Thursday, December 13, 2012

Kebaya Key



Cerpen ditulis oleh: Aqyas Dini
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com
FB: Komunitas Penulis Pelajar
______________________________________________________

       “Kita ikut ya, Ba?”
Ke mengangsurkan sebuah poster bertuliskan ‘Lomba Kebaya Jawa 2012 Tingkat Kota Madura’ dengan beberapa gambar kebaya berwarna-warni dan penuh dengan payet serta keterangan persyaratan-persyaratan lomba dan kriteria kebaya yang ditentukan.

       “Kamu yakin, Ke?” Ba menatap Ke dengan pandangan ragu. Kedua alis matanya bertaut dan dahinya berkerut. Wajahnya memasang tampang tak yakin. Ia meneruskan kegiatan mengetik prosa desain kebaya yang ia sukai di komputer kesayangannya sambil diam beberapa lama.

       Ba sedang sibuk di rumahnya ketika Ke tiba-tiba datang dengan terengah-engah duduk di hadapannya dan menunjukkan poster perlombaan itu. Ba memang senang sekali dengan kebaya. Ia bukan sepenuhnya berasal dari Madura—ia dulu tinggal di Kampung Kauman, Solo yang cukup terkenal dengan batiknya. Eyang perempuannya-lah yang mengenalkannya pada kebaya dan segala pernak-pernik yang biasa dipakai saat seorang perempuan mengenakan kebaya. Eyangnya selalu mengajarkan padanya bahwa seorang perempuan yang mengenakan kebaya akan tampil anggun dan menawan.

       Ba sebenarnya cukup tertarik dengan perlombaan itu. Dulu ketika masih SMP di Solo, ia mengikuti lomba desain seperti itu tidak kurang dari enam kali. Lomba terakhir adalah lomba desain kebaya Jawa yang ia ikuti sebulan sebelum kepindahannya ke Pulau Garam ini. Memasuki masa SMA, ia bertemu teman-teman barunya di SMANegeri 2 Sumenep dan tinggal tidak jauh dari Pantai Camplong.

       “Aku tak yakin, Ke. Sepertinya aku sudah lupa kebaya itu apa.”

       “Kau ini, Ba. Tak usah berpura-pura, deh!” Ke menjitak pelan kepala Ba dengan tangan kirinya. Ia memang kidal sejak peristiwa kecelakaan yang membuat tangan kanannya seolah lumpuh dan tidak mampu bergerak dengan leluasa. Tak ada dukun di kampung mereka yang cukup sakti untuk menyembuhkan penyakit itu, sedangkan keluarganya tak mampu untuk membayar biaya operasi di rumah sakit di kota.
Setelah mendiskusikan berbagai kemungkinan baik dan buruk yang mungkin terjadi, mereka memutuskan untuk mengikuti lomba itu.
“Tapi kita butuh satu orang lagi, Ke! Bagaimana ini?” Belum apa-apa, Ba sudah tampak cemas.
“Tenang, Ba. Kan ada Ya.” Ke tersenyum pada Ba.
Dari balik jendela kamar Ba, di balik pohon mangga, sesosok gadis berkepang dua sedang berjongkok, menangkap setiap kata-kata yang ia dengar.

---

       “Ya, kau sudah diberitahu Ke tentang teknis lomba kebaya itu, kan?”

       “Sepertinya belum. Ke baru memberitahuku tentang tema dan kapan tanggal pengumpulan terakhir kebaya yang sudah jadi.”
“Memangnya kapan?”

       “Satu bulan lagi. Kita tinggal punya waktu seminggu untuk membuat desain, seminggu untuk membeli bahan, seminggu untuk menjahit pola, dan seminggu untuk menambahkan hiasan-hiasan dan detail payet pada kebaya. Satu hari terakhir akan kita gunakan untuk finishing. Kemudian, esoknya, kebayanya akan kita kumpulkan!” Ya begitu bersemangat menjelaskan jadwal kerja yang telah ia buat.

       “Kapan kita akan mulai kerja?”

       “Hari ini juga! Kita akan mulai membuat desain kebaya…”
Ba dan Ya mulai bekerja. Kamar Ya yang cukup luas menjadi tempat mereka memulai mengerjakan desain kebaya yang akan mereka lombakan. Ba bertugas menggambar sketsa kebaya, sedangkan Ya mencari contoh-contoh kebaya yang unik dan pernah dikenakan oleh para model di panggung model internasional sana.

       Rencananya, mereka akan membuat kebaya dengan menggunakan bahan utama yakni brokat. Mereka akan gunakan brokat berwarna turqouise dengan payet paling sedikit yang bisa mereka temukan di kota. Kemudian, mereka akan menghias brokat itu dengan sentuhan berbau klasik namun sederhana dan ramah lingkungan: dedaunan maple berwarna hijau tua dan bunga-bunga dandelion asli. Mereka akan mudah mendapatkan keduanya di halaman belakang rumah Ya. Selain itu, bagian ekor brokat yang panjang akan mereka tambahkan dengan aksen-aksen jahitan klasik menggunakan benang berwarna coklat tua dan coklat muda yang dipadukan dengan sulaman bunga-bunga berukuran besar dan kecil berselang-seling berwarna merah. Belum lagi jahitan-jahitan melingkar di bagian pinggang. Sederhana namun meriah.

       Karena mereka berdua duduk membelakangi jendela, mereka tidak bisa melihat ujung kepala dan sepasang mata yang mengintip dari balik jendela.

---

       Sudah dua minggu berlalu sejak Ke dan Ba memutuskan untuk mengikuti Lomba Kebaya Tingkat Kota Madura 2012.  Mereka juga mengikutsertakan Ya,        Sahabat baik mereka. Sejauh ini, mereka telah membeli brokat dengan menghabiskan setengah dari uang perlombaan yang mereka dapatkan.[1]

       Sekarang, mereka sedang berada di rumah Ke untuk menambahkan beberapa hal pada kebaya mereka. Mereka akan bekerja dengan mesin jahit, jarum, dan gulungan-gulungan benang berwarna-warni. Tengah hari setelah sepulang sekolah, mereka pergi ke toko bahan dan alat jahit di dekat rumah Ke. Mereka membeli setumpuk bahan-bahan jahit yang mereka perlukan. Di samping itu, Ba yang kegirangan melihat setumpuk aksesoris pakaian juga membeli pernak-pernik kebaya yang katanya akan ia tambahkan di kebayanya yang lain—bukan kebaya yang sedang mereka kerjakan itu.

       “Jangan. Nanti jadinya norak.” Begitu ungkapnya.

       Sampai di rumah Ke, mereka memuntahkan seluruh barang yang mereka beli di atas kasur Ke yang rapi. Mereka memilah barang-barang itu kemudian berbagi tugas. Ke akan membuat bunga-bunga dari sulaman benang-benang, sedangkan Ya akan mulai menjahit pola melingkar di bagian pinggang brokat.
“Ba, aku butuh bantuanmu untuk menggunting benang-benang ini menjadi…” Ke mendongak. Hanya ada Ya yang asyik menjahit di depannya, sambil sesekali melihat ke kertas desain jadi mereka. “Loh, Ya, ke mana Ba? Bukankah dia tadi sedang mengguntingi benang-benang?” tanya Ke pada Ya.

       “Ba sedang pergi ke toko alat jahit yang tadi. Katanya, ada barang yang tertinggal di sana.”

       Ke mengangguk-angguk, kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.

       “Eh, Ya, kau tahu anak perempuan berkepang dua yang kauceritakan kemarin?”

       “Maksudmu, yang tidak sengaja kutemui sedang berjongkok di bawah pohon mangga di dekat rumah Ba?”

       “Iya, itu yang kumaksud. Kau tahu siapa dia?”

       “Aku tidak mengenalnya. Aku hanya pernah melihatnya beberapa kali di sekolah. Aku tidak ingat tepatnya di mana. Oh ya, aku pernah mendengar bahwa ia begitu mengagumi kebaya, tapi dengan kagum yang tidak wajar. Matanya selalu melotot tiap kali mendenger kata ‘kebaya’, seperti ingin menelan bulat-bulat orang yang mengatakan itu. Ia selalu ingin memiliki kebaya tapi tak pernah bisa. Ayahnya tak punya cukup uang untuk membelikannya.” Ya mendengarkan penjelasan Ke dengan seksama.

       “Aku berpapasan dengannya tadi.” Ujar Ba yang ternyata telah kembali dari toko sambil membawa sekantong bahan lain dan sekantong makanan kecil. “Kami bertemu tepat di depan gerbang rumput rumahku. Aku tersenyum padanya, tapi ia hanya diam dan menatapku kosong dan tanpa ekspresi. Ia menatap ke tas kantong bahan ini, kemudian bergegas pergi. Tangannya menenteng topi kerucut dari bambu dan sampan kecil dari kayu yang tampak rapuh.” Ba bergabung dengan Ke dan Ya sambil duduk.

       “Kau tahu namanya?” Ke bertanya.
       
“Key.” Jawab Ba pelan.

       Mereka bertiga melanjutkan kerja dalam diam.

---

       Ayah, Key susul Ibu, ya.

       Key menatap ke kalimat yang ditulisnya di secarik kertas lusuh. Matanya yang bulat besar berkaca-kaca dan air mukanya hampa. Orang yang melihat wajahnya sekali saja akan tahu bahwa kesedihan sedang menerpanya.

       Hari itu, kebaya yang dibuat Ke, Ba, dan Ya sudah selesai mereka kerjakan. Key tahu itu. Ia tadi melihat mereka bertiga melonjak-lonjak gembira di kamar Ba. Ketika ia mengintip tadi, ia melihat hasil kerja mereka selama empat minggu: sebuah kebaya yang cantik sekali. Mereka akan menyerahkan kebaya itu ke pihak panitia lomba esok hari.

       Melihat kebaya itu, Key jadi teringat ibunya yang dulunya senang dengan kebaya, seperti dirinya. Ia membayangkan ibunya mengenakan kebaya yang cantik itu. Tanpa ia sadari, bulir-bulir air mata membasahi pipinya. Ia merindukan ibunya.
Setelah meninggalkan secarik kertas lusuh, ia beranjak keluar dari rumah bambunya dan berjalan cepat menuju rumah Ba. Tangannya menggenggam sekotak korek api kecil dengan gambar seorang wanita berkebaya.

---

       Ke, Ba, dan Ya tak kuasa menahan kesedihan mereka. Kebaya cantik yang telah mereka buat dengan tekun dan penuh semangat, raib. Yang mereka ingat hanyalah mereka sedang membuat makanan di dapur rumah Ba dan meninggalkan kebaya itu tergeletak terbuka di atas kasur Ba. Ketika mereka kembali, mereka tak menemukan apa-apa. Tak ada jejak yang tertinggal, atau apapun yang bisa mereka gunakan untuk dijadikan petunjuk pencarian. Mereka sudah berusaha mencarinya di sekeliling rumah Ba, tapi tak ada apapun. Bahkan, mereka juga mencari di rumah Ke dan Ya. Hasilnya, nihil.

       “Siapa yang tega mencuri kebaya kita? …” ujar mereka di sela-sela isak tangis.

       Tak jauh dari rumah Ba, sesosok gadis berkebaya hijau tua sedang melepas jangkar dari bibir pantai. Ia mengenakan topi kerucut dan memegang sebuah lampu teplok. Perlahan, ia mendayung hingga ke tengah lautan. Kemudian, ia menjatuhkan lampunya di atas tumpukan kayu bakar yang telah ia beri minyak tanah. Tersenyum, ia nyalakan api dengan sebatang korek api. Tatapan matanya menerawang jauh ke lautan saat api berkobar-kobar melalapnya.

---

       “Ba! Ya! Kalian sudah dengar?” Ke tergopoh-gopoh menghampiri kedua sahabatnya yang sedang duduk di teras rumah Ba. Mereka memang tak berangkat ke sekolah pagi itu.

       “Apa?” tanya keduanya hampir bersamaan.

       “Key hilang!” sahut Ke dengan wajah tak percaya. Ia bercerita bahwa sejak tadi malam, ayah Key tidak menemukan Key di rumah mereka. Para warga berusaha mencari ke sekeliling desa, tapi Key tidak dapat ditemukan. “Kalian tahu, apa yang aku dapat?” tanya Ke tak sabar. Ba dan Ya saling bertukar pandang, kemudian menggeleng. “Ini” Ia mengangsurkan sebentuk kebaya hijau tua dengan bekas terbakar di bagian depan dan punggungnya serta robekan di bagian ekor kebayanya. “Seorang warga menemukan ini di bibir pantai saat ia kembali dari melaut.”

       “Hei! Ini kan pola jahitan yang kubuat kemarin!” Ya terkejut. “Apakah.. apakah ini..” Ya tak berani melanjutkan pertanyaannya pada Ke.

       "…kebaya buatan kita?” Ba menelan ludah. “Ke?”

       Ke mengangguk pelan. Ia terduduk lemas di hadapan Ba dan Ya.

Ketiganya saling merangkul dan menangis dalam diam.

---

       Api berkobar-kobar melalap rumah kecil dari bambu itu. Warga berlarian mencari ember, mengisinya dengan air, kemudian menyiramkan air itu ke arah kobaran api. Dari luar, tampak seorang wanita berkepang dua tengah berusaha menyelamatkan diri dan keluar dari kobaran api. Namun malang, ujung kebayanya tersangkut. Sedetik kemudian, atap rumah

 menimpanya. Ia terbujur kaku.

       Di luar, seorang anak perempuan kecil berkepang dua yang begitu mirip dengan perempuan di dalam rumah, melihat itu semua. Matanya yang bulat dan besar berkaca-kaca. Ia berkata lirih, “Ibu.. Ibu..”
Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *