Thursday, December 13, 2012

Melebihi Impian, Mencapai Masa Depan

Cerpen ditulis oleh: Ami --- SMA Tirtonirmolo
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
         FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
         Twitter: @kpp_menulis | klik
_______________________________________________________


Siang ini dan siang-siang sebelum serta yang akan datang mungkin akan aku habiskan santai-santai di kamar seperti ini. Merebahkan tubuh di kasur, memandang langit-langit kamar, mendengarkan musik dari tape serta, jari-jari asyik menekan-nekan tombol di gameboy. Sesuatu yang tak bisa aku lakukan kemarin menjelang UNAS. Tentu saja!

Tapi, sekarang sudah 14 hari atau 2 minggu lagi pengumuman kelulusan SMP diumumkan. Wah, apa yang akan aku lakukan kalau nilai UNASku bagus? Mugkin aku perlu berdiri di perempatan dekat sekolah dengan membawa papan bertuliskan “TEMAN, NILAI SAYA ISTIMEWA!” Soal dapat nilai jelek, aku nggak boleh mikir, aku harus optimis!

Saat latihan terakhir menjelang UNAS kemarin, nilai yang aku peroleh belum masuk apa yang aku harapkan. Sedangkan, peringkat pertama paralel masih dipegang Widny. Gadis berbehel dari Bengkulu itu, dari kelas 1 sampai kelas 3 ini sudah dicap anak pandai dari sekolah. Hanya sekali saja dia dikalahkan oleh teman satu bangkunya si Ifah. Sisanya dia semua yang pegang. Peringkatku dengan Widny dipisahkan oleh sekitar 31 orang. Bisa dihitungkan aku peringkat berapa? Baru mau memejamkan mata ini, handphoneku menjerit. ‘ One message from Widny ’

“ Kangen Ufi...., ” Kata Widny diseberang sana. Haruskah kubaca secara manja?!

“ Widny, aku memang terlahir mudah untuk dikangenin, ” Balasku sambil meletakkan gameboy di lantai.

 “ Hmm, pede kamu, Fi. Tahu nggak, Fi...? ” Balas Widny.

“ Ngaak lah! Belum dikasih tahu, juga! ” Sebenarnya tipe balas-balasan SMS seperti ini adalah salah satu tipe yang nggak aku sukai. Buang-buang pulsa. Tapi, karena teman yang bentar lagi bakal pisah, harus kujawab.

Sepertinya Widny nggak balas SMSku. Ku taruh handphoneku dekat kepala. Dan kuambil lagi gameboyku. Tiba-tiba... Handphoneku menjerit lagi. Dari Widny.

Balasan Widny selanjutnya ini cukup membuat ekspresi tanda tanya di mukaku. Intinya aku bingung. Tapi, kali ini aku sengaja tidak menjawabnya.

***

“Cara terbaik meramal masadepan adalah dengan menciptakannya.” Kata-kata dari Alan Kay itu yang diucapkan Widny dulu saat kita kelas 2, dan masih aku ingat maknanya. Mungkin itu yang menjadi salah satu motifasinya dalam berprestasi seperti sekarang ini. Sebenarnya awal kedekatan kami hanya sekedar tahu nama dan nomor handphone. Belum berani tanya tentang keluarga-keluarganya, kecuali kakakknya. Itu karena nama kakak kami sama. Tapi, sekarang aku tahu bahwa Widny adalah gadis pemberani dan penuh tanggung jawab.

Menjelang UNAS kemarin, guru Sains kami ibu Sri membuat suatu permainan, tapi akan aku sebut dengan “ jujur-jujuran ”. Setiap murid diajak maju satu per satu tentang apa yang mengganjal dalam hati agar saat mengerjakan UNAS kelak lebih lega dan tenang. Dan murid pertama yang ditunjuk adalah seorang yang kita bicarakan tadi, Widny.

Meskipun dia tidak terlalu pendiam, tapi dia sebenarnya pemalu. Bisa ditebak saat dia berjalan menuju ke depan kelas, sangat lambat, sesekali menundukkan kepala. Tapi, masalah apa yang bisa membuatnya galau atau nggak tenang dalam menghadapi ujian. Belum pernah aku mendengar masalah tentangnya atau kedekatannya dengan seseorang. Dan seperti inilah kehidupan sang juara sekolah.

Sebenarnya saya tidak tahu akan bicara apa di depan kalian. Saya belajar hanya ditemani kakak saya. Setiap saya bosan, saya hanya baca buku. Tapi, karena fasilitas buku tidak terlalu memadai, saya berpindah ke buku pelajaran. Sama saja belajar kan?

Saya anak ke-2 dari 4 bersaudara. Saya dan kakak saya yang sama-sama kelas 3 ini harus bisa membagi waktu antara belajar dan mengurus rumah. Kami masing-masing harus selalu memberi semangat dan motifasi belajar. Ya! agar kami masing-masing mengingat tanggung jawab kami disini. Memberi semangat masing-masing agar tidak melenceng ke arah negatif.

Hmm... kami hanya tinggal berdua di Jogja ini... 2 adik saya dan kedua orangtua kami tinggal di Bengkulu. Hanya saat liburan panjang atau hari besar saja kami bisa bertemu. Tugas rumah harus dibagi setiap harinya bersama kakak saya. Sejak dari kelas 1 saya harus pulang secepatnya untuk menjaga rumah. Itulah sebabnya saya jarang bermain dengan kalian sepulang sekolah karena harus menjaga dan piket rumah.

Itulah kenapa! Kalian masih ada waktu untuk belajar sebelum UNAS ini, Cara terbaik meramal masadepan adalah dengan menciptakannya. Kalau kalian mau lulus dengan nilai tertinggi, kalian harus menciptakannya. Berusaha untuk menggapainya, jangan pernah menurunkan cita-cita kalian, tapi kalian yang harus meninggikan kualitas kalian agar sampai ke cita-cita yang dituju.



Widny menangis. Gadis yang innoncent seperti dia memiliki beban batin seperti itu? Tuhan memang begitu adil, di saat ada yang pandai luarbiasa, harus menahan beban batin kerinduan berkumpul keluarga. Yang lain diberi kasih sayang dan selalu dilayani orangtua, tapi tidak dijadikan loncatan untuk lebih berprestasi untuk membahagiakan orangtua.

***

“GAME OVER”. Karena teringat cerita ini, aku jadi kalah! Tapi. Hebat sekali Widny bisa tetap menjaga tanggung jawab sebesar itu, disaat yang lainnya bermain dan berkumpul dengan teman-teman. Padahal godaan di Jogja banyak sekali. Kalau dia tidak me manage keuangan, dia bisa saja uang bulanan habis dalam satu malam.

Selanjutnya, mungkin setelah keluar dari kamar ini. Akan lahir ufi yang melebihi Widny. Bisa jadi aku menjadi “ Widny KW”  atau kualitas nomer 1. Lihat saja widny!



Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *