untuk dipersembahkan kepada Ayah dan Ibu disana. Setelah mengirim doa, kami membersihkan tempat tinggal terakhir orang tuaku itu.

Berikan tempat yang layak untu orang tuaku Gusti...

Sampaikan Doa Nisa buat Ibu dan Ayah ya...

Nisa dan Mbah sayang kalian.




  1. Kalau sudah ditunjukkan yang cocok dan sayang sama kamu, jangn persulit hidupmu dengan mempertahankan egomu itu ya nak
  1. Perempuan ya Bu? Supaya tambah baik akhlaknya, jadi Annisa Nur Fatomah ya Bu.
  1. Nak, kalau ada orang tua dan kamu lewat, apa yang kamu ucapin? Permisi. Kalau kamu punya salah sama siapa aja, terus kamu ngapain? Minta maaf. Kalau kamu di tolongin orang, kamu bilang apa? Terimakasih. Nak, permisi, minta maaf dan beerterima kasih itu harus diingat, harus diingat.
  1. Terimakasih sekali ya bu makanannya
  1. Sama
  1. Sudah Has, tidak apa-apa ikhlaskan saja nak. Husnudzan saja kalau Allah nanti akan membalas keikhlasanmu.
  2.  
  1. Tidak cerita
Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *