Thursday, December 13, 2012

Janji Eri


Cerpen ditulis oleh: Putri
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com
FB: Komunitas Penulis Pelajar
____________________________________________________________________

Kafe di jalan Sagan itu mulai ramai. Musik akustik dari band-band lokal mulai mendendangkan telinga para pengunjung.Di meja nomor 14, terlihat seorang remaja wanita duduk sendirian. Namanya Eri. Ia terus mengetuk-ngetuk meja tempat ia duduk saat ini. Sesekali tatapannya menerawang jauh ke jalan depan kafe itu, memastikan orang yang ditunggunya telah datang atau belum.

15 menit kemudian, 3 orang remaja wanita seusia Eri datang dan duduk di sebelahnya.Wajah Eri tampak sedikit gelisah. Lalu ia mulai berbicara dan terlihat tanggapan teman-temannya yang kurang bersahabat. Terjadi sedikit keributan di meja nomor 14 itu.
“Temen-temen, tolonglah, buat sekali ini aja…”

“Pokoknya kalau kamu tetep mau kita nari Serimpi itu, pertemanan kita bubar!” ancam tiga remaja wanita itu.

Tak berapa lama, tiga teman Eri pergi dari kafe itu.Eri terdiam.
Eri teringat akan pesan Mamanya 2 hari lalu. Saat itu Eri sedang menunggui Mamanya yang tengah sakit di rumah sakit.Kata-kata Mamanya selalu terngiang di kepalanya.

“Eri, sebentar lagi perpisahan sekolah kan? Eri kan pandai menari Serimpi, bagaimana kalau Eri dan teman-teman menarikannya saat perpisahan. Mama janji akan nonton kalau Eri mau menarikannya.”

Sebetulnya mudah saja bagi Eri untuk menolaknya apabila mamanya sedang sehat saat itu. Namun, penyakit mamanya yang semakin parah dari hari ke hari, membuat Eri takakan tega untuk menolaknya. Apalagi mamanya telah janji akan datang menonton Eri di acara perpisahan sekolah. Eri amat takut bila tak sempat membuat mamanya bahagia.

Tante Mala, mama Eri, mengidap penyakit lupus sejak5  tahun terakhir. Penyakit itu terus menggerogoti kekebalan tubuhnya sehingga tante Mala sangat sering keluar masuk rumah sakit. Dahulu, tante Mala adalah penari Serimpi dan ia pun mengajarkannya pada Eri. Namun semakin beranjak dewasa, Eri menjadi kurang tertarik pada tari Serimpi.Eri merasa tarian itu terlalu kuno.

Sebetulnya, untuk mengisi acara perpisahan sekolah, Eri dan ketiga temannya sudah mempersiapkan tari modern yang akan mereka bawakan. Namun, Eri meminta ketiga temannya untuk mengganti tari modern mereka dengan tari Serimpi.Tentu saja karena Eri ingin membahagiakan mamanya.Namun, niat baik Eri justru ditolak mentah-mentah oleh ketiga temannya.Mereka menganggap Eri terlalu egois.

Eri bingung. Hot chocolate yang telah ia pesan sejam lalu telah dingin. Ia masih duduk di kursi nomor 14 itu. Otaknya tak henti berpikir bagaimana cara untuk bisa menarikan tari Serimpi di acara perpisahan sekolah. Tari Serimpi tak bisa dilakukan sendirian, namun mustahil untuk mencari tiga partner lagi untuk menarikannya.Eri tahu, mencari seseorang yang pandai menari Serimpi di masa sekarang ini sangat sulit.Ia berfikir sudah banyak orang yang melupakan warisan kebudayaan yang seharusnya dilestarikan.

Eri merasa tersentil dengan pemikirannya sendiri.Ia menyesal telah menganggap tari Serimpi adalah tarian kuno dan mengabaikan permintaan Mama untuk berlatih menari Serimpi di sanggar milik sahabat Mama.

“Nah!Itu dia!”Eri berbicara sendiri sambil mengacungkan jari telunjuknya. Sepertinya ia tahu dimana harus mencari orang yang bisa menarikan tari Serimpi bersamanya.
Tiba-tiba ponsel Eri berdering, terlihat nama “Papa” di layar hapenya.

“Waalaikumsalam, ada apa, Pa?“
“Ya Allah, kenapa bisa seperti itu?”
“Ya udah, Eri ke rumah sakit sekarang”

Setelah menerima telpon itu, Eri langsung memacu motornya menuju rumah sakit. Meninggalkan hot chocolate yang masih ia sisakan separuh di cangkir.

Eri berlari tergesa menuju lantai 3 dan kamar 3021 dengan sedikitterisak. Setetes air mengalir dari mata beningnya. Di depan kamar, ia lihat papanya sedang tertunduk. Eri langsung masuk ke kamar dan ia dapati mamanya tengah diberikan pertolongan oleh dokter. Suster menariknya dan menyuruhnya untuk keluar.

“Pa, gimana bisa?”

“Tadi Mama minta diputarkan lagu pengiring tari Serimpi, lalu Papa tinggal Mama ke depan sebentar. Ternyata Mama turun dari tempat tidur dan menari,” cerita Papa Eri.

Eri tahu betul bahwa Mama tak dapat turun dari tempat tidur walau sebentar. Kesadaran Mama bisa langsung menurun dan kondisinya menjadi tidak stabil. Penyakit lupus itu sudah terlalu parah. Eri sedikit menyesali sikap Mama dulu yang tak mau penyakitnya ini diobati. Mama selalu berkata bahwa penyakit ini akan hilang sendiri suatu hari nanti. Tapi kini penyakit Mama sudah terlanjur parah.

Eri duduk di sebelah papanya.Kali ini butiran bening itu keluar deras seperti tetesan air hujan. Mama adalah orang yang paling berharga buat Eri. Eri tidak mau kehilangan mamanya secepat ini. Kalaupun takdir berkata lain, Eri ingin membahagiakan mamanya untuk yang terakhir.

Dokter keluar dari ruangan.Dokter bilang, kondisi mama Eri semakin mengkhawatirkan.Butiran bening dari mata Eri masih terus mengalir, bahkan semakin deras.

“Dok, tolong selamatkan Mama. Eri nggak mau kehilangan Mama, dok,” pinta Eri.

“Eri, kita nggak bisa berbuat apa-apa lagi.Semuanya ada di tangan Allah,” ujar dokter sambil tersenyum.

Eri bergetar.Mamanya jadi seperti ini karena mencoba menari lagi setelah 5 tahun berhenti. Eri tahu, ini ada hubungannya dengan permintaan Mama kemarin. Eri rasa sudah tak ada waktu lagi.Ia segera pulang ke rumah untuk mengambil baju latihan dan pergi ke sanggar sahabat mamanya.

Di sanggar, Eri langsung mencari tiga anak seusianya untuk menari di acara perpisahan sekolah.Namun sayang, ternyata yang seusia Eri hanya dua orang anak. Akhirnya Eri tetap menguatkan tekadnya untuk bisa menarikan tari kesukaan Mama ini, walaupun hanya dengan tiga orang. Sebetulnya, tari Serimpi harus dimainkan oleh empat orang wanita, karena Serimpi melambangkan angka 4.Namun, keadaan memaksa Eri untuk tetap menarikannya dengan tiga orang saja.

Setelah dari sanggar, Eri langsung pergi ke sekolahnya.Ia akan mengonfirmasi pada penyusun acara perpisahan sekolah. Di sana, ia lihat ketiga temannya tadi tengah berlatih tari modern. Eri diam saja.

“Ri! Gimana? Udah dapet orang yang mau kamu ajak nari tarian kuno itu?” tanya salah satunya setengah mengejek. Eri masih diam.

“Kenapa, Ri? Putus asa banget ya? Udah deh, ajak aja simbok-simbok di pasar!” seru yang lain.

Eri masih diam, ia melanjutkan jalannya menuju ruang tata usaha. Di sana ia menanyakan jam acara kosong. Celaka! Seluruh rangkaian acara sudah terisi.Eri tidak bisa menarikan tarian itu di acara perpisahan sekolah.

“Eri, kalau kamu mau, kamu bisa ngisi acara terakhir, nanti kita atur supaya masih ada waktu buat kamu tampil. Tari Serimpi itu kan tarian selamat datang. Sebenernya nggak cocok kalau ditampilkan di akhir acara.Tapi kalau kamu mau sih, nggak masalah,” kata ketua panitia.

“Yaudah nggak apa-apa, yang penting aku tetep bisa tampil,” tegas Eri.
Walau di akhir acara, tapi Eri lega. Akhirnya ia bisa bahagiakan mamanya. Sekarang tinggal mencari izin dokter agar mamanya bisa menontonnya saat acara perpisahan sekolah.
™˜
“Mama!Eri jadi nari Serimpi di perpisahan sekolah loh,” cerita Eri sambil memotongkan apel untuk mamanya.
”Wah, Mama harus nonton nih! Pasti Eri cantik sekali nanti,” kata Mama sambil tersenyum.

“Sekarang tinggal cari izinnya dokter aja, Ma,” kata Eri setengah berbisik.
“Ah, dokter sekarang sudah baik kok. Buktinya Mama sudah boleh pergi kemana-mana,” ujar Mama.

Eri hanya tersenyum. Dalam hati ia sedikit bingung. Bagaimana bisa dokter mengizinkan mamanya untuk pergi disaat kondisinya seperti itu.Eri tak mungkin salah dengar, kemarin dokter bilang keadaan mamanya amat mengkhawatirkan.

Eri keluar dari kamar mamanya dan menuju ruangan dokter.Kebetulan sedang tidak ada pasien.

“Dok, kenapa mama saya bilang kalau dokter sudah mengizinkan mama untuk pergi kemana-mana?” tanya Eri penuh selidik.

“Eri, keadaan mamamu sudah semakin parah. Cepat atau lambat, waktu itu akan datang. Saya hanya ingin mamamu pergi dalam perasaan bahagia,” ucap dokter pelan.
Eri terdiam.Jantungnya serasa ditikam oleh pedang saat itu juga.Eri tidak mau kehilangan mamanya. Mama yang amat ia cintai. Ia keluar dari ruang dokter dengan lesu. Butiran bening dari matanya kembali keluar deras.Ia tidak bisa bayangkan mamanya akan pergi selamanya.

Eri masuk ke kamar mamanya.Ia lihat mamanya tengah tertidur pulas. Lagi-lagi air matanya kembali menetes.Ia kecup kening mamanya dan duduk di sebelah tempat tidur. Sambil menggenggam tangan mamanya, ia tertidur.
™˜
Hari ini hari yang Eri tunggu-tunggu. Hari dimana ia akan menarikan tarian kesukaan mamanya. Ia pun tak terlalu khawatir akan kesehatan mamanya karena dokter telah menyiapkan ambulans di dekat sekolah Eri. Hari ini, Eri melihat mamanya yang dulu.Mamanya yang bebas dari penyakit dan mamanya yang cantik tanpa memakai baju rumah sakit.Ia juga lihat pancaran kebahagiaan dari mata mamanya. Eri hampir menangis, tapi ia ingat telah memakai make up untuk menari nanti.

Kali ini tiba giliran Eri untuk menari. Mama dan Papa Eri berada di barisan terdepan untuk melihat Eri. Ketiga temannya yang tak mau diajak menari pun ikut melihat.Mereka menyesal setelah melihat keadaan mama Eri yang begitu memprihatinkan.

Tarian itu dimulai.Hanya dengan tiga orang saja.Namun, tiba-tiba mama Eri naik ke atas panggung dan ikut menarikan tarian itu. Eri terkejut, ia membujuk mamanya untuk turun. Ia lihat Papa memberikan isyarat untuk membiarkan mama tetap menari. Eri dan mamanya menari bersama dalam satu panggung.

Selama menari, tangis Eri tak dapat ia tahan. Eri takut sesuatu akan terjadi pada mamanya. Benar saja, tepat setelah tarian Serimpi itu selesai, mama Eri jatuh pingsan.Ambulans yang telah disiapkan dokter langsung bersiap.Dengan masih memakai kostum menari, Eri pergi ke rumah sakit.

Keadaan mama Eri kritis, kondisi tubuhnya langsung menurun drastis setelah menari tadi.Eri merasa amat bersalah.Air matanya terus mengalir sedari tadi.

“Ri, Papa tahu ini berat buatmu. Tapi biarkan Mama pergi dengan tenang. Eri nggak mau kan liat Mama terus seperti ini,” kata papa Eri sambil memeluk Eri.
“Pa, Eri hanya nggak mau kehilangan Mama secepat ini. Eri merasa belum sempat membahagiakan Mama.”

“Kamu lihat tadi Mama tersenyum saat menari? Itu kebahagiaan, Ri. Dan kamu udah bikin Mama bahagia,”

Eri membenarkan kata Papanya.Eri dan papanya masuk ke ruang ICU tempat mamanya dirawat.Alat-alat kedokteran terpasang banyak di tubuh mama Eri.Eri membisikan sesuatu ke telinga mamanya.

“Ma, Eri ikhlas, Ma… Eri janji akan selalu mengingat pesan mama. Eri janji akan mengajarkan tari Serimpi pada anak dan cucu Eri, seperti Mama mengajarkan Eri menari dulu. Eri sayang sekali sama Mama…”

Mama Eri tersenyum.Setelah di talqinkan oleh papa Eri, alat-alat kedokteran itu berbunyi nyaring.Eri tahu, mamanya telah pergi.Ia terbenam dalam dekapan Papa. Kali ini air matanya hanya mengalir setetes karena ia tahu, mamanya sudah tenang bersama-Nya.
™˜

15 tahun kemudian,
Di komplek pekuburan itu, seorang laki-laki tua bersama seorang perempuan berusia 30-an duduk di sebelah nisan bertuliskan Mala. Dibelakangnya, seorang laki-laki berusia mirip dengan wanita itu menggendong seorang anak perempuan berusia 5 tahun.Anak itu terus mendendangkan alunan musik pengiring tari Serimpi.Perempuan itu tersenyum pada anaknya dan berkata.

“Dek, ini eyangmu. Yang mengajarkan Mama menari seperti Mama mengajari kamu menari.”

Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *