Thursday, December 13, 2012

Sesederhana Niat, Seluas Laut


Cerpen ditulis oleh: Nufisha
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
Twitter: @kpp_menulis | klik
______________________________________________________


      Dagadu, produk lokal kota Jogja yang legendaris dan kreatif membuka kesempatan untuk mahasiswa atau mahasiswi untuk menjadi bagian dari Garda Depan Dagadu Djogdja. PT Aseli Dagadu Djokdja selalu membuka kesempatan kepada mahasiswa untuk berbagi pengalaman kerja part time di gerai resmi Dagadu Djokdja yaitu Posyandu (Pos Pelayanan Dagadu) di Lower Ground Malioboro Mall, UGD (Unit Gawat Dagadu) di jalan Pakuningratan 15–17  Yogyakarta, Posyandu #2 di jalan Pekapalan 7 dan DPRD (Djawatan Pelajanan Resmi Dagadu) di Ambarrukmo Plaza.

Aku tersenyum sambil mengangguk pada layar komputer. Setelah membaca iklan tersebut hatiku menjadi tertantang. Aku bisa mendapat banyak uang. Kuliah sudah memasuki semester 5, namun pekerjaan belum juga ku dapat. Apa kata dunia? Orang tua juga tak lama lagi akan menuntut kapan kerja, kapan nikah, kapan punya anak. Jogja sebagai salah satu kota besar di Indonesia pasti punya banyak lowongan pekerjaan. Ah, tapi rejeki itu kan bisa dari mana saja.

Teriknya matahari membuatku mengusap peluh di hidungku. Jalanan cukup lengang, jadi aku bisa ngebut ke UGD (Unit Gawat Dagadu). Kulihat dua bus pariwisata lebarnya hampir memenuhi jalan Pakuningratan. Turis-turis domestik itu turun satu-persatu. Pakaiannya lengkap, dari yang tertutup sampai yang tidak berjilbab. Suasana glamour terasa.

Nuwun sewumbak…1 kataku pada salah satu Gardep. Karena tak ada respon aku mengulanginya.
“Permisi, mbak…”
“Oh, iya, maaf… Ada yang bisa saya bantu?” jawabnya sambil terus mengemas gantungan kunci untuk pelanggan.
“Saya mau mengambil formulir untuk Gardep. Masih ada kan?”
“Iya, masih. Tunggu sebentar ya.”
Sesaat kemudian dia memberiku beberapa lembar kertas sambil berkata, “Untuk menjadi Gardep dibutuhkan seseorang yang berkualitas. Mbak tentu sudah tahu kan apa itu Dagadu?”

“Hmm… Sedikit. Saya hanya tau kalau Dagadu itu merk baju.”
“Minggu depan ada Front Interview2Sebaiknya Mbak sudah tahu tentang kami.”

***

Keesokan harinya mulailah aku berkelana. Ku atur jadwal ke Malioboro setelah jam 14.00 WIB karena ada kelas hari Kamis. Kemacetan ku temui mulai dari Jalan Mayor Suryotomo. Rupanya ia mengikutiku sampai Jalan Malioboro. Setelah ku parkir sepedaku di tempat parkir Benteng Vredeburg, aku berjalan ke arah utara. Pedagang kaki lima menguasai jalanan. Seorang penjual kaos membuatku tertarik. Ketika aku tanya, itu Dagadu asli bukan, dia jujur bahwa itu tidak asli. Aku disarankan untuk ke Malioboro Mall.

Ku langkahkan kaki menuju Malioboro Mall. Namun ketika melewati Mirota Batik ku putuskan untuk mampir. Mungkin ada Dagadu juga di sana, pikirku. Aku masuk bersama rombongan wisatawan. Berada di toko besar itu serasa berada di Pasar Beringharjo, sama-sama sesak. Perlu waktu untuk menemukan kumpulan kaos di tengah baju-baju batik. Aku bisa mencium bau keringat orang-orang di sekitarku. Beberapa kali seseorang mendorongku dari belakang, namun aku tak dapat melihatnya. Agak susah  bagiku untuk bergerak sesuai keinginanku. Pasrah, aku berjalan mengikuti arus.

Seorang penjaga terlihat sedang sibuk mengemas baju dan menjawab pertanyaan pelanggan ketika aku melewatinya. Sesaat kemudian giliranku bertanya. Aku kembali mendapat saran untuk pergi ke Malioboro Mall, karena Dagadu tidak dijual di luar gerai aslinya.

Segera setelah itu aku menghampiri sepedaku di tempat parkir. Seorang lelaki paruh baya tengah duduk di salah satu sepeda motor sambil menghitung uang hasil jerih payahnya. Aku bertanya pada beliau sebenarnya Dagadu itu apa dan mengapa dinamai demikian. Namun, tak banyak yang kudapat dari beliau. Sekarang tujuanku beralih menjadi Rotowijayan, karena aku tahu di sana juga ada Dagadu. Sebuah daerah yang letaknya di barat Kraton Yogyakarta dan selatan Pasar Ngasem.

  Angka di jam tanganku menunjukkan pukul 15.00 WIB. Setelah menunaikan shalat Ashar di Masjid Gede Kauman, ku lanjutkan perjalananku. Jalanan tidak begitu padat di sekitar alun-alun utara. Cuaca juga membuatku nyaman bersepeda. Atmosfer Jogja di sore hari memang cocok untuk bersepeda. Tak terasa sampailah aku di daerah Rotowijayan.

Ku masuki kios pertama. Ku rasakan berbagai ketakutan dalam diriku. Bismillah…3 Dua orang laki-laki menjaga kios tersebut. Satu berperawakan Sunda dan yang lain Jawa. Dinding kios itu tertutup dengan rak besar yang berisi baju. Masing-masing berplastik dan dilipat rapi. Ada dua gantungan baju yang berisi contoh motif baju. Kucoba menggali informasi dari kedua penjaga tersebut. Seorang yang berperawakan Sunda menyapaku dan menawarkan produknya. Namun, ketika kutanya sejarah Dagadu dia memandang temannya, kemudian aku menghampiri temannya. Setelah berbasa basi aku mulai memasuki materi.
“Kok bisa jadi Dagadu?”

Hmm… Nek sak ngertiku Dagadu kuwi artine ‘matamu’. Bäsä Walikan iku. Lha pripun?”4 kata lelaki berperawakan Jawa itu.

“Oh… Bäsä walikan iku kepriye, mas?5 akupun bertanya menggunakan Bahasa Jawa.
“Sing Aksara Jawa diwalik kae lho, mbak. ‘Ha na ca ra ka da ta sa wa la’ ditulis sakbaris, banjur ‘pa da ja ya nya ma ga ba tha nga’ ditulis ing baris ngisore. Coba diwalik dadine kepriye unine Dagadu.6


HA  NA    CA    RA    KA     DA    TA     SA     WA     LA
PA  DA    JA     YA    NYA   MA    GA    BA     THA    NGA

*huruf vokal menyesuaikan, contoh Du=Mu.
 






“Iyä yä… Banjur maknane äpä?” 7

“Hmm… maknane? Ora patio ngerti je, mbak. Sakngertiku, bäsä iku wis dienggo suwiii banget, ket jamane Landa njajah Ngayogyakarta. Sing ngerti bäsä kuwi rak mung wong Jawa, Landa ora dong, dadi wong Jawa bisa ngomong sakarepe dhewe. Arep ngandakake strategi perang yo bisa.”8

“Canggih no! Ibarate sandi morse, mung sithik sing ngerti.”9
Setelah itu kami membicarakan banyak hal tentang Dagadu. Produk asli Jogja ini ternyata bermula dari ide sekumpulan mahasiswa di Jogja yang kreatif. Mereka ditantang membuat suatu karya yang layak jual untuk mengisi salah satu kios di Malioboro Mall. Produk awalnya berupa ganci (gantungan kunci) yang lebih menonjolkan kata-kata plesetan. Karena masyarakat menyukainya, kemudian berkembanglah menjadi baju, sepatu dan produk-produk lainnya. Keunikannya tetap bertahan, yakni pada kata-kata plesetan atau gambar-gambar kreatif. Hingga kini dunia mengenal Dagadu sebagai bagian dari budaya asli Jogja.

Setelah dirasa cukup, aku melanjutkan ke kios lain. Hampir semua rumah di sepanjang jalan itu berubah menjadi kios. Ku jajaki beberapa dan kudapati banyak hal. Ada yang menjawab pertanyaanku dengan singkat dan bermuka masam, ada yang ramah dan menjelaskan panjang lebar, ada yang mengabaikan pertanyaanku karena sedang sibuk melayani pelanggan, komplit pokoknya. Ya Allah, tabahkanlah hati ini.

Semakin sore, semakin padat jalanan. Para wisatawan menggunakan becak untuk menuju ke sana.Ada pula sepeda motor lokal dan bus besar yang nekat melewati jalan sempit itu. Aku tertarik pada kumpulan becak yang parkir di depan kios. Ku beranikan diri untuk menyapa seorang pengayuh becak yang sedang santai di becak paling ujung.

“Permisi, Pak… Di sini kios yang menjual gantungan kunci di sebelah mana ya?”
“Gantungan kunci? Sepertinya di sebelah sana ada, mbak. Gantungan kunci kan? Iya, ada,” jawab bapak itu sambil menunjuk ke arah toko di seberang jalan.
“Terima kasih. Ngomong-ngomong, di sini banyak wisatawan ya, pak…”

“Iya, kebanyakan wisatawan domestik. Ramai, mbak, di sini. Sampai-sampai orang-orang bilang tempat ini Malioboro kedua Jogja.”
“Karena di sini menjual Dagadu asli?”
“Asli atau tidaknya menurut saya tidak begitu penting. Yang penting kan kualitasnya tha, mbak. Kalau bahannya seperti saringan tahu apa bagus?”

“Jadi yang dari katun gitu ya, pak?”
“Ya, itu juga bisa. Mbak dari Jogja?”
“Iya, pak…”
“Daerah mana?”
“Kadipaten Kulon. Bapak tahu daerah itu? Tapi sekarang sudah tidak di sana.”
“Owalah… Mung känä thä. Mbiyen aku yä manggon daerah känä.10
Dari pembicaraan tersebut, ternyata beliau tetanggaku dulu. Karena aku masih kecil waktu itu, aku tidak mengenalnya. Bahkan beliau pernah membantu keluargaku memindahkan barang ke rumah yang baru.

Kemudian kami terlibat kembali dalam obrolan Dagadu.
“Jadi begini, pak, saya sedang mencari informasi tentang Dagadu sebanyak-banyaknya untuk mendapat pekerjaan di kios Dagadu. Saya tertarik dengan uang yang ditawarkan.”
“Nak, mengapa kau begitu menginginkan uang? Bukankah ada yang lebih mulia daripada itu?”
Kata-katanya halus, tak seperti orang-orang pada umumnya. Seketika itu anganku yang tinggi jatuh.

Beliau melanjutkan, “Memang uang itu penting, namun lebih penting lagi membaikkan sesama. Bukankah sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain? Pikirkan hal-hal yang besar, nak. Semakin besar tujuan kita, semakin besar pula kesungguhan kita untuk mendapatkannya.”

Aku hanya dapat menjawab pertanyaan beliau dalam hati. Tak kusangka beliau memahami hal sekecil itu. Keinginan untuk menjadi kaya itu tidak salah, namun jika menjadi tujuan utama tidak tepat. Rasanya lalu lalang kendaraan tak seberisik hatiku. Perjalanan pulang terasa lebih sendu. Mengejar mentari kukayuh sepedaku. Berharap cukup waktu untuk berbuka puasa di rumah bersama keluarga.


***

Front Interview atau bertatap muka dengan penguji akhirnya kulalui dengan mudah. Hingga hari ini aku masih memikirkan perkataan bapak pengayuh becak kala itu. Jika bukan karena uang, lantas apa niatku? Berguna untuk sesama? Apa hubungannya dengan pekerjaanku? Aku kan udah gede, harusnya udah punya kerjaan. Apa peduliku dengan bapak itu? Pokoknya aku harus bisa mendapatkan pekerjaan itu.
Kini aku siap untuk pulang. Sengaja pelan kukayuh sepedaku mengarungi jalanan Malioboro. Pusing, pertanyaan-pertanyaan itu masih menghantuiku. Penat, aku belum menemukan niat yang benar. Kakiku serasa akan patah satu per-satu. Aku bisa merasakan jalannya keringat di sekujur tubuhku mengalir deras. Udara petang hari yang berpapasan dengan keringat menambah dingin kulitku. Terlintas di benakku, sekarung tugas kuliah yang belum kuselesaikan masih berada di meja belajarku.
Sepulang Front Interview ini aku ingin berbuka puasa di jalan. Kumandang adzan Maghrib tinggal beberapa kayuh lagi. Aku memotong jalan ke timur Pasar Beringharjo. Ketika ku temui perempatan kuambil arah kanan dan sampailah aku di Taman Budaya. Sebuah tempat di samping Taman Pintar, Soping dan Benteng Vredeburg. Sedang digelar pameran lukisan rupanya, sehingga ramai di sini. Ku pilih berbuka puasa di tempat yang mirip dengan pendopo karena agak sepi.
Dalam hangatnya suara adzan, ku nikmati pelepas dahaga ini. Rasanya damai… Setelah tegukan kedua aku berdo’a, “Ya, Rabb… Betapa berat ujian yang kau berikan pada hamba. Kini hamba sudah tidak sanggup memikulnya. Mohon pertolonganmu, Ya Rabb… Hanya kepada Engkau hamba menyembah dan hanya kepada Engkau hamba mohon pertolongan. Tunjukkan jalanmu yang lurus. Aamiin…” Penat, lelah, bingung, marah, pusing dan seeemua rasa yang buruk itu perlahan lebur.


***

Selangkah telah kulalui, kini saatnya tes tertulis. Waktu yang diberikan adalah 60 menit.Bismillaahirrahmaanirrahiim… Allahumma nawwir qolbiy bi nuuri hidaayatika wayasir kullal asyiir watammim bil khoiir…11 Pertanyaan nomor satu bisa kujawab dengan mudah. Ketika akan beranjak pada soal nomor dua konsentrasiku pecah. Aku kembali memikirkan niatku bekerja. Mengapa aku begitu repot mempersiapkan diri menjadi Gardep? Apa dengan menjadi Gardep aku bisa membaikkan sesama? Mungkin dengan melayani pembeli sebaik-baiknya. Dengan mereka merasa senang, maka aku telah melakukan pekerjaanku dengan baik. Aku bisa memperkenalkan pada dunia bahwa Jogja punya karya. Orang-orang Jogja kreatif dengan budayanya. Pelayanan masyarakat. Hmm… Bisa juga. Dapatkah aku?

Sudah 20 menit berlalu, namun aku masih terhenti di pertanyaan nomor dua. Kupejamkan mata dan… tunggu dulu! Kalau dipikir-pikir, guru lebih baik daripada Gardep. Atau dokter atau pilot atau direktur! Tapi itu kan relatif… Jadi? Lima menit lagi berlalu dengan lamunan. Aku tahu sekarang! Semua memang asalnya dari niat. Pekerjaan apapun itu kalau niatku hanya ingin mendapatkan dunia maka dunia yang ku dapat, tapi jika aku ingin orang lain menjadi baik karena pekerjaan yang ku lakukan mungkin aku bisa mendapatkan lebih dari sekedar dunia atau uang. Allah akan memberiku balasan yang lebih baik.

Masih tersisa 30 menit. Aku telah mendapatkan jawaban atas gundahku selama ini.Alhamdulillaah… Kini aku bisa mengerjakan soal-soal selanjutnya. Ah, tapi… tiba-tiba aku merasa tak pantas menjadi Gardep. Untuk membuat orang lain lebih baik aku harus lebih baik dulu. Berarti aku harus belajar lebih giat lagi. Entah mengapa terlintas di pikiranku untuk menjadi anggota Palang MerahIndonesiaApa yang harus ku lakukan sekarang? Menjawab semua pertanyaan tes tertulis ini dengan jawaban yang salah? Membiarkan orang lain mendapatkan posisi ini? Aku kan sudah berusaha keras untuk sampai di sini! Ya, itu yang akan ku lakukan.

Dengan hati yang lebih damai aku berjalan keluar dari ruangan tes. Aku tersenyum menatap masa depan yang cerah, secerah langit biru siang ini. Awannya yang putih bagaikan bisa ku seka di wajahku dan kurasakan kelembutannya. Aku berdiri dengan  mantap. Tekadku sudah bulat untuk melepaskan kesempatanku menjadi Gardep.


***
         
   Tak kutemui namaku di daftar peserta yang lolos tes tertulis. Alhamdulillaah… Aku sedikitpun tak menyesal. Bahkan, seminggu kemudian kabar gembira datang dari sahabatku. Ia mengajakku mengisi pengajian di acara kampusnya. Ku rasa ini awal yang baik untuk membaikkan sesama.


مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(An Nahl: 97)

_______________________________________________________________________

  
Keterangan:
1 = Permisi, mbak…
2 = Wawancara.
3 = Dengan nama Allah
4 = Hmm… Setahu saya Dagadu itu artinya mata anda. Bahasa Walikan itu. Bagaimana?
5 = Bahasa Walikan itu seperti apa, mas?
6 = Aksara Jawa dibalik itu lho, mbak. ‘Ha na ca ra ka da ta sa wa la’ ditulis satu baris. Kemudian ‘pa da ja ya nya ma ga ba tha nga’ ditulis di bawahnya. Coba dibalik jadi bagaimana bunyinya Dagadu.
7 = Iya, ya… terus, apa maknanya?
8 = Hmm… maknanya? Nggak begitu paham, mbak. Setahu saya, bahasa itu sudah lamaaa sekali dipakai, sejak zaman Belanda menjajah kota Yogyakarta. Yang tahu bahasa itu hanya orang Jawa, Belanda nggak tahu, jadi orang Jawa bisa berbicara semaunya. Mau membicarakan strategi perang juga bisa.
9 = Canggih dong! Bagaikan sandi morse, hanya sedikit orang yang tahu.
10 = Hanya di situ ternyata. Dulu aku juga tinggal di daerah situ.
11 = Do’a yang pernah dibaca Nabi Musa A. S. yang artinya, “Wahai Allah sinarilah hatiku dengan cahaya petunjuk-Mu, mudahkanlah setiap kesulitan dan sempurnakanlah dengan kebaikan.”

Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *