Thursday, December 13, 2012

Lukisan Terakhir


  Cerpen ditulis oleh: Ibnu --- SMA IT Abu Bakar
  Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

   www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
            FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik
___________________________________________________________________


            Pagi datang gantikan malam yang lelapkan jiwa-jiwa lelah, bagai pelayar yang sampai di dermaganya. Nampak di kejauhan senja sekolah kecil berbalut harapan terhampar di sudut pandangan pelangi. Pagi itu lagit tampak berawan, udaranyapun tampak dingin bagai di kutub utara. Alam seolah berbisik akan kejadian yang akan terjadi di waktu nanti.
            Bel sekola berbunyi, pertanda waktu pelajaran akan dimulai memenggal hari dengan rutinitas. Dari kejauhan lorong jalan tampak seorang pria gemuk berseragam coklat mendekat ke pintu usang itu, seketika anak-anak belarian seolah sunami datang. Dengan senyum dan tatapan akrab pria gemuk membuka pembicaraan dengan lantang, “ pagi anak-anak”. Seolah tak ingin kalah anak-anak menjawab dengan bising seakan di jalan raya tengah hari, “pagi juga pak Doni”. Siapa yang tak tahu pak Doni? yang selalu membumbui pelajarang dengan riang gembira seperti acara Opera Vanjava, bagaimana tidak? pak Doni selalu mengajar dengan canda gurau yang membuat tiap yang mendengar tertawa riang tanpa mengenyampingkan pelajaran.
            Namun kali ini pelajaran berjalan tak seperti biasa, tampak kerut sepi dari tiap wajah. Bagaimana tidak? Satu bangku di barisan depan tampak kosong, teman sebangkunyapun tampak hawatir seolah malaikat pencabut nyawa ada di hadapannya. Adit tampak tak duduk di samping Dimas, teman baiknya. Hari ini adit tak masuk sekola tanpa keterangan, dimaspun yang selalu tahu kabar adit, kini tak tahu menahu tentang kabar adit kali ini.
            Jam pelajaran telah usai, bel berbunyi sangat kencang hingga anak-anak berlarian bagai rombongan kupu-kupu yang berimigrasi. Dimas berjalan menuju kantin dengan muka muram sembari berbisik dalam hati dengan seribu pertanyaan tak terjawab,” kemana Adit? Kenapa dia tidak menghubungiku? Aku takut ada hal buruk, mungkin sehabis pulang sekola aku bias mengunjungi rumahnya, oklah”. Setiba di kantin ia membeli minuman mengobati haus yang di tahan selama waktu pelajaran.
            Dari pojok kantin Bunga menghampiri Dimas, seolaha ada celah tuk meraih mentari. Dengan senyum dan muka yang memerah ia hampiri dimas dengan ragu, seolah berada di panggung yang di tonton ribuan orang.
Suara halus bertabur senyum akrab mengetuk pendengaran dimas,” hai dimas, bdw lagi apa ni?”.
Seolah terbangun di tengah malam buta Dimas menjawab dengan nada yang lelah,” lagi minum aja Bung, ada apa?”.
Seolah tersentak hebat, mata Bunga menerawang dimas. Dengan wajah penuh tanya bunga kembali bertanya,” ko muram, kenapa?”.
Dimas hanya diam melamun hingga sentakan bunga menariknya ke dunia fana kembali, “ Mas kenapa? Jagan ngelamun entar bias kesurupan!”.
Seolah baru terbangun dari mimpi panjangnya, Dimas hanya terdiam tanpa berucap. Bunga kembali membuka pembicaraan, seolah belup puas akan keterangan-keterangan dimas.” mas, kalo ada masalah bilang aja! gk pa-pa ko, akukan temen kamu”. Seolah berharap mengorek informasi yang lebih dari saksi perkara.
            Waktu berjalan begitu cepat hinngga tak di sadari bel masuk berbunyi, semua kembali mengikuti pelajaran dengan bercanda gurau yang tentu tak mengalihkan pelajaran.
            Waktu kini menunjukan jam pulang, Dimas bergegas merapihkan semua buku-bukunya dan segera ke rumah Adit, seolah ia kunang-kungang dewasa yang waktunya tiada lebih dari satu hari. Dimas keluar dari gerbang sekola, dari kejauhan suara teriakan memanggil-manggilnya, seolah penggemar yang berharap bertemu. Ternyata itu bunga, sang putri manis yang masih belum puas mengorek informasi darinya.
”hai mas, ko buru-buru banget sih? emang mau kemana? bdw kamu belum jawab yang tadi di kanting, kenapa kamu muram?”, beribu tanya ia hujat pada dimas dengan menawan tiap kata yang akan di ucap dimas, bagai mengintrogasi napi.
Dimas menjawab pertanyaan-pertanyaan bunga dengan wajah yang kusut,” Aku hawatir Bung, Adit gk sekolah dan gk kasih kabar.. sekarang aku mau lihat dia di rumahnya”.
Bunga seketika itu tersentak, matanya seolah ingin keluar, dan hatinya meronta-ronta kesakitan,” Mas, aku boleh ikut ya?please!”, memelas picik hingga tiada yang tega menolak.
Dalam hati Dimas berbisik lirih,” aku tahu anak ini suka ma Adit, siapa yang gak tahu? Semua tahu karna sifatnya itu.. bahkan adit sendiri tahu dan menyukai dia juga, tapi.. adit menolak untuk mengatakan prasaannya. Aku ingat Adit pernah berkata ‘biarlah waktu yang mempertemukan perahuku dengan dermaganya’ tiada lagi kata yang di ucapnya saat itu, sunggguh ia orang yang bijak”.
            Belum lama dimas menghadapi Bunga, dari belakang Dani menyambar pundak Dimas dan meminta agar bisa ikut melihat keadaan Adit juga. Tanpa berpikir panjang Dimas memperbolahkan, tanpa babibu lagi Dimas segera mengajak Bunga dan Dani untuk segera berangkat, ia hawatir anak-anak lain juga ikut, gimana tidak? Adit adalah murid yang pintar dan baik pada siapapun, pantas saja semua sangat menghawatirkannya.
            Di tengah keramaian jalan raya, bis yang di tumpangi mereka tiba-tiba berhenti mendadak. Kehawatiran dimas semakin memadat, ribuan dugaan akan keadaan Adit semakin memadatkan pemikirannya, entah mungkin ia berfikiran bahwa hal buruk menimpa Adit. Di sela-sela ketegangannya ingatan dimas bersama Adit tiba-tiba terlintas, bagai hembusan angin yang singgah menghapus gerah.
            Siang itu waktu menunjukan pukul satu, Adit dan Dimas berlari-lari mengejar bis untuk  berangkat bimbel ke Ganesa. Satu setengah jam mereka menunggu, akhirnya ada satu bis yang lewat di jalan.
            Terik matahari sungguh membuat kerongkongan meronta-ronta kehausan, bis yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti mendadak, ternyata bannya bocor dan harus di ganti. Adit dan dimas terpaksa menunggu karna tidak ada bis yang melewati rute ini lagi, karna sudah terlalu sore, maklum daerah pedesaan, namun itu tak menyurutkan semangat mereka untuk menuntut ilmu guna menggapai citanya.
            Ingatan itu membuat dimas tersenyum tipis, seolah menonton komedi di panggung jalanan. Bunga dan dani saling berpandangan dan saling bertanya,
Dengan wajah yang mengerut dan Tanya yang melambung dani bertanya” kenapa dimas bung?”,
Bunga yang sama bingungnya menatap Dani dan menjawab,“ gak tahu, ada yang lucu kali”.
Mereka tak tahu keakraban Dimas dan Adit sangat harum, seharum bunga mawar dan melati. ingatan-igatan dimas bersama aditpun sungguh kental, bagai ikatan darah sodara kembar yang kadang ada masalah satu sama lain.
            Kini bis kembali bisa berjalan. Setelah melihat keadaan jalan, sang supir tancap gas dan melanjutkan perjalanan. Udara siang di desa sungguh sejuk, beda dengan kota yang panas dan sumpek. Pemandangannya sunguh asri dan elok, sedikit mengobati kecemasan Dimas akan keadaan Adit, bagai bumi yang disiram sinar mentari pagi.
            Mereka telah tiba di desa Adit, tanpa menggaruk-garuk kepala lagi mereka bergegas menuju rumah Adit. Sesampainya di rumah Adit, mereka tampak heran, rumahnya tampak sepi, seolah tiada lagi yang menempati.
            Dimas, Bunga, dan Dani mengetuk pintu rumah Adit, berapa ketukan dan sapaan tidak ada jawaban, sungguh aneh, seolah rumah itu tuli tak berpendengaran.
            Dimas mencoba kembali menghubungi Adit dan Ayah, Bundanya, namun tidak ada jawaban, hanya balasan nomor sibuk, selama berkali-kali. Rasa cemas dan hawatir dimas semakin menjadi-jadi. Dani mendekati Dimas dan menyarankan menanyakan kepada tetangga adit, namun nihil, tiada yang tahu seolah mereka buta hati buta mata dan Adit bersama keluarganya seakan di telan bumi.
            Dua jam mereka menunggu di teras rumah adit namun tiada yang datang atau membuka pintu, “ sungguh, sebenarnya kemana Adit sama keluarganya, di hubungi gak bisa, di rumahnya gak ada, dan tetangganya gak ada yang tahu?”, muka dimas memerah kehitam-hitaman bagai buah tomas busuk, tangannya mengepal kencang dan wajahnya mengeruh bagai serigala yang di cabik-cabik rasa lapar.
            Jauh dari rumah Adit, tepatnya di rumah sakit harapan, Adit terbaring tak berdaya. Bererapa hari ini ia demam tinggi dan tak sadarkan diri. Adit terpaksa harus masuk rumah sakit, padahal keluarganya tidak punya uang yang cukup untuk sekedar berobat, inipun harus pinjam sana-sini. Orang tua mana yang tega anaknya menderita? malah sebaliknya, mereka rela banting tulang siang malam, berhujan keringat dan bercucuran darah hanya demi anaknya. Kasih dan cinta mereka sepanjang masa, namun kasih anak sering kali terputus di tengah jalan, bagai kacang lupa kulitnya.
            Setelah berapa lama Adit siuman, ayah dan ibu Adit menangis melihat Adit, mereka sangat menghawatirkan anaknya Adit.
Adit seolah ingin berbicara pada orang tuanya dengan tubuh yang masih lemas dan wajah yang pucat,”mah pa, jangan hawatir.. adit gak kenapa-kenapa, bentar lagi juga sembuh.. meningan sekarang kita pulang aja, adit udah baikan”.
            Siapa yang tak bisa membaca keadaan Adit, mukanya pucat dan keadaan tubuhnya sangat lemah. Dari diagnosa dokter keadaannya sangat buruk, walaupun ia telah siuman dan panasnya menurun. Awalnya dokter mengira adit terkena demam biasa, namun setelah peninjauan lebih lanjut, penyakit adit tidak di ketahui.
            Entah sampai kapan ia masih bisa bertahan, dokter sudah berusaha dan tak banyak yang bisa ia lakukan, hanya tinggal pasrah dan berharap tuhan berbelas kasih.
            Adit meminta orang tuanya mengambilkan Hpnya, ia ingin menghubungi teman baiknya Dimas dan teman-teman lain supaya tidak hawatir akan keadaannya.
            Ibu Adit memberikan Hp Adit, dengan tangan yang gemetar hebat. Tanpa sempat berucap lagi, ibu Adit keluar ruangan adit dengan emosi yang menggebu-gebu, matanya tak sanggup lagi menahan air mata yang telah ia tahan dari tadi. Ayahnya hanya bisa berpura-pura tersenyum dan menyembunyikan perasaan sesungguhnya, ia takut anaknya di panggil ilahi, ia belum siap kehilangan adit anaknya.
“Kring.. Kring..”, HP dimas berbunyi, seolah panggilan dari atasan kerjanya, ia panic tak jelas, ini belum pernah terjadi sebelumnya, sungguh berbeda dari sifatnya.
            Dimas mengambil HP dari saku kanannya, di layar tertera nama adit, seolah tak percaya matanya bergerak keluar dari rutenya, jidatnya mengerut drastis, dan mulutnya terbuka lebar. Seolah tak percaya, dalam hati ia berkata,” apa benar ini adih, sukur, akhirnya dia ngehubungi”. Dengan rona bahagia yang tak percaya.
            Hanya satu ucapan yang terdengar dari telfon dengan nada lemah dan terputus-putus,” dimas..”. Tiada ucap lagi yang terdengar, hanya suara yang tak jelas, seperti berbisik di tengah badai.
            Adit kembali tak sadarkan diri, kini keadaannya tambah buruk, ayah dan ibu Adit memanggil dokter, memintanya agar cepat menangani keadaan Adit yang semakin memburuk.
            Dimas bertanya pada nada telepon yang telah terputus itu, seolah masih ada jawaban, ia berteriak kencang membuat bumi terguncang, namun sayang, telepon yang sudah terputus tidak akan menjawab. Dimas seketika itu terdiam membendung air mata yang akan menetes jatuh ke bumi.
            Seakan hatinya meronta-ronta kesakitan, bagai tertusuk sebilah tombak tepat di jantung tanpa ada perlolongan. Ribuan Tanya ia hujat pada saluran telekomunikasi itu, namun tiada jawab, hanya jerit hati yang menggema, tiada mahluk yang bisa mendengar, hanya dia, alam, dan Tuhan yang tahu.
            Bunga dan Dani yang berada di dekatnya seolah tersentak kaget tanpa tahu menau apa yang terjadi.
            Bunga dan Dani menghampiri dan bertanya pada dimas, namun tiada jawab darinya. Dimas hanya terdiam bagai patung di tengah kota, tiada punya pendengaran, tiada punya rasa.
            Kini langit seolah ikut merasakan apa yang di rasakan dimas, ia menjatuhkan rinti-rintik air pada bumi, tanah menjadi basah, atap-atap yang bocor tak mampu menghalang air hingga jatuh ke dalam rumah para dermawan.
           






Share This

No comments:

Post a Comment

Silakan beri kami masukan apapun. Saran, kritikan maupun nasihat Anda akan sangat berarti untuk perkembangan komunitas ini. Terimakasih.

Hubungu Kami

Contact Form

Name

Email *

Message *