Thursday, December 13, 2012

Wayang

Cerpen ditulis oleh: Iqbal
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
         FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
         Twitter: @kpp_menulis | klik
________________________________________________________

“Hoii... tunggu jo pada mlayu...!!!” Teriak seorang pedagang di pasar Beringharjo. Tiga remaja berlarian zig-zag menghindari lalu lalang orang di jalan sempit pasar yang penuh pedagang. Mereka berlarian mengindari kejaran pedagang tadi, tepatnya kabur, walaupun akhirnya tak dikejar sampai jauh. Dua wajah remaja tampak kegirangan karena berhasil mengerjai pedagang di pasar, satu wajah lagi tampak kebingungan sekaligus panik.

“Wah edan kalian ki... jaan...” kata Rama dengan ngos-ngosan

“Lah edan piye to?” jawab Tedjo sambil menata nafas setelah berlari.

“Kui mau kowe-kowe pada kie ngopo? Maling?!” tanya Rama
“Huuss... ngawur, sorry ya sendableg-ndableg aku sama Tedjo ki jo nganti maling! Yo ra Djo?”sergah Agus sambil njawil Tedjo.
“Terus? Mau pada ngapa?” selidik Rama.
“Santai Ram santai... tadi itu kita cuma usil, iseng wae.” kata Tedjo sambil cengengesan yang disambut Agus.
“Iseng piye jal?” tanya Rama

“Tadi itu Tedjo sama aku iseng pura-pura maling barang dagangan si-bapak tadi, nyambi tanya-tanya Tedjo pura-pura ngutil diselipin kaos biar bapake tadi liat, nah pas udah masuk dalem kaos barange dijatuhin, terus Tedjo kabur, sedurung aku ikutan kabur barange tak kembaliin sebelum bapake liat... gitu lhoo” jelas Agus sambil memperagakan. Tedjo hanya cengengesan mengingat kejadian barusan dan melihat temannya sedikit naik darah.

“Gitu lho gitu lho... tadi nek ketangkep disangka maling terus dikeroyok piye? Dasar pada kurang gawean!” kata Rama dengan sedikit jengkel kepada dua orang temannya.

“Iyo... sorry Ram, sorry... tapi untung ora dikeroyok tha? Hehe” elak Tedjo

***

Rama memandang langit cerah bertabur bintang sambil duduk di beranda lantai dua rumahnya, menikmati hembusan angin malam di bawah cahaya rembulan. Dirinya memandang jauh sambil berfikir tentang dirinya, tentang masa depannya, tentang teman-temannya, dan semuanya. “Apa yang aku lakukan saat ini ya? Jadi kayak apa aku besok setelah besar ya? Bagaimana sama teman-temanku ya? ” pikiran-pikiran itu berputar-putar dalam benak Rama.
“Oii... Ram, wah malem minggu ngelamun aja nih” panggil Tedjo dari depan rumah, ada Agus juga.

Rama yang terkaget dengan panggilan Tedjo langsung menjawab sekenanya “Lagi mikir masa depan ki”

“Oh... tak kira mikir negoro... hehe” ujar Agus sambil terkekeh.

“Wislah... mbangane ngelamun melu aku sama Agus wae yook!” ajak Tedjo

“Pada mau kemana je?” tanya Rama

“Dah ikut aja...” kata Tedjo

“Tapi ora aeng-aeng meneh lho” kata Rama memberikan syarat pada Tedjo dan Agus.

“Iyo iyo... khawatir banget, mung mlaku-mlaku kok” kata Agus menjawab kekhawatiran Rama

“Ya wis... tunggu sedilit tak ngisya’ sik” jawab Rama.
Ramainya malam minggu di jalanan Jogja menemani mereka bertiga berjalan-jalan menuju alun-alun. Alun-alun utara tampak ramai dimalam minggu, apalagi di alun-alun selatan, banyak muda-mudi yang menikmati malamnya dengan berbagai hiburan di sana semisal sepeda dengan kerlap-kerlip lampu atau sekedar minum kopi dan makan jagung bakar. Berbeda dengan mereka bertiga, mereka hanya sekedar jalan-jalan menikmati malam yang menyelimuti kota Yogyakarta, sambil melepas penat.

“Angkringan yook...” ajak Rama yang mulai lapar dan bosan dengan pemandangan muda-mudi di alun-alun, yang katanya ‘bikin iri.

“Tumben ngajak duluan ke angkringan, arep dibayari pasti” goda Agus

“Wah iyo iki...” Tedjo mengiyakan perkataan Agus sambil senyum-senyum

“Tak bayarke ora papa hehe” kata Agus sambil tertawa kecil

“Huu... lha podo wae, ya wis lah” pasrah Tedjo, Agus memperhatikan sambil senyum.

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Serasa cukup untuk mengisi perut di angkringan, setelah membayar mereka berencana pulang, tapi mana mungkin mereka langsung. Nol Kilometer, mereka sempatkan mampir, yang dulunya terkenal dengan Pancuran, karena di tengah-tengah perempatan Kantor Pos Besar dulunya ada pancuran, mereka ingin duduk-dukuk sampai pukul 22.30 melihat berbagai kegiatan anak-anak muda di bawah lampu jalan, ada yang berfoto-foto, bermain musik, freestyle sepeda, dan berbagai hal lainnya.

***

Hari demi hari telah berlalu, Rama masih merasakan ada yang kurang dalam dirinya, sama seperti yang ia pikirkan malam itu. Hari-hari yang telah ia jalani bersama kedua orang temannya yang sudah saling klop dilalui seperti biasa, belajar, bermain, iseng, gila-gilaan, dan lainnya. Rama berfikir walaupun saat ini bisa hidup seperti ini, bersenang-senang bersama, toh akhirnya nanti, pasti juga akan memiliki kehidupan sendiri-sendiri, kehidupan pribadi.

Sampai suatu ketika, mereka bertiga berjalan-jalan menikmati malam menuju alun-alun utara, tujuan mereka seperti biasa, yaitu melepas penat dan bersantai. Bagi mereka berjalan disuasana yang ramai di bawah lampu-lampu kota Jogja yang tampak klasik adalah suatu hal yang menyenangkan, melihat orang berlalu lalang dengan berbagai ekspresi. Sampai di alun-alun tak disangka ternyata sedang ramai karena ada pagelaran wayang kulit.

“Pantesan rame banget, ternyata ada wayangan... tekan isuk ki” ujar Agus
“Halah, ra bakal bisa nonton nganti bubaran, mesti ditinggal turu” ledek Tedjo pada Agus

“Ora yoo... ora salah hehe” jawab Agus sambil tertawa

“Wah, sing nontoh wayang akeh men” kata Rama

“Lah, emang kan?” kata Agus
“Aku lagi ngerti, lha biasane nang gambar utawa tivi mung ketok wayang plus dalange thok” jelas Rama.

“Ya wis... saiki ke sana wae yo... nonton wayang, pie?” ajak Tedjo

“Yook...” jawab Rama dan Agus serempak

“Lhaa… kok yang nonton kebanyakan orang tua, bapak-bapak?” tanya Rama
“Ya maklum lah Ram, jaman sekarang anak muda udah pada males liat wayangan yang begini, kalo jaman dulu sih banyak cah enom ikutan nonton. Nek sekarang ini, sing enom-enom, yang muda-muda, nonton wayang seneng’e kaya di tivi, wayang humor, terus…”

“Wis… wis… wis… malah pelajaran” sela Tedjo kepada Agus

“Pelajaran opo sih, mung njelasna kok” sewot Agus

Rama hanya tertawa kecil, dan dipikarannya berputar tentang wayang dan tentang penjelasan Agus barusan.

Mereka bertiga menonton wayang dipaling belakang sambil berdiri berjajar. Tak satupun dari mereka bertiga berceloteh. Mereka menikmati pertunjukkan wayang dan mengagumi kesenian yang mulai kurang peminatnya di kalangan muda itu. Entah karena menurut mereka tidak menarik, membosankan, ketinggalan zaman, atau apalah yang menurut anak muda tidak sesuai dengan gaya mereka sekarang.

“Sesekali boleh nih, liat beginian… rada oran donk sih, tapi menarik” ucap Rama

“Yup betul” kata Agus.
Terdengar tawa lepas mereka bertiga di antara kerumunan orang yang menonton pertunjukan wayang di alun-alun malam itu.

***

Pertunjukkan wayang malam itu membuat pikirannya terusik. Dirinya masih teringat jelas apa yang ia lihat, wayang kulit, dalang, sinden, pemain musik gamelan, dan semuanya yang mendukung pementasan wayang dengan alur drama yang apik. Ia perpikir kenapa pertunjukan itu dapat membuat orang terutama dirinya yang baru pertama kali menonton secara langsung itu terasa menarik.

Setelah salat Isya’ berjamaah dengan ayah ibunya, dirinya meminta diri untuk kembali ke kamar.
“Ibu Ayah, Rama ke kamar dulu nggih”
“Iya” jawab Ibunya dengan hangat disambut senyum dari Ayahnya
Rama memasang headset ke telinganya dan music pun berputar. Sambil tiduran Rama menerawang jauh keluar jendela kamarnya yang terlihat gelap. Dirinya masih penasaran dengan apa yang terpikir olehnya tentang wayang, dirinya merasa seperti akan menemukan sesuatu tentang dirinya dari pertunjukkan wayang itu. Seketika ia teringat dengan apa yang dipikirkanya dulu, mengenai dirinya, masa depannya, teman-temannya, dan semuanya. Akhirnya Rama menemukan jawabannya. Jawaban yang selama ini ia nantikan. Dirinya harus menentukan sendiri jalan hidupnya agar dirinya menjadi yang terbaik diantara yang terbaik, yang bermanfaat dan berguna, dan menjadikannya sebagai cerita sebuah drama kehidupan seorang Rama, karena hidup merupakan pilihan, menjadi yang baik atau yang buruk kita yang menentukan, pilihan yang terbaik akan dibukakan jalan oleh Allah SWT, itulah jawaban mantab yang ia dapat setelah menonton pertunjukkan wayang yang baginya hidup itu seperti drama dalam wayang, bedanya hidup di dunia ini kita sebagai sutradara atau dalang dan kita jugalah yang menjadi pemain atau wayangnya, sedangkan pertunjukkan kesenian, wayang jalan ceritanya ditentukan oleh sang dalang yang sudah diatur, berbeda jika kita menjalani kehidupan kita sendiri sesuai dengan jalan kita yang sudah diberi pilihan oleh-Nya.
“Nah ini dia, aku siap” kata Rama dalam hatinya dengan senyum di raut mukanya
Ready steady get me home back
Ready steady give me good luck
Ready steady never look back
Let’s start ready steadyBagian lagu yang ia dengarkan melaui headset malam itu membuatnya tambah mantap dengan pilihanya, berubah!

Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *