Thursday, December 13, 2012

Anjani Inspirasiku


Cerpen ditulis oleh: Karina
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com
FB: Komunitas Penulis Pelajar

__________________________________________________________________

          Aku ngefans sama kakakku. Kakakku yang sukses diriin toko baju batik Jogja, namanya Anjani. Kayaknya lebih pantes dibilang kalau aku ngefans sama baju-bajunya dari pada Anjaninya. Soalnya motif bajunya bisa bikin aku jatuh cinta. Tapi, suatu saat nanti aku pengen punya sebuah perusahaan dan menyaingi Anjani dengan banyak karyawan keren-keren yang gajinya tiap bulan naik. Heem… aku anak yang baik sekali.

          Sore ini aku sedang melukis di teras. Sesekali aku ngelirik ke arah sebuah benda yang kemarin dikasih temennya Anjani. Gerabah. Katanya aku disuruh coba melukis diatas gerabah. Aku ambil gerabah itu dan aku inget-inget kejadian kemarin. Kemarin aku menyempatkan diri dateng ke toko baju batiknya Anjani yang mengarah sejalur dengan Malioboro. Sesekali aku menghirup aroma harumnya baju baru yang Anjani hasilkan.

         “Kamu suka yaaa…” kata Anjani yang tiba-tiba muncul dibelakangku.

         “Mana mungkin! Oya, hiasan ditembok apa itu?! Aku nggak ngerti maknanya.”


         Tiba-tiba suara seorang laki-laki dari arah belakang melontarkan kalimat yang amat sangat membuat rambutku rontok. “Itu buatannya ayah tau,” katanya. Dia ayahku.

         Bener-bener aku minta maaf sama ayah yang juga guru ngelukisku itu. Terus aku puji-puji hiasan di tembok tokonya Anjani. Tak lama kemudian, ayah mengajakku pergi. Dalam perjalanan aku mengamati kalau ayah melajukan motornya ke daerah Kasongan. Beliau belok disuatu tempat seperti tempat untuk ayah kerja. Saat di ruangan yang luas, aku terkesima setelah bertemu patung yang dua kali lipat tingginya dari aku berbentuk Pegasus, kuda dengan dua sayap. Lalu ayah dan teman-temannya menghancurkan patung itu menjadi kecil-kecil. Pengalaman berhargaku dimusnahkan! Bahan yang digunakan untuk membuat patung pegasus itu aku segera ambil segenggam dan aku tatap baik-baik.


         Ayah mengajak berkeliling. Kali ini keluar ruangan. Beliau memperlihatkan gerabah-gerabah yang sedang ditata dan memberiku yang kecil. Padahal ada yang sebesar gentong. Dan aku pengen yang besar! Biar aku bisa nunjukkin ke Anjani kalau bentuk badannya kayak gitu. Aku berpikir. Kalau aku buka bisnis gerabah, aku bisa ngalahin tokonya Anjani.  Terus aku bikin perusahaan gerabah dan… aku yang menang!


         “Ajarin aku buat gerabah!” seruku tiba-tiba.


         Ayah terkejut. “Kamu lukis aja nanti di rumah,” katanya.


         Setelah insiden itu, besoknya pas aku lagi nggambar di teras malah keinget dan berinisiatif ngamplas gerabahnya biar halus. Yang semula aku pengen buat sendiri malah jadinya gini. Mendingan aku masuk ke dalem dan ngerjain sesuatu yang lebih penting seperti nonton tivi. Tapi kenapa aku malah berhenti? Padahal usahaku sekarang bisa berguna buat besok gede menyaingi Anjani. Kapan-kapan deh. Lagian baju batiknya pada bagus, setingkat sama Mirota Batik. Mana mungkin aku bisa menandingi kesuksesannya.


         Terlihat ibu baru pulang dari kantor sambil bawa parcel. “Nih ada parcel buat kamu, dari Anjani. Katanya kamu masuk rumah sakit.” Kata ibu dengan kepolosannya.


         Aku melongo. Hidungku kembang kempis. Kukuku panjang-panjang. Mulutku keluar tomcat. Kurang ajar! “ANJANIII…” si saingan terberat dan terbantetku! Untuk keseratus kalinya aku berniat berantakin kamarnya. Aku mau pecahin cerminnya, kasurnya aku sebar upil, terus lemarinya aku jatohin. Tapi aku baru sadar kalau aku sekamar sama Anjani. Buat merasakan gimana nggak sukanya aku sama Anjani aku makan parcelnya. Aura nggak beres tiba-tiba merasuk. Ayah dateng dari tempat kerja.


         “Cepet gerabahnya digambar! Ayah tungguin.” Ayah mengambil buah dari parcelku dan duduk. Alamak. Tak lama, aku perhatiin ternyata ayah tidur. Ini kesempatan emas untuk lolos. Baru aku mau kabur, ayah bangun. Aku memberikan gerabahku yang baru selesai dihias dengan tampang kesel. Ayah meneliti dan memberi komentar. 


         “Bagus.”

..................



         Besoknya aku nggak masuk sekolah. Setelah diselidiki kenapa aku nggak masuk, ternyata hari ini tanggal merah. Aku tau ini jadi kesempatan ayah buat ngelatih aku. Dengan kehebatan akalku, aku mau diajarin nggambar dengan syarat diajak ke toko baju batiknya Anjani. Aku mau lihat-lihat keindahan apa lagi yang Anjani hasilkan.


         “Kamu mau berhasil kayak gini?” tanya ayah sambil mengecek keadaan toko.
Mataku berbinar-binar merasakan kebaikan hati ayah. Reflek aku jawab dengan suara yang lantang dan bermakna, “aku mau!!”

         “Mau tapi kok sekarang males latihan,” jawab ayah dengan nada penuh sindiran.


         Aku mencerna perkataan ayah yang tadi kuanggap serius. Setelah aku pikir-pikir, ini awal menuju hal yang aku pengenin. Aku pengen ngalahin Anjani. Sebagai adik, aku pengen ngalahin kakak! Iya! Aku pengennya itu! Dengan sangat mantap aku berseru.


         “Setiap pulang sekolah aku mau langsung belajar sama ayah!”
         “DEAL.” Seru ayah. Mati aku.


......................


         Sehabis dari tokonya Anjani, aku dan ayah pulang. Beliau langsung menyiapkan alat-alat yang diperlukan untuk latihan. Termasuk kertas gambar.


“Aku nggak mau dikertas,” kataku membuat ayah memberhentikan pekerjaannya. “Aku maunya di... yang kemarin itu loooh… Bentuk badannya Anjani. Pasti taulaaah…”

         “Gerabah? Kamu ketagihan ya?”


         “Aku bukan pengen nggambar. Aku pengen buat. Buat sendiri.”


         Aku melihat ditatapan mata ayah ada rasa terkejut tapi beliau menyembunyikannya. Lagi-lagi ayah mengajakku ke tempat yang kemarin di Kasongan. Tapi ayah sama sekali nggak memberiku pot atau sejenis gentong. Melainkan sebuah celengan dari tanah liat yang aku disuruh mengamplasnya. Setelah aku selesai, ayah kasih aku gerabah kecil dan aku disuruh ngamplas lagi. Pada akhirnya aku kerjain walaupun dengan perasaan jengkel.



         Untuk cari aman aku mulai beralasan. “Aku capek, pengen pulang.”
Besoknya aku kembali lagi karena aku bersikeras mau diajarin buat gerabah. Tapi yang ada malah sebaliknya. Ayah nyuruh aku ngamplas lagi. Kali ini aku disuruh ngelanjutin yang kemarin. Waktu berlanjut, hari berikutnya, aku disetop mengamplas karena setelah diteliti hasilnya halus merata. Itu artinya aku dibolehin buat sendiri.

         “Kata siapa? Kalau kamu hias gerabahnya, baru kamu boleh buat.” Kata ayah.
Langsung aku kerjain karena tujuan utamaku sudah didepan mata. Pertama-tama aku mulai dari celengan dan menggambar pola. Awalnya aku ngeluh, tapi lebih percaya diri sama hasilnya nanti. Kalau dibilang bagus, berarti boleh mulai buat gerabah. Terus, kalau aku bisa buat sendiri, aku bakal sesukses Anjani. Dan ini sama dengan aku ngalahin Anjani. Apa aku mulai berjalan diroda kehidupan impianku?! Aaahahaha…

         “Jelek!”


         “A-apa? Tapi ‘kan aku udah berusaha. Apa ayah nggak bisa lihat usahaku mati-matian buat dapet pengakuan dari ayah?” ujarku dengan nada dibuat tinggi. Ayah cuma bisa diam. Karena nggak dibalas ucapanku barusan, aku pikir udah menang.


         “Ayah pecah ya…” kata ayah, bercanda tapi serius. Aku membolehkan. PRANG!! Oh God! Ayah betulan mecahin karyaku! “Tujuan kamu buat gerabah apa?” Tanya ayah.


         Aku harus cari alasan supaya ayah nggak tau ini awal ngalahin Anjani. Tunggu dulu! Pertanyaan ayah barusan menyadarkanku. Selama ini aku niat bikin gerabah karna hal sepele. Bukannya untuk belajar seni. Tapi ngalahin Anjani! Selama ini niatku salah!


....................


         “Heh, Anjani! Aku minta maaf,” kataku. Anjani ketawa. Liciknya keluar. Aku melengos tapi tetap mau bicara empat mata. Anjani nurut dan mengikuti aku keluar.


         “Kamu mau ngakuin kalau selama ini kamu kalah?” Anjani menebak.


         “Oralah. Aku cuma mau nanya-nanya. Kamu pernah bilang ke aku kalau kamu jangan sampe bisa didahuluin adeknya. Jangan-jangan, kamu mau menang dari aku ya?!”


         “Enggak. Tapi ada benernya juga deng. Jadi kamu kesini cuma mau ngomong itu? Hahaha.” Anjani ngakak. Dia terlihat seperti orang yang sedang keselek.


         “Terus… tujuan kamu selama ini apa?”


         Anjani berpikir. “Pengen nyenengin ayah ibu. Dari minat juga sih.”


         Mataku kinclong. Senyumku mulai menghias. “Makasih Anjani! Makasih juga parcelnya.” Tanpa pikir panjang aku pergi pulang dan segera menemui ayah. Aku akan bilang ke ayah kalau persaingan antara aku dan Anjani akan segera berakhir. Untuk yang satu ini aku mau jadi berbakat, dan aku pengen berteman sama Anjani tanpa mengagumi karyanya secara diam-diam. Ayah menerimaku kembali. Sekarang, aku belajar dari nol. Nggak berapa lama ayah mulai sadar kalau dalam diriku yang sekarang ada peningkatan.


         “Mulai hari ini kamu latihan buat gerabah.” Kata ayah.


         Aku kegirangan. “A-Aku harus apa? Pemanasan? Senam SKJ? Masak Indomie?”


         Pertama aku disuruh menggali ke dalam tanah yang mengandung tanah liat. 


         Berdasarkan feeling, tanah liat yang diambil secara langsung dan dibawa bolak-balik itu berat. Jadinya, aku simpulkan sendiri bahwa aku… nggak bisa.

         “Dicoba dulu baru ngeluh. Belum apa-apa udah nyerah,” ujar ayah. Kata-kata ayah ada benernya juga. Tanah liat yang bakal aku bawa-bawa nggak seberat badannya Anjani. Setelah selesai, baru tahap selanjutnya. “Disiram air sampai rata. Diemin sampai besok.”


         Aku matung. Bagian yang gampang aja harus ditunggu. Sampai besok pula. Berarti semalaman aku harus nunggu penantian untuk hasil gerabah pertamaku. Bisa-bisa aku mulai bau tanah lagi. Waktu hari berikutnya tiba, kata ayah aku disuruh nginjek-nginjek tanahnya biar halus. Lalu yang paling aku tunggu sehabis ini… proses pembentukan!!


         “Aku mau bikin sendiri!!” seruku. Ayah membolehkan. Pada akhirnya yang aku kirain bisa leyeh-leyeh bentuk calon gerabah berubah menjadi darah tinggi. 



         “Kenapa masih gini sih! Kayak sulak!” Aku emosi. Ayah mengerti perasaanku yang ternyata belom bisa melatih kesabaran. Jadi ayah putuskan untuk ngajarin aku bikin bentuk gerabah pake perbot, alat pemutar. Tapi aku malah tambah emosi gara-gara kesulitan. Dibawah terik matahari, gerabahku mulai dijemur setelah dihaluskan dengan air dan kain.


.................



         Tujuh hari berlalu, lokasi di toko baju batik Anjani…


         "Kamu seminggu kesini terus! Bosen aku ngeliatnya, udah sana pulang!” kata Anjani. “Denger-denger kamu udah buat gerabah ya? Bagus donk.”


         “Apanya yang bagus. Aku berhenti. Buat gerabah bisa bikin aku tambah emosi.”


         “Hal kecil gini udah nyerah. Gimana besok ngejar cita-cita.” Katanya bermakna.


         Kalimatnya menyihirku untuk memulai bicara sama ayah kalau aku nggak mau berhenti sampai disini. Hari itu juga aku kembali kerja. Sampai ditempat, aku periksa keadaan gerabahku yang ternyata sama sekali nggak berubah setelah terakhir kali kujemur. Waktu aku tanya kenapa gerabahku nggak dirawat, ayah malah ngajak aku ke tempat yang panas dan bikin aku gerah. Tungku pembakaran.


         “Ayah mau bakar gerabahmu biar keras sama nggak gampang pecah. Bakar gerabah ini lumayan lama, kamu kalau nggak kuat boleh pergi.”


         “Tapi aku mau latihan. Jadi biarin aku tetap disini,” pintaku. Tapi takdir berkata lain. “Disini panas banget. Suhunya berapa sih?” kataku yang dijawab dengan mendelikan mata ayah. Aku cuma bisa cengengesan.


         Biarpun aku dimarahin, ayah tetep bolehin aku pergi dan main. Beliau menetap buat membakar semua gerabah termasuk punyaku. Pengen bantu, tapi panas. Yang ayah harap dari aku cuma bisa dan sukses. Biar aku bahagia, gitu katanya. Kalau aku bahagia, otomatis ayah juga bahagia. Tapi sekarang, apa yang bisa aku kasih ke ayah, setelah ayah kasih semua yang aku nggak bisa menjadi bisa ke aku?


         Aku ngerti sekarang! Tanpa usaha, aku nggak akan dapet semuanya. Satu-satunya yang harus aku lakukan ketika gerabahku selesai adalah sujud syukur!

Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *